Jakarta, 2 Desember 2008 / 4 Dzulhijah 1429
786, 165
Jika kita telah bertemu dengan seseorang dan orang tersebut telah memberikan makna dalam hidup kita, maka kita ingin selalu dekat dengannya.
Kala kedekatan yang telah terpelihara sekian lama kemudian berubah menjadi ketiadaan perjumpaan, maka rindu melanda hati.
Duh rindu....apatah obatnya?
Tetapi perpisahan memang selalu ada di balik pertemuan. Sebagai hamba yang lemah dan fakir, hanya satu pertemuan yang abadi: pertemuan dengan sang Pencipta, Allah SWt.
Tuhanku, jangan jauhkan hamba dariMu barang sedetikpun....... Aku rindu.......!
Roosdiana
Selasa, 02 Desember 2008
Jumat, 24 Oktober 2008
Perjalananku di naqsbandi (2)
Hari ini, 24 Oktober 2008 bertepatan dengan 24 Syawal 1429 H
Kondisi saya alhamdulillah dalam keadaan sehat. Dua hari lalu, saya mengalami kejadian yang menyentuh hati saya. Mungkin hal itu berkaitan dengan perjalanan saya dalam naqsbandi haqqani. Memasuki bulan Syawal, yang seharusnya merupakan peningkatan spiritual, saya justru mengalami pemunduran. Saya jarang dapat memenuhi awrad yang seharusnya saya lakukan tiap hari. Entahlah, pertarungan dalam diri melawan ego terus berlanjut semakin berat dan saya sering terkalahkan dalam wujud lalai. Majelis zikir jarang saya hadiri karena keterbatasan yang mungkin sebenarnya dapat dibebaskan. Saya terus menerus meriakkan "Jihad!" dalam hati, tapi terus juga menjadi lalai.
Nah, pagi itu, hari Rabu, 22 Oktober lalu, saya membaca milis muhibbun dan terbaca sohbet dariMaulana syeikh Hisyam. Temanya tentang "beri Aku hanya 20 menit, selanjutnya terserah kalian". Saya terhentak. Segera sadar untuk melakukan awrad. Saya tutup komputer dengan niat bulat sesegera mungkin melakukan awrad. Eh, entah bagaimana, saya malah menelpon Ibu saya dan ngobrol dengan beliau. Selesai ngobrol, waktu telah menunjukkan setengah sebelas. Jam sebelas saya harus menghadiri arisan dan halal bil halal dengan warga RT. Sedikit bimbang, akhirnya saya putuskan bersiap untuk arisan.
Tidak ada masalah dalam arisan. Tapi ketika arisan berakhir dan saya hendak berdiri untuk bersalaman dengan semua teman, tiba-tiba panggul saya terasa amat sakit. Hampir saya tak sanggup berdiri. Saya bahkan harus berjalan pulang dengan susah payah. Rasa sakit itu semakin kuat ketika tiba di rumah. Kesakitan yang amat sangat saya rasakan ketika hendak bergerak dari posisi berdiri ke duduk, dari duduk ke berdiri, ke berbaring, oooo sungguh saya merasa saya akan menjadi lumpuh. Saya amat menderita. Sepanjang sisa hari saya amat menderita. Ibu menasehati agar saya bertobat dan banyak berzikir. Deg! saya ingat kelakuan saya tadi pagi. Saya amat takut dan amat menyesal.
Segera saya bertobat dan melakukan semua awrad. Air mata saya berderai tak tertahankan. Allah ya Rabb, Ampuni hambamu yang lalai ini. Saya merasakan kenikmatan luar biasa saat berdzikir. Anehnya, dzikir panjang yang biasanya amat susah saya selesaikan karena tidak tahan mengantuk, dapat saya lakukan dengan mudah. Saya kemudian merasa ikhlas seikhlas-ikhlasnya dengan penyakit yang saya derita sebagai jalan yang diberikan Allah agar saya dapat mengingatNya dengan benar. Alhamdulillah sejak itu rasa sakit saya semakin berkurang dan esok harinya walau belum sembuh benar, saya dapat melakukan tugas saya mengajar. Dan hari ini saya merasa jauh lebih baik Alhamdulillah!
Kondisi saya alhamdulillah dalam keadaan sehat. Dua hari lalu, saya mengalami kejadian yang menyentuh hati saya. Mungkin hal itu berkaitan dengan perjalanan saya dalam naqsbandi haqqani. Memasuki bulan Syawal, yang seharusnya merupakan peningkatan spiritual, saya justru mengalami pemunduran. Saya jarang dapat memenuhi awrad yang seharusnya saya lakukan tiap hari. Entahlah, pertarungan dalam diri melawan ego terus berlanjut semakin berat dan saya sering terkalahkan dalam wujud lalai. Majelis zikir jarang saya hadiri karena keterbatasan yang mungkin sebenarnya dapat dibebaskan. Saya terus menerus meriakkan "Jihad!" dalam hati, tapi terus juga menjadi lalai.
Nah, pagi itu, hari Rabu, 22 Oktober lalu, saya membaca milis muhibbun dan terbaca sohbet dariMaulana syeikh Hisyam. Temanya tentang "beri Aku hanya 20 menit, selanjutnya terserah kalian". Saya terhentak. Segera sadar untuk melakukan awrad. Saya tutup komputer dengan niat bulat sesegera mungkin melakukan awrad. Eh, entah bagaimana, saya malah menelpon Ibu saya dan ngobrol dengan beliau. Selesai ngobrol, waktu telah menunjukkan setengah sebelas. Jam sebelas saya harus menghadiri arisan dan halal bil halal dengan warga RT. Sedikit bimbang, akhirnya saya putuskan bersiap untuk arisan.
Tidak ada masalah dalam arisan. Tapi ketika arisan berakhir dan saya hendak berdiri untuk bersalaman dengan semua teman, tiba-tiba panggul saya terasa amat sakit. Hampir saya tak sanggup berdiri. Saya bahkan harus berjalan pulang dengan susah payah. Rasa sakit itu semakin kuat ketika tiba di rumah. Kesakitan yang amat sangat saya rasakan ketika hendak bergerak dari posisi berdiri ke duduk, dari duduk ke berdiri, ke berbaring, oooo sungguh saya merasa saya akan menjadi lumpuh. Saya amat menderita. Sepanjang sisa hari saya amat menderita. Ibu menasehati agar saya bertobat dan banyak berzikir. Deg! saya ingat kelakuan saya tadi pagi. Saya amat takut dan amat menyesal.
Segera saya bertobat dan melakukan semua awrad. Air mata saya berderai tak tertahankan. Allah ya Rabb, Ampuni hambamu yang lalai ini. Saya merasakan kenikmatan luar biasa saat berdzikir. Anehnya, dzikir panjang yang biasanya amat susah saya selesaikan karena tidak tahan mengantuk, dapat saya lakukan dengan mudah. Saya kemudian merasa ikhlas seikhlas-ikhlasnya dengan penyakit yang saya derita sebagai jalan yang diberikan Allah agar saya dapat mengingatNya dengan benar. Alhamdulillah sejak itu rasa sakit saya semakin berkurang dan esok harinya walau belum sembuh benar, saya dapat melakukan tugas saya mengajar. Dan hari ini saya merasa jauh lebih baik Alhamdulillah!
Rabu, 13 Agustus 2008
Setitik ingatan dari nasehat Mawlana Syeikh Hisyam
Selasa malam, tanggal 12 Agustus 2008, saya menghadiri pertemuan dengan Mawlana syeikh Hisyam di rumah bapak Sunarto, Tomang.
Malam itu MSH baru pulang dari acara di Jogya yang tentunya melelahkan. Kehadiran saya di sana terutama karena ingin sekali mendapat kesempatan mencium tangan Maulana.
Saat Mawlana ke luar dari kamar setelah beberapa menit beristirahat, beliau mengurungkan keinginan untuk memenuhi undangan makan malam tuan rumah dan langsung berhadapan dengan jemaah untuk memberi nasihat. Setelah memberi salam dan mengucapkan ihda, kalimat yang pertama disampaikan adalah(cmiiw): "Adab. Islam itu adab".
Saya tidak dapat mencatat nasihat beliau karena ruangan kurang terang bagi mata saya yang mulai tua ini. Karena itu segera sesampainya di rumah, saya buat catatan ini mumpung masih ada sisa-sisa memori.
Pada intinya Mawlana berpesan agar kita berhati-hati dengan perilaku kita yang suka mengeritik orang lain, mengeluh tentang segala perbuatan orang lain, mengatakan keburukan orang lain. Semua itu sampah. Mulut kita bagaikan mesin yang mengumbar perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat. Entah siapa yang menciptakan mesin itu.(kita pastinya..pen).
Perilaku tersebut dapat menghilangkan pahala
Senin, 28 Juli 2008
Rapuhnya hati seorang ibu.
786, 165
Seorang ibu diharapkan mempunyai hati yang teguh, yang tenang bagaikan riak air di telaga. Kesabaran seorang ibu diharapkan seluas lautan, seluas langit yang tak bertepi. Tapi seorang ibu tetap seorang manusia biasa. Ada saat-saat tertentu hatinya dapat begitu rapuh, mudah meleleh, mencair seiring dengan air mata yang tertumpah dari pelupuk mata yang panas ke pipinya yang semakin tahun semakin mengeriput. Oh Allah, beri hamba hati yang kuat, hati yang tabah, yang tidak pernah menaruh harapan kepada anak-anakku. Hanya kepadaMu aku tumpahkan segala harap dan derita hatiku. Ajari hamba untuk tidak mengeluh kecuali kepadaMu. Jangan sampai hati ini menangis karena kecewa kepada anak-anakku. Oh Rabb, isi hati hamba hanya dengan cinta yang ikhlas, yang tak pernah mengharap balasan cinta dari anak-anakku. Hanya RidhoMu yang keharapkan, hanya cintaMU yang kudambakan.
Duuuuuhhh..... bagaimana caranya tetap diam dalam tangis, tetap tenang dalam kekecewaan dan tetap tersenyum dalam derita? Ya Rabb, pantaskah hamba menjadi seorang ibu?
