16/12/2005 22:38 WIB
Jumat, 16/12/2005 16:23 WIBAbdullah Ali in memoriem 4, soal kepemilikan asing oleh : Djony Edward
JAKARTA (Bisnis): Sosok bankir senior Abdullah Ali selain tekun menangani Bank Central Asia, juga memiliki perhatian yang besar terhadap masa depan perbankan nasional, paling tidak dalam tataran pemikiran.
Sejak tahun 1990-an dia bersuara nyaring soal perlunya konsolidasi perbankan nasional guna menghadapi persaingan global.
Dia berpendapat perbankan nasional akan sulit bersaing menghadapi arus bank- bank asing yang akan menyerbu Indonesia dalam era globalisasi, jika tidak segera mengadakan pembenahan, terutama pembenahan strategi jangka panjang. Perbankan nasional juga akan kalah bersaing jika hanya tetap berorientasi menggenjot laba demi memuaskan para pemegang saham.
"Kita tidak bisa membiarkan perbankan Indonesia dikuasai perbankan asing. Kita telah bersusah payah mengambil alih bank-bank Belanda pada tahun 1959, tidak seharusnya sejarah kolonial terulang kembali, baik dalam bidang politik maupun bidang ekonomi," demikian ditegaskan Abdullah Ali ketika itu.
Menurut Ali, selain tidak siapnya perbankan nasional menghadapi perbankan asing, masalah lain yang sangat mengkhawatirkan adalah masih banyaknya orang-orang yang bersedia digunakan namanya sebagai stoorman atau bagi akumulasi suara untuk kepentingan pihak asing. Dengan banyaknya stoorman ini, sangat besar kemungkinan saham perbankan nasional yang tercatat di pasar modal dikuasai orang asing.
Ketika berbicara dengan DPR, dia pernah mempermasalahkan penjualan saham-saham perbankan kepada pihak asing. Sebab, perbankan mempunyai kedudukan sangat strategis bagi perekonomian bangsa.
"Harus dijaga jangan sampai tingkat pemilikan saham perbankan oleh pihak asing akan berkembang ke arah yang bisa mempengaruhi kebebasan pemerintah dalam mengatur ekonomi moneter". tuturnya. [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika