Makna "Insya ALLAH" bagiku
(dikutip dari Notes by Roosita Abdullah)
Suatu hari seseorang datang ke ruang kerja saya dan pinjam uang sebanyak tiga juta rupiah. Saat itu hari Jumat dan sudah jam 9 malam, tentu saja saya tidak bawa uang sebanyak itu. Saya bilang kepadanya, mengingat jumlah uang yang sangat besar (untuk saya tentunya) saya akan llihat dulu apakah uang saya mencukupi. Namun mengingat keperluannya yang sangat mendesak akhirnya saya bilang "Insya Allah, kayaknya sih bisa".
Seninnya saya tidak masuk kantor karena sakit. Hari Selasanya, ketika bertemu saya yang bersangkutan menanyakan pinjamannya. Saya ini seorang pelupa...apalagi habis sakit, jadi akhirnya saya bilang lagi "Insya Allah besok ya". Keesokan harinya, Rabu, hari yang sangat sibuk. Dari pagi rapat koordinasi dengan Direksi, siangnya ada rapat dengan IBM, dan masih harus menyiapkan bahan presentasi pula ke BM. Eh, selama saya rapat, yang bersangkutan ini menjadi menjengkelkan. Terus menerus dia sms saya, mendesak minta uangnya segera, tanpa memperdulikan bahwa saat itu saya sedang rapat dengan Direksi. Hati manusia saya ini memang lemah...hati ini menjadi jengkel dan mulai merasa sepertinya saya yang punya hutang dikejar-kejar terus. Saya bilang kepadanya kalau memang sudah sangat mendesak, kenapa dia tidak pinjam saja uang kas divisi dulu sebesar lima ratus ribuan. Dia melakukan saran saya sehingga sampai berakhirnya hari itu hidup saya tenang. Saya tidak bertemu dia hari itu. Esok paginya, mulai subuh dia sms saya dua kali menagih sisanya. Hati sombong ini kehilangan keikhlasannya...maka sorenya ketika bertemu dia saya hanya memberikan sebesar satu juta saja...tidak sesuai dengan yang dia harapkan dan telah saya janjikan.
Nah sahabat-sahabatku yang tercinta, inilah yang menimpa saya, atas janji dengan mengucapkan Insya Allah yang meski dilaksanakan namun tidak sesuai dengan yang dijanjikan.
Hari Sabtunya kami harus melaksanakan relokasi Data Center kami ke suatu tempat baru yang lebih baik. Tentunya menjadi tanggung-jawab saya sebagai kepala divisi. Dari Jumat malam sudah mohon izin Allah untuk pelaksanaan relokasi tersebut, namun senantiasa jawaban yang saya dapat tidak dapat dimengerti. Ayat-ayat petunjuk selalu merujuk pada ayat yang berbicara mengenai dzalim, neraka, kafir, dan lain-lain. Nah pada saat hari pelaksanaan yang melibatkan seluruh cabang dan seluruh divisi, tiba-tiba Departemen Agama mati listrik. Alhasil, kami tidak bisa melakukan test jaringan data dari Data Center baru ke Depag. Padahal Seninnya akan ada perebutan kursi untuk haji ONH Plus. Apabila test jaringan data ke Depag gagal, maka relokasi tidak dapat dilaksanakan. Kebijakan ini kami ambil, karena kami tidak mungkin melalaikan amanah dari calon jemaah haji ONH Plus. Herannya sebuah departemen yang data seluruh haji se Indonesia tersimpan disana, tidak ada gensetnya...jadi mati begitu saja listriknya dan untuk memperbaiki perlu menunggu seorang teknisi dari Depok, yang nggak datang-datang. Saya mulai sadar, jangan-jangan ini terkait dengan izin dari Allah yang belum turun juga.
Saya ambil wudhu, kemudian buka lagi Al Quran. Kali ini surah yang terbuka dihadapan saya adalah S:11:98-104, bingung saya. Buka lagi yang ada adalah surah S:16:88-94, hati saya berdegup makin cepat. Akhirnya saya melaksanakan shalat Dhuha dua rakaat, mohon petunjuk Allah S.W.T. Baru saja selesai membaca umul Quran (alfathihah) di rakaat pertama, terlintas dengan jelas nama teman yang saya dzalimi tadi. Astaghfirullah. Selesai shalat dhuha, langsung shalat taubat, mohon ampunanNya atas kedzaliman saya dan kelalaian berjanji dengan memakai namaNya. Selesai shalat, segera saya buka tas saya mau membayar kekurangan uang pinjaman yang saya janjikan. Tahu nggak sahabat, uang yang saya ambil dari lemari secara asal saja, karena tergesa-gesa pergi sebelum shubuh, berjumlah...tidak lebih dan tidak kurang dari...satu setengah juta rupiah!!! Tidak ada satu rupiahpun lebih ataupun kurangnya. Berdiri seluruh bulu di tubuh saya, dingin rasanya kedua tangan dan kaki saya...Masya Allah....betapa buta mata dan hati saya...betapa dzalimnya saya ini.
Sebelum shalat dhuhur kembali saya shalat taubat, mohon kiranya Allah Al Ghofar, Al Ghofur, Arrahman, Arrahim, mengampuni kesalahan hambanya yang luar biasa sombong dan dzalim ini.
Sejak itu, mudah-mudahan seterusnya demikian, saya sangat menjaga janji terutama yang saya ucapkan dengan menggunakan namaNya yang agung. Insya Allah...harus kita jaga sahabat...hanya apabila atas kuasaNya kita tidak bisa melaksanakannya...jangan main-main dengan ucapan tersebut.
Hikmahnya selain yang sudah saya utarakan di atas, adalah kepahaman saya. Apabila seorang yang diberi amanah memimpin, dalam lingkup besar ataupun kecil, melakukan kesalahan, bahkan apabila kesalahan tersebut tidak terkait pekerjaan yang diamanahkan dan semata kesalahan terkait hubungan pribadi, maka akibatnya akan sampai kepada semua yang berada dibawah amanahnya tersebut. Dalam kasus saya, kegagalan relokasi pada hari itu yang melibatkan seluruh cabang, dan juga menghabiskan biaya puluhan juta. Dan akhirnya harus dire-schedlue ke minggu depannya. Lingkupnya hanyalah sebuah divisi. Bagaimana dengan seorang kepala keluarga? Kepala negara apalagi? Tidaklah kita heran apabila Indonesia mendapat teguran bertubi-tubi mulai dari tsunami di Aceh, gempa bumi di Jogya, tanah longsor, pesawat jatuh, banjir badang, sampai tsunami di situ gintung...ah, tidak semata kesalahan kepala negaranya tapi juga kesalahan kita semua. Apakah kita yakin, ketika tangan kita mencontreng satu dari tiga nama calon presiden baru-baru ini, dilandasi dengan niat suci, untuk kebaikan bangsa Indonesia semata? Apakah tidak ada sedikit harapan, bahwa apabila nama tersebut menang, dia dapat mempermudah bisnis kita, atau mempermudah perjalanan karir kita? Entahlah...semua terpulang kembali pada hati nurani kita yang tidak pernah bohong karena ia adalah Cahaya di atas Cahaya yang memberi petunjuk jalan yang lurus, apabila kita mau mengikutinya dan tidak mengingkarinya.
Entahlah. hanya Allah yang maha Tahu. Tapi yakinlah Allah yang memberi kita cobaan, maka hanya Allah jualah yang dapat memberikan jalan keluar atas semua cobaanNya. Ikhlaskan hati kita untuk senantiasa bergantung hanya kepadaNya, meminta pertolongan hanya kepadaNya, percaya pada semua janjiNya.
Kisah terjadi Juni 2007 di Jakarta. Inilah salah satu kisah keajaiban dalam perjalanan hijrah seorang hambaNya...
Ref:
Alquran S:11:98-104
Alquran S:16:88-94
- 88: Orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan demi siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.
Catatan: teman saya tsb butuh uang untuk membayar hutangnya yang dipergunakan untuk membiayai pernikahannya.
- 90: Sesungguhnya Allah menyuruhmu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang melakukan perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
- 91: Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji, dan janganlah kamu melanggar sumpah setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah tsb). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
Selengkapnya...mohon di baca sendiri ya...bagi yang ingin belajar dari pengalaman ini.
(Roosita Abdullah, 13 Juli 2008)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar