Selasa, 5 Februari yang lalu saya mengikuti sharing dari Hario Suprobo. Temanya adalah "Merenungkan dan Menikmati isyarat Tuhan".
Misalnya kita menderita sakit. Ini sebenarnya merupakan salah satu isyarat dari Tuhan. Bagaimana kita membacanya? Mungkin kita sakit karena kita kurang merawat tubuh kita: makanan kurang terjaga, kurang istirahat, kurang olahraga, dsb. Tetapi kita dapat meninjaunya lebih jauh, yakni perilaku kita mungkin menyebabkan orang lain sakit, atau dari "wish" yang tidak sengaja kita ucapkan. Ada kalanya seseorang ketika melihat orang lain sakit dan mendapat kunjungan dan perhatian oranglain, menjadi iri pada si sakit: "wah, alangkah enaknya sakit seperti dia, begitu banyak yang mengunjungi dan memperhatikan dia". Ini merupakan "wish", atau paido:"enak juga ya kalau.....". Nah, kemudian dia menjadi sakit. Dia merasakan juga memang banyak yang mengunjunginya dan memberinya perhatian. Tetapi ya hanya sekali itu. Selanjutnya yang tertinggal adalah penderitaannya dalam kesakitan. Dia baru sadar bahwa sakit itu ada enaknya tetapi lebih banyak lagi tidak enaknya.
Seringkali manusia hanya melihat sisi bahagia/sisi menyenangkan dari orang lain. Padahal dalam hidup ini selalu ada dua kutub: kegembiraan dan kesusahan; kesedihan dan kebahagiaan; kelapangan dan kesempitan. Jika kita menginginkan kebahagiaan, maka kita juga harus siap mengalami ketidak bahagiaan. Hari ini tertawa, mungkin besok menangis. Kita tidak dapat memilih hanya sisi-sisi positifnya saja dari kehidupan ini, tetapi harus menerima baik negatif maupun positif. Maka jika tidak ingin menderita kesedihan yang mendalam, jangan pula menginginkan kebahagiaan yang berlimpah. Serba secukupnya saja: sedikit bahagia, sedikit sedih.
Manusia selalu mempunyai kecenderungan dalam segala hal. Satu makanan lebih disukai dari yang lain; pakaian satu lebih disukai dari yang lain; seseorang lebih disukai dari orang lain; demikian seterusnya. Kalau kita ingin menjadikan hidup kita sebagai ibadah, maka seharusnya kita menngikuti sifat Allah yang tidak berkecenderungan. Kita harus menjalani hidup ini dengan ikhlas: menerima takdir Allah yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Bersikaplah seakan-akan apapun yang di depan kita, yang kita hadapi menit demi menit adalah berharga, berguna, tidak perlu memikirkan enak atau tidak enaknya. Hal ini dapat dicapai dengan cara 'memrotoli" pikiran keduniawian. Pikiran merupakan "kemudi" dari hati. Jadikanlah pikiran dan hati menyatu, agar dapat kita tangkap "isyarat" dan cahaya Ilahi.
Dicontohkan para bhiksu Buddha tidak mencari apapun, mereka hanya menerima apapun yang diberikan kepada mereka. Berbagai makanan yang diterima kemudia dicampur menjadi satu, hingga tidak lagi dapat dirasakan mana makanan yang enak dan tidak enak. Makan karena kebutuhan dan bukan karena kecenderungan/kesukaan terhadap makanan tertentu. Hal ini dapat diistilahkan sebagai "manajemen nasi campur". Sikap ini pula yang sebaiknya kita miliki saat berdo'a. Ingatlah meminta sesuatu yang membahagiakan berarti ingat pula akan datangnya sesuatu yang tidak membahagiakan.
Kadang kala dalam hidup ini kita mengalami pertentangan batin mengenai suatu hal. Sebenarnya ini pertanda baik. Jika ada suatu hal yang sudah mantap dan kemudian kita menjadi ragu-ragu akan hal itu, maka sesunggunya itu berarti kita sedang dalam proses untuk memperoleh sesuatu yang baru, yang lebih baik. Hal itu disebabkan karena adanya pertentangan mendorong pencarian akan kebenaran. Dalam pencarian tersebut kita akan datang kepada Allah dengan pertanyaan kita kepadaNya. Insya Allah jawaban akan kita terima walaupun dengan cara yang tidak kita duga. Jawaban dapat saja kita peroleh saat membaca suatu artikel, saat berbicara dengan orang lain, saat mendengar perkataan anak atau orang lain, atau saat mendengarkan wejangan guru.
Allah berfirman: "Kemanapun kau hadapkan wajahmu, disitu ada Aku. Ayat-ayatKu bertebaran di mana-mana". Kadang mata kita memandang hidup ini sangat menyebalkan. Tetapi jika kita memandang dengan mata hati kita, maka akan didapatkan bahwa segalanya bermakna untuk kesempurnaan diri kita. Maka jadikanlah setiap menit dalam hidupmu sebagai pembelajaran untuk menemukan jalan yang lurus menuju Allah. Sebagai contoh, mengapa ada kecenderungan seseorang selepas shalat/berdo'a menyapu wajahnya dengan kedua tangan? Saat berdo'a, kita melihat cahaya, taruhlah cahaya itu pada kedua tanganmu, dekatkan ke wajahmu dan hiruplah cahaya itu(seakan mngusap wajah).
Contoh lain. Kita diajarkan berdo'a menyebut nama Allah sebelum makan. Makan berarti memasukkan zat-zat ke dalam tubuh . Makanan ada yang berasal dari makhluk hidup yang mempunyai enerji. Misalkan makanan yang berasal dari khewan. Khewan mempunyai enerji. Kita diajarkan untuk menyembelih khewan dengan pisau yang tajam, diawali dengan nama Allah , sehingga diharapkan agar hewan itu mati dalam keadaan pasrah, sehingga enerjinya hilang dan tidak masuk ke dalam tubuh yang memakannya. Enerji yang masuk dalam tubuh kita akan bercampur dengan enerji kita dan akan menimbulkan ketidak seimbangan dalam tubuh. Tetapi bagaimana kita dapat menjamin behwa seluruh proses makanan itu sampai di hadapan kita telah berjalan secara halal dan thayib? Itulah makanya kita harus berdo'a sebelum makan.
Perjalanan menuju Allah masih amat panjang. Marilah kita gunakan setiap menit dalam hidup dengan ikhlas. Preteli duniamu, buang pembatasan-pembatasan yang kau buat agar dapat naik ke tataran yang lebih tinggi menuju Illahi. God is beyond your immagination. "Mati'lah terus, agar kita tak lagi menciptakan karma, baik maupun buruk.