16/12/2005 22:38 WIB
Jumat, 16/12/2005 16:11 WIBAbdullah Ali in memoriem 3, kedekatan dengan wartawan oleh : Djony Edward
JAKARTA (Bisnis): Sosok Abdullah Ali dimata wartawan memiliki kesan tersendiri. Sikap kebapaan dan mau mengayomi wartawan, hingga meninggalnya tak pernah terlupakan.
Masih segar dalam ingatan petuah-petuah Abdullah Ali ketika Bank Central Asia dilanda rush, dia dengan tenang, sabar dan penuh percaya diri menasihati agar wartawan berhati-hati dan bijak.
"Wartawan adalah stake holder perbankan nasional, jadi kalau memberitakan isu soal perbankan tolong ada terselip rasa memiliki juga atas perbankan itu. Artinya wartawan jangan menulis berita yang dampaknya negatif bagi perbankan...," demikian salah satu nasihat yang masih dikenang Bisnis.
Nasihat itu disampaikan Ali di tengah-tengah rush yang melanda Bank Central Asia. Isyu yang merebak ketika itu adalah, meninggalnya Soedono Salim (Om Liem)sebagai pemegang saham mayoritas BCA. Tapi kemudian isyu tersebut tidak benar, karena Om Liem sendiri sore harinya mengundang wartawan berjumpa pers di kawasan Kapuk, Jakarta Utara.
Tapi isyu telah terlanjur merebak, nasabah BCA pun mengantree di ATM-ATM dan counter BCA di seluruh Idnonesia. Tak pelak BCA pun collapse, namun Abdullah Ali keesokan harinya tetap tampil di hadapan wartawan sambil terus mengungkapkan nasihat-nasihatnya.
Perbankan itu, tutur Ali, adalah lembaga kepercayaan yang menjadi perantara (intermediasi) antara deposan dan masyarakat peminjam. Kalau dengan gosip-gosip yang berkembang belakangan BCA tidak dipercaya sehingga di rush, tentu tak lepas dari isyu-isyu yang merebak.
Karena itu, dia minta kepada wartawan, untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan, khususnya kepada BCA. Pesan itu benar-benar di dengar wartawan dan pekan-pekan berikutnya isyu rush pun reda, apalagi Bank Indonesia sebagai lender of last resort mem-back up penuh likuiditas BCA. [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika