Teman saya seorang yang sangat pandai. Terbiasa memikirkan segala sesuatu dengan mendalam. Pandai bicara, pandai berdebat, dan tidak pernah menyerah pada akal orang lain. Bahkan saat dia seharusnya mengakui kesalahannya, dia tetap bertahan dengan akalnya.
Dengan sifatnya yang selalu mempertanyakan sesuatu, maka bahkan dalam beriman kepada Tuhannya-pun ia tidak luput dari mempertanyakan segala sesuatu yang berhubungan dengan agamanya.
Salahkah?
Teman saya tentu saja senang dan selalu mengagumi orang-orang yang selalu mengedepankan akalnya. Tak heran jika dia terjebak dalam kelompok JIL. Akhirnya dia lebih percaya pada kemampuan akalnya daripada ulama, ahli agama dalam memahami agamanya. salahkah?
Teman, sesungguhnya Allah memberi kita akal untuk memahami perintahNy, laranganNya, dan menemukan jalan kembali kepadaNya. Tugas kita di dunia adalah untuk mengabdi kepadaNya karena kita mencintaiNya dan agar kita menemukan jalan kembali kepadaNya. Dengan demikian, kita harus mengasah qalbu kita, karena di sanalah ruh kita bersemayam. Perintah Allah yang sudah dijelaskan dalam Al Qur'an harus kita turuti, tanpa berpikir. Jalankan saja, pasti akan memberi kebaikan kepada kita. Larangan Allah harus kita jauhi tanpa berpikir lagi, karena pasti akan mendatangkan kebaikan kepada kita. Setelah kita jalankan, Allah senang jika kita memikirkan hikmah di balik setiap perintah dan larangan. Tetapi jika kita tidak menemukan jawabannya, percaya saja bahwa semua janji Allah pasti benar.
Akal harus kita gunakan sebaik mungkin, tetapi jangan sampai akal menutup qalbu. Seharusnya penggunaan akal akan memperkuat qalbu, dan sebaliknya qalbu akan mengawal akal kita agar tetap dalam jalan Allah. Ingatlah Allah selalu, meskipun engkau sedang berpikir. Jadikan semua fenomena yang kau lihat sebagai jalan menemukan Allah dan bukan malah menjauhkanmu daripadaNya. Pada saat akalmu buntu, qalbu akan membimbingmu. Bertanyalah kepada Allah, karena dia yang Maha Tahu. Berdialoglah dengan Al Qur'an, karena kitab itu diturunkan untuk membimbing kita dalam masalah apapn sehari-hari. Al Qur'an diturunkan untuk masing-masing manusia.
Jadi, saudaraku, jangan sampai akalmu menutup qalbumu, hingga tertutuplah pandanganmu dari jalan kembalimu.