Dari Ermita Mangkona:
the hindu poet who loved the prophet SAW
Dillu Ram Kausari:
Penyair Hindu Yang Jatuh Cinta Kepada Rasulullah (saw)
Asif Naqshbandi 2 Oktober 2007
Ketika Inggris masih menguasai India, hiduplah, di Delhi, seorang penyair Hindu terkenal bernama Dillu Ram Kausari. Penyair ini, walaupun seorang Hindu, menulis encomiums dan puisi yang memuji Nabi Muhammad (saw). Dia menjadi sedemikian terkenal karena menulis puisi-puisi tersebut hingga menimbulkan permasalahan terhadap rekan-rekan sesama penganut Hindu yang menegurnya dan berkata, "Dillu Ram, ada apa denganmu? Kamu telah membuat malu agama Hindu! Engkau penganut Hindu dan walaupun demikian engkau menyanyi pujian-pujian dan menulis puisi yang meninggikan Rasulnya orang muslim?"
"Jangan hentikan aku," jawab Dillu Ram, "Karena aku terdorong menulis puisi yang demikian."
"Siapa dan apa yang mendorongmu?" rekan sesamanya bertanya.
"Saya didorong oleh cinta saya," teriaknya. "Saya telah jatuh cinta dengan sang Rasul!"
"Bagaimana bisa, sebagai penganut Hindu, jatuh cinta kepada Nabinya orang Muslim?" Tanya mereka, kebingungan.
Menjawab pertanyaan ini Dillu Ram berkata, "Cinta tidak dipaksa, hanya terjadi begitu saja."
"Seberapa besar engkau mencintai Nabi itu kalau begitu?" Mereka bertanya kepadanya, masih terheran-heran bahwa salah satu saudara mereka mencintai Rasulullah. Menjawab pertanyaan ini Dillu Ram menangis bagaikan seorang kekasih yang ditinggalkan oleh yang dicintainya dan membacakan sebuah puisi tulisannya. Dia berkata:
Menjadi seorang muslim bukanlah syarat untuk mencintai Muhammad!
Kausari, si orang Hindu, juga seorang pencari Muhammad!
Demi Allah! Betapa luar biasanya kebesaran Muhammad
Demi Tuhan alam semesta juga pencinta dari Muhammad!
Mereka meninggalkannya dengan rasa muak. Puisi Dillu Ram menjadi semakin meluas dan satu pantun, khususnya, mengejutkan seluruh masyarakat India, baik Muslim maupun Hindu. Dalam pantun ini dia membayangkan dirinya di hari Kiamat dan menuliskan kata-kata ini, yang diterbitkan (sebagaimana halnya banyak dari puisinya yang diterbitkan di berbagai majalah bulanan berbahasa Urdu) di sebuah majalah berbahasa Urdu bernama "Maulvi" yang dicetak di Delhi.
Inilah pantun yang sangat kontroversial tersebut:
Makna dari "Rahmat bagi seluruh alam" menjadi jelas di hari Kiamat:
Semua ciptaan ada bersama sang pemberi Syafaat di Hari Perhitungan
Ketika Rasulullah membawa Dillu Ram bersama beliau ke Surga
Diketahui bahwa si penganut Hindu ini juga bersama Yang Dicinta oleh Tuhan!
Pantun ini menimbulkan skandal baik bagi para penganut Hindu maupun Muslim! Membuat gelisah orang-orang Hindu yang keberatan atas pujian-pujian yang terus menerus terhadap sang Rasul dan menimbulkan skandal bagi orang Muslim yang marah oleh keberanian yang besar seorang Hindu yang berbicara seperti ini tentang Hari Kiamat! Bagaimana mungkin seorang penganut Hindu masuk surga? Tanya mereka.
Tidak tergoyahkan dengan kritik ini, Dillu Ram terus semasa hidupnya bernyanyi pujian-pujian tentang Rasulullah walaupun dia tidak pernah menjadi Muslim dan tetap menjadi seorang Hindu. Diceritakan juga bahwa Dillu Ram, yang tergila-gila karena cintanya, kadang-kadang berdiri di tengah keramaian di kota Delhi, meletakkan rantai di leher dan kakinya dan berteriak sekeras-kerasnya kepada orang-orang yang lewat, "Muhammad! Muhammad! Muhammad! Ya! Muhammad Yang Dicintai Tuhan! Muhammad yang pertama dan satu-satunya yang dicintai Tuhan! Jika Tuhan menyayangimu, Dia menyayangimu karena KekasihNya!" Beberapa orang bahkan melemparkan batu kepadanya dan terkadang ia pulang ke rumah penuh dengan darah namun dia telah fana sepenuhnya dalam cintanya kepada Rasulullah (saw)!
Ketika dirinya semakin tua, ketenarannya sebagai penyair (dan keburukannya) meluas dan ketika ia sakit keras dituliskan dalam beberapa majalah di seluruh India termasuk dalam "Maulvi" bahwa saat dia sekarat, lemah sepenuhnya dan dikelilingi oleh para pendoa, handai taulan, dan pengagum puisi-puisinya termasuk penyair-penyair yang lain, dia sangat lemah hingga tidak mampu meninggalkan tempat tidurnya. Anehnya, dia terus menatap ke arah pintu dan setelah beberapa lama wajahnya menjadi terang dan ia bangun dan berdiri di atas kaki dan tangannya yang dilipat, meminta semua yang berkumpul di sana juga agar berdiri. Terheran-heran teman dekatnya bertanya, "Ada apa?"
Dengan menangis Dillu Ram menjawab, "Yang Namanya selalu aku puji semasa hidupku telah tiba! Ayah dari Fatima (ra) yang Diberkahi ada di sini, mengunjungi aku! Dan aku bahkan belum menerima agamanya! Betapa murah hatinya kekasihku ini!" Sambil menangis, dia mulai bercakap-cakap dengan ruh
Rasulullah yang berkata kepadanya, "Dillu Ram! Waktumu hampir tiba. Azrail akan segera datang! Aku tidak ingin seorang yang telah memujiku seperti engkau harus pergi dan masuk neraka! Aku berharap untuk membawamu ke dalam Surga bersamaku!" Sambil menangis Dillu Ram membaca kalimat syahadat dan kemudian berkata kepada Rasulullah, "Tuanku, Engkau telah mengajarkan aku Kalimah (syahadat, penerjemah) sekarang juga memberikan aku seorang nama Muslim pilihanmu! Aku dapat merasakan Malaikat Kematian sudah hampai sampai kepadaku!" Rasulullah memberikan nama baginya Kausar Ali Kausari. Setelah itu mantan penyair Hindu yang beruntung itupun meninggal. DariNya kita berasal dan kepadaNya kita akan kembali.
Namanya menjadi harum di kalangan kaum Muslim Suni Berelvi tradisional di sub benua tersebut sebagai seorang pencinta Rasul yang mendapatkan berkah yang hanya diberikan sedikit kepada mereka yang dipilih oleh Tuhan - yaitu penglihatan Rasulullah dalam keadaan sadar! Semoga Allah memberikan kita semua cinta Dillu Ram Kausari. Amin.
Refrensi: Teks di atas merupakan transkrip saya, dengan catatan dan terjemahan, mengenai pembicaraan tentang Dillu Ram Kausari oleh Qari Abu
Bakar Chishti di Pakistan.
Sabtu, 19 September 2009
Sabtu, 12 September 2009
Perjalananku di naqsbandi (3)
Bimbingan
Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan kedua setelah aku bergabung dalam naqsbandi haqqani.
Tahun lalu aku baru sebagai pemula dan berusaha keras mengikuti adab yang ada dalam buku adab sendirian.
Tahun ini aku sudah rutin mengikuti dzikir khwajagan (dzikir yang dilakukan bersama-sama). Dalam Ramadhan tahun ini juga diselenggarakan di sufilive.com siaran langsung dari Michigan (Maulana Syeikh Hisyam) dan Lefke (Maulana Syeikh Nazim. Aku mulai merasakan kedekatan dengan syeikhku dan mulai dapat merasakan kehadiran syeikhku.
Akan aku ceriterakan salah satu pengalamanku berhubungan dengan hal ini.
Suatu ketika sahabatku berceritera bahwa dia sedang jatuh cinta dengan seseorang yang memang sudah lama mencintainya diam-diam. Cintanya begitu besar hingga memenuhi seluruh hati dan rongga dadanya. Kemudian dia minta kepadaku untuk merestui hubungannya ini karena mereka memutuskan untuk meningkatkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Aku bingung bagaimana caranya mengetahui hubungan mereka baik atau tidak.
Lalu syeikhku memberiku pertanda. Sahabatku itu berceritera, bahwa tiba-tiba saja gelang pemberian kekasihnya terlepas dari lengannya dan terjatuh hingga ia harus susah payah memungutnya kembali. Hari berikutnya tiba-tiba saja kekasihnya tidak dapat menghubunginya lewat HPnya. Entah kenapa HP yang biasa dipakai untuk menghubungi sahabatku itu tidak dapat terhubung dengan HP sahabatku. Kekasihnya terpaksa mengganti nomor HPnya dengan provider lain agar dapat tetap berhubungan dengan sahabatku itu.
Siangnya (saat jam sholat Jum'at) sahabatku itu tertidur di sofa dan bermimpi). Dalam mimpinya itu ia bertemu dengan kekasihnya (domisili mereka berlainan pulau sehingga jarang bertemu dan memang sedang merencanakan pertemuan mereka. Dalam mimpinya mereka bertemu dan merencanakan untuk menuju ke suatu tempat untuk saling melepas rindu. Tetapi ternyata becak yang mereka tumpangi membawa mereka ke suatu tempat yang sangat asing dan suasananya menakutkan. Menurut sahabatku tempatnya mirip dengan daerah pecinan di film-film silat. Berikutnya dalam mimpinya itu kekasihnya datang ke rumah keluarga besarnya dan berganti baju dengan baju rumah. Kemudian ia minta kepada seorang ahli mimpi untuk mnegartikan mimpinya itu.
Pecinan adalah daerah non muslim. Rupanya kekasih sahabatku itu memang semula non muslim, tetapi kemudian berniat masuk Islam setelah mengenal sahabatku. Dia sudah dikhitan, sudah bersahadat sendirian di sebuah langgar mempelajari Islam dan berusaha melaksanakan syariat-syariatnya. Tetapi dia belum secara resmi masuk Islam dalam arti belum ada saksi dalam pengucapan syahadatnya dikarenakan sesuatu hambatan. Kemudian berganti baju rumah berarti bahwa memang kekasihnya itu harus masuk Islam dulu.
Ternyata kalau dihubung-hubungkan, ketiga pertanda itu (mulai dari gelang, matinya hubungan HP dan mimpinya) saling berkaitan. Sahabatku itu tidak diizinkan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan sebelum kekasihnya itu mask Islam.
Aku merasa bahagia karena dapat membantu sahabatku itu. Tetapi yang membuatku lebih bahagia adalah karena bagiku hal itu berarti aku mempunyai hubungan dengan syeikhku.
Jakarta, 11 September 2009
Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan kedua setelah aku bergabung dalam naqsbandi haqqani.
Tahun lalu aku baru sebagai pemula dan berusaha keras mengikuti adab yang ada dalam buku adab sendirian.
Tahun ini aku sudah rutin mengikuti dzikir khwajagan (dzikir yang dilakukan bersama-sama). Dalam Ramadhan tahun ini juga diselenggarakan di sufilive.com siaran langsung dari Michigan (Maulana Syeikh Hisyam) dan Lefke (Maulana Syeikh Nazim. Aku mulai merasakan kedekatan dengan syeikhku dan mulai dapat merasakan kehadiran syeikhku.
Akan aku ceriterakan salah satu pengalamanku berhubungan dengan hal ini.
Suatu ketika sahabatku berceritera bahwa dia sedang jatuh cinta dengan seseorang yang memang sudah lama mencintainya diam-diam. Cintanya begitu besar hingga memenuhi seluruh hati dan rongga dadanya. Kemudian dia minta kepadaku untuk merestui hubungannya ini karena mereka memutuskan untuk meningkatkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Aku bingung bagaimana caranya mengetahui hubungan mereka baik atau tidak.
Lalu syeikhku memberiku pertanda. Sahabatku itu berceritera, bahwa tiba-tiba saja gelang pemberian kekasihnya terlepas dari lengannya dan terjatuh hingga ia harus susah payah memungutnya kembali. Hari berikutnya tiba-tiba saja kekasihnya tidak dapat menghubunginya lewat HPnya. Entah kenapa HP yang biasa dipakai untuk menghubungi sahabatku itu tidak dapat terhubung dengan HP sahabatku. Kekasihnya terpaksa mengganti nomor HPnya dengan provider lain agar dapat tetap berhubungan dengan sahabatku itu.
Siangnya (saat jam sholat Jum'at) sahabatku itu tertidur di sofa dan bermimpi). Dalam mimpinya itu ia bertemu dengan kekasihnya (domisili mereka berlainan pulau sehingga jarang bertemu dan memang sedang merencanakan pertemuan mereka. Dalam mimpinya mereka bertemu dan merencanakan untuk menuju ke suatu tempat untuk saling melepas rindu. Tetapi ternyata becak yang mereka tumpangi membawa mereka ke suatu tempat yang sangat asing dan suasananya menakutkan. Menurut sahabatku tempatnya mirip dengan daerah pecinan di film-film silat. Berikutnya dalam mimpinya itu kekasihnya datang ke rumah keluarga besarnya dan berganti baju dengan baju rumah. Kemudian ia minta kepada seorang ahli mimpi untuk mnegartikan mimpinya itu.
Pecinan adalah daerah non muslim. Rupanya kekasih sahabatku itu memang semula non muslim, tetapi kemudian berniat masuk Islam setelah mengenal sahabatku. Dia sudah dikhitan, sudah bersahadat sendirian di sebuah langgar mempelajari Islam dan berusaha melaksanakan syariat-syariatnya. Tetapi dia belum secara resmi masuk Islam dalam arti belum ada saksi dalam pengucapan syahadatnya dikarenakan sesuatu hambatan. Kemudian berganti baju rumah berarti bahwa memang kekasihnya itu harus masuk Islam dulu.
Ternyata kalau dihubung-hubungkan, ketiga pertanda itu (mulai dari gelang, matinya hubungan HP dan mimpinya) saling berkaitan. Sahabatku itu tidak diizinkan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan sebelum kekasihnya itu mask Islam.
Aku merasa bahagia karena dapat membantu sahabatku itu. Tetapi yang membuatku lebih bahagia adalah karena bagiku hal itu berarti aku mempunyai hubungan dengan syeikhku.
Jakarta, 11 September 2009
Langganan:
Komentar (Atom)