Sabtu, 19 September 2009
Cinta seorang penyair Hindu kepada Rasulullah SAW
the hindu poet who loved the prophet SAW
Dillu Ram Kausari:
Penyair Hindu Yang Jatuh Cinta Kepada Rasulullah (saw)
Asif Naqshbandi 2 Oktober 2007
Ketika Inggris masih menguasai India, hiduplah, di Delhi, seorang penyair Hindu terkenal bernama Dillu Ram Kausari. Penyair ini, walaupun seorang Hindu, menulis encomiums dan puisi yang memuji Nabi Muhammad (saw). Dia menjadi sedemikian terkenal karena menulis puisi-puisi tersebut hingga menimbulkan permasalahan terhadap rekan-rekan sesama penganut Hindu yang menegurnya dan berkata, "Dillu Ram, ada apa denganmu? Kamu telah membuat malu agama Hindu! Engkau penganut Hindu dan walaupun demikian engkau menyanyi pujian-pujian dan menulis puisi yang meninggikan Rasulnya orang muslim?"
"Jangan hentikan aku," jawab Dillu Ram, "Karena aku terdorong menulis puisi yang demikian."
"Siapa dan apa yang mendorongmu?" rekan sesamanya bertanya.
"Saya didorong oleh cinta saya," teriaknya. "Saya telah jatuh cinta dengan sang Rasul!"
"Bagaimana bisa, sebagai penganut Hindu, jatuh cinta kepada Nabinya orang Muslim?" Tanya mereka, kebingungan.
Menjawab pertanyaan ini Dillu Ram berkata, "Cinta tidak dipaksa, hanya terjadi begitu saja."
"Seberapa besar engkau mencintai Nabi itu kalau begitu?" Mereka bertanya kepadanya, masih terheran-heran bahwa salah satu saudara mereka mencintai Rasulullah. Menjawab pertanyaan ini Dillu Ram menangis bagaikan seorang kekasih yang ditinggalkan oleh yang dicintainya dan membacakan sebuah puisi tulisannya. Dia berkata:
Menjadi seorang muslim bukanlah syarat untuk mencintai Muhammad!
Kausari, si orang Hindu, juga seorang pencari Muhammad!
Demi Allah! Betapa luar biasanya kebesaran Muhammad
Demi Tuhan alam semesta juga pencinta dari Muhammad!
Mereka meninggalkannya dengan rasa muak. Puisi Dillu Ram menjadi semakin meluas dan satu pantun, khususnya, mengejutkan seluruh masyarakat India, baik Muslim maupun Hindu. Dalam pantun ini dia membayangkan dirinya di hari Kiamat dan menuliskan kata-kata ini, yang diterbitkan (sebagaimana halnya banyak dari puisinya yang diterbitkan di berbagai majalah bulanan berbahasa Urdu) di sebuah majalah berbahasa Urdu bernama "Maulvi" yang dicetak di Delhi.
Inilah pantun yang sangat kontroversial tersebut:
Makna dari "Rahmat bagi seluruh alam" menjadi jelas di hari Kiamat:
Semua ciptaan ada bersama sang pemberi Syafaat di Hari Perhitungan
Ketika Rasulullah membawa Dillu Ram bersama beliau ke Surga
Diketahui bahwa si penganut Hindu ini juga bersama Yang Dicinta oleh Tuhan!
Pantun ini menimbulkan skandal baik bagi para penganut Hindu maupun Muslim! Membuat gelisah orang-orang Hindu yang keberatan atas pujian-pujian yang terus menerus terhadap sang Rasul dan menimbulkan skandal bagi orang Muslim yang marah oleh keberanian yang besar seorang Hindu yang berbicara seperti ini tentang Hari Kiamat! Bagaimana mungkin seorang penganut Hindu masuk surga? Tanya mereka.
Tidak tergoyahkan dengan kritik ini, Dillu Ram terus semasa hidupnya bernyanyi pujian-pujian tentang Rasulullah walaupun dia tidak pernah menjadi Muslim dan tetap menjadi seorang Hindu. Diceritakan juga bahwa Dillu Ram, yang tergila-gila karena cintanya, kadang-kadang berdiri di tengah keramaian di kota Delhi, meletakkan rantai di leher dan kakinya dan berteriak sekeras-kerasnya kepada orang-orang yang lewat, "Muhammad! Muhammad! Muhammad! Ya! Muhammad Yang Dicintai Tuhan! Muhammad yang pertama dan satu-satunya yang dicintai Tuhan! Jika Tuhan menyayangimu, Dia menyayangimu karena KekasihNya!" Beberapa orang bahkan melemparkan batu kepadanya dan terkadang ia pulang ke rumah penuh dengan darah namun dia telah fana sepenuhnya dalam cintanya kepada Rasulullah (saw)!
Ketika dirinya semakin tua, ketenarannya sebagai penyair (dan keburukannya) meluas dan ketika ia sakit keras dituliskan dalam beberapa majalah di seluruh India termasuk dalam "Maulvi" bahwa saat dia sekarat, lemah sepenuhnya dan dikelilingi oleh para pendoa, handai taulan, dan pengagum puisi-puisinya termasuk penyair-penyair yang lain, dia sangat lemah hingga tidak mampu meninggalkan tempat tidurnya. Anehnya, dia terus menatap ke arah pintu dan setelah beberapa lama wajahnya menjadi terang dan ia bangun dan berdiri di atas kaki dan tangannya yang dilipat, meminta semua yang berkumpul di sana juga agar berdiri. Terheran-heran teman dekatnya bertanya, "Ada apa?"
Dengan menangis Dillu Ram menjawab, "Yang Namanya selalu aku puji semasa hidupku telah tiba! Ayah dari Fatima (ra) yang Diberkahi ada di sini, mengunjungi aku! Dan aku bahkan belum menerima agamanya! Betapa murah hatinya kekasihku ini!" Sambil menangis, dia mulai bercakap-cakap dengan ruh
Rasulullah yang berkata kepadanya, "Dillu Ram! Waktumu hampir tiba. Azrail akan segera datang! Aku tidak ingin seorang yang telah memujiku seperti engkau harus pergi dan masuk neraka! Aku berharap untuk membawamu ke dalam Surga bersamaku!" Sambil menangis Dillu Ram membaca kalimat syahadat dan kemudian berkata kepada Rasulullah, "Tuanku, Engkau telah mengajarkan aku Kalimah (syahadat, penerjemah) sekarang juga memberikan aku seorang nama Muslim pilihanmu! Aku dapat merasakan Malaikat Kematian sudah hampai sampai kepadaku!" Rasulullah memberikan nama baginya Kausar Ali Kausari. Setelah itu mantan penyair Hindu yang beruntung itupun meninggal. DariNya kita berasal dan kepadaNya kita akan kembali.
Namanya menjadi harum di kalangan kaum Muslim Suni Berelvi tradisional di sub benua tersebut sebagai seorang pencinta Rasul yang mendapatkan berkah yang hanya diberikan sedikit kepada mereka yang dipilih oleh Tuhan - yaitu penglihatan Rasulullah dalam keadaan sadar! Semoga Allah memberikan kita semua cinta Dillu Ram Kausari. Amin.
Refrensi: Teks di atas merupakan transkrip saya, dengan catatan dan terjemahan, mengenai pembicaraan tentang Dillu Ram Kausari oleh Qari Abu
Bakar Chishti di Pakistan.
Sabtu, 12 September 2009
Perjalananku di naqsbandi (3)
Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan kedua setelah aku bergabung dalam naqsbandi haqqani.
Tahun lalu aku baru sebagai pemula dan berusaha keras mengikuti adab yang ada dalam buku adab sendirian.
Tahun ini aku sudah rutin mengikuti dzikir khwajagan (dzikir yang dilakukan bersama-sama). Dalam Ramadhan tahun ini juga diselenggarakan di sufilive.com siaran langsung dari Michigan (Maulana Syeikh Hisyam) dan Lefke (Maulana Syeikh Nazim. Aku mulai merasakan kedekatan dengan syeikhku dan mulai dapat merasakan kehadiran syeikhku.
Akan aku ceriterakan salah satu pengalamanku berhubungan dengan hal ini.
Suatu ketika sahabatku berceritera bahwa dia sedang jatuh cinta dengan seseorang yang memang sudah lama mencintainya diam-diam. Cintanya begitu besar hingga memenuhi seluruh hati dan rongga dadanya. Kemudian dia minta kepadaku untuk merestui hubungannya ini karena mereka memutuskan untuk meningkatkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Aku bingung bagaimana caranya mengetahui hubungan mereka baik atau tidak.
Lalu syeikhku memberiku pertanda. Sahabatku itu berceritera, bahwa tiba-tiba saja gelang pemberian kekasihnya terlepas dari lengannya dan terjatuh hingga ia harus susah payah memungutnya kembali. Hari berikutnya tiba-tiba saja kekasihnya tidak dapat menghubunginya lewat HPnya. Entah kenapa HP yang biasa dipakai untuk menghubungi sahabatku itu tidak dapat terhubung dengan HP sahabatku. Kekasihnya terpaksa mengganti nomor HPnya dengan provider lain agar dapat tetap berhubungan dengan sahabatku itu.
Siangnya (saat jam sholat Jum'at) sahabatku itu tertidur di sofa dan bermimpi). Dalam mimpinya itu ia bertemu dengan kekasihnya (domisili mereka berlainan pulau sehingga jarang bertemu dan memang sedang merencanakan pertemuan mereka. Dalam mimpinya mereka bertemu dan merencanakan untuk menuju ke suatu tempat untuk saling melepas rindu. Tetapi ternyata becak yang mereka tumpangi membawa mereka ke suatu tempat yang sangat asing dan suasananya menakutkan. Menurut sahabatku tempatnya mirip dengan daerah pecinan di film-film silat. Berikutnya dalam mimpinya itu kekasihnya datang ke rumah keluarga besarnya dan berganti baju dengan baju rumah. Kemudian ia minta kepada seorang ahli mimpi untuk mnegartikan mimpinya itu.
Pecinan adalah daerah non muslim. Rupanya kekasih sahabatku itu memang semula non muslim, tetapi kemudian berniat masuk Islam setelah mengenal sahabatku. Dia sudah dikhitan, sudah bersahadat sendirian di sebuah langgar mempelajari Islam dan berusaha melaksanakan syariat-syariatnya. Tetapi dia belum secara resmi masuk Islam dalam arti belum ada saksi dalam pengucapan syahadatnya dikarenakan sesuatu hambatan. Kemudian berganti baju rumah berarti bahwa memang kekasihnya itu harus masuk Islam dulu.
Ternyata kalau dihubung-hubungkan, ketiga pertanda itu (mulai dari gelang, matinya hubungan HP dan mimpinya) saling berkaitan. Sahabatku itu tidak diizinkan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan sebelum kekasihnya itu mask Islam.
Aku merasa bahagia karena dapat membantu sahabatku itu. Tetapi yang membuatku lebih bahagia adalah karena bagiku hal itu berarti aku mempunyai hubungan dengan syeikhku.
Jakarta, 11 September 2009
Senin, 13 Juli 2009
Makna "Insya Allah"
(dikutip dari Notes by Roosita Abdullah)
Suatu hari seseorang datang ke ruang kerja saya dan pinjam uang sebanyak tiga juta rupiah. Saat itu hari Jumat dan sudah jam 9 malam, tentu saja saya tidak bawa uang sebanyak itu. Saya bilang kepadanya, mengingat jumlah uang yang sangat besar (untuk saya tentunya) saya akan llihat dulu apakah uang saya mencukupi. Namun mengingat keperluannya yang sangat mendesak akhirnya saya bilang "Insya Allah, kayaknya sih bisa".
Seninnya saya tidak masuk kantor karena sakit. Hari Selasanya, ketika bertemu saya yang bersangkutan menanyakan pinjamannya. Saya ini seorang pelupa...apalagi habis sakit, jadi akhirnya saya bilang lagi "Insya Allah besok ya". Keesokan harinya, Rabu, hari yang sangat sibuk. Dari pagi rapat koordinasi dengan Direksi, siangnya ada rapat dengan IBM, dan masih harus menyiapkan bahan presentasi pula ke BM. Eh, selama saya rapat, yang bersangkutan ini menjadi menjengkelkan. Terus menerus dia sms saya, mendesak minta uangnya segera, tanpa memperdulikan bahwa saat itu saya sedang rapat dengan Direksi. Hati manusia saya ini memang lemah...hati ini menjadi jengkel dan mulai merasa sepertinya saya yang punya hutang dikejar-kejar terus. Saya bilang kepadanya kalau memang sudah sangat mendesak, kenapa dia tidak pinjam saja uang kas divisi dulu sebesar lima ratus ribuan. Dia melakukan saran saya sehingga sampai berakhirnya hari itu hidup saya tenang. Saya tidak bertemu dia hari itu. Esok paginya, mulai subuh dia sms saya dua kali menagih sisanya. Hati sombong ini kehilangan keikhlasannya...maka sorenya ketika bertemu dia saya hanya memberikan sebesar satu juta saja...tidak sesuai dengan yang dia harapkan dan telah saya janjikan.
Nah sahabat-sahabatku yang tercinta, inilah yang menimpa saya, atas janji dengan mengucapkan Insya Allah yang meski dilaksanakan namun tidak sesuai dengan yang dijanjikan.
Hari Sabtunya kami harus melaksanakan relokasi Data Center kami ke suatu tempat baru yang lebih baik. Tentunya menjadi tanggung-jawab saya sebagai kepala divisi. Dari Jumat malam sudah mohon izin Allah untuk pelaksanaan relokasi tersebut, namun senantiasa jawaban yang saya dapat tidak dapat dimengerti. Ayat-ayat petunjuk selalu merujuk pada ayat yang berbicara mengenai dzalim, neraka, kafir, dan lain-lain. Nah pada saat hari pelaksanaan yang melibatkan seluruh cabang dan seluruh divisi, tiba-tiba Departemen Agama mati listrik. Alhasil, kami tidak bisa melakukan test jaringan data dari Data Center baru ke Depag. Padahal Seninnya akan ada perebutan kursi untuk haji ONH Plus. Apabila test jaringan data ke Depag gagal, maka relokasi tidak dapat dilaksanakan. Kebijakan ini kami ambil, karena kami tidak mungkin melalaikan amanah dari calon jemaah haji ONH Plus. Herannya sebuah departemen yang data seluruh haji se Indonesia tersimpan disana, tidak ada gensetnya...jadi mati begitu saja listriknya dan untuk memperbaiki perlu menunggu seorang teknisi dari Depok, yang nggak datang-datang. Saya mulai sadar, jangan-jangan ini terkait dengan izin dari Allah yang belum turun juga.
Saya ambil wudhu, kemudian buka lagi Al Quran. Kali ini surah yang terbuka dihadapan saya adalah S:11:98-104, bingung saya. Buka lagi yang ada adalah surah S:16:88-94, hati saya berdegup makin cepat. Akhirnya saya melaksanakan shalat Dhuha dua rakaat, mohon petunjuk Allah S.W.T. Baru saja selesai membaca umul Quran (alfathihah) di rakaat pertama, terlintas dengan jelas nama teman yang saya dzalimi tadi. Astaghfirullah. Selesai shalat dhuha, langsung shalat taubat, mohon ampunanNya atas kedzaliman saya dan kelalaian berjanji dengan memakai namaNya. Selesai shalat, segera saya buka tas saya mau membayar kekurangan uang pinjaman yang saya janjikan. Tahu nggak sahabat, uang yang saya ambil dari lemari secara asal saja, karena tergesa-gesa pergi sebelum shubuh, berjumlah...tidak lebih dan tidak kurang dari...satu setengah juta rupiah!!! Tidak ada satu rupiahpun lebih ataupun kurangnya. Berdiri seluruh bulu di tubuh saya, dingin rasanya kedua tangan dan kaki saya...Masya Allah....betapa buta mata dan hati saya...betapa dzalimnya saya ini.
Sebelum shalat dhuhur kembali saya shalat taubat, mohon kiranya Allah Al Ghofar, Al Ghofur, Arrahman, Arrahim, mengampuni kesalahan hambanya yang luar biasa sombong dan dzalim ini.
Sejak itu, mudah-mudahan seterusnya demikian, saya sangat menjaga janji terutama yang saya ucapkan dengan menggunakan namaNya yang agung. Insya Allah...harus kita jaga sahabat...hanya apabila atas kuasaNya kita tidak bisa melaksanakannya...jangan main-main dengan ucapan tersebut.
Hikmahnya selain yang sudah saya utarakan di atas, adalah kepahaman saya. Apabila seorang yang diberi amanah memimpin, dalam lingkup besar ataupun kecil, melakukan kesalahan, bahkan apabila kesalahan tersebut tidak terkait pekerjaan yang diamanahkan dan semata kesalahan terkait hubungan pribadi, maka akibatnya akan sampai kepada semua yang berada dibawah amanahnya tersebut. Dalam kasus saya, kegagalan relokasi pada hari itu yang melibatkan seluruh cabang, dan juga menghabiskan biaya puluhan juta. Dan akhirnya harus dire-schedlue ke minggu depannya. Lingkupnya hanyalah sebuah divisi. Bagaimana dengan seorang kepala keluarga? Kepala negara apalagi? Tidaklah kita heran apabila Indonesia mendapat teguran bertubi-tubi mulai dari tsunami di Aceh, gempa bumi di Jogya, tanah longsor, pesawat jatuh, banjir badang, sampai tsunami di situ gintung...ah, tidak semata kesalahan kepala negaranya tapi juga kesalahan kita semua. Apakah kita yakin, ketika tangan kita mencontreng satu dari tiga nama calon presiden baru-baru ini, dilandasi dengan niat suci, untuk kebaikan bangsa Indonesia semata? Apakah tidak ada sedikit harapan, bahwa apabila nama tersebut menang, dia dapat mempermudah bisnis kita, atau mempermudah perjalanan karir kita? Entahlah...semua terpulang kembali pada hati nurani kita yang tidak pernah bohong karena ia adalah Cahaya di atas Cahaya yang memberi petunjuk jalan yang lurus, apabila kita mau mengikutinya dan tidak mengingkarinya.
Entahlah. hanya Allah yang maha Tahu. Tapi yakinlah Allah yang memberi kita cobaan, maka hanya Allah jualah yang dapat memberikan jalan keluar atas semua cobaanNya. Ikhlaskan hati kita untuk senantiasa bergantung hanya kepadaNya, meminta pertolongan hanya kepadaNya, percaya pada semua janjiNya.
Kisah terjadi Juni 2007 di Jakarta. Inilah salah satu kisah keajaiban dalam perjalanan hijrah seorang hambaNya...
Ref:
Alquran S:11:98-104
Alquran S:16:88-94
- 88: Orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan demi siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.
Catatan: teman saya tsb butuh uang untuk membayar hutangnya yang dipergunakan untuk membiayai pernikahannya.
- 90: Sesungguhnya Allah menyuruhmu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang melakukan perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
- 91: Dan tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji, dan janganlah kamu melanggar sumpah setelah diikrarkan, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah tsb). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
Selengkapnya...mohon di baca sendiri ya...bagi yang ingin belajar dari pengalaman ini.
(Roosita Abdullah, 13 Juli 2008)
Minggu, 01 Maret 2009
Melalui cinta kita beriman
Shohbet ini murni dan asli yang keluar dari Bahasa Qolbu Syaikh Mustafa Mas’ud, Di Masjid Al Ikhlas Semarang, Tanggal 19 Feb 2006, yang diintisarikan oleh Jokotry Abdul Haqq, Semarang melalui rekaman audio -- semoga bermanfaat
A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Allaahumma shalli 'alaa Sayyidinaa Muhammadiw wa 'alaa
aalihi wa Shahbihi ajma'iin
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Allah Allah Aziz Allah
Allah Allah Subhan Allah
Allah Allah Sulthon Allah
Allah Allah Karim Allah
Saudara-saudariku,
Mari kita rentas tali hubungan yang hidup antara kita dan Allah untuk menghidupkan majlis ini, untuk membuka antenna parabola kita supaya yang dibilang oleh Prof. Dr. Amin Syukur tadi bisa di clearkan. Beliau bilang dengan rendah hati meminta maaf tidak bisa menyambut dengan sebaik-baiknya, tapi yang beliau berikan sudah lebih dari apa yang kita semua dapat capai, karena beliau menyambut kita dengan doa. Moga-moga ridho Allah terlimpah kepada kita. Apa ada hal yang lebih baik dari yang dibilang Pak Amin ? Tidak ada, sudah sangat bagus sekali. Tapi begitulah saudara-saudariku Kita harus mengambil posisi dan memproposisikan diri dikehidupan kita. Mari kita tarik dan kita rentas hubungan real antara kita dengan Allah.
Allah Allah Aziz Allah
Duh Gusti kulo niki hina, mboten wonten napa-napane (Ya Allah, saya ini hina, tidak mempunyai apa-apa). Aku adalah kesempurnaan dari ketidak berdayaan diri. Engkaulah yang maha Perkasa. Engkaulah yang Maha Suci. Monggo di gesangake (mari kita hidupkan) pertalian antara dua titik (hamba dan Allah) yang kita hidupkan dengan tulus. Itulah Islam, itulah penghambaan diri kita kepada Allah. Itu awal dari langkah kita untuk menjemput rahmat Allah. Rahmat memang diturunkan kepada kita, seperti partikel di udara, tak terbilang, tak pernah terhenti. Begitu ada ruang kosong, masuk dia (baca: udara). Itulah rahmat Allah. Rahmat yang mengimplikasikan barakah ridho dan keabadian karunia di alam baqa, yang bermula dari karsa. Karena itu kita sudah dimerdekakan oleh Allah untuk membangun sendiri karsa dikehidupan. Kita berada dalam track kehidupan yang seperti itu.
Allah Allah
Allah Allah Karim Allah
Oh
Allah
kehidupanku, kehidupan kami adalah suatu sense, suatu kesadaran mengenai mengenai kefakiran dan kebutuhan yang tiada pernah henti. Suatu kebutuhan belum tunai, datang kebutuhan lain. Aku dan kami tak berdaya Ya Allah. Engkau beri suatu gita dalam kehidupan kami untuk selalu butuh, padahal kami lumpuh, buntung, tidak apapun, tapi untung Engkau maha kaya dan pemurah. Engkau suruh kami untuk hidup secara baik dan benar begitu diberitahukan oleh kekasihmu Muhammad, yang selalu kami lupa. Kau suruh kami untuk menjadi baik dan benar., Kami sedang membangun keyakinan. Mana mungkin kami berjalan dengan baik dan benar bila Engkau tidak akan mencukupi kami. Yang tidak kami mintapun Engkau memberi.
Allah Allah Subhan Allah
Duh Gusti Kulo niki keliru terus Gusti. Mboten leren-leren. (Ya Allah, kami ini banyak salahnya, terus menerus berbuat salah). Maju sedikit mandur banyak, maju sedikit mundur banyak lagi, maju sedikit mundur banyak lagi. Akhirnya kemunduran yang aku jalani. Hakekat kehidupan kita ini adalah suatu kemunduran yang tidak bisa dibendung. Untung Engkau Maha Suci, memberi aku, memberi kami semua suatu track kehidupan yang positif " Innaa sholata kaanat `alal mu'miniinaa kitaaban mauquta." Engkau jaga kami dengan periode yang begitu close circuit, keliru Engkau hadang dengan tasbih, Engkau beri, Engkau luberkan kecucianMu, Engkau ajari kami bahwa ketika Nabi Muhammad dulu lahir, terlahir didunia ini dengan karsa serta manifestasi dari rahmatMu, seluruh isi cakrawala bertasbih. Subhanallah Walhamdulillah Walaa illaahaillallah Allahu Akbar. Engkau suruh kami untuk berada dalam close circuit dikehidupan ini bernyanyi bersama malaikat untuk meraih dan menggapai Nabi Muhammad. Maha Suci Engkau Ya Allah.
Allah Allah
Allah Allah Sulthon Allah
Engkau adalah puncak kesadaranku Ya Allah. Engkau adalah sulthan, sulthan diantara sulthan-sulthan yang ada. Abadilah Engkau di pusat kesadaranku Ya Allah, bahkan di akar kesadaranku.
Saudara-saudariku,
Ketika aku dan kamu telah beranjak lebih maju untuk mengabadikan Allah sebagai tumpuan di puncak kesadaran kita, itulah dzikir, itulah Islam, itulah Ihsan. Anta buddallah kaanaka taroohu fainlam takun taroohu fainnahu yarooka (Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya, dan jika engkau tidak melihatNya sesungguhnya Dia melihatmu). Kapan aku dan kamu punya prakarsa untuk mengahadirkan Allah dalam ruang lingkup consciousness/ kesadaran kita. Itulah masalah kita.
Saudara-saudariku,
Aku adalah `hadam' (peladen, kacung, pelayan) dari tarekat naqshbandi. Kalau disebut "Haqqani" hanya karena Mursyid-ku adalah Muhammad Nazim Adil Al Haqqani, sulthanul auliya hadzihiz zaman, artinya siapa diantara kalian disini yang telah related dengan Tarekat Naqshbandi, that means "same with me". Mau Qodiriyyah naqshbandi, sama. Mau naqshbandi kholidiyah, sama. "Naqshbandi". Naqshbandi adalah sesuatu yang menjadi sebutan attributive untuk menghadirkan Allah dengan sistematis yang kalau mau diungkap gambarannya dengan abstrak akan menyebabkan jidat kita berkerut.
Aku mau bercerita, dan dengarkanlah dengan tawajuhmu, saudara-saudariku. 1427 tahun yang lalu ketika Rosulullah SAW harus hijrah ke Madinah. Beliau mengajak Sayyidina Abu Bakar orang yang sangat dekat dengan Beliau untuk menjadi pendamping Beliau dalam perjalanan menuju ke Madinah. Sayyidinia Abu Bakar dengan penuh adab yang bersungguh, kata kuncinya dengan "Penuh Adab yang Bersungguh", di ajak ke Madinah. Harusnya dari kediaman Beliau berjalannya adalah ke Utara, karena Madinah secara geografis terletak di Utara dari Mekah, tetapi Rosulullah berjalan menuju ke Tenggara. Sayyidina Abu Bakar boro-boro (baca : tak sedikitpun) complain (mengeluh), criticizing, bertanya pun tidak, jare nang (katanya menuju) Madinah, lha kok ngidul (kenapa lewat Tenggara). Itu cerminan dari Adab. Dengan penuh kecintaan, Sayyidina Abu Bakar yang lebih tua dari Rosulullah, yang punya kelayakan psikologis untuk mempertanyakan, untuk meminta kejelasan seperti yang barangkali terjadi dalam kehidupan kita sekarang yang menjadi ruh dari reformasi, segala hal dipertanyakan sehingga batasan antara adab dan tidak adab, luber, hilang.
Sayyidina Abu Bakar tidak bertanya, Beliau ikut saja apa yang dibuat oleh Rosulullah, karena di hati Beliau ada "CINTA" dan PERCAYA" dan sesuatu yang tidak lagi perlu "TAWAR MENAWAR". Rosulullah, Al Amin, tidak pernah keluar dari lidah Beliau sesuatu yang tidak patut tidak dipercaya. Pribadinya penuh pancaran kecintaan. Mencintai dan sangat pantes dicintai. Pribadinya begitu rupa menimbulkan `desire', suatu kerinduan. Ini sebenarnya yang menjadi sangat penting untuk dijelaskan. Beliau berjalan, dan Sayyidina Abu Bakar mengikuti. Ketika akan sampai, agak 8 km dari arah Masjidil Haram, baru Sayyidina Abu Bakar sadar. "Ooo
mau istirahat ke Jabal/Gua Tsur, karena sudah mendekati Gunung Tsur. Ketika Rosulullah naik, Oooo
kesimpulan Sayyidina Abu Bakar, with no curiousity, tidak dengan rewel, tidak dengan mempertanyakan, memaklumi. Islam adalah tuntunan dari Allah Ta'ala. Pertama-tama kita bukan `ngerti'. Pertama yang harus kita buat adalah Cinta, menghargai, kesediaan mematuhi dengan sangka baik. Tanpa kaca mata tersebut, kita tidak akan mengerti Islam. Islam hanya menjadi "The Matter of Transaction", tawar menawar. Itu tidak terjadi pada Abu Bakar. Begitu Rosulullah mau naik ke arah gua, di Jabal Tsur itu, maka kemudian Beliau (Abu Bakar) menarik kesimpulan "Oooo Rosulullah mau istirahat di Gua Tsur." Beliau (Abu Bakar) mengerti sebagai orang gurun, tidak akan pernah ada lubang bebatuan di gunung, pasti ada ular berbisanya. Itu `Reason', pikiran digunakan sesudah Cinta, sesudah tulus, sesudah bersedia untuk patuh. Itu namanya pikiran yang Well Enlighted, pikiran yang tercerahkan, bukan pikiran yang cluthak (pikiran liar), yang bisa bertingkah macam-macam menimbulkan problem. Beliau Abu Bakar kemudian mendekati Rosulullah "Kasih aku kesempatan masuk. Rosulullah dan Abu Bakar, interespecting, saling menghargai. Sayyidina Abu Bakar masuk gua. Gua itu kecil kalau diisi 3 orang, Pak Joko, Pak Amin dan saya (Syaikh Mustafa), barangkalisudah kruntelan disitu, kayak bako susur yang dijejel-jejelkan (dimasukkan) ke mulut. Sayyidina Abu Bakar masuk, beliau cari, bener ada lubang disitu. Beliau buka slippernya/ sandalnya, ditaruhnya kaki kanannya di mulut lubang itu. Dengan cinta, Beliau korbankan kakinya untuk Rosulullah. Beliau tidak mau Rosulullah digigit ular. Akhirnya kakinya di catel, digigit oleh ular. Kemudian Beliau bilang, Silakan Masuk Rosulullah dengan penuh cinta, dengan penuh pengorbanan dan husnudzon. Rosul masuk dan berbaring dipaha Abu Bakar. Rupanya Rosulullah terkena angin sepoi-sepoi pagi. Beliau tertidur. Ketika Beliau tertidur, ketika itu pulalah Abu Bakar menahan bisa dari ular yang sudah mulai menjalar ke seluruh tubuh. Abu Bakar berkeringat, dan diriwiyatkan bahwa keringatnya sudah berisi darah. Tetesan keringat Abu Bakar mengenai Rosulullah. "Nangis kamu, kata Rosulullah." "Tidak, jawab Abu Bakar, kakiku digigit ular." There was something happen. Ditariknya kaki Abu Bakar dari lubang itu, maka kemudian Rosulullah membentak si Ular " Hai
Tahu nggak kamu, jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, bulunya pun haram sama kau." Dialog Rosulullah dengan Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar As Shidiq, berkat mukjizat Beliau. Jawab si Ular "Ya aku ngerti kamu, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah mengatakan "Barang siapa memandang kekasihKu-Muhammad- fi ainil mahabbah / dengan mata kecintaan", Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga. Kata Ular " Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. Aku (ular) ingin memandang wajah kekasihMu fi ainal mahabbah. Jawab Allah " Silakan pergi ke Jabal Tsur,tunggu disana, kekasihKu akan datang pada waktunya. Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu kamu, ya Muhammad. "Lihatlah, ini lihatlah wajahku, kata Rosulullah." Ular itu memandang Rosulullah dengan penuh kecintaan, sesudah itu matilah dia. Datang ajalnya yang ma'tub, meninggal dengan sempurna. Ular itu telah mendahului kita untuk menyimpan rindu untuk bertemu Rosulullah ribuan tahun yang lalu.
Aku dan kamu setiap hari secara mauqut diberikan kesempatan untuk mengucapkan "Assalamu'alaika ya ayyuhan nabiyyu warahmatullah". Tapi with no sense, with no heart, belum sempat Rosulullah kita pindahkan ke perasaan, ke hati kita, belum sempat akherat kita hadirkan ke dalam rasa kita Bagaimana aku dan kamu bisa menjadi `abid, bagaimana aku dan kamu menjadi shakir, bagaimana aku dan kamu menjadi muttaqiin dan seterusnya dan seterusnya. Itulah persoalan kita. Maha mulia Allah yang memberi kita rahmat dan taufiq pagi ini, supaya aku dan kamu berkhitmad.
Sesungguhnya persoalan hidup kita sederhana, berhentilah dari lalai, berhentilah dari sembrono, berhentilah dari kebiasaan suka menunda, berhentilah dan keluar dari benua tidak tanggung jawab. Kalau ada kewajiban untuk membersihkan, kenapa harus nyuruh orang, kalau itu bisa dilakukan sendiri. Sedangkan kalau ada keenakan, cepat-cepat ditarik dan dimasukkan ke kantong sendiri. Keluarlah aku dan kamu, saudara saudariku dari semua kebiasaan buruk itu. Nggak ada cerita Islam, nggak ada cerita Iman, nggak ada cerita Ihsan tanpa usaha kita untuk membebaskan diri dari hal yang nista. Kegiatan Abu Bakar As Shiddiq membersihkan diri dari hal-hal yang nista. Ini pelajaran yang sangat essential, bukan textual. Cerita tentang Islam seperti terdeskripsi dalam qur'an, dalam hadits, tidak dapat kita tangkap muatan sebenarnya yang ada didalamnya bila tidak dengan hati, with no sense, with no heart. Gaya hidup di dada Abu Bakar dalam bercinta, dalam berkerendahan hati, dalam berketulusan, dalam berkesediaan untuk patuh, dan untuk membuat pengkhidmatan, itu adalah rukun Islam yang tidak tertulis. Semua ini adalah muatan di dalam kehidupan Rosulullah. Seperti yang saya sebut dengan cerita tadi, ketika sudah mati ular yang mulia itu, Rosulullah meminta jin yang sedang ada di gua itu untuk mengebumikan jenazah ular min ahlil jannah itu. Maka kemudian dikebumikanlah ular itu oleh jin penjaga gua. Ketika itulah terjadilah kongregasi, dari ruhaniah yang dijemput dari alam barzah maupun alam azali. Semua orang yang sudah barzahi atau yang masih azali ruhnya dihadirkan untuk berkhitdmat, berdzikir kepada Allah Ta'ala, yang mana dzikirnya disebut "Khtm Khwjagan". Inilah yang disebut "Naqshbandi". Aku berkhidmat untuk itu. Tarekat itu seperti kemasan permen fisherman ini. Kalau kemasan permen ini dibuka, isinya "Islam Plus Sungguh". Islam yang cuman textual dan yang spiritually diajarkan oleh Rosulullah, itu tergambarkan begini : "Yang namanya "Ulama adalah orang yang tahu bagaimana mengartikulasikan perintah-perintah Allah yang ada di qur'an dan yang ada di hadits nabi. Seseorang yang punya kapasitas untuk menggambarkan apa-apa perintah Allah. Tapi orang yang tahu menterjemahkan irodah/ kehendah Allah, bukan Amru Allah itu adalah wali. Wali adalah manusia-manusia yang bisa menarik sesuatu yang merupakan dari diri Rosulullah.
Kisah Uways Al Qorni
Ketika Rosulullah mau wafat, beliau berpesan kepada Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali agar baju yang dipakainya diberikan kepada Uways Al Qorni Al Yamani. Sayyidina Ali bertanya dalam hati : Siapa dia, begitu istimewanya mendapatkan atensi yang besar dari Rosulullah. Uways Al Qorni adalah orang yang tidak pernah ketemu Rosulullah physically, tapi tidak sedetikpun berpisah dengan Rosulullah. Dia juga sangat mulia pengkhidmatannya pada ibunya. Sayyidina Umar kurang senang mendengar Rosulullah yang dicintai, bicara tentang kematiannya. Setelah Rosulullah wafat dan selesai dimakamkan, Sayyidina Ali bertanya kepada Sayyidina Umar, Ingatkah kau pesan Rosulullah." Tentu aku ingat pesan Rosulullah untuk berpegang kepada qur'an dan sunnah Beliau. "Bukan itu, jawab Sayyidina Ali, tapi menyerahkan baju yang dikenakan Rosulullah ini kepada Uways Al Qorni. Oh..ya kelalen aku...lupa aku. Keduanya kemudian menuju ke Yaman, suatu
Allahumma inna nas aluka antas toyyiqabana minal ghaflah ilal khudur amma naka wa ammanar rosul wa ammanal masayih. (Mohon maaf bila kesalahan text kalimat, karena keterbatasan penulis). Ya Allah, aku mohon kepadaMu, bangkitkan aku dari lalai, untuk selalu terus dengan Kamu, dan selalu terkait dengan Rosul, dan selalu terkait Syaikh.
Wa min Allah at taufiq
Al Fatehah
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh