Senin, 30 Juni 2008

Sedekah?

Kutipan Khutbah Jumat 16 Maret 2007
Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS

Wahai umat manusia! Kalian harus datang dan berserah diri pada Perintah Suci Tuhan kalian! Kalian harus mengatakan, “Wahai Tuhan kami, engkau adalah Sang Pencipta! Hanya ada satu Tuhan, yaitu Engkau, dan kami adalah hamba-Mu!” Kalian jangan menjadi hamba bagi kehidupan ini! Kalian tidak pernah diciptakan untuk bisnis! Setiap orang berusaha untuk menjadi pengusaha, untuk menjadi orang kaya, orang dengan standar yang tinggi. Apa itu, ‘orang dengan standar tinggi’? Kalian menyimpan, menyimpan, menyimpan—dolar, pound, uang baru Euro, dan Yen.. orang-orang menyimpannya—apa untungnya menyimpan jutaan dan milyaran? Wahai bangsa Arab! Dan orang-orang menyimpan milyar dan milyaran dan Allah SWT akan bertanya pada mereka, “Wahai hamba-Ku yang tak berguna, wahai hamba-Ku yang tak mengindahkan Perintah-Ku! Apa yang kalian lakukan? Aku telah memberi kalian milyaran. Mengapa kalian datang dan tak ada yang berasal dari buku kalian? Apa yang kalian lakukan?” “Wahai Allah SWT, wahai Tuhan kami! Aku telah menyimpan uang itu di bank, menyimpannya sebagai investasi…” “Wahai hamba yang lalai, hamba yang tak menghormati (Allah SWT), apakah kalian pikir Aku memberi kailan begitu banyak uang untuk disimpan?
Atau untuk didonasikan untuk tujuan-tujuan yang baik? Agar donasi kalian sampai pada hamba-hamba-Ku, untuk membuat atau mengadakan hal-hal yang baik bagi kalian? Apakah kalian pikir Aku berkata pada kalian, ‘Simpan uangmu dan tinggalkan, lalu datang ke sini seperti ini’?

Apa yang akan menjadi jawaban mereka? Ini, lebih dari dunia Non-Muslim—Saya bicara kepada dunia Muslim di mana mungkin ada ribuan dan ribuan multi milioner, tetapi mereka menyimpan uang mereka seperti ini… tidak memberikannya untuk Allah SWT! Allah SWT akan menyalahkan mereka, “Kalian tidak malu? Ketika Aku menganugerahkan kalian dan memberi kalian agar kalian memberi donasi demi Aku, mengapa kalian tidak memberi…? Wahai para malaikat, bawa mereka, bawa mereka dari Hadirat Ilahiah-Ku, karena mereka memegang Setan dan ajarannya, tidak menjaga Ajaran-Ku, tidak mematuhi-Ku, (tetapi) mereka mengejar Setan! Bawa mereka bersama Setan, bawa mereka pergi. Tak ada jalan bagi mereka! Mereka sudah diberikan kesempatan!”

Wahai manusia, dengar, perhatikan dan patuhi! Dan Nabi SAW bersabda, “Jika seseorang memberi karena Allah SWT, ia tidak perlu khawatir, ‘Uangku akan berkurang’. Jangan pernah! Allah SWT akan membalasnya. Selama kalian membuka keran, air akan datang. Ketika kalian menutupnya, tak ada lagi air yang keluar. Bukalah, karena apa yang Allah SWT anugerahkan kepada kalian, itu takkan pernah berakhir

Madad: Memohon dukungan dari Grandsyeikh

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS
A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiimBismillaahir rahmaanir rahiimWash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin
Grandsyekh kita adalah Syekh `Abdullah Al-Faiz Ad-Daghestani QS, semoga Allah SWT mensucikan rohnya yang penuh berkah dan mendekatkan beliau lebih dekat dan lebih dekat lagi ke Hadirat Ilahiah-Nya. Semoga Dia membuat kita dapat memperoleh manfaat dari barakah dan ajaran Grandsyekh, dan dari penjagaan spiritual beliau bagi kita, bahkan dari alam kubur sana. Kita memperoleh kekuatan spiritual kita dari pusat kalbunya. Jika beliau memutuskan diri kita darinya, kita pun akan terdampar. Setiap napas yang Grandsyekh kita hembuskan pada diri kita dari napas-napas spiritual beliau adalah bagaikan hembusan musim semi yang hangat, yang menghembus pada cabang-cabang kering pepohonan, untuk membuat tunas dan bunga baru menyembul dan tumbuh keluar.
Seperti hembusan musim semi yang membawa bangkitnya kehidupan di dalamnya, begitu pula hembusan-hembusan napas para Kekasih Allah SWT memberikan kehidupan pada pengikut-pengikut mereka, pada anak-anak dan cucu-cucu spiritual mereka. Hubungan dan ikatan itu lebih kuat daripada hubungan pada orang tua kita, sebab jangka waktu ketika orang tua adalah semua dan segalanya bagi anak-anak kecil mereka hanyalah berlangsung demikian singkatnya. Dan, sampailah suatu masa ketika menjadi sulit bagi mereka untuk dapat mempengaruhi anak-anak mereka agar mengikuti jalan hidup yang mereka inginkan bagi anak-anak mereka. Mungkin, anak-anak itu akan meninggalkan mereka dan pergi ke sudut-sudut yang jauh di bumi ini dan memilih suatu jalan hidup yang sama sekali berbeda dan tak terkait dengan jalan hidup orang tua mereka. Sedangkan seorang Grandsyekh sejati selalu memiliki mata yang awas dan waspada atas pengikut-pengikutnya, apakah ketika Grandsyekh tersebut masih hidup di dunia ini ataupun ketika telah wafat dan melanjutkan eksistensinya di luar dunia ini. Ia tak akan pernah meninggalkan pengikut-pengikutnya.
Ya, kita selalu meminta dukungan Grandsyekh kita, suatu dukungan yang akan menolong kita untuk bertindak sesuai dengan perintah-perintah Tuhan kita, dan mendukung kita untuk berdiri dengan kokoh dalam meghadapi musuh-musuh kita: ego yang rendah, setan, hawa nafsu dan keduniawian. Untuk kedua tujuan ini--yaitu kemajuan pada jalan yang benar dan penghindaran penyimpangan darinya secara total--kita membutuhkan dukungan beliau. Tanpa dukungan kuat seperti itu, seseorang akan kalah.
Karena itu, kita mencari dan memohon dukungan Grandsyekh kita dengan mengatakan: "Madad Ya Sayyidii", "Tolong, wahai Tuanku." Kalian mesti memanggil Grandsyekh kalian dengan cara seperti itu kapan saja kalian membutuhkan pertolongan dan dukungan, maka kemudian dukungan itu akan mencapai diri kalian. Semakin kalian merasa bahwa diri kalian adalah lemah dan membutuhkan dukungan, maka semakin besar pula pertolongan yang akan beliau berikan bagi kalian. Tetapi, semakin kalian mengandalkan hanya pada pengetahuan (ilmu) kalian sendiri dan kekuatan pikiran kalian, semakin sedikit pula dukungan yang akan kalian peroleh, karena Grandsyekh akan berkata: "Ia cukup bagi dirinya sendiri, maka mengapa mesti memberinya pertolongan? Biarkan dirinya di tangan egonya."
Saat Nabi suci SAW memohon Tuhannya, "Wahai Tuhanku, jangan tinggalkan hamba pada diri (ego) hamba sekalipun hanya sekejap (Allahumma laa takilnii ilaa nafsii tharfata 'ain)", beliau tengah memohon perlindungan dari dua kemungkinan yang tak diinginkan: 1) untuk ditinggalkan sendiri bersama keinginan-keinginan ego-nya, dan 2) ditinggalkan sendiri untuk membimbing dirinya sendiri hanya dengan akal dan pengetahuannya. Dalam kedua kemungkinan jalan ini, ego (diri) berusaha untuk memisahkan diri kita dari bimbingan (hidayah) yang sejati, dan dengan mengakui kelemahan diri kita dan memohon pertolongan atas tipuan ego inilah, kita dapat meraih dukungan dan pertolongan tersebut.
Sebagaimana Bimbingan dan pertolongan Ilahiah sampai kepada Nabi SAW kita melalui Malaikat utama Jibril AS yang bertindak sebagai wakil Allah SWT dalam membawa wahyu-Nya kepada para nabi, begitu pula Pertolongan Ilahiah itu sampai pada para wali (Awliya') melalui Nabi Suci SAW, yang bertindak sebagai wakil Allah SWT dalam membawa petunjuk bagi ummat beliau. Dan pada akhirnya, setelah masa hidup (duniawi) nabi, petunjuk dan bimbingan itu sampai pada kalbu-kalbu kita melalui para wali, para pewaris nabi, karena kita belum cukup membangun indera-indera kita untuk dapat mendengar langsung bimbingan Nabi kita SAW. Beberapa orang yang bodoh, bahkan di antara kaum Muslim, tak ada keraguan lagi mereka akan menyangkal hal ini. Mereka mengatakan bahwa apa yang tertinggal dari petunjuk dan bimbingan Nabi Suci SAW adalah hanya apa yang tertulis di buku-buku dan kitab-kitab. Pandangan seperti ini adalah amat jauh dari hakikat dan realitas yang sejati. Pandangan seperti ini adalah pandangan orang-orang yang buta, karena seandainya Nabi Suci kita SAW membawa pergi kekuatan-kekuatan spiritual itu bersamanya saat beliau wafat, tentu tak akan ada agama sama sekali, tak ada lagi iman dan kepercayaan, tak ada apa pun dari Islam ini yang tetap hidup tertinggal. Tidak demikian, kekuatan kenabian (nubuwwah) itu tak pernah meninggalkan bumi ini; kekuatan itu hanyalah berubah bentuk dan wujudnya serta dibagi-bagikan melalui kesadaran dari para pewaris Nabi Suci SAW
Karena itu, kalian harus mencari dukungan dari para wali dalam alam semesta ini, di mana diri kalian adalah lemah sama sekali. Jika kalian berhasil menjalin hubungan yang baik dengan orang seperti itu (dengan wali--red.) kalian akan selalu terhubung dengannya: suatu "kawat" akan membawa arus ke kalbu kalian dari sumber tenaga miliknya. Bantuan itu akan paling terasa di saat-saat kalian membutuhkannya. Kini adalah siang hari dan kalian pun tak perlu mencari obor, tak perlu; namun di tengah kegelapan malam, bahkan cahaya yang redup seperti itu pun akan mencegah diri kalian jatuh ke dalam suatu lubang.
Seseorang Berhubungan dengan Cara Dia Menilai Waktunya

Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS
A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiimBismillaahir rahmaanir rahiimWash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin

Waktu ada di Tangan Allah SWT, artinya waktu menggerakkan segala sesuatu agar sesuai jalur menuju takdir yang telah ditetapkan. Ada yang mampu memahami lintasan waktu dan mengamatinya dengan mata kebijaksanaan. Orang-orang seperti itu menghadapi waktu dengan mengendalikannya setiap saat, menggunakan anugerah pemahaman Allah SWT itu untuk menggerakkan hidupnya menuju arah yang benar. Yang lain menggunakan waktu dengan hal-hal yang menyimpang, seperti ketika seseorang melihat pada cermin cekung atau cembung. Persepsi seperti ini terjadi karena mereka tidak berdamai dengan “Tangan Tuhan”; belum memahami alasan mengapa Allah SWT membatasi dunia ruang dan waktu.
Allah SWT bermaksud memberi sebuah kesempatan untuk menyempurnakan diri kita, guna meraih Atribut-Atribut Suci-Nya melalui berbagai usaha kita ketika menghadapi situasi yang sulit. Hal itu mempersiapkan diri kita untuk hari pertemuan kita kembali dengan Sang Khalik.
Dalam sebuah hadis qudsi, Tuhan mengatakan, “Keturunan Adam AS menyumpahi waktu, dan Akulah waktu. Di dalam Tangan-Ku berada lintasan siang dan malam.”
Bagi mereka yang belum memahami kebenaran ini, waktu terasa berjalan dengan cara yang menganggu dan tak menentu. Hal ini untuk menarik perhatian kita agar merubah diri sendiri untuk mendapatkan harmoni/keseimbangan dalam melewati waktu. Karena waktu itu sendiri, jelas ia tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat untuk mengakomodasi keinginan-keinginan kita.


Perasaan kita terhadap waktu adalah karena kemurahan Allah SWT. Seperti halnya perut sakit adalah indikasi untuk mengubah pola makan, sehingga sakit itu membangunkan kita untuk penyesuaian gaya hidup. Ada yang merasakan waktu cepat berlalu, bagaikan seorang penunggang yang merana di atas punggung kuda yang menyerbu sebuah kawanan ternak lalu menuju sebuah karang. Namun bagi yang lain, waktu seakan tidak bergerak seperti sedang terjerumus di dalam rawa-rawa.
Pertama-tama kita harus paham akan nilai dari waktu yang ketika terlewatkan tidak akan diperoleh kembali. Jika seluruh bangsa mengumpulkan sumber-sumbernya dalam usaha menebus satu detik dari masa lalu (untuk mengubah sebuah keputusan yang menimbulkan petaka, misalnya) akan berhasilkah mereka? Tidak!
Sebuah gunung harta tidak bisa membawa kembali satu detik momen penting dalam hidup kalian. Jadi, waktu amat berharga untuk diperhitungkan. Namun orang-orang malah menyia-nyiakannya agar bisa mempunyai waktu rehat lebih banyak.
Begitu banyak orang-orang (bukan saja yang secara klinis mengidap depresi) yang menderita ketidakmampuan untuk menyesuaikan waktu dengan cara agar tercapai kedamaian pikiran.
Nafsu anak-anak muda adalah ingin menelan seluruh dunia ini dengan seketika. Demam panas nafsu pencapaian akan kenikmatan membuat waktu terasa cepat berlalu. Seringkali, dalam waktu yang kritis ini tidak ada kebijaksanaan yang bisa dilatih, lalu memperturutkan kecenderungan ego untuk menghabiskan seluruh energi mereka. Itulah cara mudah untuk menghabiskan energi secara cepat dan ceroboh. Padahal hidup seperti sebuah lari marathon: butuh langkah-langkah, karena jika kalian berlari cepat dari permulaan maka akan roboh setelah beberapa ratus yard. Menyusun kembali sebuah persiapan energi butuh unsur-unsur kontrol diri dan kemauan, di mana hal itu jarang terdapat pada kaum muda.
Sebagian anak-anak muda menghindar dari cara-cara spiritual. Hanya ketika mereka sedang “jatuh” dan menderita lalu mereka datang ke sini dengan terpincang-pincang untuk “perbaikan”. Ratusan orang datang pada saya sambil mengatakan, “Wahai Syekh, bisakah engkau menolong saya?” Suatu tugas berat untuk menolong mereka yang telah menghabiskan seluruh tenaganya dengan sia-sia dan mereka yang mempunyai kekuatan fisik dan mental yang sayangnya berada di tingkat yang rendah.
Kadang-kadang saya merasa heran karena sebagaian dari mereka masih amat muda. Membangkitkan orang mati adalah sebuah keajaiban yang hanya diberikan pada nabi-nabi, namun sepanjang masih ada tanda-tanda kehidupan kami berharap mampu membangkitkan mereka dari keadaan koma.
Sebagai hasil apa yang dilakukan secara berlebih-lebihan, maka depresi menjangkiti kaum muda-mudi ini. Sekarang waktu menjadi tidak cepat berlalu, namun menyeret seperti jalannya seekor keong. Seorang yang depresi berharap waktu akan cepat berlalu namun kenyataannya berlawanan, menit seperti berjam-jam, sejam bagaikan berhari-hari, dan sehari bagaikan berminggu-minggu.

Biasanya, orang-orang yang energinya tidak tersalurkan dengan cara yang bermanfaat, dan merasa tidak berhasil dalam hidupnya, akan terjangkit perasaan seperti ini. Begitu tolol bagi mereka yang berharap bahwa waktu akan cepat berlalu, karena seperti yang telah kita sebutkan, waktu bagaikan sebuah perhiasan yang tidak ternilai.
Dalam Tarekat Naqsybandi yang mulia ini, kita mempunyai sebuah peraturan yang menonjol: nilai seseorang berhubungan dengan cara ia menilai waktunya. Jika kalian merasa waktu kalian sebagai sebuah beban yang tak berguna dan berharap untuk cepat berlalu, maka kalian akan menjadi sebuah beban di muka bumi ini, dan lebih baik kalian berada di bawahnya daripada di atas bumi. Mengapa? Karena kalian dengan ceroboh memboroskan satu harta yang tak ternilai, yaitu energi vital kalian.
Sekarang harta tak ternilai yang lain, yaitu waktu - bukan menjadi semacam kemakmuran di tangan kalian, tetapi menjadi timbunan tak terukur di bawah tanah yang telah kalian kubur. Bersikaplah bijaksana dengan energi vital kalian sehingga nilai dari waktu termanifestasi dalam hidup kalian. Jika kalian menjaga waktu kalian layaknya permata, maka kalian akan diagungkan di mata orang-orang dan di Hadirat Ilahi, di sini dan di akhirat kelak.
Ada sebuah ungkapan: “Seorang sufi bagaikan seorang anak bagi waktunya.” Artinya, seorang sufi memperlakukan waktunya dengan pemujaan dan rasa hormat yang sama seperti terhadap orang tuanya sendiri. Sikap baik terhadap orang tua adalah kewajiban utama dalam agama. Dalam tarekat sufi, kita ditekankan untuk menghormati waktu sebagaimana kita menghormati ayah dan ibu.

Seorang darwis sejati tidak akan pernah melewatkan sebuah momen dengan percuma, namun menangkapnya seperti seorang joki terlatih yang mengendalikan kudanya. Menggunakan kecakapan seperti itu agar waktu berjalan dengan arah yang benar dan dengan kecepatan yang tepat. Lihatlah seorang darwis sejati, pasti kalian akan menemukan mereka sibuk dengan sesuatu yang berguna, tidak pernah melakukan aktifitas yang merugikan atau yang sia-sia. Jika seseorang mampu menuntun dirinya sendiri pada perbuatan-perbuatan yang mengarah pada kesempurnaan, maka ia tahu apa yang harus dilakukan. Mata hatinya tidak pernah buta; ia selalu waspada terhadap tanda-tanda mengenai segala hal yang sedang dihadapinya.
Grandsyekh kita sering mengatakan, “Bagaimana kalian mengisi hari-hari kalian? Jangan sia-siakan waktu, usahakan untuk ‘menenun’ ruang dan waktu sehingga kalian meninggalkan warisan kekal di dunia ini dan terhormatlah karenanya di sini dan di akhirat kelak.”
Bagi pengikut tarekat, menyia-nyiakan waktu secara ceroboh atau mengisinya dengan aktifitas yang tidak berguna adalah dosa besar. Jagalah energi vital dan waktu berharga kalian, jadikan tiap saat menjadi berguna.
Wa min Allah at tawfiq

Tawassul
Yaa sayyid as-Saadaat wa Nuur al-Mawjuudaat, yaa man huwaal-malja’u liman massahu dhaymun wa ghammun wa alam. Yaa Aqrab al-wasaa’ili ila-Allahi ta’aalaa wa yaa Aqwal mustanad, attawasalu ilaa janaabika-l-a‘zham bi-hadzihi-s-saadaati, wa ahlillaah, wa Ahli Baytika-l-Kiraam, li daf’i dhurrin laa yudfa’u illaa bi wasithatik, wa raf’i dhaymin laa yurfa’u illaa bi-dalaalatik, bi Sayyidii wa Mawlay, yaa Sayyidi, yaa Rasuulallaah:
NabiShiddiqSalmaanQaasimJa’farThayfuurAbul HasanAbuu ‘AliYuusufAbul ‘Abbaas‘Abdul Khaaliq‘AarifMahmuud‘AliiMuhammad Baabaa as-SamaasiiSayyid Amiir KulaaliKhwaaja Bahaa’uddin Naqsyband‘Alaa’uddiinYa’quubUbayd AllaahMuhammad az-ZaahidDarwiisy MuhammadKhwajaa al-AmkanakiMuhammad al-BaaqiAhmad al-FaruuqiMuhammad Ma’sumSayfuddiinNuur MuhammadHabib Allaah‘Abd AllaahSyekh KhaalidSyekh Ismaa’ilKhaas MuhammadSyekh Muhammad Effendi al-YaraaghiSayyid Jamaaluddiin al-Ghumuuqi al-HusayniAbuu Ahmad as-SughuuriAbuu Muhammad al-MadaniiSayyidina Syekh Syarafuddin ad-DaghestaniSayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh ‘Abd Allaah al-Fa’iz ad-DaghestaniSayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh Muhammad Nazhim al-Haqqaani
Syahaamatu FardaaniYuusuf ash-Shiddiiq‘Abdur Ra’uuf al-YamaaniImaamul ‘Arifin Amaanul HaqqLisaanul Mutakallimiin ‘Aunullaah as-SakhaawiiAarif at-Tayyaar al-Ma’ruuf bi-MulhaanBurhaanul Kuramaa’ Ghawtsul AnaamYaa Shaahibaz Zaman wa yaa Shahibal `Unshur
Yaa BudallaYaa NujabaYaa NuqabaYaa AwtadYaa AkhyarYaa A’Immatal Arba’aYaa Malaaikatu fi samaawaati wal ardhYaa Awliya AllaahYaa Saadaat an-Naqsybandi
Rijaalallaah a’inunna bi’aunillaah waquunuu ‘awnallana bi-Llah, a’sa nahdha bi-fadhlillah,Al-Faatihah

Minggu, 29 Juni 2008

Sebuah mesin bernama disiplin

Bismillahir rahmaanir rahiim
Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim

Sebuah Mesin bernama Disiplin
Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS
Lefke, Siprus: April 2001


Kita memerlukan disiplin. Kita memerlukannya untuk membawa diri kita dari level terendah menuju level tertinggi. Level terendah dalam al-Qur’an disebutkan, “tsumma radadnahu asfala safiliin” “kemudian Kami rendahkan mereka ke tempat paling rendah” [QS 95:5]. Arti dari asfala safiliin dapat ditemukan dalam hasrat fisik kita. Selama seseorang masih bersama hasrat kebinatangan yang tidak pernah berakhir itu, ia akan berada di level terendah. Karakter ini adalah milik binatang. Selama kita mengikuti bisikan ego dan keinginan fisik kita berada pada level yang sama dengan binatang. Tetapi kita telah dipanggil, kita telah diundang untuk bangkit dari
asfal, level terendah menuju ahsan, level tertinggi. Dan kita telah diberikan sebuah mesin untuk perjalanan ini oleh Yang berada di Surga. Mesin itu adalah disiplin.

Tanpa disiplin yang kalian letakkan pada ego kalian, kalian tidak bisa beranjak dari asfal ke ahsan. Syariah membawa disiplin itu dengan dua sayap, satu sayap dengan perintah dan sayap lainnya dengan hal-hal yang dilarang. Satu sayap membawa apa yang harus kalian lakukan sementara sayap yang lain membawa apa-apa yang tidak boleh kalian lakukan. Dengan kedua sayap disiplin itu, kalian bisa terbang. Jika salah satu sayap patah atau jika bulu-bulunya rontok, kalian tidak bisa terbang.

Ketika kalian menyetir mobil, setiap bagian dalam mesin harus dalam kondisi baik. Jika salah satu skrup kecil hilang, bisa jadi mobil itu tidak bisa bergerak. Semuanya harus sempurna dan semuanya mempunyai kesempurnaan. Mobil yang tidak sempurna tidak bisa bergerak. Pesawat terbang harus mempunyai disiplin yang lebih tinggi daripada mobil. Syariah membawa kalian dari satu tempat ke tempat yang lain dalam level pertama seperti halnya sebuah mobil membawa kalian dari suatu tempat ke tempat yang lain melalui sebuah jalan. Bergerak di jalan merupakan satu hal, terbang adalah hal lain. Kalian harus menggunakan disiplin pesawat terbang ketika menggunakannya. Dan itu lebih ketat dibandingkan dengan mobil. Syariah mempersiapkan manusia pada level pertama.
Tarekat adalah untuk mengangkat manusia. Beberapa orang menghabiskan setengah jam dari waktunya mendiskusikan bagaimana kita harus mempersiapkan diri kita, bagaimana kita mesti duduk, bagaimana kita harus bersikap sopan-santun. Disiplin seperti itu bagaikan disiplin sebuah mobil. Pesawat terbang harus mempunyai disiplin yang lebih banyak lagi. Kekuatan mesinnya harus mencapai level tertinggi sebelum lepas landas. Pertama, pesawat berada di landasan pacu di permukaan bumi dengan kecepatan 30 mil per jam. Itu tidak cukup. Kemudian pada saat berjalan pelan kecepatannya meningkat ke 60, 70, 100, 300 mil, baru kemudian lepas landas. Kemudian kecepatan di udara mencapai 350, 400, 500 mil per jam dan lebih tinggi lagi.

