BismillahirRahminirRahim,
Assalamualaikum,
Sebelumnya saya mohon maaf jika posting saya ini membuat anggota milis ini jadi bosan. Tapi saya tidak dapat menahan diri untuk tidak menuliskannya.
Malam Jum'at kemarin alhamdulillah saya berkesempatan ikut majelis dzikir di Cempaka Putih, di rumah Bapak Tarigan.
Berbeda dengan dzikir pertama saya yang diawali dengan perasaan asing karena belum kenal siapapun, pada dzikir kedua tampaknya dengan mudah saya mendapat teman. Ada bu Utje, bu Hesti, bu Meni, Kiki, bahkan saya sempat berbincang dengan Syeikh Rizal Tarigan. Terjawab keheranan saya semula, karena yayasan At Taufiq yang didirikan pak Malik Tarigan beraliran Muhammadiyah, kok bisa-bisanya pak Tarigan sekeluarga ikut tarekat. Setahu saya Muhammadiyah itu sangat anti bid'ah. Saya ingat dulu kami (para orangtua murid) tidak diperkenankan mengadakan maulidan atau Yasinan di lingkungan At Taufiq. Yah semua orang dapat berubah, termasuk saya.
Dalam dzkir kedua ini saya mendapat pengalaman baru lagi. Awalnya saya ikuti nasihat imam untuk merasakan mahabbah kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Jadi saya ikuti berdzikir sambil menikmati kecintaan kepada Allah dan Rasulullah. Tubuh terasa bergerak perlahan mengikuti irama dzikir. Selama berdzikir saya dapat mendengar isak saudara dsebelah saya. Saya sendiri termasuk orang yang tidak mudah menangis, jadi saya sudah terbiasa pula selalu berusaha ikut merasakan tangis orang-orang yang beribadah di sekitar saya yang berasal dari kelembutan hati mereka.
Menjelang berakhirnya dzikir, tiba-tiba kepala saya tertunduk dalam-dalam dan saya menangis terisak-isak. Subhanallah! Perasaan yang sungguh luar biasa bagi saya! Saya merasa begitu bahagia dan hati terasa ringan. Ketika bersalawat, keriangan hati saya membuat saya mengikuti gerakan-gerakan yang dilakukan saudara-saudara lainnya. Ketika dzikir pertama, saya diam saja dan berpikir betapa kuatnya mereka yang melakukan gerakan-gerakan tersebut. Ternyata setelah saya ikuti, gerakan-gerakan itu tidak membuat saya lelah bahkan membuat rasa kaku akibat lama duduk bersila menjadi hilang. Saya kemudian ikut bersalaman dengan semua wanita yang hadir dengan senyum di bibir yang tak dapat saya cegah yang timbul dari hati yang penuh keriangan. Ketika bersalaman itulah saya dapat berkenalan dengan Ibu Uthe yang baik hati, yang kemudian memberi saya tips-tips yang bermanfaat.
Pada kesempatan dzikir kedua ini saya tidak sulit mencari orang yang dapat saya gandeng melihat buku-buku, malahan saya yang digandeng oleh Kiki. Saya membeli Buku Adab Naqsbandi. Buku ini sungguh buku yang luar biasa, persis seperti yang diutarakan dalam kata pengantarnya. Banyak sekali ilmu yang terkandung di dalamnya. Dalam buku ini antara lain terjawab rahasia pengulangan bacaan dzikir yang selama ini menjadi pertanyaan bagi saya. Ada juga rahasia wudhu dan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Wah, saya pasti memerlukan waktu yang sangat lama untuk mempelajarinya. Saya merasa sangat beruntung telah datang ke majelis dzikir dan mendapatkan buku ini. Ohya, ibu Hesti juga telah meminjamkan saya buku al Haqq yang cetakan lama, yang katanya akan dibutuhkan oleh para anggota yang baru.
Saudara-saudaraku sekalian, sungguh saya semakin yakin bahwa saya telah berada dalam tempat yang tepat. Insha Allah. Terima kasih atas dukungan Anda semua baik melalui milis, YM maupun tatap muka.
salam,
Roosdiana
Minggu, 25 Mei 2008
Sabtu, 17 Mei 2008
Pak Jay
Sebagai seorang pencari Tuhan, saya tiada ragu untuk belajar dari siapa saja yang saya anggap dapat makin mendekatkan saya kepada Tuhan.
Sudah lama saya mengikuti milis sebuah tarekat. Dari sana saya tahu perlunya kita mempunyai seorang guru mursyid yang akan membimbing kita menemukan Tuhan, menemukan jalan kembali ke kampung akhirat. Namun perjalan saya membawa saya ke perguruan Misykatul Anwar, dengan Guru kami Syeikh Syarif Hidayat Muhammad Tasdiq. Saya belajar makrifat.
Seiring perjalanan waktu, saya merasa tak dapat meneruskan perjalanan saya sendirian. Saya perlu seorang Guru yang dapat terus mendampingi saya dalam perjalanan itu. Saya berjalan seakan tiada pernah maju-maju. Kegelisahan melanda hati saya.
Dalam saat seperti itu, seseorang dari dunia maya menghampiri saya, mengajak saya dialog dan menuntun saya ke sebuah portal yang berisi lautan ilmu. Portal itu membuat saya merasa menemukan sebuah oase yang dapat memenuhi rasa dahaga yang tengah menghinggapi saya. Orang itu kemudian biasa saya panggil Pak Jay. Dari pak Jay kemudian saya berkenalan dengan Maulana Syeikh Nazim Ak Haqqani, seorang pendiri tarekat Naqsbandi.
Saudaraku, sejak saat itu, pertengahan April 2008, saya menjadi pengikut tarekat Naqsbandi. Semula karena saya berjumpa pak Jay di milis TQN, saya kira saya telah menjadi anggota tarekatnya abah Anom dari Suryalaya. Ternyata saya keliru. Tarekat yang saya ikut bukan tarekat Abah anom. Yah, saya anggap begitulah Allah menuntun perjalanan panjang saya. Pak Jay kemudian memperkenalkan saya dengan saudara-saudara lainnya dalam tarekat Naqsbandi. Masih dalam dunia maya, saya merasa menemukan sebuah keluarga yang penuh perhatian. Saya juga menemukan sebuah oase ilmu yang dapat saya reguk sepuas-puasnya. Saya juga dapat merasakan adanya Guru yang mendampingi saya. Alhamdulillah.
Sudah lama saya mengikuti milis sebuah tarekat. Dari sana saya tahu perlunya kita mempunyai seorang guru mursyid yang akan membimbing kita menemukan Tuhan, menemukan jalan kembali ke kampung akhirat. Namun perjalan saya membawa saya ke perguruan Misykatul Anwar, dengan Guru kami Syeikh Syarif Hidayat Muhammad Tasdiq. Saya belajar makrifat.
Seiring perjalanan waktu, saya merasa tak dapat meneruskan perjalanan saya sendirian. Saya perlu seorang Guru yang dapat terus mendampingi saya dalam perjalanan itu. Saya berjalan seakan tiada pernah maju-maju. Kegelisahan melanda hati saya.
Dalam saat seperti itu, seseorang dari dunia maya menghampiri saya, mengajak saya dialog dan menuntun saya ke sebuah portal yang berisi lautan ilmu. Portal itu membuat saya merasa menemukan sebuah oase yang dapat memenuhi rasa dahaga yang tengah menghinggapi saya. Orang itu kemudian biasa saya panggil Pak Jay. Dari pak Jay kemudian saya berkenalan dengan Maulana Syeikh Nazim Ak Haqqani, seorang pendiri tarekat Naqsbandi.
Saudaraku, sejak saat itu, pertengahan April 2008, saya menjadi pengikut tarekat Naqsbandi. Semula karena saya berjumpa pak Jay di milis TQN, saya kira saya telah menjadi anggota tarekatnya abah Anom dari Suryalaya. Ternyata saya keliru. Tarekat yang saya ikut bukan tarekat Abah anom. Yah, saya anggap begitulah Allah menuntun perjalanan panjang saya. Pak Jay kemudian memperkenalkan saya dengan saudara-saudara lainnya dalam tarekat Naqsbandi. Masih dalam dunia maya, saya merasa menemukan sebuah keluarga yang penuh perhatian. Saya juga menemukan sebuah oase ilmu yang dapat saya reguk sepuas-puasnya. Saya juga dapat merasakan adanya Guru yang mendampingi saya. Alhamdulillah.