Jumat, 05 September 2014

Untaian kata kasih untk ibunda Zuchraini di ultah ke 80.

Untaian kata kasih untuk Mama.

Dipersembahkan pada ulang tahun ke 80 Ibunda Zuchraini.

Puisi buat mama

Mama.......... itulah panggilan kami bagi sosok wanita yang amat kami sayangi.
Sosok wanita yang telah berat mengandung kami selama sembilan bulan,
Wanita yang ikhlas menahan sakit saat kami menghisap air susunya
Wanita yang tak pernah lelah menjaga kami pagi, siang maupun malam,
Mama bagai malaikat keluarga yang selalu ada saat kami membutuhkan belai kasih.
Senyum lembutnya selalu menyambut kala kami datang membawa masalah kami
Tatap teduhnya menenteramkan hati  saat kami sadar telah bersalah padanya
Maafnya mendahului permohonan maaf kami padanya
Do’a-do’anya menguatkan kami,
Do’a-do’anya membentuk kami menjadi insan yang bergantung kepada ALLAH,
Nasihat-nasihatnya membantu menyelesaikan masalah-masalah kami,
Nasihat-nasihatnya menuntun kami tetap di jalan ALLAH.
Kadang kami tak melihat kelelahannya,
Kadang kami tak perhatikan perasaannya yang sedang sedih,
Kadang kami pikir mama selalu kuat,
Kadang kami pikir mama selalu sehat,
Mama, maafkan kami.
Di usia mama ke delapan puluh ini,
Saat kami juga sudah punya anak-anak.
Saat kami juga sudah punya cucu,
Baru kami sadar betapa  luar biasanya mama.
Kini saatnya kami yang  menjaga mama,
Kami yang  memelihara kesehatan mama,
Kami yang menghibur dan tak membiarkan setetespun air mata kesedihan menggenang di mata mama.
Mama..........
Kami amat sayang mama,
Terima kasih mama atas semua yang telah mama lakukan bagi kami.
Maafkan jika kami tak cukup membuat mama bahagia.
Semoga ALLAH selalu sayang mama dan Ridho atas surgaNYA bagi mama

Peluk cium dan sungkem kami,

Anak dan menantu mama, beserta cucu dan cicit mama.

Rabu, 23 April 2014

dicopy dari shadiqku S27yaikh Syarafuddin ad-Daghestani qs “tak kuasa kuketuk gerbang-Mu, Pangeran pun bila berpaling, ke pintu mana tangan ini kuayunkan? dan dalam kenistaan, kepada-Mu-lah kupasrahkan kepercayaan aku si peminta-minta, menggapaikan jemari mengharapkan pemberian. (Imam Shafi`i, Munajat.) Beliau adalah seorang yang ilmunya sempurna di Hadapan Allah. Beliau adalah kunci bagi Pengetahuan Ilahi yang paling sulit diperoleh. Beliau adalah seorang Ulama Sejati yang dihiasi Cahaya dari Atribut Ilahi. Beliau didukung dengan Iman yang Sejati. Beliau adalah Pejuang di Jalan Allah, Yang Maha Tinggi. Beliau adalah Suara Ilahi pada masanya. Beliau adalah Syaikh dari para Masyaikh dalam pengetahuan keislaman. Beliau adalah pemegang otoritas terhadap segala persoalan yang khusus, rumit, dan paling sulit di segala bidang pengetahuan. Beliau adalah Samudra Ilmu Pengetahuan, bagaikan Topan bagi Spiritualitas, Air Terjun bagi Wahyu, Gunung Berapi bagi Cinta Ilahi, Pusaran Air bagi Daya Tarik, dan Pelangi bagi Atribut Ilahi. Beliau dibanjiri dengan pengetahuan bagaikan Sungai Nil yang dilanda banjir. Beliau adalah Pembawa Rahasia dari Sultan adz-Dzikr, yang sebelumnya tidak seorang pun bisa membawanya. Beliau adalah Guru yang menguasai Hikmah sejak awal abad 20 dan Yang Memulihkannya. Beliau adalah seorang yang jenius dalam Ilmu mengenai Hukum Islam, seorang mujtahid (pembaharu) di bidang Jurisprudensi, dan seorang narator hadits, sabda Rasulullah . Ratusan ulama selalu menghadiri ceramahnya. Beliau adalah seorang mufti di masanya. Beliau juga adalah salah seorang kaligrafer yang baik dalam menulis ayat al-Qur’an. Beliau adalah penasihat bagi Sultan Abdul Hamid. Beliau memegang jabatan Syaikh ul-Islam, pemegang otoritas keagamaan yang tertinggi di Kekaisaran Ottoman. Beliau sangat dihormati bahkan oleh pemerintah rezim baru Turki di masa Ataturk. Hanya Syaikh Syarafuddin dan deputinya, Syaikh `Abdullah , yang diizinkan untuk memakai turbannya di seluruh Republik Turki yang sekuler pimpinan Ataturk. Yang lainnya dipenjara karena memakai tutup kepala Rasulullah itu. Praktek Islam dalam bentuk luarnya sama sekali dilarang. Syaikh Syarafuddin sering mengalami keadaan dengan Panorama Spiritual, di mana beliau akan memperoleh Manifestasi dari Kemegahan Ilahi (Tajalli-l-Jalal); dan pada saat itu, tidak ada orang yang sanggup melihat matanya. Jika seseorang memandangnya, tubuhnya akan terasa lemah dan tertarik dengan kuat kepadanya. Oleh sebab itu, ketika beliau sedang mengalami keadaan seperti itu, beliau selalu menutupi matanya dengan cadar (burqa’). Beliau mempunyai warna kulit yang terang. Matanya biru, dan janggutnya hitam. Di masa tuanya, janggutnya sangat putih, seperti kapas. Beliau dilahirkan dengan mata dan hati yang terbuka. Beliau adalah seorang ulama dengan wajah yang bersinar bak berlian dan hati yang transparan bagaikan kristal. Sufisme merupakan rumah, sarang, dan hati baginya. Islam adalah tubuh, iman, dan keyakinannya. Realitas (haqiqat) adalah jejak, jalan, dan tujuannya. Kehadirat Ilahi adalah gua, dan tempat pengasingannya. Spiritualitas adalah kendaraannya. Beliau adalah lidah bagi seluruh masyarakat di Daghestan. Beliau dilahirkan di Kikunu, Distrik Ganep, Negara Bagian Timurhansuru, Daghestan, pada hari Rabu, 3 Dzul-Qaidah 1292H bertepatan dengan 1 Desember 1875M. Syaikh Muhammad al-Madani adalah paman sekaligus mertuanya. Beliau memberinya kekuatan dari 6 aliran thariqat jauh sebelum beliau wafat, dan mewariskan semua muridnya kepadanya ketika beliau masih hidup. Dalam segala hal, Syaikh Muhammad al-Madani sering menerima pendapat dari Syaikh Syarafuddin . Beliau lahir di masa yang sangat sulit, ketika praktek agama dilarang dan hal-hal yang berbau spiritual telah hilang. Namun demikian ibunya berkata, “Ketika aku melahirkannya, dia mengucapkan kalimat la ilaha illallah, dan setiap aku merawatnya dia selalu mengucapkan Allah, Allah.” Karena keajaibannya itu, beliau sangat terkenal di masa bayinya. Banyak ibu-ibu di distriknya yang sengaja datang untuk melihat beliau mengucapkan Allah, Allah ketika sedang dirawat. Jari telunjuk kanannya selalu membentang menunjukkan posisi syahadat. Sejak masa kanak-kanak, beliau bisa mendengar dzikir yang dilakukan oleh pepohonan, bebatuan, binatang, burung, dan pegunungan. Beliau dibesarkan dengan sangat baik oleh orang tuanya dan diawasi oleh pamannya. Do’a beliau selalu dikabulkan. Beliau juga selalu berada dalam khalwat. Beliau mulai mendatangi asosiasi yang diadakan oleh Sayyidina Abu Ahmad as-Sughuri ketika masih berusia enam atau tujuh tahun. Beliau sangat pandai dan dengan segera dapat memahami ajaran Sufi yang diantarkan oleh Abu Ahmad as-Sughuri dari Kehadirat Ilahi itu. Pada usia tujuh tahun beliau berkata kepada ibunya, “Berikanlah aku anak lembu yang akan dilahirkan itu.” Ibunya berkata, “Jika dia betina, aku akan memeliharanya tetapi bila jantan aku akan memberikannya kepadamu.” Beliau berkata lagi, “Jangan menyusahkan dirimu wahai ibuku, karena lembu itu akan melahirkan bayi jantan.” Ibunya berkata,”Bagaimana kamu mengetahuinya?” Beliau berkata, “Aku dapat melihat apa yang ada dalam rahimnya.” Satu jam kemudian, lembu itu melahirkan seekor lembu jantan. Beliau membawa anak lembu itu dan menjualnya, lalu beliau membawakan sepasang domba jantan dan betina kepada Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri sebagai hadiah. Dalam perjalanannya menuju rumah Syaikhnya, kedua domba itu melarikan diri darinya. Beliau melanjutkan perjalanannya ke rumah Syaikh, lalu duduk di sampingnya, hatinya merasa sedih karena kehilangan kedua domba itu. Syaikh bertanya kepadanya, “Ada apa?” Beliau menjawab, “Aku mempunyai dua ekor domba yang akan kuhadiahkan untukmu, tetapi mereka kabur.” Beberapa waktu kemudian seorang pengembala datang dan berkata, “Aku menemukan dua ekor domba ini di antara hewan gembalaanku.” Itu adalah dua ekor domba yang melarikan diri darinya. Ketika beliau muda, beliau sering berjalan-jalan bersama teman-temannya untuk mengumpulkan kayu. Beliau tidak memotong kayu dari pohon sebagaimana yang dilakukan teman-temannya, tetapi hanya mengumpulkan kayu-kayu kering di tanah. Hal ini membuat ayahnya resah. Ayahnya kemudian pergi menemui Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri dan mengeluh bahwa anaknya hanya mengumpulkan kayu-kayu kering yang tidak berguna. Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri berkata kepadanya, “Mengapa kamu tidak bertanya langsung kepadanya mengapa dia melakukan hal itu?” Syarafuddin muda menjawab, “Bagaimana mungkin aku memotong pohon yang masih hijau ketika dia sedang berdzikir, mengucapkan la ilaha illallah? Aku lebih suka mengumpulkan dahan-dahan mati, dan tidak membakar cabang-cabang pohon yang sedang berdzikir.” Beliau meninggalkan Daghestan akibat serangan yang terus dilakukan oleh militer Rusia ke kampung-kampung di distriknya. Beliau pindah bersama keluarganya dan keluarga kakaknya ke Turki. Mereka berjalan mengarungi beberapa daerah selama lima bulan dan melewati musim dingin. Mereka berjalan di malam hari dan bersembunyi di siang hari. Pertama mereka pergi ke Bursa, lalu mereka pergi ke Yalova di perairan Marmara, kira-kira 150 km dari Istanbul. Di sana beliau bersama kelurga dan kerabatnya tinggal di desa Rasyadiya, di mana pamannya telah lebih dulu tinggal di sana beberapa tahun sebelumnya dan membawa thariqat Naqsybandi dari Daghestan ke Turki. Di Daghestan beliau dilatih oleh Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri , yang memberinya thariqat Naqsyabandi ketika beliau masih sangat muda. Di Rasyadiya, Turki, beliau selanjutnya dilatih oleh Sayyidina Muhammad al-Madani , pamannya yang kelak menjadi mertuanya. Beliau membantunya membangun madrasah dan masjid pertama serta khaniqah bagi kampung tersebut. Paman beliau menyambut semua imigran yang melarikan diri dari tirani imperialis Rusia yang kejam. Selain itu banyak pula pelajar yang mendatangi sekolah pamannya itu dari berbagai daerah di Turki. Dengan cepat mereka membangun rumah-rumah baru di Rasyadiya dan daerah sekitarnya antara Bursa dan Yelova. Selain thariqat Naqsyabandiya, paman beliau menghubungkannya dengan lima thariqat lain yang dibawanya, yaitu: Qadiri, Rifai’i, Syadhili, Chisyti dan Khalwati. Beliau menjadi Guru Besar bagi keenam aliran thariqat ini pada usia 27 tahun. Beliau sangat dihormati di Rasyadiya, terutama setelah beliau menikahi putri Syaikh Muhammad al-Madani . Beliau dikenal sebagai orang yang memiliki kekuatan ajaib di antara para pengikutnya, dan cerita mengenai kelebihannya itu segera tersebar ke seluruh penjuru Turki. Selain itu, beliau sangat mengusai pengetahuan di luar agama sehingga para ulama besar datang untuk mendengar ceramahnya. Beliau telah melaksanakan beberapa khalwat di Daghestan, yang paling lama berlangsung selama 3 tahun. Di pegunungan Rasyadiya beliau berkhalwat selama enam bulan atas perintah Syaikh Abu Muhammad al-Madani . Beliau selalu berada dalam keadaan menyendiri ketika sedang berada di keramaian. Suatu hari dalam masa 6 bulan khalwatnya, ketika beliau berdiri dan hendak bersujud beliau menemukan seekor ular yang besar di tempat sujudnya, dengan posisi yang siap mematuknya. Beliau berkata dalam hati, “Aku tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah,” lalu beliau menempatkan kepalanya langsung di atas kepala ular itu. Dengan segera ular itu lenyap. Selama khalwatnya itu banyak keadaan Cinta Ilahi yang diperlihatkan kepadanya. Segera setelah beliau menyelesaikan khalwatnya, Syaikh menariknya dan menyerahkan seluruh tanggung jawab untuk mengarahkan dan membimbing orang-orang. Syaikh Abu Muhammad kemudian selalu duduk dalam asosiasi menantunya sebagai muridnya. Beliau adalah Syaikh pertama yang menjadi murid dari seorang muridnya. Di luar kepatuhan terhadap desakan Syaikhnya agar beliau duduk di kursi yang lebih tinggi, Syaikh Syarafuddin kemudian menjadi orang yang memberikan ajaran Mata Rantai Emas walaupun berada dalam kehadiran Syaikhnya. Syaikh Syarafuddin mendapat dukungan spiritual dari Sayyidina Syaikh Jamaluddin al-Ghumuqi al-Husayni dan Sayyidina Syaikh Abu Ahmad as-Sughuri , Syaikhnya ketika beliau berada di Daghestan. Beliau mencapai keadaan Cinta yang Murni bagi Allah. Pada keadaan itu beliau merasakan tubuhnya seolah-olah terbakar dengan Cinta kepada Allah, lalu beliau akan berlari dari meditasinya, menanggalkan semua pakaiannya dan menyelam ke dalam air yang dinginnya serasa es di musim dingin. Tiap kali beliau melakukan hal itu, seluruh penduduk desa dapat mendengar suara uap yang keluar dari sungai, seperti suara besi panas yang disiram air. Ada seorang murid Syaikh Syarafuddin yang masih hidup sampai sekarang (1994), yang ingat bahwa dia pernah mendengar suara desis air dan uap dari jarak ratusan yard. Syaikh Syarafuddin merupakan seorang penerus spiritual Rasulullah . Melalui hubungan spiritual itu, beliau bisa mencapai kesempurnaan. Beliau adalah keturunan dari keluarga Miqdad bin al-Aswad , salah seorang Sahabat Terbesar dari Rasulullah , yang sering mewakili Rasulullah bila beliau sedang bepergian dari Madinah. Beliau melaporkan 42 sabda Rasulullah , di antaranya adalah: Rasulullah bersabda, “Di Hari Pembalasan matahari akan mendekati makhluk hingga berjarak kira-kira 1 mil dari mereka, manusia akan mengeluarkan keringat sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan, sebagian keringat mereka mencapai pergelangan kaki, sebagian lagi mencapai lutut, atau pinggang, sementara yang lain mendapati mulutnya penuh dengan keringat,” lalu Rasulullah menunjukkan tangannya ke mulutnya.” (riwayat Muslim) Syaikh Syarafuddin mempunyai sebuah tanda berupa tapak Tangan Rasulullah di punggungnya. Tanda lahir ini beliau dapatkan dari nenek moyangnya Miqdad bin al-Aswad , di tempat di mana Rasulullah menempatkan tangannya di punggung Miqdad dan berdo’a baginya dan untuk keturunannya. Tanda di punggung Sayiddina Syaikh Syarafuddin selalu mengeluarkan cahaya, sama halnya dengan wajahnya yang selalu bercahaya. Beliau menerima rahasia dari Rasulullah , yaitu kemampuan untuk melihat sesuatu yang berada di belakangnya sejelas dengan apa yang ada di depannya. Paman beliau, Syaikh Muhammad al-Madani , memberinya Khilafat (suksesi) dari thariqat ini, dan menjadikannya pemimpin di desanya. Beliau mengembangkan desanya untuk menarik lebih banyak emigran, dengan memperluas jalan, dan membuat saluran air ke dalam kota. Beliau selalu menyambut emigran yang datang dari Rusia, menawarkan apa yang mereka butuhkan baik berupa makanan maupun tempat tinggal dan ini dilakukan tanpa mengharap imbalan. Hasilnya, penduduk Daghestan merasa menemukan rumah yang baru menggantikan rumah yang telah mereka tinggalkan untuk Rusia, mereka menemukan kebahagiaan dan kedamaian di tanah yang baru. Para emigran merasa lebih bahagia untuk menemani seorang Syaikh yang masih hidup dalam memberikan pelajarannya yang telah dikenal di Daghestan, sebagaimana ajaran itu juga telah terkenal di Asia Tengah ratusan tahun sebelumnya. Dengan keberadaan beliau di desa itu, dan diberkahi dengan kehadirannya yang membawa Rahmat Ilahi, mereka menemukan cinta dan kebahagiaan yang telah hilang di bawah tirani militer Rusia. Dari Kata-Katanya Mengenai Sultan adz-Dzikr (Dzikr dalam Hati) Beliau berkata sehubungan dengan posisi Dzikir dalam Hati: “Siapa pun yang memasuki Posisi itu, dia akan mengalami dan mencapai Inti dari Nama Allah. Nama itu adalah Sultan dari seluruh Nama Allah, karena Dia mencakup seluruh makna Nama-Nama tersebut dan kepada-Nyalah seluruh Atribut Ilahi kembali. Dia bagaikan Kata yang berlaku untuk semua Atribut ini dan itulah sebabnya mengapa Dia disebut Ism al-Jalala, Nama Yang Paling Mulia karena Dia Yang Mahatinggi, Mahasuci, dan Mahabesar.” “Melalui pemahaman akal saja tidak mungkin bisa memanen buah dari rahasia-rahasia ini. Tubuh manusia tidak dapat mencakup Realitas Makna mengenai Tuhan. Tubuh manusia mustahil mencapai Kerajaan yang Tersembunyi dari Yang Maha Unik. Karena bagi Orang-orang dalam Inti, yang mereka miliki hanya kekaguman dan ketakjuban, sekali mereka memasuki posisi Pengetahuan Yang Tersembunyi, mereka akan tersesat, pergi ke mana-mana. Lalu bagaimana dengan Orang-orang dalam Atribut-Nya, yaitu mereka yang mempunyai kualitas tinggi dan masing-masing menunjukkan sebuah Attribut Ilahi yang disandangkan dan menghiasi mereka? Tetap saja mereka tidak bisa dihiasi dengan Inti dari Nama yang mencakup seluruh Nama, kecuali dengan memasuki Rahasia Yang Tersembunyi dari 99 Nama tersebut. Pada saat itu mereka baru diizinkan untuk meraih posisi Tanpa Sekat terhadap Cahaya dari Nama yang Mencakup seluruh Nama dan Atribut, nama Allah.” “Jika para pencari terus melakukan Dzikir dengan Nama yang Mahasuci Allah, dia akan mulai berjalan di tempat Dzikir itu, yang jumlahnya ada tujuh. Setiap pencari yang terus melakukan Dzikir Allah dalam hati, dari 5000 sampai 48.000 kali sehari, akan mencapai tingkat kesempurnaan sehingga dia akan menjadi sempurna dalam Dzikir itu. Pada saat itu dia akan menemukan bahwa hatinya terus mengucapkan nama Allah, Allah; tanpa perlu menggerakkan lidah. Dia akan membangun kekuatan internal dengan membakar kotoran di dalamnya karena Api Dzikir melalap semua pengotor. Tidak ada yang tersisa kecuali permata yang bersinar dengan kekuatan spiritual. “Begitu Dzikir memasuki dan menjadi kokoh dalam hatinya, dia akan meningkat lagi mencapai keadaan di mana dia bisa mengetahui Dzikir yang dilakukan oleh seluruh ciptaan Allah. Dia akan mendengar seluruh makhluk mengucapkan kalimat Dzikir dengan cara yang telah ditetapkan oleh Allah kepadanya. Dia mendengar setiap makhluk berdzikir dengan nada masing-masing dan irama yang berbeda satu sama lain. Pendengarannya terhadap yang satu tidak mempengaruhi pendengarannya terhadap yang lain, dia mampu mendengar semua secara simultan dan dia bisa membedakan masing-masing jenis Dzikir.” “Ketika para pencari melewati tingkat itu, dia akan mengalami peningkatan lebih jauh dalam Dzikirnya, dia akan melihat bahwa setiap orang yang diciptakan oleh Allah melakukan Dzikir yang sama dengan dirinya. Pada saat itu dia akan menyadari bahwa dia telah mencapai Kesatuan Yang Unik dan Sempurna. Semua melakukan dzikir yang sama dan menggunakan kata-kata yang sama. Segala macam perbedaan akan terhapus dari pandangannya, dan dia akan melihat semua orang yang bersamanya mempunyai tingkatan yang sama dengan Dzikir yang sama pula. Ini adalah Tingkat Penyatuan Setiap Orang dalam Satu Kesatuan. Di sini dia akan menarik semua bentuk Syirik yang tersembunyi sampai ke akar-akarnya dan semua makhluk akan tampak sebagai Satu Kesatuan. Ini adalah langkah pertama dari tujuh langkah dalam perjalanannya.” “Dari Tingkat Kesatuan dia akan menuju ke Tingkat Inti dari Kesatuan, di mana setiap orang yang Ada menjadi Tidak Ada, dan hanya Kesatuan Allah saja yang tampak.” “Kemudian dia akan menuju Tingkat Primordial dari Kesederhanaan Yang Sempurna, di mana dia bisa tampil dalam wujud apa saja.” “Dari sana dia akan menuju Tingkat Kunci dari Rahasia, yang dikenal dengan Tingkat Nama-Nama, di mana tipe asli dari setiap makhluk ditunjukkan kepadanya dari alam ghaib menuju dunia yang nyata. Ini akan membuatnya berenang dalam orbit Nama-Nama dan Segala Atribut dan dia akan mengetahui semua Pengetahuan Yang Tersembunyi.” “Selanjutnya dia akan menuju Tingkat Yang Tersembunyi dari Yang Tersembunyi, Inti dari semua Yang Tersembunyi. Dia akan mengatahui semua Yang Tersembunyi melalui Kesatuan yang Unik dari Inti. Dia akan melihat semua kekuatan dan bentuknya.” “Dari sana dia menuju tingkat Realitas Sempurna dari Inti Nama-Nama dan Semua Aksi. Dia akan muncul di dalamnya, dalam atom mereka dan dalam totalitas mereka. Dia akan disandangkan dengan Nama Yang Paling Agung dan dia akan diagungkan dan dimahkotai dengan Tingkat Kebesaran.” “Kemudian dia akan menuju ke Tingkat Turunnya Allah (munazala) dari Tingkatan-Nya yang Agung ke Tingkat Surga Dunia. Dia sampai pada Tingkat itu, yang terdekat dengan Tingkat Keduniaan, di luar itu para Pembaca Dzikir tidak mempunyai Tingkat lain untuk dicapai melalui bacaannya. Fajar datang ke dalam dirinya dan Mentari Kesempurnaan tampak dalam diri dan tubuhnya, karena hal itu telah tampak melalui Dzikir yang dilakukan dalam hati dan jiwanya. Sebagai hasilnya, ketika Mentari Kesempurnaan tampak pada tubuh dan seluruh anggota tubuhnya, dia akan berada di Tingkat yang telah disebutkan dalam sabda Rasulullah , “Allah akan menjadi Telinga yang dipakainya untuk mendengar, Mata yang dipakainya untuk melihat, Lidah untuk berbicara, Tangan untuk menggenggam, dan Kaki untuk melangkah.” Kemudian dia akan mendapati dirinya dan menyatakan kepada dirinya bahwa, ‘Aku tidak berdaya dan sungguh lemah.’ Karena pada saat itu dia telah memahami makna Kekuatan Ilahi.” Setiap beliau dimintai nasihat jika beliau berkata, “Lakukan apa yang kamu suka,” orang itu tidak akan pernah berhasil. Tetapi bila beliau berkata, “Lakukan ini dan lakukan itu,” maka orang tersebut akan berhasil. Konon beliau tidak pernah menyebutkan sesuatu yang telah berlalu. Beliau tidak pernah menerima suatu gunjingan dan akan mengusir para pelaku dari asosiasinya. Dilaporkan pula bahwa setiap kali orang duduk dalam asosiasinya, mereka akan merasakan bahwa kecintaan terhadap dunia akan lenyap dari hati mereka. Beliau sering mengatakan, “Jangan duduk tanpa berdzikir, karena kematian selalu mengikutimu.” Beliau berkata, “Peristiwa yang paling membahagiakan bagi ummat manusia adalah ketika dia meninggal, karena ketika dia meninggal, dosanya juga ikut mati bersamanya.” Beliau berkata, “Setiap pencari yang tidak membiasakan diri dan melatih dirinya untuk berpuasa di siang hari dan bangun di malam hari untuk beribadah dan melayani saudaranya, tidak akan memperoleh kebaikan dalam Thariqat ini.” Penyingkapan Rahasia Shah Naqsyaband Mengenai Syaikh Syarafuddin Penerus beliau, Grandsyaikh kita, Syaikh `Abdullah ad-Daghestani , menceritakan hal berikut dalam ceramahnya: “Suatu ketika, dalam salah satu meditasiku, Syaikh Syarafuddin mendatangiku dan berkata mengenai kebesaran dan keistimewaan Shah Naqsyaband . Beliau memujinya dan mengatakan bagaimana Shah Naqsyaband akan memberikan perantaraan di Hari Pembalasan. Beliau berkata, Jika seseorang melihat mata Shah Naqsyaband , dia akan melihat mata beliau berputar, bagian yang putih di hitam dan yang hitam di putih. Beliau bermaksud menyimpan kekuatan spiritualnya untuk Hari Pembalasan dan tidak menggunakannya di dunia ini. “Pada Hari Pembalasan beliau akan mengeluarkan cahaya dari mata kanannya, cahaya itu lalu mengelilingi banyak orang dalam perkumpulannya dan masuk kembali ke mata kirinya. Siapa pun yang berada dalam lingkaran itu akan masuk Surga dan terhindar dari Neraka. Beliau akan mengisi keempat Surga dengan perantaraannya itu.” “Ketika beliau sedang melukiskan peristiwa besar itu, Aku menyaksikan panorama yang kuat di mana Aku menyaksikan Peristiwa Hari Pembalasan dan melihat Shah Naqsyaband mengeluarkan cahaya, dan menyelamatkan orang-orang. Ketika Aku sedang mengamati hal itu, Aku merasakan cinta yang sangat dalam kepada Shah Naqsyaband , lalu Aku berlari menuju beliau dan mencium tangannya. Kemudian panorama itu menghilang dan Syaikhku pergi. Aku melanjutkan meditasiku pada hari itu dengan berdzikir, membaca al-Qur’an dan melakukan shalat. Di malam harinya, setelah melaksanakan shalat ‘Isya, Aku mengalami keadaan tidak sadarkan diri dan menempatkan Aku ke dalam keadaan panorama spiritual. Aku melihat Shah Naqsyaband memasuki ruangan. Beliau berkata kepadaku, ‘Anakku, datanglah kepadaku.’ Kemudian rohku meninggalkan jasad dan Aku melihat tubuhku berada di bawahku dan tidak bergerak. Aku lalu menemani Shah Naqsyaband .” “Kami menjelajahi ruang dan waktu, bukan dengan kekuatan melihat lalu mencapai tempat yang dilihat itu, tetapi dengan kekuatan dimana ketika kami baru memikirkan suatu tempat, kami tiba di tempat itu. Selama tiga malam dan empat hari non-stop, kami melakukan perjalanan dengan cara ini.” “Sudah menjadi kebiasaan dalam meditasiku, ketika Aku menginginkan makanan dan minuman sehari-hari, Aku tinggal mengetuk pintu. Mendengar ketukan dari lantai bawah, istriku akan membawakan makanan dan minuman untukku. Hari pertama dia tidak mendengar ketukan, hari kedua juga begitu. Akhirnya dia merasa sangat khawatir dan membuka pintu dan menemukan Aku terbaring di sana tanpa gerakan. Dia berlari menuju Syaikh Syarafuddin dan berkata, Mari dan lihatlah anakmu. Dia terlihat seperti orang yang sudah meninggal. Beliau berkata kepadanya, ‘Dia tidak meninggal. Kembalilah, dan jangan berbicara kepada siapa pun. Dia akan kembali.’ “Setelah tiga hari dan empat malam menempuh perjalanan dengan kekuatan yang luar biasa, Shah Naqsyaband berhenti. Beliau berkata, ‘Tahukah kamu siapa yang tampak di cakrawala itu?’ Tentu saja aku tahu, tetapi untuk menghormati Guru, aku berkata, ‘Wahai Guruku, engkau paling tahu.’ Lalu ketika orang itu mendekat beliau berkata, ‘Sekarang apakah kamu mengenalinya?’ Aku berkata lagi, ‘Engkau lebih tahu, wahai Guruku,’ walaupun Aku melihat itu adalah Syaikhku. Beliau berkata, ‘Itu adalah Syaikhmu, Syaikh Syarafuddin. “Tahukah kamu siapa makhluk yang berada di belakangnya?’ menunjuk kepada suatu makhluk raksasa yang lebih besar daripada gunung yang paling tinggi di bumi ini, yang beliau tarik dengan sebuah tali. Untuk menghormatinya aku berkata lagi, ‘Engkau paling tahu, wahai Syaikhku.’ Beliau berkata, ‘Itu adalah Setan, dan Syaikhmu diberi kekuasaan atasnya, belum ada orang yang diberi otorisasi semacam itu sebelumnya. Sebagaimana setiap Wali diberi kekuasaan atas sesuatu yang khusus, begitu pula Syaikhmu. Bidang khususnya adalah bahwa setiap hari dan setiap malam, atas nama seluruh orang yang telah melakukan dosa karena pengaruh Setan, Syaikhmu diberi otorisasi untuk membersihkan orang-orang itu atas dosa-dosa mereka, mengembalikan dosa itu kepada Setan, dan membawa orang-orang itu dalam keadaan bersih kepada Rasulullah. Kemudian dengan kekuatan spiritualnya, beliau mengangkat hati mereka, mempersiapkan mereka agar bisa masuk ke dalam lingkaran cahaya yang akan Aku sebarkan di Hari Pembalasan nanti. Aku akan mengisi empat surga dengan cara ini. Inilah yang menjadi spesialisasi Syaikh Syarafuddin . Selain itu, orang-orang yang tidak termasuk dalam keempat Surga tersebut akan memasuki Perantaraan Syaikh Syarafuddin, dengan seizin Rasulullah yang telah diberi kekuatan ini oleh Allah . Ini adalah kekuasaan yang luar biasa yang telah diberikan kepada Syaikh Syarafuddin . Ketika beliau merantai leher Setan, beliau membatasi pengaruh dosa di bumi ini.” “Kemudian beliau berkata, kamu menanam benih cinta yang ada di hatimu. Seperti halnya kincir air yang mengairi sepetak sawah tetapi tidak bisa mengairi dua petak sawah, cinta yang kamu tumbuhkan terhadap Syaikhmu seharusnya hanya untuk Syaikhmu. Jika kamu membaginya untuk dua orang Syaikh, mungkin cinta itu tidak akan mencukupi, seperti halnya kincir air yang tidak bisa mengairi dua petak sawah. Jangan berikan hatimu kebebasan untuk pergi ke sana ke mari. Cintamu akan mencapaiku melalui Mata Rantai Emas dan akan berlanjut kepada Rasulullah . Jangan membagi dua cintamu untuk kami berdua. Sebelumnya tak seorang Wali pun yang diberi otorisasi seperti yang diberikan kepada Syaikhmu untuk ummat Muhammad , untuk seluruh ummat manusia.’” “Kemudian Shah Naqsyaband membawaku kembali menempuh perjalanan dengan kekuatan yang luar biasa, selama empat hari dan tiga malam. Aku kembali ke tubuhku lagi. Aku merasakan jiwaku memasuki tubuhku dan aku menyaksikan jiwaku masuk ke dalam tubuhku sedikit demi sedikit, sel demi sel, dan melalui panorama itu aku bisa mengerti fungsi dari setiap sel. Kemudian panorama spiritual itu berhenti dan aku mengetuk pintu agar istriku membawakan makanan dan minuman untuk memberi energi bagi tubuhku. Itulah pengungkapan Shah Naqsyaband mengenai Syaikhku, Syaikh Syarafuddin .” Salah satu murid Syaikh Syarafuddin yang berusia 120 tahun dan tinggal di Bursa, Eskici Ali Usta, melaporkan,“Syaikhku adalah seorang Syaikh yang luar biasa. Suatu saat ketika aku masih muda, aku berada di Istanbul, dan baru saja melakukan bay’at dengan Syaikh Syarafuddin . Kemudian aku bertemu dengan salah seorang teman dari Daghestan yang keras kepala dan tidak percaya dengan Sufisme. Aku bermaksud untuk berbicara dan melunakkan hatinya dengan menceritakan keajaiban yang dimiliki Syaikhku. Ternyata dia lebih meyakinkan dan bisa mengubah keyakinanku. Aku lalu menggantung tasbihku di dinding dan berhenti berdzikir. Beberapa saat kemudian aku sudah dikuasai hawa nafsu dan melakukan dosa besar dua kali.” “Seminggu kemudian, aku pergi ke Sirkici dan melihat Syaikh dalam perjalanan. Beliau juga sedang berjalan kaki di distrik itu, dalam perjalanannya menuju Rasyadiya. Ketika aku melihatnya datang dari satu sisi, aku berpindah ke sisi yang lain dan berusaha untuk menghindarinya. Ketika aku bersembunyi di ujung jalan, aku merasakan sebuah tangan menempel di bahuku dan Syaikh berbicara kepadaku, ‘Mau kemana, wahai Ali?’ Aku kembali bersamanya dan di tengah perjalanan aku berpikir, ‘Aku tidak bisa menyembunyikan diriku lagi terhadap Syaikh dan Syaikh tidak dapat membawaku kembali lagi.” “Kami melanjutkan perjalanan sampai bertemu dengan orang yang bernama Huseyyin Effendi. Syaikh berkata kepadaku, ‘Ketika kamu pertama kali datang kepadaku, Aku melihatmu dan menemukan karakter buruk dalam dirimu. Setiap orang mempunyai karakter baik yang bercampur dengan karakter buruk. Ketika kamu melakukan bay’at seluruh perbuatan buruk yang telah kamu lakukan sebelumnya, Aku ganti dengan perbuatan baik. Kecuali dua hal, yaitu keinginan seksual dan kemarahan. Minggu lalu kami hilangkan kedua karakter buruk itu dari dirimu.’ Ketika beliau mengucapkan hal itu, Aku sadar bahwa beliau telah duduk bersamaku dan melihat keinginan seksual dan kemarahanku, Aku mulai menangis, menangis, dan menangis. Ketika Aku menangis, Syaikh Syarafuddin mulai berbicara dengan orang yang bernama dengan Huseyyin dalam bahasa yang tidak pernah aku dengar sebelumnya, padahal aku berasal dari Daghestan dan aku mengetahui semua bahasa di daerahku. Akhirnya aku tahu bahwa Syaikh Syarafuddin berbicara dalam bahasa Syriac, bahasa yang paling jarang digunakan. “Setelah dua jam menangis, beliau berkata, ‘Cukup! Allah telah mengampunimu, Rasulullah juga telah mengampunimu.’ Aku berkata, ‘Wahai Syaikhku, apakah engkau benar-benar mengampuniku? Apakah Rasulullah telah mengampuniku? Apakah Allah telah mengampuniku? Apakah para Masyaikh yang matanya terbuka telah mengampuniku? Dulu Aku berpikir bahwa Aku melakukan perbuatan itu sendirian, tetapi sekarang Aku tahu bahwa engkau semua melihatku.’ Beliau berkata, ‘Wahai anakku, kita adalah hamba-hamba yang berada di depan pintu Rasulullah dan di depan pintu Allah . Apapun yang kita minta dari Mereka, Mereka akan menerima permintaan kita karena kita berada dalam kehadirat nya dan kita adalah Satu.’ Aku berkata, ‘Sebagai suatu itikad baik, karena Aku telah diampuni, bagaimana Aku bisa bersyukur kepada Allah dan memberi kehormatan kepadamu dan kepada Rasulullah. Apakah dengan jalan merayakan mawlid (Kelahiran Rasulullah ), atau berkurban, atau mengeluarkan sedekah lainnya?’ Beliau berkata, ‘Apa yang kami inginkan darimu adalah agar kamu senantiasa melakukan dzikir thariqat Naqsybandi.’ Inilah apa yang terjadi pada diriku bersama Syaikh Syarafuddin .” Salah satu teman Eskici Ali Usta yang telah bermigrasi dengannya dari Daghestan menerima sepucuk surat dari Syaikh Syarafuddin ketika dia masih berada di Daghestan, isinya berbunyi, “Tinggalkan Daghestan. Tidak ada lagi spiritualitas di sana. Daghestan tidak lagi berada di bawah lindungan Ilahi karena di sana terlalu banyak tirani. Datanglah ke sini ke Turki, dan ke Rasyadiya.” Orang itu meletakkan surat dari Syaikh, mengabaikannya dan berpikir, “Bagaimana Aku meninggalkan semua kekayaanku dan semua yang kumiliki di sini?” Beberapa saat kemudian Rusia menguasai kota itu dan menyita semua kekayaannya. Lalu dia teringat dengan surat yang dikirim oleh Syaikh. Akhirnya dia segera menyusun rencana untuk melarikan diri ke Turki dan ke Rashadiya. Namun dia telah kehilangan keluarga dan semua kekayaannya akibat penundaannya itu. Suatu kali Syaikh Syarafuddin datang ke Istanbul dan tinggal di Hotel Massarat. Beliau ditanya oleh seseorang yang bernama Syaikh Zia, “Bagaimana engkau akan meninggal?” Beliau menjawab, “Apakah pertanyaan itu penting bagimu, bagaimana Aku akan meninggal?” Dia menjawab, “Pertanyaan itu datang begitu saja ke dalam hatiku.” Beliau berkata, “Aku akan meninggal ketika kita mendapat serangan dari Armenia, dan pada saat itu banyak sekali orang-orang yang zhalim.” Malam harinya Syaikh Zia berwudhu lalu shalat 2 rakaat dan berdo’a kepada Allah , “Ya Allah singkirkanlah kesulitan itu (invasi dari Armenia) dari kami, dan panjangkan usia Syaikh kami yang tercinta.” Hari berikutnya Syaikh Syarafuddin berkata kepadanya, “Wahai Syaikh Zia, apa yang telah kamu lakukan semalam, berdo’a? Do’amu telah dikabulkan. Kesulitan itu telah dicabut dari diriku tetapi sebagai gantinya kamu akan menderita dan meninggal sebagai syuhada.” Delapan tahun setelah insiden di hotel itu, bangsa Armenia dan Yunani memasuki Rasyadiya. Zia Effendi tertembak mati, dan apa yang telah diprediksi oleh Syaikh Syarafuddin semuanya terjadi. Yusuf Effendi, seorang yang pada tahun 1994 berusia sekitar 100 tahun, menceritakan kisah berikut, “Suatu ketika Syaikh Syarafuddin ditahan di Eskisehir, dan Aku adalah penjaganya. Di penjara itu terdapat pula orang yang sangat baik sifatnya, seorang Syaikh yang terkenal, Sa’id Nursi . Syaikh Syarafuddin dipenjara bersama khalifahnya, Syaikh `Abdullah , dan murid-murid yang lain. Ketika Sa’id Nursi mengetahui bahwa Syaikh Syarafuddin ditahan dalam penjara yang sama, beliau mengutus muridnya untuk bertanya apakah beliau membutuhkan sesuatu dan juga menawarkan bantuan. Syaikh Syarafuddin menjawab, ‘Terima kasih, tetapi kami bukan siapa-siapa dan kami tidak membutuhkan apa-apa.’” “Murid Sa’id Nursi terus mendatangi Syaikh Syarafuddin , bertanya apakah beliau membutuhkan sesuatu. Beliau selalu menolaknya. Suatu hari Syaikh Syarafuddin berkata kepada murid itu untuk menyampaikan pertanyaan kepada Syaikhnya, ‘Mengapa kita berada di sini?’ Murid Sa’id Nursi itu pergi menemui gurunya. Beliau menjawab, ‘Kita berada di sini untuk mencapai maqam Sayyidina Yusuf , Maqam Pilihan Diam.’ Setelah murid itu bertanya dan Syaikh Sa’id Nursi memberi jawaban, pembicaraannya pun berakhir.” “Perubahan ini membuatku bingung dan Aku mulai merenungkannya secara mendalam. Kemudian Aku bertanya kepada Syaikh, ‘Apa rahasia keberadaan Anda di sini?’ Akhirnya, atas desakanku, Syaikh Syarafuddin menjawab, ‘Aku diutus ke sini untuk membawa rahasia orang banyak, orang-orang yang dipenjarakan tanpa sebab. Aku memberi dukungan kepada orang-orang ini. Allah mengutusku ke sini, karena kamu semua berkumpul di sini, dan sangat sulit mencapai kalian. Saya berada di sini untuk mengucapkan salam perpisahan kepadamu, karena kami segera akan meninggalkan dunia ini. Kami akan mengantarkan kepadamu rahasia-rahasia kamu. Bagi kami tidak ada istilah penjara, kami selalu berada dalam Kehadirat-Nya dan kami tidak pernah terpengaruh dengan penjara. Kalian semua akan meninggal beberapa saat lagi tetapi kalian akan bertemu lagi, ketika seorang tokoh penting meninggal dan barulah kalian semua akan bertemu kembali.’ Murid-murid Sa’id Nursi mendengar hal ini sebagaimana para tahanan lain yang mendengarkan dengan penuh antusias.” Wafatnya Setelah sekitar tiga bulan, beliau dibebaskan dari penjara. Beliau berkata kepada Syaikh Abdullah , Aku akan segera pergi, karena Aku terlalu menguras tenagaku mensarikan rahasia Surat al-An’am.” Beliau meninggalkan wasiat baginya, dan menunjuk Syaikh Abdullah untuk menjadi penerusnya di Singgasana Pembimbing. Tiga hari menjelang wafatnya, beliau memanggil Sultan ul-Awliya Mawlana Syaikh ‘Abdullah al-Faiz ad-Daghestani beserta beberapa pengikutnya, kemudian beliau berkata, “Selama tiga bulan Aku telah menyelami Samudera Surat al-An’am untuk mengeluarkan seluruh nama dari Thariqat Naqsyabandi yang berjumlah 7007 dari salah satu ayatnya. Alhamdulillah, Aku berhasil mendapatkan nama-nama mereka beserta seluruh gelarnya dan Aku telah mencatatnya pada catatan harianku yang Aku berikan kepada penerusku, Syaikh ‘Abdullah . Dia berisikan nama-nama seluruh Wali dari beragam kelompok yang akan ada pada masanya Imam Mahdi .” Keesokan harinya beliau memanggil khalifahnya, Syaikh ‘Abdullah ad-Daghestani dan berkata, “Wahai anakku, inilah wasiatku. Aku akan pergi dalam dua hari ini. Atas perintah Rasulullah , Aku menunjukmu sebagai penerusku dalam Thariqat Naqsyabandi, bersamaan dengan lima thariqat lain yang telah Aku terima dari pamanku. Seluruh rahasia yang pernah diberikan padaku dan seluruh kekuatan yang telah disandangkan kepadaku dari para pendahuluku di Thariqat Naqsyabandi dan kelima thariqat lainnya, kini kusandangkan kepadamu. Seluruh pengikut yang engkau bay’at di Thariqat Naqsyabandi, juga dengan sendirinya akan di-bay’at di lima thariqat lainnya dan juga akan mendapatkan rahasia mereka. Segera, akan datang kepadamu perintah untuk meninggalkan Turki dan pergi menuju Damaskus (Syam asy-Syarif) [yang pada saat itu amatlah sulit untuk dicapai karena peperangan yang dahsyat].” Syaikh ‘Abdullah berkata, “Beliau memberikan wasiat tersebut dan Aku berusaha menyembunyikannya sebagaimana Aku ingin menyembunyikan diriku sendiri.” Beliau wafat pada tanggal 27 Jumadil Awwal, Ahad, 1355H./ 1936 di Rasyadiya. Beliau dimakamkan di pemakaman Rasyadiya, di suatu puncak bukit. Hingga kini masjid dan zawiyanya masih terbuka, dan banyak orang mengunjunginya untuk mendapatkan rahmat dan berkahnya. Awrad yang sama yang dulu dikerjakan Syaikh Syarafuddin , Khatam Khwajagan (Dzikr para Guru) masih ada di sana, tergantung di dinding. Grandsyaikh kita, Syaikh ‘Abdullah , khalifah dan penerus Sayiddina Syaikh Syarafuddin berkata, “Ketika berita wafatnya diketahui, semua orang datang ke rumahnya untuk mendapatkan berkahnya serta barakahnya. Bahkan Ataturk, Presiden Republik Turki yang baru, mengirimkan delegasi kehormatannya. Kami memandikan jasadnya. Ketika kami membaringkannya untuk dimandikan, beliau memindahkan kedua tangannya ke pahanya untuk menampung air yang tercurah darinya ketika kami memandikannya, sehingga semua pengikutnya dapat minum dari air pemandian tersebut. Ketika semua pengikutnya telah selesai minum, beliau kembali memindahkan tangannya kembali ke tempat semula. Itulah keajaiban dari Samudera Keajaibannya, dan itu terjadi bahkan setelah kematiannya.” “Ketika kami menguburkan jenazahnya keesokan harinya, lebih dari 300.000 orang datang ke pemakamannya dan kota pun tidak mampu mengakomodasi kerumunan massa tersebut. Mereka datang dari Yalova, Bursa dan Istanbul. Betapa kerumunan orang berduka yang dahsyat. Para lelaki menangis, Para wanita meraung, serta anak-anak pun menangis juga. Semoga Allah Yang Maha Kuasa mengangkat para Walinya di setiap abad.” Yusuf Effendi, salah seorang pengikutnya berkata, “Memang benar bahwa kami tidak pernah bersama-sama dengan seluruh pengikutnya di suatu tempat yang sama–kami terlalu banyak–namun pada saat kematiannya, seluruh kota mendengar, Bursa, Adapazar, Yalova, Istanbul, Eskisehir, Orhanghazi, Izmir, dan seluruh penduduknya bergabung untuk menyelenggarakan shalat jenazah.” Syaikh Syarafuddin telah menulis banyak buku, namun semuanya hilang selama Perang Balkan. Namun demikian, banyak manuskrip yang masih tertinggal di keluarganya yang berisi rahasia dari Thariqat Naqsyabandi. Para pengikutnya mendatangi mereka untuk membaca buku-buku tersebut. Beliau mewariskan Rahasianya kepada penerusnya, Sultan ul-Awliya, Mawlana wa Sayyidina Syaikh ‘Abdullah al-Faiz ad-Daghestani .
Sekilas tentang Kehidupan dan Ajaran Mawlana Syekh Nazhim (q) yang Kita Cintai
 
