Senin, 28 Juli 2008

Rapuhnya hati seorang ibu.

786, 165

Seorang ibu diharapkan mempunyai hati yang teguh, yang tenang bagaikan riak air di telaga. Kesabaran seorang ibu diharapkan seluas lautan, seluas langit yang tak bertepi. Tapi seorang ibu tetap seorang manusia biasa. Ada saat-saat tertentu hatinya dapat begitu rapuh, mudah meleleh, mencair seiring dengan air mata yang tertumpah dari pelupuk mata yang panas ke pipinya yang semakin tahun semakin mengeriput. Oh Allah, beri hamba hati yang kuat, hati yang tabah, yang tidak pernah menaruh harapan kepada anak-anakku. Hanya kepadaMu aku tumpahkan segala harap dan derita hatiku. Ajari hamba untuk tidak mengeluh kecuali kepadaMu. Jangan sampai hati ini menangis karena kecewa kepada anak-anakku. Oh Rabb, isi hati hamba hanya dengan cinta yang ikhlas, yang tak pernah mengharap balasan cinta dari anak-anakku. Hanya RidhoMu yang keharapkan, hanya cintaMU yang kudambakan.

Duuuuuhhh..... bagaimana caranya tetap diam dalam tangis, tetap tenang dalam kekecewaan dan tetap tersenyum dalam derita? Ya Rabb, pantaskah hamba menjadi seorang ibu?

Sabtu, 26 Juli 2008

Perjalananku di naqsbandi (1)

786; 165

Jika kutetapkan saja bahwa perjalananku di naqsbandi dimulai pada hari Kamis, 15 Mei 2008 yang bertepatan dengan 9 Jumadilawal 1429 H, maka sudah berjalan selama dua setengah bulan.
Aku sudah berusaha berkonsentrasi pada guruku Mawlana Syeikh Nazim dan meninggalkan ajaran guruku semula Syeikh Hidayat Muhammad Tashdiq. Semula aku tiada ingin menghilangkan ajaran guruku semula, karena manfaatnya sangat besar bagiku. Tapi kuputuskan untuk mengawali lagi perjalanananku mulai dari langkah pertama. Aku menginginkan totalitasku sebagai murid yang murni berjalan dalam barisan guruku.

Mungkin sudah menjadi jalanku bahwa pak Jay yang semula mendampingiku dalam awal perjalanan ini kemudian disibukkan dengan takdirnya, sehingga aku belajar untuk mandiri dalam melanjutkan perjalanan ini. Para pengikut tarekah naqsbandi haqqani bagaikan satu keluarga besar. Mereka keluargaku dalam perjalanan ini. Mereka berusaha menggandeng tanganku agar dapat mengikuti mereka. Namun bagiku perjalanan ini masih sangat berat. Perangkap setan (atau nafsuku?) seringkali tiada mampu kuhindari. Aku seringkali lalai. Aku terseok-seok mengikuti perjalanan saudara-saudaraku. Tak jarang aku merasa begitu fakir, begitu lemah dan merasa tak berdaya. Namun saudara-saudaraku selalu membesarkan hatiku. Mereka berusaha memberikan segala yang kubutuhkan sambil mengingatkan ajaran guru kami agar selalu bersyukur atas segala yang telah Allah limpahkan bagiku. Satu hal yang tak boleh kulupakan, yaitu adalah nikmat Allah yang begitu besar bagiku karena telah menempatkan diriku dalam barisan ini, jalan ini, tarekah ini.

Suatu hari airmata menggenangi mataku ketika dalam salah satu milis Islam yang kuikuti, seorang saudara muslimku menetapkan diriku ini sebagai ahli bid'ah karena menjalankan amalan bulan Rajab. Perasaanku berada antara sedih dan penuh syukur. Sedih karena sekarang bahkan saudaraku seiman menganggap ibadahku sebagai ahli bid'ah, mengingkari syariah, tidak mau mendengar walaupun sudah diberitahu bahwa jalanku salah. Hatiku bersyukur karena hatiku yang biasanya"keras" menjadi begitu lembut, bisa tersentuh hanya oleh sebuah tulisan di milis. Tulisan dari seorang saudara sesama muslim yang seharusnya saling mendukung dan saling mencintai. Benarkah jalanku salah? Benarkah aku mengingkari syariah? Bukankah jalan tarekah itu sebenarnya adalah menjalankan syariah dengan bersungguh-sungguh dan istiqomah? Ya Rabb, jangan tinggalkan hambaMu barang sekejap. Bimbinglah hamba selalu di jalanMu. Ya Mawlana, tolonglah saya!

Aku memang berusaha menjalankan amalan Rajab. Tapi dasar aku ini memang si lalai, hanya sebagian kecil yang dapat kujalankan. Hal ini tentu membuatku sangat sedih. Kesedihan yang disebabkan perasaan bersalah karena tak dapat mengabdi kepada Allah sebagaimana seharusnya. Aku menangis karena Allah. Luar biasa! Alhamdulillah. Ada perasaan sedih dan sekaligus ada rasa syukur. Keadaan hati seperti inilah yang mulai akrab dalam diriku. Perasaan ini menjadi jelas setiap kali aku menghadiri majelis dzikir. Hatiku mulai dapat larut dalam dzikir dan mulai belajar ikhlas menjalankan semua amalan pengabdian kepada Allah ini. Aku juga mulai merasakan keahdiran Mawlana dalam hatiku. Siapakah itu yang selalu "menyapaku" saat aku lalai?

Ya Allah, ya Rabb! Tolong hambaMu yang fakir ini! Ilahi, Anta Maqsudi wa Ridhaaka Mathlubi!

Senin, 21 Juli 2008

Realitas bay'at

25 May 2008

Realitas Bay'at

Shuhba Mawlana Syekh Hisyam Kabbani QSJakarta, 7 Juli 2003
A`ûdzu billâhi min asy-syaythân ir-rajîm Bismillâh ir-rahmân ir-rahîmNawaytul arbâ`în, nawaytul `itikâf, nawaytul khalwat, nawaytulriyâdha, nawaytus sulûk, nawaytul `uzla fî hâdza al-masjid.
“`Ati-Allâha wa ati`ur-Rasûla wa ulil-amri minkum” “Hai orang-orang yang beriman! Taati Allâh SWT, dan taati Rasul, dan mereka yang diberi kewenangan di antara kamu.” [ QS 4:59]
Dan taat kepada Nabi Muhammad SAW berarti taat kepada Allâh SWT. Allâh SWT berfirman, “Man yut`i ar-rasûl faqad ata` Allâh.” “Dia yang taat kepada Rasul, berarti taat kepada Allâh SWT” [QS 4:80]. “Ay wada` ar-rasûl mumathilan `anhu. yumathil rabbil `alamîn.” Dia berfirman, “Barangsiapa taat kepada Nabi SAW, sungguh taat kepada Allâh SAW.” Itu artinya Allâh SWT meletakkan Nabi SAW mewakili Diri-Nya di Tempat-Nya. Itu berarti bahwa tiada jalan untuk mendapat ketaatan kepada Allâh SWT tanpa ketaatan kepada Nabi SAW. Itu artinya bahwa tiada pintu kepada Allâh SWT tanpa pintu kepada Nabi SAW. Itu artinya tiada jalan untuk memasuki Surga tanpa Nabi SAW. Itu artinya bahwa tiada jalan menjadi Muslim tanpa mengatakan ‘Muhammadur-Rasûlullâh.’ Meskipun sekiranya kalian mengatakan ‘lâ ilâha ill-Allâh’ jutaan kali, tiada jalan menjadi Muslim tanpa menyebut ‘Muhammadur- Rasûlullâh.’
Maka Kebesaran apakah yang Dia berikan kepada Nabi Muhammad SAW?
Busana apa yang Dia pakaikan kepada Nabi SAW dari asma ‘ul-husna Allâh SWT, tak seorang pun yang tahu. Jika seorang raja memiliki seorang putra, yang juga seorang putra mahkota, apa yang ia perbuat untuk anaknya itu? Jika sang raja mau pergi ke tempat lain, anaknya itu yang mewakilinya (menjalankan tugas sehari-hari?). Dan sang raja tidak akan bahagia jika anaknya hanya berpakaian yang biasa-biasa saja, tetapi ia akan mendadaninya dengan busana yang dihiasi dengan tanda-tanda kebesaran dan dengan berbagai medali di dadanya untuk membuatnya nampak sangat berbeda (anggun). Sehingga ketika Sang Putra Mahkota menampakkan dirinya (ke publik), wow semua orang merasakan hormat dan kemuliaan kepada Sang Putra Mahkota.
Ini adalah (apa yang dilakukan) raja bagi anaknya, seorang manusia. Apapun yang diberikan raja kepada anaknya, suatu hari akan habis. Apakah ayahnya itu akan meninggal atau anaknya yang mungkin meninggal dan semua itu menjadi hilang. Tetapi apa yang Allâh SWT al-Hayyu, berikan kepada Nabi SAW tidak akan mati. Apa yang Allâh SWT berikan kepada Sayyidina Muhammad SAW adalah tetap hidup (abadi). Dia berfirman, “Inna alladzîna yubây`ûnaka innamâ yuba`yûnallâh–-“Sesungguhnya mereka yang ber-bay’at kepadamu (Muhammad SAW), ber-bay’at kepada Allâh SWT. ‘Tangan’ Allâh SWT berada di atas tangan mereka.” [QS 48:10].
Qâla man yubâ'yaaka Yâ Muhammad, faqad bayâ`nî. Dia berfirman, “Barangsiapa memberimu ber-bay’at ya Muhammad SAW, (berarti) membuat ber-bay’at kepada-Ku.” Itu artinya ketika para Sahabat membuat bay’at kepada Nabi Muhammad SAW, berarti Nabi SAW hilang ke dalam Hadirat Ilahi. Hanya Allâh SWT yang berada di situ.
Indamâ qâla inna alladzîna yubâ`ûnaka. [Ketika Dia berfirman, “Barangsiapa memberimu bay`at…”] Dia membuat sebuah konfirmasi tentang sesuatu. Itu adalah sebuah konfirmasi yang berarti itu harus ditunjukkan kepada orang itu. Jika mereka membuat suatu konfirmasi, mereka harus menunjukkan suatu bukti nyata (jelas, lengkap), seperti ketika mereka membuat percobaan di laboratorium sains. Mereka harus membuat bukti lengkap apa yang telah dilakukan Allâh SWT.
Fa Hûwa yaqûl, inna alladzîna yubâ`ûnaka... melihat dengan bukti, bukan hanya dari kata-kata, tetapi dengan melihat haqîqat, kebenaran. Mereka yang memberimu bay’at, mereka memberikannya kepada Allâh SWT. Itu artinya pada saat itu, ketika para Sahabat meletakkan tangan mereka bersama Nabi SAW, mereka berada dalam Hadirat Ilahi, beliau membawa mereka kepada Hadirat Ilahi, al-hadharat al-ilahiyya. Mereka berada di sana. Para Sahabat tidak lagi melihat apa-apa, tetapi mereka berada dalam al-hadharat al-ilahiyya, mereka berada dalam hadirat Ilahi Allâh SWT. Di dunia, jika kalian berada di hadapan seorang raja, kalian tidak lagi melihat diri kalian. Wow, kalian bilang, ini adalah raja. Di Indonesia, ada seorang raja pada suatu waktu. Dua ratus juta manusia di bawah raja itu. Apalah artinya kalian ini jika dibandingkan dengan 200 juta itu? Bukan apa-apa. Lalu apa yang kalian pikir ketika kalian berada di dalam Hadirat Raja Di Raja yang Hidup Abadi, yang menciptakan para raja?
Dia yang menciptakan mereka dan membuat mereka memerlukan makan dan minum. Itu artinya mereka juga memerlukan pergi ke kamar kecil. Dengan itu semua Dia membuat para Sahabat sampai di Hadirat Ilahi. Ketika mereka sampai di sana, mereka langsung mencapai maqam al-fana'. Fanâ'un fillâh fana'un fir-rasûl, shalla-Allâhu alayhi wa sallam. Mereka tidak lagi melihat diri mereka, mereka hanya melihat Allâh SWT melalui mata Nabi SAW. Itulah mengapa ketaatan mereka kepada Nabi SAW adalah 100%. Mereka patuh kepada Nabi SAW 100%. Ketika mereka meletakkan tangan mereka dengan Nabi SAW untuk bay’at, segera setelah tangan mereka menyentuh tubuh sucinya, para Sahabat (serta-merta) berada di Hadirat Ilahi. Untuk alasan ini, bila kita memberi bay’at kepada seorang wali, serta-merta ketika kita menyentuh tangannya, ia meletakkan kita di Hadirat Nabi SAW.
Itulah sebabnya ketika kita memberi bay’at, kita mengatakan ‘Allâhu Allâhu Allâhu Haqq.’ wali itu meletakkan kalian di hadirat Nabi SAW dan Nabi SAW meletakkan kalian di Hadirat Allâh SWT, meletakkan kalian di Hadirat Ilahi untuk membakar habis kalian, untuk membakar habis ego kalian, sehingga kalian tidak lagi memiliki keinginan kecuali yang diinginkan Allâh SWT atas diri kalian.
Ketika kita membaca Sûrat al-Ikhlâsh, kita mengatakan ‘qul Hû Allâhu âhad.’ [katakan:] qul ya Muhammad. Hû al-ghayb ul-mutlaq alladzii lâ yurâ. Hû. Katakan Hû yang tak dapat dilihat, Dia yang tak dapat dikenali, Dia yang tak dapat dimengerti, Dialah Allâh SWT. Dia yang tak dapat dimengerti, Dia yang tak dapat dilkenali, Dia yang tak dapat dilihat. Yang Satu itu adalah Allâh SWT.
Jadi ketika kita mengatakan ‘Allâh Hû’, kita menyebutkannya dengan cara yang bertentangan (berlawanan) ketika kita menyebutkannya dalam Surat al-Ikhlâsh (kita mengatakan Hû Allâh). Yang Satu, yang tak dapat dilihat adalah Allâh SWT. Kita tahu Allâh SWT tetapi kita tidak tahu Hû. Allâh SWT tahu tentang Hû. Itulah sebabnya Dia meletakkan Hû di awal (dalam Surat al-Ikhlash). Dia meletakkan Hû di depan kata Allâh. Hû mewakili Dzâtullâh, Sang Inti. Allâh mewakili asma. Di situ ada Sang Pencipta yang tidak diketahui oleh siapapun, satu yang disebut oleh Allâh SWT sebagai Hû. Ketika kita melakukan bay’at, (kepada) Satu yang kita tahu dengan nama Allâh SWT adalah Hû. Begitulah kiranya mereka menelusuri jejak kembali, mereka membawa kita kembali, awliyâ-ullâh kepada Hadirat Ilahi, Hû.
Jadi ketika kita mengatakan Allâh Hû mereka membawa kita kepada Hadirat Ilahi. Dan ketika kalian mengatakan Haqq, itu artinya kalian mengkonfirmasi bahwa sesungguhnya roh kalian dapat melihat, namun diri kalian tidak dapat melihatnya. Dan apa yang kalian lihat hanyalah Busana (attribut, sifat-sifat) Allâh SWT, Dia mendadani kalian, tanpa mengetahui Sang Inti, tidak satu pun dapat mengetahui Sang Pencipta.
Dan itu semua dilakukan, melalui Inna alladzîna yubây`ûnaka innamâ yuba`yûnallâh. Janganlah berpikir ada jalan untuk mencapai Allâh SWT tanpa melalui Nabi SAW. Dia adalah khalifatullâh fil ardh. Bukan hanya di dunia ini saja, tetapi di seluruh penjuru alam semesta ini. Apapun yang diciptakan Allâh SWT, Muhammadur Rasûlullâh adalah khalifah. Dia adalah wakil Allâh SWT untuk semua makhluk. Itulah mengapa beliau mengatakan, “Âdam wa man dûnahu taht liwayî yawma al-qiyâm” – “mereka berada di bawah panji-panjiku, mereka harus mendatangiku untuk membawa mereka ke Surga.” Beliau mengatakan, Anâ sayyida waladzi âdama wa lâ fakhr.—“Aku adalah majikan bani Adam AS dan aku tidaklah berbangga.” Apa pula ini, “Anâ sayyida waladzi âdama?” Dan Allâh SWT berfirman, Wa laqad karamnâ banî âdam. – “Kami telah memuliakan bani Adam AS” [QS 17:70].
Dan Allâh SWT berfirman, Alam taraw ann Allâha sakhara lakum mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardh.—“Tidakkah engkau lihat bahwa Allâh SWT telah menaklukkan kepadamu segala sesuatu di langit dan di bumi …?” [QS 31:20]. Itu berarti bagi bani Adam AS, segala sesuatu di langit dan di bumi adalah di bawah mereka. Maka itu berarti, karena Nabi SAW adalah majikan bani Adam AS, dan semua berada di bawah mereka ini (bani Adam AS), maka itu berarti bahwa tidak ada satu pun dapat berada di atas Nabi SAW.
Ada malaikat yang berada di bawah perintah Nabi SAW. Ketika kalian mengambil bay’at dari seorang mursyid, mursyid yang haqîqî, mursyid sungguhan, para malaikat tadi menjadi saksi dan mereka membuat awrâd (dzikir) untuk kepentingan kalian sampai dengan Hari Pengadilan. Ketika kalian memutuskan untuk mengambil bay`at dari mursyid sejati itu, dan tidak dari seorang yang pura-pura menjadi mursyid dan bukan pula seorang yang dianggap orang sebagai mursyid. Mursyid sejati ini jarang, di dunia ini hanya terdapat 124.000 awliyâ-ullâh, hanya itu saja. Jika kalian menemui seorang mursyid haqiqi, ketika kalian memutuskan untuk mengambil bay`at darinya, pada saat itu, para malaikat (sejumlah yang bilangannya tidak dapat kalian bayangkan) itu dianugerahkan kepada kalian untuk melayani kalian. Bagaimana caranya melayani kalian? Apakah kalian berpikir ketika kalian menerima bay`at, kalian datang dengan baju kotor seperti itu dan tubuh kotor dan hati kotor, dalam hadirat Nabi SAW?
Serta merta para malaikat itu akan merubah penampilan kalian sepenuhnya seperti pada saat (kalian ditanya di alam roh) “Alastu bi-rabbikum” dalam menerima bay`at dengan Syekh; dan Syekh membawa kalian ke hadirat Nabi SAW; dan Nabi SAW membawa kalian ke dalam Hadirat Allâh SWT.
Jika kalian hendak menemui seseorang, kalian akan mandi sehingga tidak bau. Apakah kalian berpikir ketika orang-orang berdatangan dengan berlari untuk mengambil bay`at, dengan tubuh yang tidak dibersihkan dan baju kotor adalah cara yang benar untuk mengambil bay`at? Tidak. Haa! Segera setelah kalian mengucapkan, “Aku mau di-bay`at” bahkan dalam baju kotor dan hati kotor, segera setelah kalian datang ke situ, para malaikat itu, dengan sentuhan mereka, mereka menyiram kalian dengan busana dan dandanan cantik ini; dan pada saat itu kalian kelihatan seperti seorang yang lain, seperti manusia berpenampilan malaikat yang memakai baju surgawi; duduk bersama mursyid itu. Mursyid itu juga merubah penampilannya, kepada gambaran spiritualnya, sebagaimana ia terlihat di hadapan para awliyâ dan Nabi SAW, dan membawa kalian bersama segenap para malaikat tadi dalam busana yang telah mereka berikan kepada kalian, sebagaimana dikatakan dalam hadis, “mâ jalasa qawman yadhkurûnallâh illa hafathum al-mala'ika wa gashîyahum ar-rahmat wa dzakarahumullâha fî man `indah.”—“Tiada akan sekelompok orang yang duduk, yang mengingat dan menyebut Allâh SWT, kecuali para malaikat akan mengelilingi mereka, dan mereka akan diselimuti rahmat dan Allâh SWT akan mengingat mereka di antara mereka yang berada dalam Hadirat-Nya.”
Bay`at seperti itu merubah kalian. Sehingga kalian menjadi seorang manusia tetapi memiliki kuasa malaikat surgawi-–jadi ketika kalian berbaju kuasa malaikat ini, ketika kalian memasuki Hadirat Ilahi kalian tidak pingsan, kalian tidak menghilang. Karena kalian menjadi sebuah cahaya, dan sebuah sumber cahaya.
Apa yang berada dalam hati awliyâ, kami tidak dapat mengatakan semuanya. Mereka tidak mengizinkan kami mengatakan semuanya, bila tidak kalian akan tenggelam. Namun ada sebuah berita gembira bagi kita semua, bahwa dengan berkah guru mursyid kita Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani QS, kita berada dalam kategori (golongan) itu.

Rabu, 09 Juli 2008

Bisnis Indonesia: ayahandaku in memoriam (4)

16/12/2005 22:38 WIB
Jumat, 16/12/2005 16:23 WIBAbdullah Ali in memoriem 4, soal kepemilikan asing oleh : Djony Edward

JAKARTA (Bisnis): Sosok bankir senior Abdullah Ali selain tekun menangani Bank Central Asia, juga memiliki perhatian yang besar terhadap masa depan perbankan nasional, paling tidak dalam tataran pemikiran.
Sejak tahun 1990-an dia bersuara nyaring soal perlunya konsolidasi perbankan nasional guna menghadapi persaingan global.
Dia berpendapat perbankan nasional akan sulit bersaing menghadapi arus bank- bank asing yang akan menyerbu Indonesia dalam era globalisasi, jika tidak segera mengadakan pembenahan, terutama pembenahan strategi jangka panjang. Perbankan nasional juga akan kalah bersaing jika hanya tetap berorientasi menggenjot laba demi memuaskan para pemegang saham.
"Kita tidak bisa membiarkan perbankan Indonesia dikuasai perbankan asing. Kita telah bersusah payah mengambil alih bank-bank Belanda pada tahun 1959, tidak seharusnya sejarah kolonial terulang kembali, baik dalam bidang politik maupun bidang ekonomi," demikian ditegaskan Abdullah Ali ketika itu.
Menurut Ali, selain tidak siapnya perbankan nasional menghadapi perbankan asing, masalah lain yang sangat mengkhawatirkan adalah masih banyaknya orang-orang yang bersedia digunakan namanya sebagai stoorman atau bagi akumulasi suara untuk kepentingan pihak asing. Dengan banyaknya stoorman ini, sangat besar kemungkinan saham perbankan nasional yang tercatat di pasar modal dikuasai orang asing.
Ketika berbicara dengan DPR, dia pernah mempermasalahkan penjualan saham-saham perbankan kepada pihak asing. Sebab, perbankan mempunyai kedudukan sangat strategis bagi perekonomian bangsa.
"Harus dijaga jangan sampai tingkat pemilikan saham perbankan oleh pihak asing akan berkembang ke arah yang bisa mempengaruhi kebebasan pemerintah dalam mengatur ekonomi moneter". tuturnya. [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika

Bisnis Indonesia: ayahandaku in memoriam (5)

16/12/2005 22:37 WIB
Jumat, 16/12/2005 16:44 WIBAbdullah Ali in memoriem 5, soal IT oleh : Djony Edward

JAKARTA (Bisnis): Komentar Abdullah Ali soal perlunya perbankan nasinoal mengembangkan teknologi informasi (IT) boleh dibilang aneh di zamannya. Pada saat bankir jor-joran menggelar hadiah, PT Bank Central Asia di bawah kepemimpinannya justru sibuk melakukan investasi IT.
"Tiap tahun laba BCA terbilang kecil dibandingkan bank-bank papan atas, karena kami manajemen sudah mengambil keputusan BCA harus menjadi bank yang kuat dengan IT yang terdepan", tuturnya kepada Bisnis ketika itu.
Telah menjadi pengetahuan umum, BCA pada tahun 1995-1998 sibuk berinvestasi dengan membeli ATM dan sistem on line. Sehingga laba perusahaan tersedot untuk kebutuhan masa depan BCA.
Tak hanya bankir lain, para karyawan dan stafnya juga hampir tidak mengerti mengapa belanja IT BCA ketika itu terbilang besar dan terkesan jor-joran. Jawabnya adalah, karena kuatnya keinginan Abdullah Ali menjadikan BCA sebagai bank terkuat dalam hal IT.
Sejarah kemudian membuktikan, kini BCA dengan kemampuan ATM, phone banking atau mobile banking, maupun internet bankir, yang terdepan. Sehingga dalam sebuah riset soal kepemilikan kartu ATM, BCA merupakan bank penerbit kartu ATM terbesar dimana setiap karyawan yang bergaji di atas Rp1,5 juta sudah memiliki kartu ATM.
Langkah ini kemudian diikuti oleh bank-bank lainnya. Tidak ada istilah terlambat, bank-bank pengekor IT BCA itu pun kini menjadi bank alternatif kedua, ketiga dan keempat bagi kepemilikan kartu ATM.
Sehingga kini tak bisa dibantah bahwa, bank yang terbesar dan terkuat dalam penerbitan kartu kredit adalah Citibank. Sementara bank terkuat dan terbesar dalam pemanfaatan ATM adalah BCA.
Mungkin banyak karyawan BCA yang tak sadar kecanggihan teknologi melayani yang dijalankannya adalah warisan leluhur Abdullah Ali. Mungkin banyak pemegang kartu ATM BCA yang tak sadar bahwa ide itu adalah karya besar Ali. Mungkin banyak wartawan perbankan kini yang tak kenal sosoknya, tapi sejarah itu tak pernah hilang dalam ingatan.
Karya besar maestro perbankan nasional itu terlalu mahal untuk dilupakan, bahkan terlalu cerdas untuk dikembangkan!!! Selamat tinggal bapak perbankan Indonesia...! [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika

Bisnis Indonesia: in memoriam ayahandaku (3)

16/12/2005 22:38 WIB
Jumat, 16/12/2005 16:11 WIBAbdullah Ali in memoriem 3, kedekatan dengan wartawan oleh : Djony Edward

JAKARTA (Bisnis): Sosok Abdullah Ali dimata wartawan memiliki kesan tersendiri. Sikap kebapaan dan mau mengayomi wartawan, hingga meninggalnya tak pernah terlupakan.
Masih segar dalam ingatan petuah-petuah Abdullah Ali ketika Bank Central Asia dilanda rush, dia dengan tenang, sabar dan penuh percaya diri menasihati agar wartawan berhati-hati dan bijak.
"Wartawan adalah stake holder perbankan nasional, jadi kalau memberitakan isu soal perbankan tolong ada terselip rasa memiliki juga atas perbankan itu. Artinya wartawan jangan menulis berita yang dampaknya negatif bagi perbankan...," demikian salah satu nasihat yang masih dikenang Bisnis.
Nasihat itu disampaikan Ali di tengah-tengah rush yang melanda Bank Central Asia. Isyu yang merebak ketika itu adalah, meninggalnya Soedono Salim (Om Liem)sebagai pemegang saham mayoritas BCA. Tapi kemudian isyu tersebut tidak benar, karena Om Liem sendiri sore harinya mengundang wartawan berjumpa pers di kawasan Kapuk, Jakarta Utara.
Tapi isyu telah terlanjur merebak, nasabah BCA pun mengantree di ATM-ATM dan counter BCA di seluruh Idnonesia. Tak pelak BCA pun collapse, namun Abdullah Ali keesokan harinya tetap tampil di hadapan wartawan sambil terus mengungkapkan nasihat-nasihatnya.
Perbankan itu, tutur Ali, adalah lembaga kepercayaan yang menjadi perantara (intermediasi) antara deposan dan masyarakat peminjam. Kalau dengan gosip-gosip yang berkembang belakangan BCA tidak dipercaya sehingga di rush, tentu tak lepas dari isyu-isyu yang merebak.
Karena itu, dia minta kepada wartawan, untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan, khususnya kepada BCA. Pesan itu benar-benar di dengar wartawan dan pekan-pekan berikutnya isyu rush pun reda, apalagi Bank Indonesia sebagai lender of last resort mem-back up penuh likuiditas BCA. [Close]

© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika

Bisnis Indonesia: in memoriam ayahandaku (2)

16/12/2005 22:39 WIB
Jumat, 16/12/2005 16:00 WIBAbdullah Ali in memoriem 2, soal kredit macet oleh : Djony Edward

JAKARTA (Bisnis): Sebagai bankir senior, Abdullah Ali menanggapi kredit macet sama halnya dengan bankir-bankir pemula ketika itu. Yakni menganggap barang yang sulit untuk disikapi, tapi bukan tanpa solusi.
Bagi dunia perbankan Indonesia, permasalahan kredit macet memang masih menjadi momok yang amat menakutkan, selama beberapa waktu terakhir. Sejumlah bank, termasuk bank besar, yang dari luar terlihat teramat tegar, kokoh dan seolah tidak akan bisa terguncangkan, tiba-tiba saja limbung.
"Mengenai kredit macet, seluruh aparat pemerintah yang terkait seyogyanya bisa membantu secara all out, terutama yang berkaitan dengan penyelesaian hukum". titah tersebut sangat patut untuk dicermati karena yang menyampaikan bukan seorang tokoh sembarangan, melainkan Abdullah Ali, seorang bankir sejati. Ali mengemukakan nasihatnya dalam memoarnya yang diberi judul Lika-liku Sejarah Perbankan Indonesia.
Buku itu tidak hanya berkisah mengenai pribadi Abdullah Ali, tetapi juga berisi tentang dunia perbankan pada khususnya serta permasalahan perekonomian Indonesia pada umumnya. Dalam buku itu seolah terekam perjalanan dirinya di dunia perbankan seolah simetris dengan perjalanan sejarah perbankan Indonesia.
Ketika berusia 57 tahun, Ali merasa sudah tak mungkin bisa diangkat untuk menjadi direktur di Bank Indonesia karena dirinya bukan sarjana, Ali kemudian meminta pensiun. Dan sejak tanggal 1 Oktober 1980 1998, Abdullah Ali menjabat sebagai Presiden Direktur Bank Central Asia.
Menyikapi kredit macet yang melanda perbankan nasional dia mengemukakan, "Kalau penyelesaian kredit-kredit macet bisa dilaksanakan melalui wewenang-wewenang seperti yang ada pada Panitia Urusan Piutang Negara (sekarang Ditjen Piutang dan Lelang Negara), penyelesainnya seharusnya tidak akan berlarut-larut".
Menurut penilaian Ali, banyak debitur macet sesungguhnya mempunyai cukup kemampuan untuk bisa membayar kembali hutang mereka. "Namun, karena penagihannya kurang menggebu, mereka jadi mengulur-ulur waktu. Bahkan, barang tidak bergerak yang sudah dihipotik, sering menjadi susah untuk dilelang walaupun sudah ada keputusan pengadilan negeri. Ada-ada saja rintangannya...".
Memang tidak bisa dibantah, penyelesaian kredit macet merupakan keberhasilan operasional setiap bank. Sedangkan kalau persoalan tersebut tidak bisa diatasi, Abdullah menegaskan, "Credit policy yang sehat pun tidak bisa banyak membantu".
Pada kaitan ini dia kemudian menyebutkan, mengingat jasa-jasa perbankan sangat vital artinya bagi usaha-usaha pembangunan, masalah ini kiranya memerlukan prioritas utama dalam program Pemerintah dan DPR. Tidak lupa, Ali langsung menegaskan, "Penyelesaian yang cepat dari masalah-masalah kredit macet melalui pengadilan bisa mengurangi kemungkinan terjadinya kolusi antara pegawai-pegawai dengan debitur". [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika

Bisnis Indonesia: ayahandaku in memoriam (1)

16/12/2005 22:40 WIB
Kamis, 15/12/2005 10:54 WIBMaestro perbankan itu telah tiada....!

JAKARTA (Antara): Maestro dan legendaris perbankan, Abdullah Ali, berpulang ke rahmatullah pada pukul 05:00 pagi hari ini karena sakit.
Menurut Masyhud Ali, adik kandung Abdullah Ali, mendiang mantan Dirut PT Bank Central Asia Tbk itu meninggal di rumah duka di Jl. Cempaka Putih Tengah 17. No. 26. Meninggalnya Abdullah Ali lantaran usia yang sudah uzur sehingga kesehatannya terus menurun, hingga akhirnya meninggal dunia.
"Insya Allah kakak akan dimakamkan di Tanah Kusir ba'da dzuhur", ungkapnya kepada Bisnis.
Abdullah Ali adalah sosok bankir profesional. Dedikasi dan pengabdianya dicurahkan di BCA, warga Betawi asli ini menduduki posisi puncak di BCA menggantikan bankir senior Mochtar Riyadi (Chairman Lippo Group). Tampuk kepemimpinan BCA pasca krisis kemudian beralih dari Abdullah Ali kepada Djohan Emir Setijoso. Regenerasi BCA seperti mengisyaratkan, bahwa trah kepemimpinan bank swasta terbesar itu selalu dipegang oleh bankir-bankir kawakan.
Perjalan hidup Abdullah Ali seolah mengiringi jatuh bangunnya perbankan nasional. Diujung kepemimpinannya, BCA didera isu rasial, sehingga di seluruh pelosok tanah air terjadi rush (penarikan dana besar-besaran). Namun karena jalinan manajemen dan sistem yang dibangunnya sangat kokoh, rush yang sempat membuat limbung BCA mengalami recovery yang sangat cepat.
Satu hal yang selalu dikenang penulis adalah, pernyataannya tentang perlunya perbankan nasional menerapkan teknologi yang canggih guna melayani nasabah. Pernyataan itu direalisasikannya sendiri di BCA saat-saat sebelum krisis, dimana setiap tahun dirinya selalu menyisihkan anggaran untuk membangun divisi IT BCA.
"Tiap tahun laba BCA memang kecil, karena sebagian dana bank kami sisihkan unutk membangun sistem dan IT yang kuat",ujarnya kepada Bisnis.
Kini kita menyaksikan BCA sebagai bank dengan layanan IT terdepan dengan ATM yang tersebar luas di seluruh pelosok tanah air. Dengan layanan on line sistem, mobile banking, internet banking, kini BCA semakin menyempurnakan cita-cita Abdullah Ali.
"Selamat tinggal begawan perbankan Indonesia, jasamu tak kan pernah kami lupakan"! [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika

Catatan tercecer: ucapan selamat natal

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,

Saudara-saudaraku di milis sd-Islam yang saya sayangi.

Kamis malam yang lalu, tanggal 3 Januari 2008, saya telah mendapat pencerahan baru sebagai dampak keikutsertaan saya di milis ini. Mudah-mudahan hal ini akan menjadi titik awal yang baru dalam kehidupan saya, terutama menjelang tahun baru Hijriah yang akan datang.

Berawal dari postingan saya yang menjawab postingan pak Satria mengenai dialog Bapak Sanihu Munir dengan pihak kristiani. Postingan saya itu ternyata mendapat banyak kritik. Pak Satriyo lalu menyarankan untuk mendengar kasetnya dan membaca buku Sanihu Munir yang berjudul “Keliru Pandang Kang Jalal”. Saya sudah minta pak Satria untuk mendapat kasetnya tapi belum ada tanggapan. Pak Satriyo menyarankan untuk menghubungi bapak Sanihu Munir untuk mendapatkan bukunya. Alhamdulillah malam itu juga saya berhasil mendapatkan dan membaca bukunya.

Saudaraku, sekarang saya mengerti mengapa lawan debat bapak Sanihu Munir bisa kehabisan kata-kata. Besar dugaan saya bahwa hal itu bukan disebabkan gaya bicara bapak Sanihu Munir yang seperti “religion combatan” seperti yang dikatakan pak Satria. Pihak Kristiani kehabisan kata-kata karena bukti-bukti yang disampaikan bapak Sanihu Munir. Jangankan pihak kristiani, saya juga terhenyak membacanya.

Buku tersebut antara lain membedah buku bapak Jalaluddin Rahmat yang berjudul “Islam Dan Pluralisme”. Hal yang menyentak saya adalah bukti-bukti sejarah mengenai lahirnya agama Kristen. Selama ini saya mengira bahwa agama kristen merupakan agama yang diajarkan oleh nabi Isa Alaihissalam alias Yesus. Ternyata bukan, saudaraku! Agama kristen adalah bikinan Paulus (laknatullah)! Jika kalian telah tahu ini sejak lama, maka saya baru tahu sekarang ini(ampuni saya ya Allah).

Indahnya buku ini dapat menceriterakan kronologis cara Paulus menjelmakan Yesus yang awalnya seorang nabi menjadi salah seorang Kristus sebagai awal lahirnya agama kristen, melalui segala dongeng yang diambil dari perpaduan antara filsafat Yunani-Romawi, ajaran penyembah berhala dan berbagai agama misteri, lengkap dengan mitos kristus, hymne kristus dan ritual kristus. Tentu saja dilengkapi dengan penciptaan hari natal. Diceriterakan juga cara Paulus yang berpura-pura tobat di depan Yakobus, adik Yesus, yang menegur kesesatannya. Yang membuat buku ini luar biasa bagi saya, karena dapat memperlihatkan bahwa semua itu ternyata terekam dalam al Qur’an. Saya takut salah kalau banyak bicara, karena itu silakan baca buku ini agar kita dapat bersama memahaminya.

Mengenai kang Jalal sendiri, bukunya yang berjudul Islam dan Pluralisme itu ternyata banyak menafsirkan Al Qur’an secara keliru. Dalam buku ini, semuanya diluruskan kembali. Saya sangat kagum dengan analogi yang dibuatnya dalam kisah Fulan mencari kebenaran untuk menggambarkan dualisme kebenaran yang dikemukakan kang Jalal untuk mendukung teori pluralismenya.

Buat pak Satria, jika memang pak Satria sudah mendengarkan rekaman dialog Sanihu Munir dengan kaum kristiani ini, saya heran jika bapak tetap ingin mengucapkan selamat natal. Ucapan itu menghina keimanan bukan saja umat Islam, tetapi juga umat nasrani yang mengimani Yesus sebagai nabi. Yesus bukan orang kristen yang pertama!

CMIIW.
Roosdiana