Saya seringkali mendapat kelas yang kapasitas mahasiswanya mencapai delapan puluh orang. Padahal mata kuliah saya termasuk mata kuliah utama. Dalam kondisi tersebut maka waktu dan enerji saya banyak terbuang untuk mengatasi kelas agar tetap dapat berjalan lancar, tenang dan mahasiswa tetap terjaga motivasinya untuk mengikuti perkuliahan. Hal ini bukan hal yang mudah. Saking besarnya kelas, jika ada saja sekelompok mahasiswa yang mulai ngobrol, maka bagaikan penyakit menular, kelaspun berkembang jadi ribut. Maka hilanglah fokus mahasiswa pada pelajaran. Akibatnya saya harus berulang kali menenangkan kelas dan mengembalikan fokus mahasiswa. Mengajar dalam kondisi seperti itu akan mengakibatkan kelelahan.
Memang susah mengajar di kelas yang motivasinya heterogen, apalagi kalau kelasnya besar. Makin besar kelas, makin heterogen motivasi mahasiswa. Mereka yang mempunyai motivasi belajar tinggi, biasanya akan duduk pada deretan bangku yang relatif terdepan. Mereka yang motivasi ikut kuliah cuma sekedar mendapat status mahasiswa dan bukan pengangguran, yang cuma menghabiskan uang orangtua saja, biasanya duduk pada bangku deretan relatif paling belakang. PAra pengejar status ini saya beri julukan pengamat, karena kerjanya hanya mengamati jalannya perkuliahan, mendiskusikannya dengan teman di dekatnya(kelompoknya?), tanpa berpartisipasi aktif pada proses belajar-mengajar. Tugas diselesaikan dengan cara menyalin tugas teman, persiapan ujian identik dengan mempersiapkan contekan dengan segala trik dan taktik untuk menghindari risiko ketahuan dan mendapat sangsi.
KAlau kelak hasil ujiannya jelek(karena tidak ada kesempatan nyotntek), maka mulailah dosen yang jadi kambing hitamnya: materi belum diajarkan, dosen tidak bisa mengajar, dsb. Kalau mahasiswa semacam ini mendominasi kelas, maka dapat diprediksi bahwa hasil ujian akan menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa tidak lulus. Dosen pula yang harus mempertanggungjawabkannya. JAdi bagaimana? Mau menambah nilai sehingga kinerja dosen tampak bagus ? Atau tetap dengan nilai senula dengan risiko tidak dapat kelas lagi di semester berikutnya. Padahal makin besar kelas, makin banyak kemungkinan dihuni oleh para pengamat ini.
Apa yang harus diperbuat untuk mengatasi ini?