Oleh Dr. G.F. Haddad
 
Damaskus
12 Rabi’ul Awwal 1425 H – 1 Mei 2004
 
 
Segala puji dan syukur bagi-Mu, wahai Tuhan kami, yang telah membimbing kami pada samudra Rahmat dari Kebenaran-Mu dan Cahaya-Mu.   Allahumma! Kirimkanlah berkah dan salam kedamaian bagi junjungan kami Muhammad (s), Penutup para Nabi dan Utusan-Mu, yang membawa Perjanjian Terakhir – Quran al-Karim, juga bagi keluarga beliau dan seluruh Sahabatnya, para pewarisnya, baik yang hidup di masa lalu, maupun di masa sekarang, terutama pewaris dan wakil utamanya di zaman ini.
 
Hamba yang lemah ini, Gibril ibn Fouad diminta untuk “menulis biografi dan artikel tentang kekasih kita Mawlana Syekh Nazhim (q) dalam beberapa kata-kata Anda sendiri tentang kehidupan dan ajaran-ajaran beliau dan pengalaman Anda bersama beliau.”  Bulan ini adalah bulan Rabi’ul Awwal 1425H (Mei 2004) adalah saat paling tepat untuk melakukan hal ini. Semoga Allah (swt) mengilhami baik penulis maupun pembaca tentang Mawlana Syekh Nazhim (q) agar memiliki gambaran yang adil dan tepat terhadap subjek yang mulia ini. Tak ada daya maupun kekuatan melainkan dengan-Nya. Sebagaimana Dia melingkupi kebodohan kita dengan Ilmu-Nya, semoga pula Dia melingkupinya dengan Rahmat-Nya, Amin! (Al-Hamdulillah, izin telah diperoleh dari Mawlana untuk merilis tulisan ini pada hari ini.)
 
Nama lengkap Mawlana adalah Muhammad Nazhim `Adil ibn al-Sayyid Ahmad ibn Hasan Yasyil Basy al-Haqqani al-Qubrusi al-Shalihi al-Hanafi,  semoga Allah mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya.   Kunya (nama panggilan) beliau  adalah Abu Muhammad – dari nama putra tertua beliau – selain itu beliau adalah ayah dari Baha’uddin, Naziha, dan Ruqayya.
 
Beliau dilahirkan pada tahun 1341 H (1922 M) di kota Larnaka, Siprus (Qubrus) dari suatu keluarga Arab dengan akar-akar budaya Tatar.  Beliau mengatakan pada saya bahwa ayah beliau adalah keturunan dari Syekh `Abdul Qadir Al-Jailani (q). Diceritakan pula pada saya bahwa ibu beliau adalah keturunan dari Mawlana Jalaluddin ar-Ruumi (q). Ini menjadikan beliau sebagai keturunan dari Nabi suci Muhammad (s), dari sisi ayahnya, dan keturunan dari Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq (r) dari sisi ibunya.
 
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Siprus, Mawlana melanjutkan ke perguruan tinggi di Istanbul dan lulus sebagai sarjana Teknik Kimia.  Di sana, beliau juga belajar bahasa Arab dan Fiqh, di bawah bimbingan Syekh Jamal al-Din al-Alsuni (q) (wafat 1375H/1955M) dan menerima ijazah dari beliau.  Mawlana juga belajar tasawwuf dan Tarekat Naqsybandi dari Syekh Sulayman Arzarumi (q) (wafat 1368H/1948M) yang akhirnya mengirim beliau ke Syams (Suriah).
 
Mawlana melanjutkan studi Syari’ah-nya ke Halab (Aleppo), Hama, dan terutama di Homs. Beliau belajar di zawiyah dan madrasah masjid sahabat besar Khalid ibn Al-Walid (r) di Hims/Homs di bawah bimbingan Ulama besarnya dan memperoleh ijazah dalam Fiqh Hanafi dari Syekh Muhammad ‘Ali ‘Uyun al-Sud (q) dan Syekh ‘Abd al-Jalil Murad (q), dan ijazah dalam ilmu Hadits dari Muhaddits Syekh ‘Abd al-‘Aziz ibn Muhammad ‘Ali ‘Uyun al-Sud al-Hanafi (q).
 
Perlu dicatat bahwa yang terakhir adalah salah satu dari sepuluh guru hadits dari Rifa’i Hafizh di Aleppo, Syekhul Islam ‘Abd Allah Siraj al-Din (q) (1924-2002 M), yang duduk berlutut selama dua jam di bawah kaki Mawlana Syekh ‘Abdullah Faiz Daghestani (q) ketika yang terakhir ini mengunjungi Aleppo di tahun 1959 dan  yang memberikan bay’at dalam Tarekat Naqsybandi pada Mawlana Syekh Nazhim (q), ketika Mawlana Syekh Nazhim (q) mengunjunginya terakhir kali di Aleppo di tahun 2001, sebagaimana diriwayatkan pada saya oleh Ustadz Muhammad ‘Ali ibn Mawlana al-Syekh Husayn ‘Ali (q) dari Syekh Muhammad Faruq ‘Itqi al-Halabi (q) yang juga hadir pada peristiwa terakhir itu.
 
Mawlana Syekh Nazhim (q) juga belajar di bawah bimbingan Syekh Sa’id al-Siba’i (q) yang kemudian mengirim beliau ke Damaskus setelah menerima suatu pertanda berkaitan dengan kedatangan Mawlana Syekh ‘Abdullah Faiz Ad-Daghestani (q) ke Suriah.   Setelah kedatangan awal beliau ke Suriah dari Daghestan di akhir tahun 30-an, Mawlana Syekh `Abdullah (q) tinggal di Damaskus, tetapi sering pula mengunjungi Aleppo dan Homs.  Di kota yang terakhir inilah, beliau mengenal Syekh Sa’id al-Siba’i (q) yang adalah pimpinan dari Madrasah Khalid bin Walid.  Syekh Sa’id (q) menulis pada beliau (Mawlana Syekh `Abdullah (q)), “Kami mempunyai seorang murid dari Turki yang luar biasa, yang tengah belajar pada kami.” Mawlana Syekh `Abdullah (q) menjawab padanya, “Murid itu milik kami; kirimkan dia kepada kami!” Sang murid itu adalah guru kita, Mawlana Syekh Nazhim (q), yang kemudian datang ke Damaskus dan memberikan bay’at beliau pada Grandsyekh kita pada kurun waktu antara tahun 1941 dan 1943.
 
Pada tahun berikutnya, Mawlana Syekh `Abdullah (q) pindah ke rumah baru beliau yang dibeli oleh murid Suriah pertamanya, dan khalifahnya yang masih hidup saat ini, Mawlana Syekh Husayn ibn `Ali  ibn Muhammad `Ifrini al-Kurkani ar-Rabbani al-Kurdi as-Syekhani al-Husayni (q) (lahir 1336H/1917M) – semoga Allah (swt) mensucikan ruhnya dan merahmati kakek moyangnya – di Qasyoun, suatu gunung yang menghadap Damaskus, yang Allah (swt) berfirman tentangnya; “Demi Tiin dan buah Zaitun! Demi Bukit Sinai!” (QS. 95:1-2). Qatadah dan al-Hasan Al-Basri berkata, “At-Tiin adalah Gunung di mana Damaskus terletak [Jabal Qasyoun] dan Zaitun adalah Gunung di mana Jerusalem terletak.” Diriwayatkan oleh `Abd al-Razzaq, al-Tabari, al-Wahidi, al-Bayzawi, Ibn al-Jawzi, Ibn Katsiir, al-Suyuti, as-Syaukani, dll., semua dalam tafsir-tafsir mereka.
 
Mawlana Syekh Nazhim (q) juga membeli sebuah rumah dekat rumah Grandsyekh dan bersama Mawlana Syekh Husayn (q), membantu membangun Masjid al-Mahdi, Masjid Grandsyekh, yang akhir-akhir ini diperbesar menjadi sebuah Jami’, di mana di belakangnya terletak maqam dan zawiyyah Grandsyekh, di tempat mana, hingga saat ini, makanan dan sup ayam yang lezat disiapkan dalam kendi-kendi yang besar dan dibagi-bagikan bagi kaum fuqara dan miskin dua kali dalam seminggu.
 
Jadi, Mawlana Syekh Nazhim (q) tinggal di Damaskus sejak pertengahan tahun 40-an hingga awal 80-an, sambil sesekali melakukan perjalanan untuk belajar atau sebagai wakil dari Grandsyekh, hingga Grandsyekh wafat di tahun 1973. Setelah tahun itu, Mawlana tinggal di Damaskus beberapa tahun sebelum kemudian pindah ke Siprus.
 
Jadi, Mawlana, yang aslinya Cypriot, dan Grandsyekh, yang asalnya Daghistani, keduanya telah menjadi penduduk Damaskus “Syamiyyun” dan tinggal di distrik orang-orang salih (ash-shaalihiin) yang disebut Shalihiyya! Tak ada keraguan lagi, bahwa pentingnya Damaskus bagi Mawlana dan Grandsyekh adalah karena Syam adalah negeri yang penuh barakah dan terlindungi melalui para Nabi dan Awliya’.
 
Imam Ahmad dan murid beliau, Abu Dawud meriwayatkan dengan isnad (rantai) yang sahih bahwa Nabi suci (s) bersabda, “Kalian harus pergi ke Syam.  Tempat itu telah terpilih secara Ilahiah oleh Allah (swt) di antara seluruh tempat di bumi-Nya ini.  Di dalamnya Dia melindungi hamba-hamba pilihan-Nya; dan Allah (swt) telah memberikan jaminan padaku berkenaan dengan Syam dan penduduknya!” Imam al-Nawawi berkata dalam kitab beliau Irsyad Tullab al-Haqa’iq ila Ma’rifati Sunan Khayr al-Khala’iq (s): “Hadits ini berkenaan dengan fadhillah (keistimewaan) yang besar dari Syams dan merupakan suatu fakta yang dapat teramati!”
 
Direktur pimpinan Dar al-Ifta’ (secara literal bermakna “Rumah Fatwa”, maksudnya Majelis Fatwa seperti MUI di Indonesia, penerj.) di Beirut, Lebanon, Syekh Salahud Diin Fakhri mengatakan pada saya di rumah beliau di Beirut dan menulis dengan tangan beliau kepada diri saya,
 
“Pada suatu pagi di hari Ahad, 20 Rabi’ul Akhir 1386 H, bertepatan dengan hari Minggu 7 Agustus 1966 M, kami mendapat kehormatan untuk mengunjungi Syekh `Abd Allah al-Daghistani (q)–rahimahullah (semoga Allah (swt) merahmatinya) – di Jabal Qasyoun di Damaskus atas inisiatif serta disertai pula oleh Mawlana al-Syekh Mukhtar al-‘Alayli – rahimahullah – Mufti Republik Lebanon saat itu; [yang adalah pula paman dari Syekh Hisyam Kabbani (q), penulis], Syekh Husayn Khalid, imam dari Masjid Nawqara; Hajj Khalid Basyir – rahimahumallah (semoga Allah (swt) merahmati keduanya); Syekh Husayn Sa’biyya [saat ini direktur dari Dar al-Hadits al-Asyrafiyya di Damaskus]; Syekh Mahmud Sa’d; Syekh Zakariyya Sya’r; dan Hajj Mahmud Sya’r.  Syekh `Abdullah (q) menerima kami dengan amat baik dan penyambutan yang ramah serta penuh kebahagiaan dan kegembiraan. Syekh Nazhim al-Qubrusi (q) – semoga Allah (swt) merahmati dan menjaga beliau – juga berada di situ saat itu!
 
Kami duduk dari pukul sembilan di pagi hari hingga tiba panggilan adzan Dzuhur, sementara Syekh (Grandsyekh `Abdullah Faiz ad-Daghestani (q)) – rahimahullah – menjelaskan tentang Syams (Suriah), keutamaannya, kelebihan-kelebihannya yang luar biasa, dan bahwa tempat itu merupakan tempat Kebangkitan dan bahwa Allah (swt) akan mengumpulkan seluruh manusia di dalamnya untuk penghakiman dan hisab.  Beliau menyebutkan pula hal-hal yang membuat hati dan pikiran kami tersentuh dan tergerak, dikuatkan pula oleh pengaruh suasana distrik Salihiyya yang suci, dan beliau berbicara pula tentang hubungan yang tak terpisahkan – dalam praktik maupun dalam teori – antara tasawwuf dengan Syari’ah… Semoga Allah (swt) membimbing dan menunjukkan pada kita petunjuk-Nya dalam perkumpulan dan shuhbat dengan Awliya’-Nya yang shiddiq. Aamiin, yaa Rabbal ‘Aalamiin!”
 
Masih ada banyak lagi nama-nama Ulama dan Awliya’ Syams yang prestisius yang mencintai dan bersahabat dengan Syuyukh kita dalam periode keemasan tersebut, seperti Syekh Muhammad Bahjat al-Baytar (1311-1396), Syekh Sulayman Ghawji al-Albani (wafat 1378H), ayah dari guru kami, Syekh Wahbi, Syekh Tawfiq al-Hibri, Syekh Muhammad al-‘Arabi al-‘Azzuzi (1308-1382H) Mufti dari Lebanon, dan Syekh utama dari guru kami Syekh Husayn ‘Usayran, al-‘Arif Syekh Syahid al-Halabi, al-‘Arif Syekh Rajab at-Ta’i, Syekh al-Qurra’ (ahli qira’at Quran, penerj.) Syekh Najib Khayyata al-Farazi al-Halabi, al-‘Arif Syekh Muhammad an-Nabhan, Syekh Ahmad ‘Izz ad-Din al-Bayanuni, al-‘Arif Syekh Ahmad al-Harun (1315-1382H), Syekh Muhammad Zayn al-‘Abidin al-Jadzba, dan lain-lain – semoga Allah (swt) merahmati mereka semuanya!
 
Dari tiga puluh tahun shuhbat (asosiasi) yang berkah antara Mawlana dan Grandsyekh tersebut, muncullah Mercy Oceans (secara literal berarti Samudra Kasih Sayang, merujuk pada buku-buku lama kumpulan shuhbat Mawlana Syekh Nazhim al-Haqqani (q), penerj.) yang tak tertandingi, yang hingga kini masih tersebar pada setiap salik/pencari dengan judul-judulnya: Endless Horizons (“Cakrawala tanpa Batas”, penerj.), Pink Pearls (“Mutiara-Mutiara Merah Muda”, penerj.), Rising Suns (“Matahari-Matahari yang tengah terbit”, penerj.). Tak ada keraguan lagi, kumpulan-kumpulan shuhbat awal tersebut adalah tonggak-tonggak utama dari seruan dakwah Islam seorang diri Mawlana Syekh Nazhim (q) di Amerika Serikat dan Eropa, dengan karunia Allah!
 
Semoga Allah (swt) melimpahkan lebih banyak barakah-Nya pada Mawlana Syekh Nazhim (swt) dan mengaruniakan pada beliau maqam-maqam tertinggi yang pernah Dia karuniakan bagi kekasih-kekasih-Nya, berdekatan dengan junjungan kita, Sayyidina Muhammad (s), yang bersabda,
 
“Jika seseorang melakukan perjalanan untuk mencari ilmu, Allah (swt) akan membuatnya berjalan di salah satu dari jalan-jalan Surga, dan para Malaikat akan merendahkan sayap mereka karena bahagia dan gembira pada ia yang mencari ilmu, dan para penduduk langit dan bumi serta ikan-ikan di kedalaman lautan akan memohonkan ampunan bagi seorang pencari ilmu! Keutamaan dari seorang yang berilmu atas orang beriman kebanyakan adalah bagaikan terangnya bulan purnama di kegelapan malam atas segenap bintang-gemintang! Ulama adalah pewaris-pewaris para Nabi, dan para Nabi tidaklah memiliki dinar maupun dirham, mereka hanya meninggalkan ilmu dan pengetahuan; dan ia yang mengambilnya sungguh telah mengambil bagian yang banyak!”
 
Tempat pertama yang saya datangi untuk mencari pengetahuan Nabawi (pengetahuan kenabian) ini adalah London di bulan Ramadan 1411 H, setelah saya bersyahadat laa ilaaha illa Allah (bahwa tiada tuhan selain Allah), Muhammadun Rasulullah (Muhammad (s) adalah utusan Allah). Di sanalah, saya meraih tangan suci Mawlana untuk pertama kali dan melakukan bay’at (sumpah setia) setelah diperkenalkan pada tarekat ini oleh menantu beliau, dan khalifah beliau di Amerika Serikat, Syekh Hisyam Kabbani (q)– semoga Allah (swt) membimbingnya dan membimbing seluruh sahabat-sahabat Mawlana!
 
Saya mengunjungi Mawlana beberapa kali di rumah beliau di Siprus dan melihat pula beliau di Damaskus. Di antara hadiah Shuhba yang diberikan Mawlana adalah pada dua minggu terakhir di bulan Rajab di tahun 1422H – Oktober 2001 – di rumah dan zawiyah beliau di kota Cypriot Turki, Lefke. Catatan akan pengalaman ini telah ditulis dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris, serta diterbitkan dengan judul Qubrus al-Tarab fi Shuhbati Rajab atau Kebahagiaan Siprus dalam Shuhbat.
 
Pada saat itulah, dan juga saat-saat kemudian, selama dua kunjungan terakhirnya ke Amerika Serikat, ke Inggris, di Siprus, dan Damaskus, saya mendapatkan dari Mawlana, petunjuk agung yang sama bagi setiap pencari kebenaran:
 
“Tujuan kita adalah untuk melindungi serta melukiskan Nabi Muhammad (s) dan sifat-sifat beliau yang luhur dan agung, baginya shalawat dan salam serta bagi ahli-bait dan sahabat-sahabat beliau; yang untuk ini Allah (swt) mendukung kita!”
 
Dari sini, saya mengerti bahwa Murid yang sesungguhnya dalam Tarekat Naqsybandi-Haqqani adalah sahabat, penolong dan pendukung dari setiap pembela Sayyidina Muhammad (s), dan adalah tugasnya untuk bersahabat dan berasosiasi dengan para pembela seperti itu karena mereka berada pada jalan Mawlana, tak peduli apakah mereka adalah Naqsybandi atau bukan.
 
Ketika seorang Waliyyullah yang telah berumur delapan puluh tahunan di Johor, Malaysia, al-Habib ‘Ali ibn Ja’far ibn ‘Abd Allah al-‘Aydarus menerima kami di rumahnya di bulan Mei 2003, mengenakan pakaian yang tak pernah berubah sejak tahun 1940-an, beliau terlihat seperti Mawlana dalam segenap aspeknya, dan bahkan terlihat menyerupainya ketika beliau meminta maaf atas bahasa Arab-nya yang tak fasih.  Ketika kami memohon doa beliau bagi negeri-negeri kami yang terluka dan bagi penduduk-penduduknya, beliau menjawab, “Umat ini terlindungi dan berada pada tangan-tangan yang baik, dan pada Syekh Nazhim (q) telah kau dapati kebercukupan!”
 
Jadi, dengan setiap perjumpaan dari murid yang sederhana dan rendah hati dari Mawlana dengan Awliya’ dari Umat ini; Mereka (para Awliya’ tersebut,  penerj.) semuanya menunjukkan rasa hormat tertinggi serta kerendahan hati yang amat dalam bagi Mawlana dan silsilah beliau, sekalipun mereka secara harfiah (penampakan luar) berada pada jalan (tarekat) yang berbeda, seperti al-Habib ‘Ali al-‘Aydarus di Malaysia, Sayyid Muhammad ibn ‘Alawi al-Maliki di Makkah, al-Habib ‘Umar ibn Hafiz di Tarim, Sayyid Yusuf ar-Rifa’i di Kuwait, Syekh ‘Isa al-Himyari di Dubai, Sayyid ‘Afif ad-Din al-Jailani dan Syekh Bakr as-Samarra’i di Baghdad, as-Syarif Mustafa ibn as-Sayyid Ibrahim al-Basir di Maroko tengah, Grandmufti Suriah (alm.) Syekh Ahmad Kuftaro ibn Mawlana al-Syekh Amin dan sahabat-sahabatnya Syekh Bashir al-Bani, Syekh Rajab Dib, dan Syekh Ramazan Dib; Syuyukh Kattani dari Damaskus; Syekh (alm.) ‘Abd Allah Siraj ud-Din dan keponakan beliau Dr. Nur ud-Din ‘Itr; Mawlana as-Syekh ‘Abd ur-Rahman as-Shaghuri; Dr. Samer al-Nass; dan guru-guru serta saudara-saudara kita lainnya di Damaskus – semoga Allah selalu melindungi Damaskus dan melimpahkan rahmat-Nya bagi mereka dan diri kita!  Saya telah bertemu dengan setiap nama yang saya sebut di atas kecuali Syekh Sirajud-Din dan mereka semua mengungkapkan tarazzi atas Mawlana as-Syekh Nazhim (q), mengungkapkan keyakinan atas ketinggian wilayah-nya (derajat kewalian, penerj.) dan memohon doa beliau atau doa pengikut-pengikut beliau;
 
“…Dan cukuplah Allah sebagai saksi. Muhammad itu adalah utusan Allah…”
(QS. 48:28-29)
 
Sudah menjadi suatu aturan yang disepakati di antara Rijal-Allah (maksudnya para Kekasih Allah, penerj.) bahwa keragaman jalan ini adalah tema (dandana, maksudnya kira-kira “diperuntukkan bagi”, penerj.) mereka yang belum terhubungkan (mereka yang belum mencapai akhir perjalanan, mereka yang belum mendapatkan ‘amanat’-nya, penerj.), sementara mereka yang telah mawsul (“sampai”, penerj.) semua berada pada satu jalan dan dalam satu lingkaran dan mereka saling mengetahui dan mencintai satu sama lain.  Mereka akan berada di mimbar-mimbar cahaya di Hari Kebangkitan. Karena itu, kita, para Murid dari jalan-jalan (Thuruq, jamak dari Thariqat) itu mestilah pula saling mengetahui, mengenal dan mencintai satu sama lain demi keridaan Allah dan Nabi-Nya serta para Kekasih-Nya agar diri kita mampu memasuki cahaya penuh barakah tersebut dan masuk dalam lingkaran tertinggi dari shuhba (persahabatan) dan jama’ah, jauh dari furqa (perpecahan) dan keangkuhan.
 
Sebagaimana Allah (swt) berfriman: “Yaa Ayyuha l-ladziina aamanu t-taqu ul-laaha wa kuunuu ma’as shadiqiin” “Wahai orang-orang beriman takutlah kalian akan Allah (swt) dan tetaplah berada [dalam persahabatan dan kesetiaan] dengan orang-orang yang Benar (Shiddiqiin)!”; dan Nabi Suci kita (s) bersabda, “Aku memerintahkan pada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku dan mereka yang mengikutinya (tabi’in, penerj.), kemudian mereka yang mengikutinya (tabi’it tabi’in, penerj.); setelah itu, kebohongan akan merajalela…Tapi kalian mestilah tetap berada pada Jama’ah dan berhati-hatilah dari perpecahan!”
 
Jama’ah inilah yang dilukiskan dalam suatu hadits mutawatir (diriwayatkan banyak orang, penerj.): Ia yang dikehendaki Allah (swt) untuk beroleh kebajikan besar, akan Dia karuniakan padanya pemahaman yang benar (haqq) dalam Agama. Aku (mengacu pada Nabi (s), penerj.) hanyalah membagikan dan adalah Allah (swt)yang mengkaruniakan! Kelompok itu akan tetap menjaga Perintah dan Aturan Allah (swt), tak akan terlukai oleh kelompok yang menentang mereka, hingga datangnya Ketetapan Allah (swt).”
 
Ya Allah, jadikanlah kami selalu bersyukur atas apa yang telah Kau karuniakan dan yang telah Rasul-Mu dan Habib-Mu bagikan!
 
Saya mendengar Mawlana Syekh Nazhim (swt) berkata beberapa kali atas nama guru beliau, Sulthan al-Awliya’ Mawlana as-Syekh `Abd Allah ibn Muhammad `Ali ibn Husayn al-Fa’iz ad-Daghestani tsumma asy-Syami ash-Shalihi (q)  (ca. 1294-1393 H) [1]
dari Syekh Syaraf ud-Din Zayn al-‘Abidin ad-Daghestani ar-Rasyadi (q) (wafat 1354 H)
dari paman maternal (dari sisi ibu) beliau, Syekh Abu Muhammad al-Madani ad-Daghistani al-Rasyadi (q) [2], dari Syekh Abu Muhammad Abu Ahmad Hajj ‘Abd ar-Rahman Effendi Ad-Daghistani ats-Tsughuri (q) (wafat 1299 H) [3], dari Syekh Jamal ud-Din Effendi al-Ghazi al-Ghumuqi al-Husayni (q) (wafat 1292 H) [4], juga (keduanya baik ats-Tsughuri maupun al-Ghumuqi) dari Muhammad Effendi ibn Ishaq al-Yaraghi al-Kawrali (q) (wafat 1260 H) [5], dari Khass Muhammad Effendi asy-Syirwani ad-Daghestani (q) (wafat 1254 H) [6], dari Syekh Diya’uddin Isma’il Effendi Dzabih Allah al-Qafqazi asy-Syirwani al-Kurdamiri ad-Daghestani (q) (wafat. ? ) dari Syekh Isma’il al-Anarani (q) (wafat 1242 H), dari Mawlana Diya’uddin Khalid Dzul-Janahayn ibn Ahmad ibn Husayn as-Shahrazuri al-Sulaymani al-Baghdadi al-Dimasyqi an-Naqsybandi al-‘Utsmani ibn ‘Utsman ibn ‘Affan Dzun-Nurayn (q) (1190-1242 H) dengan rantai isnad-nya yang masyhur hingga Syah Naqsyband Muhammad ibn Muhammad al-Uwaysi al-Bukhari (q) yang berkata,
 
“Tarekat kami adalah SHUHBAT (persahabatan) dan kebaikannya adalah dalam JAMA’AH.
 
Semoga Allah (sw) meridai diri mereka semuanya, merahmati mereka, dan mengaruniakan pahala-Nya bagi mereka, dan memberikan manfaat bagi kita lewat mereka melalui telinga kita, kalbu-kalbu kita, dan keseluruhan wujud diri kita, Amin!
 
Beberapa kritik dari “Calon Sufi” atas Tarekat Haqqani mengatakan atas tarekat kita dengan apa yang mereka sebut sebagai “kurang dalam sisi ilmu”. Seorang Sufi yang teliti akan menjadi orang terakhir yang mengatakan kritik yang menyesatkan seperti itu! Semestinya mereka menjadi orang-orang pertama yang mengetahui bahwa ilmu, sebagai ilmu saja, tidak hanya tanpa manfaat, tapi juga dapat menjadi perangkap mematikan yang mengarah kepada kebanggaan syaithaniyyah.  Tak ada maaf baik bagi ia yang sombong (yaitu dengan ilmunya, penerj.) maupun ia yang bodoh; hanya Sufi yang penuh cinta, ketulusan, serta bertaubat-lah, walau memiliki kekurangan dalam ilmu dan adabnya, yang lebih dekat pada Allah (swt) dan pada ma’rifatullah (pengenalan akan Allah) daripada seorang Sufi berilmu yang menyimpan dalam kalbunya kebanggaan sekalipun hanya setitik debu.  Semoga Allah (swt) melindungi diri kalian dan diri kami!
 
Ibrahim al-Khawwass berkata bahwa ilmu (pengetahuan) bukanlah untuk mengetahui banyak hal, tapi untuk menaati Sunnah dan mengamalkan apa yang diketahui sekalipun itu hanya sedikit.
 
Imam Malik berkata bahwa ilmu bukanlah untuk mengetahui banyak hal, tapi ia adalah cahaya Allah yang Dia timpakan pada hati.
 
Imam as-Syafi’i berkata bahwa ilmu bukanlah untuk mengetahui bukti dan dalil, melainkan untuk mengetahui apa yang bermanfaat.
 
Dan ketika seseorang berkata tentang Ma’ruf al-Karkhi (murid dari Dawud at-Ta’i, yang merupakan murid dari Habib ‘Ajami, murid dari Hasan al-Bashri; guru dari Sari as-Saqati, guru dari Sayyid Taifa Junayd al-Baghdadi, penerj.), “Dia bukanlah seseorang yang amat alim (berilmu),” Imam Ahmad pun berkata, “Mah! Semoga Allah (swt) mengampunimu! Adakah hal lain yang dimaksudkan oleh Ilmu selain dari apa yang telah dicapai oleh Ma’ruf?!”
 