Orang berpikir bahwa bahkan dengan kemalasan mereka bisa bergerak dari bumi ke surga. Mereka membayangkan bahwa mereka bisa terbang dengan ego mereka. Tidak, itu tidak bisa! Kalian harus menanamkan disiplin dengan syariah dan kemudian dengan tarekat. Tarekat berarti menjaga disiplin. Bila kalian meminta untuk pergi ke surga, kalian harus mempunyai disiplin itu.

Orang-orang bertanya kepada saya, “Wahai Syekh! Tanpa masuk Islam apakah mungkin untuk mengikuti Jalan Sufi?” Hal itu seperti bertanya, apakah kalian bisa men-starter mobil tanpa menggunakan baterai (aki). Atau terbang di udara dengan mobil. Tidak, itu tidak bisa!
Kalian tidak bisa men-starter mobil tanpa baterai. Kalian tidak bisa terbang di udara dengan menggunakan mesin mobil. Jika kalian mencobanya, kalian akan bergerak seperti ini (Syekh membuat isyarat tangan menunjukkan gerakan oleng dan menyamping) dan akhirnya jatuh. Untuk men-starter mobil, kalian memerlukan baterai. Untuk terbang, kalian memerlukan mesin pesawat terbang. Orang-orang bertanya kepada saya mengenai hal ini. Mereka tidak senang jika kalian meminta mereka untuk berdisiplin. Mereka tidak ingin mengontrol ego mereka. Mereka adalah yang paling bodoh di hadapan Tuhan mereka.

Orang-orang bertanya tentang penyembahan terhadap berhala. Mereka membuat patung-patung tertentu lalu membungkuk di hadapannya. Ada banyak sekali patung. Setiap orang menurut imajinasi mereka menciptakan sebuah figur. Orang-orang ini menciptakan sendiri pencipta mereka. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Hanya ada satu Pencipta. Hanya Dia-lah Sang Pencipta.

Orang-orang menciptakan hijab terbesar antara hamba dengan Tuhannya. Setiap saat seseorang diminta untuk menyembah Tuhannya, egonya berkata, “Tidak! Jangan ucapkan la ilaha ill-Allah, ucapkanlah la ilaha illa ana (tidak ada tuhan selain diriku sendiri) atau ucapkan la ilaha illa nafsi (tidak ada tuhan selain egoku), dan jika Aku tidak memberimu izin, kamu tidak boleh menyembah Tuhanmu.
24 jam sehari harus untukku. Tetapi jika kamu mau melakuakan sesuatu untuk-Nya, 1 menit lebih dari cukup. Selama 24 jam kamu harus menjadi hambaku. Untuk-Nya 1 menit saja cukup. Atau mungkin 1 menit dalam 1 minggu atau 1 menit dalam 1 bulan. Kadang-kadang 1 menit dalam 1 tahun.”

Ego mencegah orang dari disiplin, untuk mi’raj mereka—Kenaikan mereka menuju ke Hadirat Ilahi. Setiap orang mempunyai suatu perjalanan yang harus ditempuh dari tempat di mana ia berasal menuju satu tempat di surga. Allah SWT telah memberikan satu tempat di surga bagi setiap orang. Surga menanti kalian. “Mari, mari (Syekh membuat isyarat ajakan).” Jika kalian menjaga disiplin, kalian bisa mencapai tempat yang istimewa itu, bangku yang istimewa diberikan kepada kalian di Hadirat Ilahi.

Tetapi orang-orang di abad 21 adalah budak terhadap ego mereka. Mereka menyembah ego mereka. Dan mereka berperang bukan untuk surga tetapi untuk ego mereka. Mereka memerangi Tuhan mereka seperti Namrud. Mereka telah menjadi hamba Setan dan budak tubuh fisik mereka. Inilah orang-orang di abad 21.

Di abad ini, jarang terdapat orang yang mengarahkan pandangannya ke Surga. Banyak cahaya di Surga.
Namun mayoritas orang menjalani hidupnya tanpa mencari suatu cahaya. Orang-orang datang ke asosiasi (dan tarekat adalah asosiasi) ini untuk mengerti. Begitu banyak orang yang bertanya, “Apa itu tarekat? Tarekat adalah untuk mengetahui realitas. Orang yang ingin mengetahui realitas dari eksistensi mereka dan untuk mengetahui realitas hubungan mereka dengan Tuhannya harus mengikuti tarekat. Jika ia datang untuk menerima cahaya, ketahuilah bahwa cahaya telah dikirimkan kepada seluruh rasul dan cahaya terakhir diberikan kepada Rasul terakhir, Rasulullah SAW untuk seluruh umat manusia. Kami senang untuk mengambil cahaya itu dan meneruskannya kepada kalian.

Banyak orang akan pergi (ke kuburnya) dengan lilin yang padam. Ketika mereka bertemu Tuhan mereka, Allah SWT bertanya, “Wahai hamba-Ku! Berapa tahun kamu hidup di bumi? Aku memberimu begitu banyak lilin, begitu banyak cahaya dari Surga, begitu banyak rasul yang datang kepadamu dengan cahaya Surga, di mana cahayamu? Apakah kamu mengikuti cahaya itu?” Apa yang akan kalian katakan? Jadi, semua rasul harus diikuti. Kalian harus mencari cahaya yang telah diberikan dari Surga melalui semua Rasul. Cahaya itu selalu berada di sana. Tetapi ia membutuhkan sebuah transformer (sebuah receiver, penerima), kabel, dan sebuah bola lampu bagimu agar bisa terlihat. Cahaya Surga dikirimkan kepada semua rasul untuk membantu seluruh hamba Tuhan untuk melihat dan mengamati.

Kalian merasakan eksistensi Allah SWT melalui Samudra Kekuatan yang tanpa akhir, melalui Samudra Keindahan-Nya yang tanpa akhir, melalui Samudra Rahmat-Nya yang tanpa akhir. Jika kalian menerima cahaya dari seluruh rasul, maka eksistensi Tuhan pemilik Surga akan menjadi jelas bagi kalian.

Jika tidak ada cahaya Surga, kalian tidak dapat melihat apa-apa. Yang ada hanya kegelapan. Melalui kegelapan orang tidak dapat melihat, kecuali jika ada bintang, bulan atau matahari. Orang-orang yang tidak mendapat cahaya dari rasul menganggap bahwa Allah SWT tidak ada. Mereka tidak bisa melihat. Mereka mencintai Setan dan mempelajari ajaran Setan. Mereka menolak untuk membawa cahaya kerasulan ke pusat-pusat pendidikan agar orang-orang menjadi tahu, kemudian bertanya, mengamati, belajar dan mengajar. Bila kalian membawa cahaya Surga ke universitas, mereka akan berkata, “Tidak! Kami tidak menerimanya.” Mereka bertekad untuk menjadi buta, berada dalam kegelapan, menjadi teman seluruh Setan dan untuk menempatkan kekuatan di tangan Setan.

Kita berbicara kepada orang-orang ini, “Sekarang waktu kalian telah habis. Periode kalian telah berakhir. Kesultanan kalian akan lenyap dan cahaya Surga akan tampak bagi setiap orang.” Semoga Allah SWT memberkahi Shahib uz-Zaman, Imam Mahdi AS. Semoga Dia segera mengirimkannya begitu pula dengan Nabi ‘Isa AS yang akan menyingkirkan kesultanan Setan tersebut. Kita memohon dengan kerendahan hati kepada Allah SWT agar bisa mencapai hari-hari yang penuh kedamaian, hari-hari yang diberkahi, Hari Akhir, untuk hidup hanya untuk Allah SWT, dan untuk bekerja hanya untuk Allah SWT.
Semoga Allah SWT memberkahi kalian.

Wa min Allah at tawfiq