Hari itu adalah hari ketiga pelatihan quantum teaching yang saya ikuti. Selain materi pelatihan yang berupa pengendalian diri, pelatihan ditutup dengan kontes para peserta dalam mempraktekkan quantum teaching. Peserta harus menyiapkan rencana pengajaran dan materi pengajaran. Saya telah menyiapkan segala sesuatunya pada malam sebelumnya dengan semaksimal mungkin. Saya telah memilih materi yang berhubungan dengan mata kuliah saya di lembaga pendidikan yang mengirim saya untuk pelatihan itu, yaitu Struktur dan Perilaku Organisasi. Untuk waktu 15 menit yang disediakan bagi para peserta, saya memilih topik sederhana: Self-Fullfilling Prophecy. Saya anggap topik ini menarik bagi teman-teman saya, karena pada akhir hari kedua pelatihan, telah disinggung tentang pygmallion effect, tetapi hanya sambil lalu saja sehingga tidak menarik perhatian peserta.
Materi tersebut saya kemas dengan sebanyak mungkin menggunakan teori-teori quantum teaching. Anak saya membantu saya menyiapkan powerpoint sesuai dengan keinginan saya. Saya merasa cukup puas dengan hasilnya, sehingga berangkat ke pelatihan dengan hati yang mantap walaupun sedikit mengantuk karena bekerja hampir seluruh malam.
Saat kontes, peserta dibagi menjadi 3 kelompok. Kebetulan kelompok saya terdiri dari ibu-ibu semua. Saya senang menikmati cara teman-teman saya mengajar. Hanya saja saya dapat melihat bahwa teman-teman tidak menggunakan teori-teori quantum teaching sepenuhnya. Materi yang mereka ajukan adalah materi mengajar mereka, hanya dipotong pas 15 menit. Tentunya sangat berbeda dengan materi saya yang memang dipersiapkan khusus untuk 15 menit dan menggunakan metode quantum teaching yang baru dilatihkan kepada kami. Saya dapat melihat bahwa teman-teman juga melihat apa yang saya lihat: materi saya berbeda! Mereka juga mengakuinya secara lisan. Di sini saya tidak menilai penampilan kami.
Komentar trainer kami-pun menunjukkan hal yang sama: saya unggul dalam kontes tersebut.
Tibalah saat penilaian. Trainer kami meminta kami menuliskan di secarik kertas nama peserta yang kami anggap paling banyak menggunakan metode quantum teaching. Penilaian dari peserta terhadap peserta. Hasilnya: bukan saya pemenangnya!
Apakah saya kecewa? Tentu saja. Bagi saya sudah jelas bagaikan malam dengan siang siapa peserta yang memenuhi kriteria memenangkan kontes, tetapi hasilnya berbeda. Pelajaran yang saya petik: banyak hal lain yang menjadi bahan pertimbangan seseorang saat harus memilih pemenang di antara peserta yang di antaranya terdapat dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar