Minggu, 06 Januari 2008

Dualisme kebenaran

Dikutip secara bebas dari buku Sanihu Munir, "Keliru Pandang Kang Jalal", 2007.

Aliran Pluralisme menyatakan, bahwa semua agama itu benar. Jalaluddin Rahmat, dalam bukunya "Islam dan Pluralisme" antara lain menyatakan bahwa ".....Dengan demikian siapa saja yang berserah diri kepada kebenaran, yang ia temukan dalam hidupnya, kemudian ia memberikan komitmen total kepadanya, ia telah menganut din yang benar. Tidak jadi soal, apakah kebenaran yang diyakininya itu Islam ataupun agama yang lainnya. Bila seseorang hanya mampu mengakui kebenaran kristen, misalnya, dan mengikutinya dengan setia, pada hakikatnya ia sudah menerima Islam dalam kepasrahan yang tulus".

Kekeliruan kang Jalal, yang juga merupakan kekeliruan para filosof di dunia ini adalah: Apa yang ada dalam benaknya hanya satu, KEBENARAN! Dalam seluruh bukunya tidak dapat ditemukan kata "KEPALSUAN". Padahal ketika seseorang bicara tentang kebenaran, sesungguhnya ia bicara tentang ukuran, tentang skala, tentang klasifikasi, tentang satu titik dari dua atau lebih titik yang terbentang antara dua titik ekstrim: "Ultimate Truth dan Ultimate Falsehood. Perhatikan pernyataan-pernyataan di bawah ini:

Yesus adalah tuhan dan Yesus bukan tuhan. Yesus penebus dosa dan yesus bukan penebus dosa. Tuhan itu tiga atau tuhan itu bukan tiga. Yesus mengajarkan agama kristen atau Yesus tidak mengajarkan agama kristen. Yesus mati disalib dan bangkit kembali atau Yesus tidak mati disalib dan tidak bangkit kembali.

Dari contoh pernyataan di atas, jika salah satu merupakan kebenaran, maka yang lain merupakan kepalsuan. Tidak mungkin keduanya merupakan kebenaran atau keduanya merupakan kepalsuan. Jadi jika Kristen benar, berarti Islam salah atau jika Islam benar, maka Kristen salah.

Sekuat apapun seseorang mencari Kebenaran, belum tentu dia akan bertemu dengan Kebenaran. Kemungkinan yang selalu terjadi ada dua, dia akan bertemu dengan Kebenaran, atau akhirnya dia akan bertemu dengan Kepalsuan yang dia sangka sebagai Kebenaran.

Contoh pemisalan pada si Fulan:
Fulan selama ini, menjalani kehidupan yang terasa gersang di pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Propinsi Sulawesi Tenggara. Dia telah berusaha mati-matian untuk mencari dan menemukan Kebenaran sebagai pegangan hidupnya. Berbagai upaya sudah dia lakukan, namun selalu gagal karena dia masih saja tetap berada dalam keragu-raguan.

Sampai pada suatu hari Fulan berpapasan dengan seseorang seusianya, berkacamata agak tebal, yang menurutnya cukup berilmu dan berwibawa. Dalam hatinya dia mengatakan, mungkin inilah orang yang tepat untuk membantu saya.

Orangnya ternyata sangat bersahabat dan ingin membantu. Fulan mendekatinya dan mengajaknya berbincang-bincang tentang kekosongan hidupnya akibat tidak adanya pegangan yang dia yakini benar dalam hidupnya ini. Orang tersebut kemudian berbicara panjang lebar tentang kebenaran dan keselamatan. Fulan merasa kagum dan di dalam hatinya berkata:"Inilah sang maha guru yang sudah lama saya cari". Dengan mengiba, Fulan memohon kepadanya: "Sudikah tuan guru mengajarkan kepada saya jalan keselamatan agar hidupku tenang?"Dia menarik napas panjang dengan sedikit batuk-batuk, lalu menyampaikan dengan penuh keyakinan, pegangan hidup yang akan mengantar si Fulan pada keselamatan. "Kalau anda ingin selamat dunia akhirat, berimanlah bahwa "Kucing lebih besar daripada Gajah".

Fulan menjabat tangannya dan menciumnya. Airmata meleleh di pipi Fulan. Sekian puluh tahun hidup Fulan menderita mencari Kebenaran, dan akhirnya hari bahagia itupun tiba. Hatinya berbunga-bunga. Hidupnya berubah total. Sekarang Fulan bukan lagi seorang perenung, pengkhayal dan pemalas, tetapi sudah menjadi seseorang yang penuh gairah, bersemangat dan periang.

Orang-orang sekampungnya di Wakatobi semua heran melihat perubahan yang terjadi pada diri Fulan. Merekapun ikut bahagia melihat kehidupannya yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun di samping itu, ada pula rasa iri di hati mereka dan ingin memiliki pengalaman rohani seperti yang dia alami.

Beberapa di antaranya kemudian bertandang ke rumah Fulan di malam hari. Salah seorang yang cukup dia kenal, bertanya penuh pengharapan:"Pak, kami terus terang sangat bahagia dengan perubahan yang kami amati pada diri Bapak. Di samping itu, kami juga merasa iri dan ingin memiliki pengalaman rohani seperti yang bapak miliki".

Fulanpun berlagak layaknya sang mahagurunya yang berkacamata tebal itu. Atas nama keselamatan bersama dan persahabatan, Fulan menyampaikannya denan penuh wibawa, sepeti mahagurunya pula:"Kalau kalian ingin selamat dunia akhirat, berimanlah bahwa "Kucing lebih besar daripada Gajah". Inilah yang mengantar saya kepada kebahagiaan lahir dan batin". Mereka semua serempak menyerbu laksana anak panah yang meluncur dari busurnya, mencium tangan Fulan sambil mengucapkan syukur.

Ketika mereka mencicipi teh panas, di antara mereka ada yang berbisik kepada yang lainnya:"Bapak tahu gajah?" LAlu dijawab dengan berbisik pula:"Tidak". Yang lainpun turut berbisik kepada teman yang di sampingnya:"Bapak pernah melihat gajah?". Si teman menggeleng"Tidak, belum pernah".

Fulan akhirnya merasa tidak nyaman dan menyela:"Sudahlah, kita semua ini tidak tahu dan belum pernah melihat gajah. Tapi menurut saya gajah itu tidak lebih besar dari ini", katanya sambil memperlihatkan jari kelingkingnya. "Yang penting adalah meyakininya. Dengan keyakinan ini, kehidupan kita jadi berubah, inilah keimanan yang benar. Ini yang harus kita pupuk, sehingga apapun yang terjadi, tidak ada yang akan menggoncang keimanan kita".

Merekapun merasa puas dan pulang ke rumah masing-masing dengan rasa bahagia. Setelah mereka semua pulang dan rumah kembali pada kesunyian, datanglah godaan pertanyaan di benak si Fulan:"Apa sih gajah itu, sejenis buahkah? Atau mungkin sejenis serangga mirip belalang?". Tentang kucing, dia tidak perlu bertanya kepada siapapun, karena di sekeliling rumahnya berseliweran puluhan kucing. Namun tentang gajah, ah, si Fulan tidakmau berandai-andai yang akan kembali merundung kebahagiaan hidupnya. "Saya sudah beriman yang benar, tidak ada yang boleh mengguncang keimanan saya. Saya harus mempertahankannya apapun yang terjadi".

Namun akhirnya tioba pula hari yang benar-benar menggoncang keimannya. Seorang teman lama yang merantau ke Jakarta, baru saja tiba dengan perahu layar, setelah terombang-ambing selama dua minggu.

"Apa kabar? Anda kelihatan sangat berbahagia", sapa temannya sambil menjabat tangan dan memeluk Fulan erat-erat. "Apa yang terjadi?", tolong jelaskan", imbunya sambil masih menjabat tangannya. Fulan menjelaskan pengalamnnya melanglang buana mencari Kebenaran, sampai akhirnya dia bertemu dengan seseorang yang memberinya pegangan hidup. "Saya sudah memiliki pegangan hidup yang benar dan tidak mungkin akan berubah lagi".

"Apakah itu?", tanya temannya ingin tahu. Fulan menatap matanya, dan dengan penuh keyakinan, dia mengungkapkan keyakinannya dengan mantap:"Kucing lebih besar daripada Gajah", itulah kunci kebahagiaan saya dunia akhirat". Temannya terbelalak. Dia terhenyak sejenak, dan dengan penuh rasa iba dia mengatakan dengan terbata-bata setengah berbisik:"Fulan, itu salah. Gajah itu lebih besar daripada kucing dan lebih besar daripada diri kita ini".

Fulan merasa seperti disambar petir. Temannya ini benar-benar tidak mengerti perasaan. "Jangan-jangan teman saya ini adalah jelmaan setan yang dikirim ke kampung kami sebagai seorang "Anti Kucing", gerutu si Fulan dalam hati. Dia sudah tiba pada batas kesabarannya:"Anda kemari sebagai teman. MArila kita berbicara tentang toleransi, tentang kasih sayang, tentang persahabatan dan tentang kesamaan. Mohon jangan mengganggu keimanan kami. Kami sudah merasa damai dengan keimanan ini. Anda ini di mata saya sepertinya seorang ekstrimis dan radikal, yang melawan arus".

Temannya hanya terdiam memandang Fulan yang ngotot dengan kekeliruannya. UNtuk emnjaga perasaan si Fulan, temannya kenudian pamit untuk memberinya waktu untuk berpikir.

Fulan mulai merasakan perasaan yang kurang enak. Dalam hatinya mulai ada bibit-bibit ketidaksenangan. Keimanannya mulai terusik, namun Fulan beusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan keimannnya yang sudah mantap. Untuk meneguhkan kembali keimanannya dari gerogotan oknum "radikal" ini, Fulan berusaha mencari kembali mahagurunya yang berkacamata tebal itu. Setelah beberapa hari mencari, akhirnya "atas bimbingan Kucing" si Fulan berjumpa dengan mahagurunya.

Dengan penuh pengharapan dia memohon kepada sang nahaguru:"Guru, di kampung saya saat ini, kami kedatangan tamu yang juga teman lama. Dia telah menimbulkan kegelisahan di masyarakat dengan membawa ajaran sesat yang bertentangan dengan keimanan kami. Dia mengatakan bahwa "Gajah lebih besar daripada Kucing". Dia datang bukannya membawa perdamaian, toleransi dan persamaan, tetapi malah menciptakan kegelisahan di masyarakat dengan mengungkit-ungkit keimanan kami yang sudah mantap. Guru, tolonglah kami, apa yang harus kami lakukan.".

Sang mahaguru terdiam sejenak, mengusap-usap dagunya yang tidak berjanggut, serta memperbaiki letak kacamata tebalnya. Dia kembali terbatuk-batuk kecil, namun belum ada kata-kata yang meluncur dari bibirnya. Dia merenung seperti memikirkan sesuatu. Akhirnya dia memegang dan menepuk-nepuk bahu si Fulan. Dengan mantap, meluncur kata-kata dari mulutnya dengan penuh wibawa.

"Orang seperti itu, acuhkan saja. Anjing menggonggong, kafilah berjalan terus", kata mahaguru menasihati si Fulan. "Kucing lebih besar daripada Gajah" atau "Gajah lebih besar daripada Kucing" janganlah dijadikan persoalan", tambahnya. "Dunia tidak akan pernah tentram dan damai kalau kita masih mempertentangkan mana yang besar antara Kucing dengan Gajah. Yang penting adalah, kalau anda telah berusaha mencari Kebenaran dalam hidup ini, dan Kebenaran yang anda temui adalah "Kucing lebih besar daripada Gajah, peganglah erat-erat, itulah Kebenaran. Bukankah Kucing itu mengasihi kita? Surga itu bukan milik suatu kelompok, tetapi milik kita semua yang telah berusaha dengan susah payah mencari Kebenaran dalam hidup ini".

Berbekal ajaran mahagurunya, si Fula kemudian berusaha menemui temannya. "Saya akan menceramahi dia sebagaimana yang diajarkan mahaguru saya", kata Fulan dalam hati. Ketika bertemu, ternyata temannya menyambutnya dengan hangat sambil menyampaikan berita gembira: "Fulan, kita ke Jakarta besok. Fulan gelagapan mendapat undangan mendadak seperti ini: "SAya belum siap, apalagi saya tidak mempunyai uang untuk biaya ke Jakarta". "Saya yang akan menanggung semuanya", jawab temannya dengan mantap.

Fulanpun tiba di Jakarta dan dibawa piknik ke Kebun Binatang Ragunan. "Kamu lihat binatang yang sedang tidur-tiduran itu?, tanya temannya. "Wah, itu sih tidak perlu ditanyakan. Kucing seperti itu ada ratusan di kampung saya", jawab Fulan. Mereka kemudian tiba di suatu tempat. Fulan terperanjat melihat suatu benda. Bentuknya besar, tinggi, hitam. Kalau itu batu tidak mungkin, karena dia bergerak. Kalau kambing sebagaimana yang dipelihara di kampungnya, juga tidak mungkin, karena sangat bear. Fulan benar-benar belum pernah membayangkan, apalagi melihatnya.

Tiba-tiba punggungnya ditepuk temannya. "Apa itu?. Fulan bengong., "Saya tidak tahu". "Itulah gajah", kata temannya sambil tersenyum.

Fulan tersentak. MAtanya melotot dan kemarahannya menggelora sampai ke ubun-ubun. Dia berusaha mengendalikan emosinya yang sudah hampir meledak.

"Bung, bercanda itu ada batasnya. Ini sudah SARA, saya tidak bisa mentoleransinya. Ini masalah keimanan, dan sejauh saya meyakini bahwa yang saya imani itu benar, itulah kebenaran", jawab Fulan dengan nada yang tegas.

Temannya pun sudah tiba pada batas kesabarannya. Dengan perasaan kasihan, dia meminta petugas kebun binatang untuk menjelaskan sesuatu kepada mereka.

"Pak, tolong jelaskan kepada teman saya tentang hewan ini", kata temannya kepada petugas kebun binatang, sambil menunjuk ke binatan yang sedang tegak berdiri. "Ini gajah dari Sumatra, tepatnya dari Waikambas", kata petugas kebun binatang.

Fulan tersirap, tubuhnya terasa panas dingin. Dia ingin marah, tapi otot-ototnya sudah melemas, lunglai. Matanya berkunang-kunang. Dia berusaha menyembunyikan perasaannya yang galau. Sedikit demi sedikit dia berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang ada. Dia mencoba tegar.

Ralita yang dia hadapi ini sungguh sangat menyakitkan. Dia masih berusaha untuk menyangkal, tetapi pertahannnya sudah ambruk. Itu gajah, benar-benar gajah. Hewan itu ada di depan matanya sekarang. Jauh lebih besar daripada kucing, Lebih besar daripada kambing dan malah lebih besar dari dirinya sendiri.

Fulan tegak membisu menatap gajah yang sekarang mulai mengayunkan belalainya. "Itu gajah, benar-benar gajah!", Fulan berbisik kepada dirinya sendiri. Dia menatap temannya lalu menghampirinya. Merekapun langsung berpelukan. Dengan kekuatan yang ada, Fulan membisikkan sesuatu ke telinga temannya:"Terima kasih. Keimanan yang selama ini saya yakini benar, ternyata salah".

Setelah menyimak ceritera di atas, masihkah kita tega mengatakan, bahwa "Kebenaran" yang diyakini si Fulan selama ini benar-benar suatu Kebenaran? di sini letak kekeliruan pandang Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat.