Sabtu, 19 September 2009

Cinta seorang penyair Hindu kepada Rasulullah SAW

Dari Ermita Mangkona:

the hindu poet who loved the prophet SAW
Dillu Ram Kausari:
Penyair Hindu Yang Jatuh Cinta Kepada Rasulullah (saw)
Asif Naqshbandi 2 Oktober 2007


Ketika Inggris masih menguasai India, hiduplah, di Delhi, seorang penyair Hindu terkenal bernama Dillu Ram Kausari. Penyair ini, walaupun seorang Hindu, menulis encomiums dan puisi yang memuji Nabi Muhammad (saw). Dia menjadi sedemikian terkenal karena menulis puisi-puisi tersebut hingga menimbulkan permasalahan terhadap rekan-rekan sesama penganut Hindu yang menegurnya dan berkata, "Dillu Ram, ada apa denganmu? Kamu telah membuat malu agama Hindu! Engkau penganut Hindu dan walaupun demikian engkau menyanyi pujian-pujian dan menulis puisi yang meninggikan Rasulnya orang muslim?"

"Jangan hentikan aku," jawab Dillu Ram, "Karena aku terdorong menulis puisi yang demikian."

"Siapa dan apa yang mendorongmu?" rekan sesamanya bertanya.

"Saya didorong oleh cinta saya," teriaknya. "Saya telah jatuh cinta dengan sang Rasul!"

"Bagaimana bisa, sebagai penganut Hindu, jatuh cinta kepada Nabinya orang Muslim?" Tanya mereka, kebingungan.

Menjawab pertanyaan ini Dillu Ram berkata, "Cinta tidak dipaksa, hanya terjadi begitu saja."

"Seberapa besar engkau mencintai Nabi itu kalau begitu?" Mereka bertanya kepadanya, masih terheran-heran bahwa salah satu saudara mereka mencintai Rasulullah. Menjawab pertanyaan ini Dillu Ram menangis bagaikan seorang kekasih yang ditinggalkan oleh yang dicintainya dan membacakan sebuah puisi tulisannya. Dia berkata:

Menjadi seorang muslim bukanlah syarat untuk mencintai Muhammad!
Kausari, si orang Hindu, juga seorang pencari Muhammad!
Demi Allah! Betapa luar biasanya kebesaran Muhammad
Demi Tuhan alam semesta juga pencinta dari Muhammad!

Mereka meninggalkannya dengan rasa muak. Puisi Dillu Ram menjadi semakin meluas dan satu pantun, khususnya, mengejutkan seluruh masyarakat India, baik Muslim maupun Hindu. Dalam pantun ini dia membayangkan dirinya di hari Kiamat dan menuliskan kata-kata ini, yang diterbitkan (sebagaimana halnya banyak dari puisinya yang diterbitkan di berbagai majalah bulanan berbahasa Urdu) di sebuah majalah berbahasa Urdu bernama "Maulvi" yang dicetak di Delhi.

Inilah pantun yang sangat kontroversial tersebut:

Makna dari "Rahmat bagi seluruh alam" menjadi jelas di hari Kiamat:
Semua ciptaan ada bersama sang pemberi Syafaat di Hari Perhitungan
Ketika Rasulullah membawa Dillu Ram bersama beliau ke Surga
Diketahui bahwa si penganut Hindu ini juga bersama Yang Dicinta oleh Tuhan!

Pantun ini menimbulkan skandal baik bagi para penganut Hindu maupun Muslim! Membuat gelisah orang-orang Hindu yang keberatan atas pujian-pujian yang terus menerus terhadap sang Rasul dan menimbulkan skandal bagi orang Muslim yang marah oleh keberanian yang besar seorang Hindu yang berbicara seperti ini tentang Hari Kiamat! Bagaimana mungkin seorang penganut Hindu masuk surga? Tanya mereka.

Tidak tergoyahkan dengan kritik ini, Dillu Ram terus semasa hidupnya bernyanyi pujian-pujian tentang Rasulullah walaupun dia tidak pernah menjadi Muslim dan tetap menjadi seorang Hindu. Diceritakan juga bahwa Dillu Ram, yang tergila-gila karena cintanya, kadang-kadang berdiri di tengah keramaian di kota Delhi, meletakkan rantai di leher dan kakinya dan berteriak sekeras-kerasnya kepada orang-orang yang lewat, "Muhammad! Muhammad! Muhammad! Ya! Muhammad Yang Dicintai Tuhan! Muhammad yang pertama dan satu-satunya yang dicintai Tuhan! Jika Tuhan menyayangimu, Dia menyayangimu karena KekasihNya!" Beberapa orang bahkan melemparkan batu kepadanya dan terkadang ia pulang ke rumah penuh dengan darah namun dia telah fana sepenuhnya dalam cintanya kepada Rasulullah (saw)!

Ketika dirinya semakin tua, ketenarannya sebagai penyair (dan keburukannya) meluas dan ketika ia sakit keras dituliskan dalam beberapa majalah di seluruh India termasuk dalam "Maulvi" bahwa saat dia sekarat, lemah sepenuhnya dan dikelilingi oleh para pendoa, handai taulan, dan pengagum puisi-puisinya termasuk penyair-penyair yang lain, dia sangat lemah hingga tidak mampu meninggalkan tempat tidurnya. Anehnya, dia terus menatap ke arah pintu dan setelah beberapa lama wajahnya menjadi terang dan ia bangun dan berdiri di atas kaki dan tangannya yang dilipat, meminta semua yang berkumpul di sana juga agar berdiri. Terheran-heran teman dekatnya bertanya, "Ada apa?"

Dengan menangis Dillu Ram menjawab, "Yang Namanya selalu aku puji semasa hidupku telah tiba! Ayah dari Fatima (ra) yang Diberkahi ada di sini, mengunjungi aku! Dan aku bahkan belum menerima agamanya! Betapa murah hatinya kekasihku ini!" Sambil menangis, dia mulai bercakap-cakap dengan ruh
Rasulullah yang berkata kepadanya, "Dillu Ram! Waktumu hampir tiba. Azrail akan segera datang! Aku tidak ingin seorang yang telah memujiku seperti engkau harus pergi dan masuk neraka! Aku berharap untuk membawamu ke dalam Surga bersamaku!" Sambil menangis Dillu Ram membaca kalimat syahadat dan kemudian berkata kepada Rasulullah, "Tuanku, Engkau telah mengajarkan aku Kalimah (syahadat, penerjemah) sekarang juga memberikan aku seorang nama Muslim pilihanmu! Aku dapat merasakan Malaikat Kematian sudah hampai sampai kepadaku!" Rasulullah memberikan nama baginya Kausar Ali Kausari. Setelah itu mantan penyair Hindu yang beruntung itupun meninggal. DariNya kita berasal dan kepadaNya kita akan kembali.

Namanya menjadi harum di kalangan kaum Muslim Suni Berelvi tradisional di sub benua tersebut sebagai seorang pencinta Rasul yang mendapatkan berkah yang hanya diberikan sedikit kepada mereka yang dipilih oleh Tuhan - yaitu penglihatan Rasulullah dalam keadaan sadar! Semoga Allah memberikan kita semua cinta Dillu Ram Kausari. Amin.

Refrensi: Teks di atas merupakan transkrip saya, dengan catatan dan terjemahan, mengenai pembicaraan tentang Dillu Ram Kausari oleh Qari Abu
Bakar Chishti di Pakistan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar