786; 165
Jika kutetapkan saja bahwa perjalananku di naqsbandi dimulai pada hari Kamis, 15 Mei 2008 yang bertepatan dengan 9 Jumadilawal 1429 H, maka sudah berjalan selama dua setengah bulan.
Aku sudah berusaha berkonsentrasi pada guruku Mawlana Syeikh Nazim dan meninggalkan ajaran guruku semula Syeikh Hidayat Muhammad Tashdiq. Semula aku tiada ingin menghilangkan ajaran guruku semula, karena manfaatnya sangat besar bagiku. Tapi kuputuskan untuk mengawali lagi perjalanananku mulai dari langkah pertama. Aku menginginkan totalitasku sebagai murid yang murni berjalan dalam barisan guruku.
Mungkin sudah menjadi jalanku bahwa pak Jay yang semula mendampingiku dalam awal perjalanan ini kemudian disibukkan dengan takdirnya, sehingga aku belajar untuk mandiri dalam melanjutkan perjalanan ini. Para pengikut tarekah naqsbandi haqqani bagaikan satu keluarga besar. Mereka keluargaku dalam perjalanan ini. Mereka berusaha menggandeng tanganku agar dapat mengikuti mereka. Namun bagiku perjalanan ini masih sangat berat. Perangkap setan (atau nafsuku?) seringkali tiada mampu kuhindari. Aku seringkali lalai. Aku terseok-seok mengikuti perjalanan saudara-saudaraku. Tak jarang aku merasa begitu fakir, begitu lemah dan merasa tak berdaya. Namun saudara-saudaraku selalu membesarkan hatiku. Mereka berusaha memberikan segala yang kubutuhkan sambil mengingatkan ajaran guru kami agar selalu bersyukur atas segala yang telah Allah limpahkan bagiku. Satu hal yang tak boleh kulupakan, yaitu adalah nikmat Allah yang begitu besar bagiku karena telah menempatkan diriku dalam barisan ini, jalan ini, tarekah ini.
Suatu hari airmata menggenangi mataku ketika dalam salah satu milis Islam yang kuikuti, seorang saudara muslimku menetapkan diriku ini sebagai ahli bid'ah karena menjalankan amalan bulan Rajab. Perasaanku berada antara sedih dan penuh syukur. Sedih karena sekarang bahkan saudaraku seiman menganggap ibadahku sebagai ahli bid'ah, mengingkari syariah, tidak mau mendengar walaupun sudah diberitahu bahwa jalanku salah. Hatiku bersyukur karena hatiku yang biasanya"keras" menjadi begitu lembut, bisa tersentuh hanya oleh sebuah tulisan di milis. Tulisan dari seorang saudara sesama muslim yang seharusnya saling mendukung dan saling mencintai. Benarkah jalanku salah? Benarkah aku mengingkari syariah? Bukankah jalan tarekah itu sebenarnya adalah menjalankan syariah dengan bersungguh-sungguh dan istiqomah? Ya Rabb, jangan tinggalkan hambaMu barang sekejap. Bimbinglah hamba selalu di jalanMu. Ya Mawlana, tolonglah saya!
Aku memang berusaha menjalankan amalan Rajab. Tapi dasar aku ini memang si lalai, hanya sebagian kecil yang dapat kujalankan. Hal ini tentu membuatku sangat sedih. Kesedihan yang disebabkan perasaan bersalah karena tak dapat mengabdi kepada Allah sebagaimana seharusnya. Aku menangis karena Allah. Luar biasa! Alhamdulillah. Ada perasaan sedih dan sekaligus ada rasa syukur. Keadaan hati seperti inilah yang mulai akrab dalam diriku. Perasaan ini menjadi jelas setiap kali aku menghadiri majelis dzikir. Hatiku mulai dapat larut dalam dzikir dan mulai belajar ikhlas menjalankan semua amalan pengabdian kepada Allah ini. Aku juga mulai merasakan keahdiran Mawlana dalam hatiku. Siapakah itu yang selalu "menyapaku" saat aku lalai?
Ya Allah, ya Rabb! Tolong hambaMu yang fakir ini! Ilahi, Anta Maqsudi wa Ridhaaka Mathlubi!