Sebagai seorang pencari Tuhan, saya tiada ragu untuk belajar dari siapa saja yang saya anggap dapat makin mendekatkan saya kepada Tuhan.
Sudah lama saya mengikuti milis sebuah tarekat. Dari sana saya tahu perlunya kita mempunyai seorang guru mursyid yang akan membimbing kita menemukan Tuhan, menemukan jalan kembali ke kampung akhirat. Namun perjalan saya membawa saya ke perguruan Misykatul Anwar, dengan Guru kami Syeikh Syarif Hidayat Muhammad Tasdiq. Saya belajar makrifat.
Seiring perjalanan waktu, saya merasa tak dapat meneruskan perjalanan saya sendirian. Saya perlu seorang Guru yang dapat terus mendampingi saya dalam perjalanan itu. Saya berjalan seakan tiada pernah maju-maju. Kegelisahan melanda hati saya.
Dalam saat seperti itu, seseorang dari dunia maya menghampiri saya, mengajak saya dialog dan menuntun saya ke sebuah portal yang berisi lautan ilmu. Portal itu membuat saya merasa menemukan sebuah oase yang dapat memenuhi rasa dahaga yang tengah menghinggapi saya. Orang itu kemudian biasa saya panggil Pak Jay. Dari pak Jay kemudian saya berkenalan dengan Maulana Syeikh Nazim Ak Haqqani, seorang pendiri tarekat Naqsbandi.
Saudaraku, sejak saat itu, pertengahan April 2008, saya menjadi pengikut tarekat Naqsbandi. Semula karena saya berjumpa pak Jay di milis TQN, saya kira saya telah menjadi anggota tarekatnya abah Anom dari Suryalaya. Ternyata saya keliru. Tarekat yang saya ikut bukan tarekat Abah anom. Yah, saya anggap begitulah Allah menuntun perjalanan panjang saya. Pak Jay kemudian memperkenalkan saya dengan saudara-saudara lainnya dalam tarekat Naqsbandi. Masih dalam dunia maya, saya merasa menemukan sebuah keluarga yang penuh perhatian. Saya juga menemukan sebuah oase ilmu yang dapat saya reguk sepuas-puasnya. Saya juga dapat merasakan adanya Guru yang mendampingi saya. Alhamdulillah.