Minggu, 30 Desember 2007

Kelas yang besar

Saya seringkali mendapat kelas yang kapasitas mahasiswanya mencapai delapan puluh orang. Padahal mata kuliah saya termasuk mata kuliah utama. Dalam kondisi tersebut maka waktu dan enerji saya banyak terbuang untuk mengatasi kelas agar tetap dapat berjalan lancar, tenang dan mahasiswa tetap terjaga motivasinya untuk mengikuti perkuliahan. Hal ini bukan hal yang mudah. Saking besarnya kelas, jika ada saja sekelompok mahasiswa yang mulai ngobrol, maka bagaikan penyakit menular, kelaspun berkembang jadi ribut. Maka hilanglah fokus mahasiswa pada pelajaran. Akibatnya saya harus berulang kali menenangkan kelas dan mengembalikan fokus mahasiswa. Mengajar dalam kondisi seperti itu akan mengakibatkan kelelahan.

Memang susah mengajar di kelas yang motivasinya heterogen, apalagi kalau kelasnya besar. Makin besar kelas, makin heterogen motivasi mahasiswa. Mereka yang mempunyai motivasi belajar tinggi, biasanya akan duduk pada deretan bangku yang relatif terdepan. Mereka yang motivasi ikut kuliah cuma sekedar mendapat status mahasiswa dan bukan pengangguran, yang cuma menghabiskan uang orangtua saja, biasanya duduk pada bangku deretan relatif paling belakang. PAra pengejar status ini saya beri julukan pengamat, karena kerjanya hanya mengamati jalannya perkuliahan, mendiskusikannya dengan teman di dekatnya(kelompoknya?), tanpa berpartisipasi aktif pada proses belajar-mengajar. Tugas diselesaikan dengan cara menyalin tugas teman, persiapan ujian identik dengan mempersiapkan contekan dengan segala trik dan taktik untuk menghindari risiko ketahuan dan mendapat sangsi.
KAlau kelak hasil ujiannya jelek(karena tidak ada kesempatan nyotntek), maka mulailah dosen yang jadi kambing hitamnya: materi belum diajarkan, dosen tidak bisa mengajar, dsb. Kalau mahasiswa semacam ini mendominasi kelas, maka dapat diprediksi bahwa hasil ujian akan menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa tidak lulus. Dosen pula yang harus mempertanggungjawabkannya. JAdi bagaimana? Mau menambah nilai sehingga kinerja dosen tampak bagus ? Atau tetap dengan nilai senula dengan risiko tidak dapat kelas lagi di semester berikutnya. Padahal makin besar kelas, makin banyak kemungkinan dihuni oleh para pengamat ini.

Apa yang harus diperbuat untuk mengatasi ini?

teknik 121

Terdapat banyak sekali cara memotivasi para peserta belajar. Salah satu cara adalah dengan memberikan arti dan manfaat materi pembelajaran kepada para peserta. Jika seseorang tahu apa manfaat materi yang akan dipelajarinya, maka akan tumbuh semangat dan keinginannya untuk belajar.

Jika anda membuat satu adonan donat menjadi berbagai rasa donat dan kemudian menjualnya, maka untuk menghitung keuntungan yang anda peroleh, anda perlu mengetahui cara menghitung harga pokok masing-masing jenis donat anda tersebut.

Jika anda membuat berbagai hasil karya lukis dengan tingkat kesulitan yang berbeda serta waktu pembuatan yang berbeda, maka untuk menghitung honor kerja anda atas masing-masing lukisan, anda perlu mengetahui teknik perhitungan harga pokok untuk produk gabungan yang tepat.

Dengan mengetahui manfaat perhitungan harga pokok gabungan, maka akan dapat memotivasi para peserta belajar untuk mempelajari teknik perhitungan tersebut.

Saya baru saja memberitahu anda mengenai contoh teknik 121.

Jumat, 28 Desember 2007

Persaingan

Dunia ini penuh persaingan. Apa sih yang tidak dipersaingkan? Karir, bisnis, bahkan cinta. Persaingan dapat membuat seseorang maju dan berkembang ke arah yang lebih baik. Sebaliknya persaingan dapat merusak hubungan baik, moral, bahkan hal-hal yang dipersaingkan itu sendiri.

Dalam perjalanan hidup saya, banyak pekerjaan yang telah saya coba. Mulai dari berjualan door to door, ikut multilevel marketing, jadi MC, dan yang sampai sekarang saya tekuni adalah mengajar. Mengajar merupakan pekerjaan yang menarik buat saya. Suatu perwujudan cita-cita sejak remaja. Walaupun saya terlambat memulainya (karena awalnya karir utama saya adalah sepenuhnya ibu rumah tangga), saya menyukai pekerjaan ini. Sungguh bahagia jika melihat mahasiswa saya dapat lulus dengan baik.

Namun saat ini sungguh saya merasa terganggu dengan hadirnya seorang rekan dosen yang masih muda, bersemangat, cantik, dan tentu saja berteknologi tinggi. Hal yang mengganggu saya adalah pernyataannya sendiri yang ingin menggantikan posisi saya sebagai dosen senior.
Kanapa saya? Padahal ada begitu banyak dosen senior lainnya. Mungkin dia hanya bercanda, tetapi pernyataannya menyebar dan menjadi pembicaraan rekan-rekan dosen.

Sebenarnya saya tidak perlu merasa terganggu. Dosen baru dan muda pasti banyak sekali dan siap menggantikan kami yang sewaktu-waktu tidak lagi mampu mengajar atau bahkan meninggalkan dunia ini. Namun yang membuat hati saya bimbang adalah bentuk persaingan yang mungkin terjadi. Umumnya dosen merasa perlu membangun citra di kalangan mahasiswa. Saya tidak menginginkan citra yang terbangun dari persaingan antar dosen akan berupa citra mengenai nilai. Jangan sampai untuk mengejar popularitas, kami para dosen menjadi "murah" dalam pemberian nilai. Harus tetap terjaga bahwa nilai merupakan cerminan kompetensi mahasiswa yang sebenarnya.

Maka untuk tetap bertahan dalam persaingan ini, saya berusaha menemukan metode pengajaran yang paling tepat untuk tiap kelas yang saya asuh dan menambah wawasan keilmuan saya. Saya berharap, meskipun usia semakin bertambah, kompetensi saya sebagai dosen akan tetap dapat berkembang dengan baik sehingga saya tetap dapat diterima dalam dunia pendidikan.

Kamis, 27 Desember 2007

Jangan berharap kepada sesama manusia (1)

Hari itu adalah hari ketiga pelatihan quantum teaching yang saya ikuti. Selain materi pelatihan yang berupa pengendalian diri, pelatihan ditutup dengan kontes para peserta dalam mempraktekkan quantum teaching. Peserta harus menyiapkan rencana pengajaran dan materi pengajaran. Saya telah menyiapkan segala sesuatunya pada malam sebelumnya dengan semaksimal mungkin. Saya telah memilih materi yang berhubungan dengan mata kuliah saya di lembaga pendidikan yang mengirim saya untuk pelatihan itu, yaitu Struktur dan Perilaku Organisasi. Untuk waktu 15 menit yang disediakan bagi para peserta, saya memilih topik sederhana: Self-Fullfilling Prophecy. Saya anggap topik ini menarik bagi teman-teman saya, karena pada akhir hari kedua pelatihan, telah disinggung tentang pygmallion effect, tetapi hanya sambil lalu saja sehingga tidak menarik perhatian peserta.

Materi tersebut saya kemas dengan sebanyak mungkin menggunakan teori-teori quantum teaching. Anak saya membantu saya menyiapkan powerpoint sesuai dengan keinginan saya. Saya merasa cukup puas dengan hasilnya, sehingga berangkat ke pelatihan dengan hati yang mantap walaupun sedikit mengantuk karena bekerja hampir seluruh malam.

Saat kontes, peserta dibagi menjadi 3 kelompok. Kebetulan kelompok saya terdiri dari ibu-ibu semua. Saya senang menikmati cara teman-teman saya mengajar. Hanya saja saya dapat melihat bahwa teman-teman tidak menggunakan teori-teori quantum teaching sepenuhnya. Materi yang mereka ajukan adalah materi mengajar mereka, hanya dipotong pas 15 menit. Tentunya sangat berbeda dengan materi saya yang memang dipersiapkan khusus untuk 15 menit dan menggunakan metode quantum teaching yang baru dilatihkan kepada kami. Saya dapat melihat bahwa teman-teman juga melihat apa yang saya lihat: materi saya berbeda! Mereka juga mengakuinya secara lisan. Di sini saya tidak menilai penampilan kami.
Komentar trainer kami-pun menunjukkan hal yang sama: saya unggul dalam kontes tersebut.

Tibalah saat penilaian. Trainer kami meminta kami menuliskan di secarik kertas nama peserta yang kami anggap paling banyak menggunakan metode quantum teaching. Penilaian dari peserta terhadap peserta. Hasilnya: bukan saya pemenangnya!

Apakah saya kecewa? Tentu saja. Bagi saya sudah jelas bagaikan malam dengan siang siapa peserta yang memenuhi kriteria memenangkan kontes, tetapi hasilnya berbeda. Pelajaran yang saya petik: banyak hal lain yang menjadi bahan pertimbangan seseorang saat harus memilih pemenang di antara peserta yang di antaranya terdapat dirinya sendiri.