Kritik lain berisi keberatan atas Rabithah atau “Ikatan”, suatu karakteristik khusus dari Tarekat Naqsybandi. Lebih jelasnya, mereka yang mengkritik rabithah ini berkeberatan atas unsur tasawwur atau “Penggambaran” dalam rabithah yang meminta Murid untuk menggambarkan citra sang Syekh dalam hatinya di permulaan maupun selama dzikir. Tetapi Allah (swt) telah berfirman,
 
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah (s) itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [33:21]
 
dan Dia berfirman pula, “Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; “ [2:189] dan karena itulah kita datang kepada Nabi (s) melalui ash-Shiddiq (r), dan datang kepada yang terakhir ini melalui Salman (r), dan masuk kepada yang terakhir ini melalui Qasim (r), dan kepada yang terakhir ini melalui Sayyid Ja’far (r), dan seterusnya. Karena “Ulama adalah pewaris para Nabi", dapat dipahami bahwa sang Mursyid adalah teladan kita akan teladan dari Nabi tersebut (di ayat 33:21 di atas, penerj.) dan ia (sang Mursyid) mestilah seseorang di antara mereka yang atas mereka, Nabi (s) bersabda, “Jika kalian melihat mereka, kalian ingat akan Allah!” Hadits ini diriwayatkan dari Ibn ‘Abbas , Asma’ bint Zayd, dan Anas (semoga Allah (swt) rida atas diri mereka semua), juga dari Tabi’in Sa’id ibn Jubayr, ‘Abd al-Rahman ibn Ghanam, dan Muslim ibn Subayh.
 
Beberapa orang memprotes terhadap konsep fana’ sang Murid dalam diri Syekh, atau fana’ fis-Syekh. Mereka berkata, “Syekhmu hanyalah seorang manusia; jadikanlah fana’-mu pada diri Rasulullah (s)!” Tetapi, adalah salah untuk menyamakan sang Syekh pembimbing sama seperti yang lain.  Syekh Ahmad Sirhindi– qaddas-Allahu sirrahu - berkata: “Ketahuilah bahwa melakukan perjalanan (suluk) pada tarekat yang paling Mulia ini adalah dengan ikatan (rabithah) dan cinta pada Syekh yang kita ikuti. Syekh seperti itulah yang berjalan di Jalan ini dengan keteguhan (istiqamah), dan ia tercelupi (insabagha) dengan segenap macam kesempurnaan melalui kekuatan daya tarik Ilahiah (jadzbah). Pandangannya menyembuhkan penyakit-penyakit hati dan konsentrasinya atau pemusatan pikirannya (tawajjuh) mengangkat habis cacat-cacat rohani.  Pemilik dari kesempurnaan-kesempurnaan ini adalah Imam dari zaman ini dan Khalifah pada waktu itu… Jadi, ikatan kita (padanya) adalah (melalui) cinta, dan hubungan (nisba) kita dengannya adalah pencerminan dan pencelupan diri, tak peduli apakah diri kita dekat atau jauh (secara fisik darinya, penerj.). Hingga kemudian sang murid akan tercelupkan dalam Jalan ini melalui ikatan cintanya pada sang Syekh, jam demi jam, dan tercerahkan oleh pantulan cahaya-cahayanya. Dalam pola seperti ini, pengetahuan akan proses bukanlah suatu prasyarat untuk memberi atau menerima manfaat.  Buah semangka matang oleh panas Sang Surya jam demi jam dan menghangat dengan berlalunya hari… Sang Semangka semakin matang, namun pengetahuan macam apakah yang dimiliki sang semangka akan proses ini? Apakah sang Surya bahkan mengetahui bahwa dirinya tengah mematangkan dan menghangatkan sang Semangka?  Sebagaimana disebutkan di atas, berkeberatan atas konsep fana’ fis-Syekh adalah berarti pula berkeberatan akan cinta pada sang Syekh. Kita semua memiliki keinginan dan tujuan untuk mencintai Syekh kita dan mengetahui bahwa ia-lah objek yang paling patut menerima cinta dan hormat kita di dunia ini.
 
Sebagaimana sang penyair berpuisi:
 
Atas kesetiaan padamu yang suci dan tuluslah, aku mengatakan:
Cinta atasmu terpahat dalam kalbu dari kalbu-kalbuku,
Sebagai suatu ukiran yang dalam [NAQSY], suatu prasasti kuno.
Tak kumiliki lagi kehendak [IRADA] apa pun, selain cintamu,
Tak pula dapat kuucapkan apa pun padamu, selain "aku cinta padamu".
 
Tentang hal ini, Mawlana berkata pada suatu kesempatan baru-baru ini,  “Kita telah diperintahkan untuk mencintai orang-orang suci.  Mereka adalah para Nabi, dan setelah para Nabi, adalah para pewaris mereka, Awliya’. Kita telah diperintahkan untuk beriman pada para Nabi, dan iman memberikan pada diri kita Cinta. Cinta membuat manusia untuk mengikuti ia yang dicintai. ITTIBA’ bermakna untuk mencintai dan mengikuti, sementara ITA’AT bermakna [hanya] untuk mengikuti.  Seseorang yang taat mungkin taat karena paksaan atau karena cinta, tetapi tidaklah selalu karena cinta.”
 
“Nah, Allah (swt) menginginkan hamba-hamba-Nya untuk mencintai-Nya. Dan para hamba tidaklah mampu menggapai secara langsung cinta atas Tuhan mereka. Karena itulah, Allah (swt) mengutus, sebagai utusan dari Diri-Nya, para Nabi yang mewakili-Nya di antara para hamba-Nya.  Dan setiap orang yang mencintai Awliya’ dan Anbiya’, melalui Awliya’ akan menggapai cinta para Nabi. Dan melalui cinta para Nabi, kalian akan menggapai cinta Allah.”
 
“Karena itu, tanpa cinta, seseorang tak mungkin dapat menjadi orang yang dicintai dalam Hadirat Ilahi.  Jika kalian tak memberikan cinta kalian, bagaimana Allah (swt) akan mencintai kalian?”
 
“Namun manusia kini sudah seperti kayu, yang kering, kayu kering, mereka menyangkal cinta.  Mereka adalah orang-orang yang kering – tak ada kehidupan! Suatu pohon, dengan cinta, terbuka, bersemi dan berbunga di kala musim semi.  Tetapi kayu yang telah kering, bahkan seandainya tujuh puluh kali musim semi mendatanginya, tak akan pernah terbuka.  Cinta membuat alam ini terbuka dan memberikan buah-buahannya, memberikan keindahannya bagi manusia.  Tanpa cinta, ia tak akan pernah terbuka, tak akan pernah berbunga, tak akan pernah memberikan buahnya.”
 
“Jadi Cinta adalah pilar utama paling penting dari iman.  Tanpa cinta, tak akan ada iman. Saya dapat berbicara tentang hal ini hingga tahun depan, tapi kalian harus mengerti, dari setetes, sebuah samudera!” (akhir shuhbat Mawlana).
 
Dengan dan melalui Mawlana, Allah (swt) telah membuat segala macam hal yang sulit menjadi mudah.  Kita amat bersyukur mengetahui beliau karena beliaulah jalan pintas bagi kita menuju nuur/cahaya dalam Agama ini.  Nur ini adalah tujuan dan sasaran dari setiap orang yang sehat.  Nur dan cahaya inilah yang dilukiskan dalam ayat yang Agung, “Allah (swt) menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal-lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah ). [2:269] Semoga Allah (swt) mengaruniakan bagi diri kita hikmah ini dan menjaga diri kita pada Jalan yang telah Dia perintahkan dan Dia sukai bagi diri kita! Semoga Allah (swt) mengaruniakan pada Mawlana umur panjang dalam kesehatan dan mengaruniakan pada diri kita tingkatan (maqam) Murid yang Sejati demi kehormatan dari yang paling terhormat, Nabi Muhammad (s)!
 
 
Catatan:
 
[1] Ada beberapa variasi pendapat tentang tahun lahir Mawlana as-Syekh `Abd Allah (q), berkisar dari 1284 H (dalam kitab at-Thariqat an-Naqsybandiyya, karangan Muhammad Darniqa) hingga 1294 H menurut murid tertua Syekh `Abdullah (q), Mawlana as-Syekh Husayn (q) (dalam kitab at-Thariqat an-Naqsybandiyya al-Khalidiyya ad-Daghistaniyya, karangan Ustadz Muhammad ‘Ali ibn as-Syekh Husayn) hinga 1303 H dalam kitab al-Futuhat al-Haqqaniyya, karangan Syekh Adnan Kabbani (q) hingga 1309 H dalam buku The Naqshbandi Sufi Way, karangan Syekh Hisyam Kabbani (q).
 
[2]  Beliau menerima pula Tarekat Qadiri dari Syekh Ibrahim al-Qadiri (q) (demikian pula Syekh Jamaluddin (q)) yang dengan bimbingannya, beliau memulai suluknya hingga Syekh Ibrahim (q) menyuruhnya ke Syekh ats-Tsughuri (q), lihat `Ali, Thariqat Naqsybandiyya (halaman 229).
 
[3]  lihat Hadaya al-Zaman fi Tabaqat al-Khawajagan an-Naqsybandiyya (halaman 375) karangan Syu’ayb ibn Idris al-Bakini.  Beliau mengambil pula dari al-Yaraghi, lihat Sullam al-Wusul karangan Ilyas al-Zadqari, sebagaimana dikuti di Hadaya (halaman 378).
 
[4]  lihat Hadaya, al-Bakini (halaman 396). Beliau menerima Tarekat Qadiri dari Syekh Ibrahim al-Qadiri (q) dan memperkenalkan dzikir jahr dalam cabang Daghistani dari Naqshbandiyya melalui ijazah tersebut, lihat al-Bakini, Hadaya (halaman 396); ‘Ali, Tarekat Naqsybandiyya (halaman 229).
 
[5] dan bukannya 1254 H, sebagaimana secara salah disebutkan di beberapa sumber. Koreksi ini dari ‘Ali, Thariqat Naqsybandiyya (halaman 214). Muhammad al-Yaraghi juga mengambil secara langsung  dari Syekh Isma’il asy-Syirwani (q), lihat al-Bakini, Hadaya (hal. 350-351).
 
[6] dari Syirwan di masa sekarang di Azerbaijan.  Beliau wafat di Damaskus dan dimakamkan di Jabal Qasyoun, di samping Mawlana Khalid (q) dan Mawlana Isma’il al-Anarani (q) yang merupakan penerus pertama Mawlana Khalid (q), yang wafat tujuh belas hari setelah wafatnya Mawlana Khalid (q), keduanya karena wabah – semoga Allah(swt) merahmati mereka semua dan seluruh Syuhada’-Nya.
 
 
 
 
 

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Kunjungi web kami di www.naqsybandi.com

Bergabung dengan Tarekat Naqsybandi secara online:
http://wiridnaqsybandi.blogspot.com/p/bayat-melalui-internet.html

Jumat, 18 April 2014

Curhat singkat

Jum'at, 18 Mei 2014 BismillahiRahmanirRahim Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Hari ini tak tertahankan aku ingin sekali curhat. Aku ini seorang ibu. Salah satu anakku akan menikah bulan depan. Tapi aku tak diberitahu apapun. Aku merasa dianggap sudah tidak ada walaupun aku masih hidup. Mereka memilih keluarga almarhum suamiku sebagai wakil orangtua. Aku berusaha untuk tidak sakit hati. TApi nyatanya dada ini sesak. Aku sudah memasrahkan kasusku ini kepada ALLAH SWT Tetap saja air mata ini tak dapat ditahan, menetes dengan lancarnya. Astaghfirullahal adziiim. 100x Mudah-mudahan suatu waktu kelak, anakku berkesempatan membaca penggalan tulisan ini. Agar ia tahu bagaimana perasaanku, karena ia tidak lagi mau mendengarkan curhatku. Aku ini ibunya. Kelak jika istrinya itu menjadi seorang ibu, moga ia paham perasaan seorang ibu. Wassalam, Roosdiana

Sabtu, 01 Februari 2014

Sheikh Bahauddin & Ayberk Efendi / Beautiful Nasheed Subhanim Allah / Su...

Tabah

January 20, 2014 at 9:12pm Suatu hari seorang teman datang padaku dengan berlinang air mata. Dia seorang ibu dengan seorang anak laki-laki yang telah dewasa dan sukses dalam karirnya, dan sedang mempersiapkan pernikahannya. Aku bertanya dalam hatiku, apa gerangan yang membuatnya begitu berduka, padahal sebelumnya aku melihatnya sebagai seorang ibu yang penuh rasa syukur dan bahagia. Iapun bercerita sambil berlinang air mata: Minggu lalu aku bertanya kepada anakku satu-satunya: "Mengapa akhir-akhir ini wajahmu selalu muram padahal Ibu selalu mencintai dan menyayangimu?" Jawab anakku: "Tidak tahukah ibu? Ibu dan hanya ibulah penyebab muramnya wajahku. Tidak tahukah ibu bahwa kata-kata ibu sering menyakiti hatiku. Aku menyimpan sakit hatiku bertahun-tahun lamanya demi baktiku pada ibu." "Astaghfirullah.. Betapa pedih hati ini. Begitukah pandangannya selama ini kepadaku?" Rupanya dia telah menemukan gadis pujaannya yang halus budi bahasanya. Lalu sang ibupun tampak buruk di matanya. Tercenung hatiku. Aku terdiam seribu bahasa. Apa yang dapat kukatakan untuk menghibur hati temanku itu? Aku hanya dapat memeluknya tanpa kata. Dalam perjalanan kita sebagai ibu, banyak sekali keputusan yang harus kita buat untuk anak-anak kita. Pola asuh, cara menjaga kesehatan atau pengobatan di kala ia sakit, ke mana kita mengirimnya untuk sekolah, bagaimana berkomunikasi dengannya, memilihkan lingkungannya, memilihkan gizi dan menu makanannya, mensiasati dana yang kita terima dari suami untuk memenuhi kebutuhannya lahir dan batin. Kita berusaha untuk memberikan yang terbaik baginya agar ia sukses sesuai dengan cita-citanya sendiri dan bahagia dalam kehidupannya di dunia dan akhirat kelak. Tapi pernahkah terpikir oleh kita, bahwa suatu saat anak akan mengatakan bahwa semua keputusan kita atasnya salah? Bahwa pola asuh kita salah? Pernahkah terpikir bahwa pada akhirnya anak akan menggugat kita? Kita mengenal anak kita dan menerimanya apa adanya. Nakalnya, cerewetnya, pendiamnya, kebaikannya, hormat dan baktinya, kesholehannya. Tapi apakah anak menerima kita apa adanya? Sahabatku para ibu, marilah kita selalu mawas diri dan mempersiapkan hati kita. Anak memang bukan milik kita, tetapi amanah yang dititipkan ALLAH pada kita. Selalulah berdo'a agar semua yang kita lakukan sesuai dengan kehendakNYA. Jika kelak kita digugat oleh anak kita sendiri, bersabarlah. Kembalikan urusannya kepada ALLAH. KIta maafkan dan mendo'akan agar anak kita tidak menjadi anak yang durhaka. Kadang anak memang menjadi ujian bagi kita, tetapi bisa juga menjadi penyejuk mata dan membuat kita bahagia di hari tua kita.

Make it Green

Jangan Biarkan Tanah Kosong, Buatlah Penghijauan (Make It Green) February 1, 2014 at 6:01am (dikutip dari Arief L. Hamdani) Jangan Biarkan Tanah Kosong, Buatlah PenghijauanSultanul Awliya Mawlana Syekh Nazim Adil Al-Haqqani qs20 Januari 2014 , Lefke Cyprus. Baca hati saya. Bismillahir Rahmanir Rahim. Tanamlah pohon Akasia. Lebah mencintai pohon akasia. Apakah Anda tahu pohon akasia? Tanam pohon akasia yang banyak. Acacia adalah pohon yang diberkahi. Bagaimana kabarmu ? Syukur kepada Allah. Semoga usaha Anda menjadi besar. Semoga kita dapat melakukan penghambaan kepada Tuhan kita. Tuhan kita mencintai yang indah. Mari kita menjadi indah. Janabul Mawla tidak suka keburukan. Dia mencintai keindahan. Inna Allaha jamilun, yuhibbul jamal . ( Sesungguhnya Allah itu Indah dan mencintai keindahan). Jauhkan diri kalian dari perbuatan buruk. Yuhibbul - jamal. Ya Rabbi, jangan jadikan kita menjadi orag yang sesat. Semoga setiap orang berbahagia, dan menjadi sehat kembali, sujudlah kepada Tuhanmu.Wahai Tuhan kami, La ilaha illa Anta Subhanaka faqina ' Azaban nar. Engkau membuat segala sesuatu demikian indah. JanabAllah menginginkan keindahan, Dia tidak ingin keburukan. Dia tidak ingin orang-orang menjadi sakit Aku berlindung kepadaMU, berilah kami kekuatan. Bahkan penampilan hewan ternak juga memiliki keindahan. JanabAllah menciptakan segala sesuatu indah, Dia menciptakan sapi dengan keindahan. Allah menyukai keindahan. Dia adalah Allah Dzul - Jalal. JanabAllah tidak suka hal-hal yang buruk dan jelek. Semoga kita tidak menjadi manusia yang buruk dan jelek. Wahai Mehmed anakku. Hiasi dan buatlah segala sesuatu dengan dekorasi yang indah. Hiasi dengan keindahan. Janab Allah telah menghiasi alam semesta ini. Wa zayyanna bi kawakib. (dan Dia menghiasi langit dengan rasi bintang) Janabul Mawla menghiasi semesta alam dengan banyak rasi bintang. Dia tidak suka keburukan. Aman ya Rabbi .Wahai Tuhan kami, jauhkan kami dari perbuatan jelek. Kalian diciptakan dengan keindahan. Semoga kita tidak menjadi buruk. Segala sesuatu memiliki keindahan, wahai anakku Mehmed, perhatikan hal itu. Perhatikan bahwa Allah membuat segala sesuatu indah, membuat semuanya dengan disiplin dan ketertiban. Janab - ul Haqq telah mempertimbangkan segala sesuatu. Dia menciptakan segala sesuatu yang indah. Tidak ada mahluk yang diciptakan Allah menjadi jelek. Hasha. Berapa banyak keindahan terdapat di dunia ini. Allah Allah. Wahai Tuhan kami, Engkau menciptakan kami dengan keindahan. Beri kami kekuatan untuk menjaga keindahan kami. Betapa indahnya setiap pekerjaan Mawla kami. Allah, Allah. Bahkan ketika kita meninggalkan dunia ini, semoga wajah kami menjadi indah. Semoga kita tidak terlihat seperti orang mati. Semoga kita terlihat hidup. Allahu akbar ul - akbar. Allahu akbar ul-Akbar. Fatiha. Salamun qawlan min Rabbin Rahim. ( 36:58 ) Salamun qawlan min Rabbin Rahim. Salam kedamaian dari Tuhan Yang Maha Penyayang. Fatiha. Janab-ul Haqq menciptakan kami begitu indah . " Semoga hamba-Ku mengambil manfaat darinya. Semoga mereka tidak menjadi seperti batu dan tanah. " Anak-anak Adam segala sesuatu dari mereka adalah indah. Kunyah sepotong tebu setiap hari. Ini adalah penyembuhan yang terbaru. Bahkan jika kalian hanya menggigit tebu itu, makan juga sepotong lemon dengan kulitnya. Makan sepotong lemon dan sepotong tebu. Kunyah tebu itu maka penyakit tidak akan mengenai dirimu. Kalian tidak akan memerlukan pil-pil obat imitasi palsu yang berbahaya. JanabAllah tidak membuat hal-hal yang sintetis dan palsu.Ayah kami selalu memberi kami sesendok minyak ikan setiap hari ketika kita masih kecil. Betapa menyenangkan hal itu. Pohon zaitun sangatlah berbeda, penuh keberkahan penyembuhan. Pohon yang baik buahnya adalah Zaitun (Olive). Baunya juga wangi. Apakah Anda menanamnya? Tanamlah pohon zaitun di mana-mana. Hiasi, Hiasi dunia ini dengan penghijauan dengan banyak tanaman. Jangan biarkan tanah menjadi kering tanpa pephonan dan menjadi jelek karena JanabAllah tidak suka keburukan. Allah tidak pernag mengurangi rahmat-Nya dan mereka mengatakan tidak ada hujan .Wahai Tuhan kami, Engkau memberi kami kenikmatan yang besar dan tidak ada habissnya, bagaimana kita bisa mengatakan demikian? Bagaimana kita bisa mengatakan begitu ? Bahkan Laut bisa berubah menjadi air manis dalam sekejap. Allah Tuhan kita ... Semoga kita tahu rasa kemanusiaan kita maka kita akan menjadi indah. Semoga kita menjadi cantik . Kalian adaah indah. Tanamlah Oleaster (zaitun), tanam pohon Oleaster dimana-mana. Buah zaitun akan memberikan kekuatan untuk tubuh dan penyembuhan penyakit. Pohon yang indah adalah pohon zaitun (Oleaster), minyaknya berbau wangi. Jauhkan diri kalian dari hal-hal yang palsu, imitasi. Jangan menggunakan obat-obatan sintetis buatan yang palsu, ini adalah sebuah ilmu pengobatan. Janab - ul Haqq menciptakan keindahan, Dia ingin segala sesuatu yang indah. Rabbul Izzet ingin keindahan. Marilah kita menjadi indah dan cantik, marilah kita menjadi cantik .Apakah Anda makan tebu ? Kunyahlah sepotong tebu dan itu akan memberikan kalian kekuatan untuk tubuh kalian, keindahan dan rasa pada wajahmu. Berapa banyak. Ada tumpukan tebu di sana. Potong sepotong setiap hari dan kunyahlah. Makan jeruk keprok dengan kulit mereka, betapa senangnya mereka. Jeruk adalah pohon yang baik bagi kesehatan karena buahnya. Apa pohon yang baik lainnya? Jujuba dan Olive (zaitun). Apakah Anda menanam almond ? Apakah Anda menanamnya ? Tanamlah almond, itu adalah pohon yang mulia. Ini adalah pohon yang mulia. Berbagai pepohonan itu menjadikan halaman kalian indah dengan dekorasi dan memberikan kita kekuatan. Bertasbihlah kepada Tuhan kita. Tasbih sebanyak-banyaknya. Tanpa dzikir kita bagaikan Keledai. Tanamlah tanaman di mana-mana, wahai anakku tanamlah berbagai pepohonan, akasia di banyak tempat, pohon ini memberikan keindahan dan manfaat. Allah Allah .Wahai Tuhan kami, ampunilah kami . Jangan berikan obat-obat sintetis buatan yang palsu untuk anak-anak kalian. Betapa indahnya pohon tebu, kunyahlah setiap hari sepotong tebu maka kalian akan sehat dan kuat. Daripada makan gula buatan lainnya, makanlah sepotong tebu itu. Biarkan gula tebu memberikan kekuatan pada tubuh Anda. Maka banyak orang yang berpikir hari ini. Berapa banyak orang yang berpikir tentang apa sja yang Tuhan berikan kepada kalian. " Fahal min mudhdhakirin " ( 54:40 ). " Apakah ada yang orang yang berpikir ? " Potong dan makan sepotong tebu setiap hari, atau dimasukkan ke dalam air mendidih dan minumlah. Anda tidak akan jatuh sakit. Mereka membuat orang mengalami penderitaan dengan obat sintetis. Saya berharap untuk mendapatkan kekuatan, untuk mendapatkan kekuatan pada jalan Allah. Semoga kalian dapat menghiasai dunia ini dengan berbagai tanaman dan dapat memberi manfaat bagi orang-orang. Fatiha. Wahai Tuhan kami . " Allamah al- Insana ma lam ya'lam " ( 96:5 ) . Jika seseorang mau belajar. Tanamlah tanaman akasia maka lebah akan senang dan lebah akan memebrikan kalian madunya. Semoga Mawla memberi kita kekuatan. Allah adalah indah, Dia mencintai keindahan. Buatlah dan hiasi alam dengan pepohonan yang bermanfaat seperti tebu, daripada kalian makan gula buatan, maka biasakan makan tebu. Penyakit tidak akan datang. Namun hari ini, setan telah membuat orang mabuk. Allah Jalla Jalaluhu, Ya Allah kirimkan hamba-hamba-Mu yang akan mengajarkan kita untuk menghormati Kekasih-Mu Sayidina Muhammad (saw). Fatiha. Tanamlah anaman cedar di sana-sini. Pohon ini memiliki kebesaran. Jangan memotong pohon itu. Jangan memotong pohon-pohon besar. Allahu Akbar. Allah menyayangi pohon-pohon yang besar. Jangan dipotong. Ibuku biasa menanam cengkeh sampai empat puluh pot. Cengkeh memiliki bau yang wangi dan indah. Dia menanam bunga violet.Setiap orang memiliki kolam renang di rumahnya . Mereka memiliki tangki air. Ibuku menempatkan pot di sekitar kolam renang dan penuh dengan berbagai bunga dalam pot. Dia menanam cengkeh di dalamnya. Sekarang mereka tidak menanam lagi, mereka menjadi buruk. Hal-hal imitasi dan obat palsu telah dibuat orang-orang bodoh. Lihatlah alam, kembali pada alam dan jangan menggunakan obat sintetis palsu. Ikhdarra . Ikhdarratu l - ard. Janab - ul Haqq telah membuat bumi ini menjadi hijau. Dia menyukai warna hijau dan pephonan yang hijau, Dia mencintai hijau. Warna hijau adalah warna kesukaan Allah. Allahu Akbar .Berapa banyak hutan yang digunduli dan tanah menjadi kosong tanpa tanaman. Tanmlah tebu dan Potong batangnya dan baik sekali untuk mengunyah tebu. Gula diperoleh dari mengunyah tebu itu, dan tebu dapat memberikan sekarung gula. Jangan gunakan manisan palsu. Carilah yang asli. Sukses adalah dari Janab - ul Haqq. Fatiha. Jangan biarkan tanah kosong tanpa tanaman. Taburkan benih, tanam pohon muda. Jangan biarkan tanah menjadi kosong. Ini adalah pendidikan dasar yang paling penting. Tanaman di pegunungan dan bebatuan sehingga menjadi hijau. Biarkan burung-burung dan serangga makan, memberi manfaat kepada orang-orang. Hari ini manusia terjatuh untuk hal-hal palsu. Tanam sesuatu. Setiap kali Anda menemukan tempat kosong maka tanam tanaman disana. Semua pohon akan memiliki manfaatnya. Fatiha.