Seorang ibu diharapkan mempunyai hati yang teguh, yang tenang bagaikan riak air di telaga. Kesabaran seorang ibu diharapkan seluas lautan, seluas langit yang tak bertepi. Tapi seorang ibu tetap seorang manusia biasa. Ada saat-saat tertentu hatinya dapat begitu rapuh, mudah meleleh, mencair seiring dengan air mata yang tertumpah dari pelupuk mata yang panas ke pipinya yang semakin tahun semakin mengeriput. Oh Allah, beri hamba hati yang kuat, hati yang tabah, yang tidak pernah menaruh harapan kepada anak-anakku. Hanya kepadaMu aku tumpahkan segala harap dan derita hatiku. Ajari hamba untuk tidak mengeluh kecuali kepadaMu. Jangan sampai hati ini menangis karena kecewa kepada anak-anakku. Oh Rabb, isi hati hamba hanya dengan cinta yang ikhlas, yang tak pernah mengharap balasan cinta dari anak-anakku. Hanya RidhoMu yang keharapkan, hanya cintaMU yang kudambakan.
Duuuuuhhh..... bagaimana caranya tetap diam dalam tangis, tetap tenang dalam kekecewaan dan tetap tersenyum dalam derita? Ya Rabb, pantaskah hamba menjadi seorang ibu?
Sabtu, 26 Juli 2008
Perjalananku di naqsbandi (1)
786; 165
Jika kutetapkan saja bahwa perjalananku di naqsbandi dimulai pada hari Kamis, 15 Mei 2008 yang bertepatan dengan 9 Jumadilawal 1429 H, maka sudah berjalan selama dua setengah bulan.
Aku sudah berusaha berkonsentrasi pada guruku Mawlana Syeikh Nazim dan meninggalkan ajaran guruku semula Syeikh Hidayat Muhammad Tashdiq. Semula aku tiada ingin menghilangkan ajaran guruku semula, karena manfaatnya sangat besar bagiku. Tapi kuputuskan untuk mengawali lagi perjalanananku mulai dari langkah pertama. Aku menginginkan totalitasku sebagai murid yang murni berjalan dalam barisan guruku.
Mungkin sudah menjadi jalanku bahwa pak Jay yang semula mendampingiku dalam awal perjalanan ini kemudian disibukkan dengan takdirnya, sehingga aku belajar untuk mandiri dalam melanjutkan perjalanan ini. Para pengikut tarekah naqsbandi haqqani bagaikan satu keluarga besar. Mereka keluargaku dalam perjalanan ini. Mereka berusaha menggandeng tanganku agar dapat mengikuti mereka. Namun bagiku perjalanan ini masih sangat berat. Perangkap setan (atau nafsuku?) seringkali tiada mampu kuhindari. Aku seringkali lalai. Aku terseok-seok mengikuti perjalanan saudara-saudaraku. Tak jarang aku merasa begitu fakir, begitu lemah dan merasa tak berdaya. Namun saudara-saudaraku selalu membesarkan hatiku. Mereka berusaha memberikan segala yang kubutuhkan sambil mengingatkan ajaran guru kami agar selalu bersyukur atas segala yang telah Allah limpahkan bagiku. Satu hal yang tak boleh kulupakan, yaitu adalah nikmat Allah yang begitu besar bagiku karena telah menempatkan diriku dalam barisan ini, jalan ini, tarekah ini.
Suatu hari airmata menggenangi mataku ketika dalam salah satu milis Islam yang kuikuti, seorang saudara muslimku menetapkan diriku ini sebagai ahli bid'ah karena menjalankan amalan bulan Rajab. Perasaanku berada antara sedih dan penuh syukur. Sedih karena sekarang bahkan saudaraku seiman menganggap ibadahku sebagai ahli bid'ah, mengingkari syariah, tidak mau mendengar walaupun sudah diberitahu bahwa jalanku salah. Hatiku bersyukur karena hatiku yang biasanya"keras" menjadi begitu lembut, bisa tersentuh hanya oleh sebuah tulisan di milis. Tulisan dari seorang saudara sesama muslim yang seharusnya saling mendukung dan saling mencintai. Benarkah jalanku salah? Benarkah aku mengingkari syariah? Bukankah jalan tarekah itu sebenarnya adalah menjalankan syariah dengan bersungguh-sungguh dan istiqomah? Ya Rabb, jangan tinggalkan hambaMu barang sekejap. Bimbinglah hamba selalu di jalanMu. Ya Mawlana, tolonglah saya!
Aku memang berusaha menjalankan amalan Rajab. Tapi dasar aku ini memang si lalai, hanya sebagian kecil yang dapat kujalankan. Hal ini tentu membuatku sangat sedih. Kesedihan yang disebabkan perasaan bersalah karena tak dapat mengabdi kepada Allah sebagaimana seharusnya. Aku menangis karena Allah. Luar biasa! Alhamdulillah. Ada perasaan sedih dan sekaligus ada rasa syukur. Keadaan hati seperti inilah yang mulai akrab dalam diriku. Perasaan ini menjadi jelas setiap kali aku menghadiri majelis dzikir. Hatiku mulai dapat larut dalam dzikir dan mulai belajar ikhlas menjalankan semua amalan pengabdian kepada Allah ini. Aku juga mulai merasakan keahdiran Mawlana dalam hatiku. Siapakah itu yang selalu "menyapaku" saat aku lalai?
Ya Allah, ya Rabb! Tolong hambaMu yang fakir ini! Ilahi, Anta Maqsudi wa Ridhaaka Mathlubi!
Jika kutetapkan saja bahwa perjalananku di naqsbandi dimulai pada hari Kamis, 15 Mei 2008 yang bertepatan dengan 9 Jumadilawal 1429 H, maka sudah berjalan selama dua setengah bulan.
Aku sudah berusaha berkonsentrasi pada guruku Mawlana Syeikh Nazim dan meninggalkan ajaran guruku semula Syeikh Hidayat Muhammad Tashdiq. Semula aku tiada ingin menghilangkan ajaran guruku semula, karena manfaatnya sangat besar bagiku. Tapi kuputuskan untuk mengawali lagi perjalanananku mulai dari langkah pertama. Aku menginginkan totalitasku sebagai murid yang murni berjalan dalam barisan guruku.
Mungkin sudah menjadi jalanku bahwa pak Jay yang semula mendampingiku dalam awal perjalanan ini kemudian disibukkan dengan takdirnya, sehingga aku belajar untuk mandiri dalam melanjutkan perjalanan ini. Para pengikut tarekah naqsbandi haqqani bagaikan satu keluarga besar. Mereka keluargaku dalam perjalanan ini. Mereka berusaha menggandeng tanganku agar dapat mengikuti mereka. Namun bagiku perjalanan ini masih sangat berat. Perangkap setan (atau nafsuku?) seringkali tiada mampu kuhindari. Aku seringkali lalai. Aku terseok-seok mengikuti perjalanan saudara-saudaraku. Tak jarang aku merasa begitu fakir, begitu lemah dan merasa tak berdaya. Namun saudara-saudaraku selalu membesarkan hatiku. Mereka berusaha memberikan segala yang kubutuhkan sambil mengingatkan ajaran guru kami agar selalu bersyukur atas segala yang telah Allah limpahkan bagiku. Satu hal yang tak boleh kulupakan, yaitu adalah nikmat Allah yang begitu besar bagiku karena telah menempatkan diriku dalam barisan ini, jalan ini, tarekah ini.
Suatu hari airmata menggenangi mataku ketika dalam salah satu milis Islam yang kuikuti, seorang saudara muslimku menetapkan diriku ini sebagai ahli bid'ah karena menjalankan amalan bulan Rajab. Perasaanku berada antara sedih dan penuh syukur. Sedih karena sekarang bahkan saudaraku seiman menganggap ibadahku sebagai ahli bid'ah, mengingkari syariah, tidak mau mendengar walaupun sudah diberitahu bahwa jalanku salah. Hatiku bersyukur karena hatiku yang biasanya"keras" menjadi begitu lembut, bisa tersentuh hanya oleh sebuah tulisan di milis. Tulisan dari seorang saudara sesama muslim yang seharusnya saling mendukung dan saling mencintai. Benarkah jalanku salah? Benarkah aku mengingkari syariah? Bukankah jalan tarekah itu sebenarnya adalah menjalankan syariah dengan bersungguh-sungguh dan istiqomah? Ya Rabb, jangan tinggalkan hambaMu barang sekejap. Bimbinglah hamba selalu di jalanMu. Ya Mawlana, tolonglah saya!
Aku memang berusaha menjalankan amalan Rajab. Tapi dasar aku ini memang si lalai, hanya sebagian kecil yang dapat kujalankan. Hal ini tentu membuatku sangat sedih. Kesedihan yang disebabkan perasaan bersalah karena tak dapat mengabdi kepada Allah sebagaimana seharusnya. Aku menangis karena Allah. Luar biasa! Alhamdulillah. Ada perasaan sedih dan sekaligus ada rasa syukur. Keadaan hati seperti inilah yang mulai akrab dalam diriku. Perasaan ini menjadi jelas setiap kali aku menghadiri majelis dzikir. Hatiku mulai dapat larut dalam dzikir dan mulai belajar ikhlas menjalankan semua amalan pengabdian kepada Allah ini. Aku juga mulai merasakan keahdiran Mawlana dalam hatiku. Siapakah itu yang selalu "menyapaku" saat aku lalai?
Ya Allah, ya Rabb! Tolong hambaMu yang fakir ini! Ilahi, Anta Maqsudi wa Ridhaaka Mathlubi!
Senin, 21 Juli 2008
Realitas bay'at
25 May 2008
Realitas Bay'at
Shuhba Mawlana Syekh Hisyam Kabbani QSJakarta, 7 Juli 2003
A`ûdzu billâhi min asy-syaythân ir-rajîm Bismillâh ir-rahmân ir-rahîmNawaytul arbâ`în, nawaytul `itikâf, nawaytul khalwat, nawaytulriyâdha, nawaytus sulûk, nawaytul `uzla fî hâdza al-masjid.
“`Ati-Allâha wa ati`ur-Rasûla wa ulil-amri minkum” “Hai orang-orang yang beriman! Taati Allâh SWT, dan taati Rasul, dan mereka yang diberi kewenangan di antara kamu.” [ QS 4:59]
Dan taat kepada Nabi Muhammad SAW berarti taat kepada Allâh SWT. Allâh SWT berfirman, “Man yut`i ar-rasûl faqad ata` Allâh.” “Dia yang taat kepada Rasul, berarti taat kepada Allâh SWT” [QS 4:80]. “Ay wada` ar-rasûl mumathilan `anhu. yumathil rabbil `alamîn.” Dia berfirman, “Barangsiapa taat kepada Nabi SAW, sungguh taat kepada Allâh SAW.” Itu artinya Allâh SWT meletakkan Nabi SAW mewakili Diri-Nya di Tempat-Nya. Itu berarti bahwa tiada jalan untuk mendapat ketaatan kepada Allâh SWT tanpa ketaatan kepada Nabi SAW. Itu artinya bahwa tiada pintu kepada Allâh SWT tanpa pintu kepada Nabi SAW. Itu artinya tiada jalan untuk memasuki Surga tanpa Nabi SAW. Itu artinya bahwa tiada jalan menjadi Muslim tanpa mengatakan ‘Muhammadur-Rasûlullâh.’ Meskipun sekiranya kalian mengatakan ‘lâ ilâha ill-Allâh’ jutaan kali, tiada jalan menjadi Muslim tanpa menyebut ‘Muhammadur- Rasûlullâh.’
Maka Kebesaran apakah yang Dia berikan kepada Nabi Muhammad SAW?
Busana apa yang Dia pakaikan kepada Nabi SAW dari asma ‘ul-husna Allâh SWT, tak seorang pun yang tahu. Jika seorang raja memiliki seorang putra, yang juga seorang putra mahkota, apa yang ia perbuat untuk anaknya itu? Jika sang raja mau pergi ke tempat lain, anaknya itu yang mewakilinya (menjalankan tugas sehari-hari?). Dan sang raja tidak akan bahagia jika anaknya hanya berpakaian yang biasa-biasa saja, tetapi ia akan mendadaninya dengan busana yang dihiasi dengan tanda-tanda kebesaran dan dengan berbagai medali di dadanya untuk membuatnya nampak sangat berbeda (anggun). Sehingga ketika Sang Putra Mahkota menampakkan dirinya (ke publik), wow semua orang merasakan hormat dan kemuliaan kepada Sang Putra Mahkota.
Ini adalah (apa yang dilakukan) raja bagi anaknya, seorang manusia. Apapun yang diberikan raja kepada anaknya, suatu hari akan habis. Apakah ayahnya itu akan meninggal atau anaknya yang mungkin meninggal dan semua itu menjadi hilang. Tetapi apa yang Allâh SWT al-Hayyu, berikan kepada Nabi SAW tidak akan mati. Apa yang Allâh SWT berikan kepada Sayyidina Muhammad SAW adalah tetap hidup (abadi). Dia berfirman, “Inna alladzîna yubây`ûnaka innamâ yuba`yûnallâh–-“Sesungguhnya mereka yang ber-bay’at kepadamu (Muhammad SAW), ber-bay’at kepada Allâh SWT. ‘Tangan’ Allâh SWT berada di atas tangan mereka.” [QS 48:10].
Qâla man yubâ'yaaka Yâ Muhammad, faqad bayâ`nî. Dia berfirman, “Barangsiapa memberimu ber-bay’at ya Muhammad SAW, (berarti) membuat ber-bay’at kepada-Ku.” Itu artinya ketika para Sahabat membuat bay’at kepada Nabi Muhammad SAW, berarti Nabi SAW hilang ke dalam Hadirat Ilahi. Hanya Allâh SWT yang berada di situ.
Indamâ qâla inna alladzîna yubâ`ûnaka. [Ketika Dia berfirman, “Barangsiapa memberimu bay`at…”] Dia membuat sebuah konfirmasi tentang sesuatu. Itu adalah sebuah konfirmasi yang berarti itu harus ditunjukkan kepada orang itu. Jika mereka membuat suatu konfirmasi, mereka harus menunjukkan suatu bukti nyata (jelas, lengkap), seperti ketika mereka membuat percobaan di laboratorium sains. Mereka harus membuat bukti lengkap apa yang telah dilakukan Allâh SWT.
Fa Hûwa yaqûl, inna alladzîna yubâ`ûnaka... melihat dengan bukti, bukan hanya dari kata-kata, tetapi dengan melihat haqîqat, kebenaran. Mereka yang memberimu bay’at, mereka memberikannya kepada Allâh SWT. Itu artinya pada saat itu, ketika para Sahabat meletakkan tangan mereka bersama Nabi SAW, mereka berada dalam Hadirat Ilahi, beliau membawa mereka kepada Hadirat Ilahi, al-hadharat al-ilahiyya. Mereka berada di sana. Para Sahabat tidak lagi melihat apa-apa, tetapi mereka berada dalam al-hadharat al-ilahiyya, mereka berada dalam hadirat Ilahi Allâh SWT. Di dunia, jika kalian berada di hadapan seorang raja, kalian tidak lagi melihat diri kalian. Wow, kalian bilang, ini adalah raja. Di Indonesia, ada seorang raja pada suatu waktu. Dua ratus juta manusia di bawah raja itu. Apalah artinya kalian ini jika dibandingkan dengan 200 juta itu? Bukan apa-apa. Lalu apa yang kalian pikir ketika kalian berada di dalam Hadirat Raja Di Raja yang Hidup Abadi, yang menciptakan para raja?
Dia yang menciptakan mereka dan membuat mereka memerlukan makan dan minum. Itu artinya mereka juga memerlukan pergi ke kamar kecil. Dengan itu semua Dia membuat para Sahabat sampai di Hadirat Ilahi. Ketika mereka sampai di sana, mereka langsung mencapai maqam al-fana'. Fanâ'un fillâh fana'un fir-rasûl, shalla-Allâhu alayhi wa sallam. Mereka tidak lagi melihat diri mereka, mereka hanya melihat Allâh SWT melalui mata Nabi SAW. Itulah mengapa ketaatan mereka kepada Nabi SAW adalah 100%. Mereka patuh kepada Nabi SAW 100%. Ketika mereka meletakkan tangan mereka dengan Nabi SAW untuk bay’at, segera setelah tangan mereka menyentuh tubuh sucinya, para Sahabat (serta-merta) berada di Hadirat Ilahi. Untuk alasan ini, bila kita memberi bay’at kepada seorang wali, serta-merta ketika kita menyentuh tangannya, ia meletakkan kita di Hadirat Nabi SAW.
Itulah sebabnya ketika kita memberi bay’at, kita mengatakan ‘Allâhu Allâhu Allâhu Haqq.’ wali itu meletakkan kalian di hadirat Nabi SAW dan Nabi SAW meletakkan kalian di Hadirat Allâh SWT, meletakkan kalian di Hadirat Ilahi untuk membakar habis kalian, untuk membakar habis ego kalian, sehingga kalian tidak lagi memiliki keinginan kecuali yang diinginkan Allâh SWT atas diri kalian.
Ketika kita membaca Sûrat al-Ikhlâsh, kita mengatakan ‘qul Hû Allâhu âhad.’ [katakan:] qul ya Muhammad. Hû al-ghayb ul-mutlaq alladzii lâ yurâ. Hû. Katakan Hû yang tak dapat dilihat, Dia yang tak dapat dikenali, Dia yang tak dapat dimengerti, Dialah Allâh SWT. Dia yang tak dapat dimengerti, Dia yang tak dapat dilkenali, Dia yang tak dapat dilihat. Yang Satu itu adalah Allâh SWT.
Jadi ketika kita mengatakan ‘Allâh Hû’, kita menyebutkannya dengan cara yang bertentangan (berlawanan) ketika kita menyebutkannya dalam Surat al-Ikhlâsh (kita mengatakan Hû Allâh). Yang Satu, yang tak dapat dilihat adalah Allâh SWT. Kita tahu Allâh SWT tetapi kita tidak tahu Hû. Allâh SWT tahu tentang Hû. Itulah sebabnya Dia meletakkan Hû di awal (dalam Surat al-Ikhlash). Dia meletakkan Hû di depan kata Allâh. Hû mewakili Dzâtullâh, Sang Inti. Allâh mewakili asma. Di situ ada Sang Pencipta yang tidak diketahui oleh siapapun, satu yang disebut oleh Allâh SWT sebagai Hû. Ketika kita melakukan bay’at, (kepada) Satu yang kita tahu dengan nama Allâh SWT adalah Hû. Begitulah kiranya mereka menelusuri jejak kembali, mereka membawa kita kembali, awliyâ-ullâh kepada Hadirat Ilahi, Hû.
Jadi ketika kita mengatakan Allâh Hû mereka membawa kita kepada Hadirat Ilahi. Dan ketika kalian mengatakan Haqq, itu artinya kalian mengkonfirmasi bahwa sesungguhnya roh kalian dapat melihat, namun diri kalian tidak dapat melihatnya. Dan apa yang kalian lihat hanyalah Busana (attribut, sifat-sifat) Allâh SWT, Dia mendadani kalian, tanpa mengetahui Sang Inti, tidak satu pun dapat mengetahui Sang Pencipta.
Dan itu semua dilakukan, melalui Inna alladzîna yubây`ûnaka innamâ yuba`yûnallâh. Janganlah berpikir ada jalan untuk mencapai Allâh SWT tanpa melalui Nabi SAW. Dia adalah khalifatullâh fil ardh. Bukan hanya di dunia ini saja, tetapi di seluruh penjuru alam semesta ini. Apapun yang diciptakan Allâh SWT, Muhammadur Rasûlullâh adalah khalifah. Dia adalah wakil Allâh SWT untuk semua makhluk. Itulah mengapa beliau mengatakan, “Âdam wa man dûnahu taht liwayî yawma al-qiyâm” – “mereka berada di bawah panji-panjiku, mereka harus mendatangiku untuk membawa mereka ke Surga.” Beliau mengatakan, Anâ sayyida waladzi âdama wa lâ fakhr.—“Aku adalah majikan bani Adam AS dan aku tidaklah berbangga.” Apa pula ini, “Anâ sayyida waladzi âdama?” Dan Allâh SWT berfirman, Wa laqad karamnâ banî âdam. – “Kami telah memuliakan bani Adam AS” [QS 17:70].
Dan Allâh SWT berfirman, Alam taraw ann Allâha sakhara lakum mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardh.—“Tidakkah engkau lihat bahwa Allâh SWT telah menaklukkan kepadamu segala sesuatu di langit dan di bumi …?” [QS 31:20]. Itu berarti bagi bani Adam AS, segala sesuatu di langit dan di bumi adalah di bawah mereka. Maka itu berarti, karena Nabi SAW adalah majikan bani Adam AS, dan semua berada di bawah mereka ini (bani Adam AS), maka itu berarti bahwa tidak ada satu pun dapat berada di atas Nabi SAW.
Ada malaikat yang berada di bawah perintah Nabi SAW. Ketika kalian mengambil bay’at dari seorang mursyid, mursyid yang haqîqî, mursyid sungguhan, para malaikat tadi menjadi saksi dan mereka membuat awrâd (dzikir) untuk kepentingan kalian sampai dengan Hari Pengadilan. Ketika kalian memutuskan untuk mengambil bay`at dari mursyid sejati itu, dan tidak dari seorang yang pura-pura menjadi mursyid dan bukan pula seorang yang dianggap orang sebagai mursyid. Mursyid sejati ini jarang, di dunia ini hanya terdapat 124.000 awliyâ-ullâh, hanya itu saja. Jika kalian menemui seorang mursyid haqiqi, ketika kalian memutuskan untuk mengambil bay`at darinya, pada saat itu, para malaikat (sejumlah yang bilangannya tidak dapat kalian bayangkan) itu dianugerahkan kepada kalian untuk melayani kalian. Bagaimana caranya melayani kalian? Apakah kalian berpikir ketika kalian menerima bay`at, kalian datang dengan baju kotor seperti itu dan tubuh kotor dan hati kotor, dalam hadirat Nabi SAW?
Serta merta para malaikat itu akan merubah penampilan kalian sepenuhnya seperti pada saat (kalian ditanya di alam roh) “Alastu bi-rabbikum” dalam menerima bay`at dengan Syekh; dan Syekh membawa kalian ke hadirat Nabi SAW; dan Nabi SAW membawa kalian ke dalam Hadirat Allâh SWT.
Jika kalian hendak menemui seseorang, kalian akan mandi sehingga tidak bau. Apakah kalian berpikir ketika orang-orang berdatangan dengan berlari untuk mengambil bay`at, dengan tubuh yang tidak dibersihkan dan baju kotor adalah cara yang benar untuk mengambil bay`at? Tidak. Haa! Segera setelah kalian mengucapkan, “Aku mau di-bay`at” bahkan dalam baju kotor dan hati kotor, segera setelah kalian datang ke situ, para malaikat itu, dengan sentuhan mereka, mereka menyiram kalian dengan busana dan dandanan cantik ini; dan pada saat itu kalian kelihatan seperti seorang yang lain, seperti manusia berpenampilan malaikat yang memakai baju surgawi; duduk bersama mursyid itu. Mursyid itu juga merubah penampilannya, kepada gambaran spiritualnya, sebagaimana ia terlihat di hadapan para awliyâ dan Nabi SAW, dan membawa kalian bersama segenap para malaikat tadi dalam busana yang telah mereka berikan kepada kalian, sebagaimana dikatakan dalam hadis, “mâ jalasa qawman yadhkurûnallâh illa hafathum al-mala'ika wa gashîyahum ar-rahmat wa dzakarahumullâha fî man `indah.”—“Tiada akan sekelompok orang yang duduk, yang mengingat dan menyebut Allâh SWT, kecuali para malaikat akan mengelilingi mereka, dan mereka akan diselimuti rahmat dan Allâh SWT akan mengingat mereka di antara mereka yang berada dalam Hadirat-Nya.”
Bay`at seperti itu merubah kalian. Sehingga kalian menjadi seorang manusia tetapi memiliki kuasa malaikat surgawi-–jadi ketika kalian berbaju kuasa malaikat ini, ketika kalian memasuki Hadirat Ilahi kalian tidak pingsan, kalian tidak menghilang. Karena kalian menjadi sebuah cahaya, dan sebuah sumber cahaya.
Apa yang berada dalam hati awliyâ, kami tidak dapat mengatakan semuanya. Mereka tidak mengizinkan kami mengatakan semuanya, bila tidak kalian akan tenggelam. Namun ada sebuah berita gembira bagi kita semua, bahwa dengan berkah guru mursyid kita Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani QS, kita berada dalam kategori (golongan) itu.
Realitas Bay'at
Shuhba Mawlana Syekh Hisyam Kabbani QSJakarta, 7 Juli 2003
A`ûdzu billâhi min asy-syaythân ir-rajîm Bismillâh ir-rahmân ir-rahîmNawaytul arbâ`în, nawaytul `itikâf, nawaytul khalwat, nawaytulriyâdha, nawaytus sulûk, nawaytul `uzla fî hâdza al-masjid.
“`Ati-Allâha wa ati`ur-Rasûla wa ulil-amri minkum” “Hai orang-orang yang beriman! Taati Allâh SWT, dan taati Rasul, dan mereka yang diberi kewenangan di antara kamu.” [ QS 4:59]
Dan taat kepada Nabi Muhammad SAW berarti taat kepada Allâh SWT. Allâh SWT berfirman, “Man yut`i ar-rasûl faqad ata` Allâh.” “Dia yang taat kepada Rasul, berarti taat kepada Allâh SWT” [QS 4:80]. “Ay wada` ar-rasûl mumathilan `anhu. yumathil rabbil `alamîn.” Dia berfirman, “Barangsiapa taat kepada Nabi SAW, sungguh taat kepada Allâh SAW.” Itu artinya Allâh SWT meletakkan Nabi SAW mewakili Diri-Nya di Tempat-Nya. Itu berarti bahwa tiada jalan untuk mendapat ketaatan kepada Allâh SWT tanpa ketaatan kepada Nabi SAW. Itu artinya bahwa tiada pintu kepada Allâh SWT tanpa pintu kepada Nabi SAW. Itu artinya tiada jalan untuk memasuki Surga tanpa Nabi SAW. Itu artinya bahwa tiada jalan menjadi Muslim tanpa mengatakan ‘Muhammadur-Rasûlullâh.’ Meskipun sekiranya kalian mengatakan ‘lâ ilâha ill-Allâh’ jutaan kali, tiada jalan menjadi Muslim tanpa menyebut ‘Muhammadur- Rasûlullâh.’
Maka Kebesaran apakah yang Dia berikan kepada Nabi Muhammad SAW?
Busana apa yang Dia pakaikan kepada Nabi SAW dari asma ‘ul-husna Allâh SWT, tak seorang pun yang tahu. Jika seorang raja memiliki seorang putra, yang juga seorang putra mahkota, apa yang ia perbuat untuk anaknya itu? Jika sang raja mau pergi ke tempat lain, anaknya itu yang mewakilinya (menjalankan tugas sehari-hari?). Dan sang raja tidak akan bahagia jika anaknya hanya berpakaian yang biasa-biasa saja, tetapi ia akan mendadaninya dengan busana yang dihiasi dengan tanda-tanda kebesaran dan dengan berbagai medali di dadanya untuk membuatnya nampak sangat berbeda (anggun). Sehingga ketika Sang Putra Mahkota menampakkan dirinya (ke publik), wow semua orang merasakan hormat dan kemuliaan kepada Sang Putra Mahkota.
Ini adalah (apa yang dilakukan) raja bagi anaknya, seorang manusia. Apapun yang diberikan raja kepada anaknya, suatu hari akan habis. Apakah ayahnya itu akan meninggal atau anaknya yang mungkin meninggal dan semua itu menjadi hilang. Tetapi apa yang Allâh SWT al-Hayyu, berikan kepada Nabi SAW tidak akan mati. Apa yang Allâh SWT berikan kepada Sayyidina Muhammad SAW adalah tetap hidup (abadi). Dia berfirman, “Inna alladzîna yubây`ûnaka innamâ yuba`yûnallâh–-“Sesungguhnya mereka yang ber-bay’at kepadamu (Muhammad SAW), ber-bay’at kepada Allâh SWT. ‘Tangan’ Allâh SWT berada di atas tangan mereka.” [QS 48:10].
Qâla man yubâ'yaaka Yâ Muhammad, faqad bayâ`nî. Dia berfirman, “Barangsiapa memberimu ber-bay’at ya Muhammad SAW, (berarti) membuat ber-bay’at kepada-Ku.” Itu artinya ketika para Sahabat membuat bay’at kepada Nabi Muhammad SAW, berarti Nabi SAW hilang ke dalam Hadirat Ilahi. Hanya Allâh SWT yang berada di situ.
Indamâ qâla inna alladzîna yubâ`ûnaka. [Ketika Dia berfirman, “Barangsiapa memberimu bay`at…”] Dia membuat sebuah konfirmasi tentang sesuatu. Itu adalah sebuah konfirmasi yang berarti itu harus ditunjukkan kepada orang itu. Jika mereka membuat suatu konfirmasi, mereka harus menunjukkan suatu bukti nyata (jelas, lengkap), seperti ketika mereka membuat percobaan di laboratorium sains. Mereka harus membuat bukti lengkap apa yang telah dilakukan Allâh SWT.
Fa Hûwa yaqûl, inna alladzîna yubâ`ûnaka... melihat dengan bukti, bukan hanya dari kata-kata, tetapi dengan melihat haqîqat, kebenaran. Mereka yang memberimu bay’at, mereka memberikannya kepada Allâh SWT. Itu artinya pada saat itu, ketika para Sahabat meletakkan tangan mereka bersama Nabi SAW, mereka berada dalam Hadirat Ilahi, beliau membawa mereka kepada Hadirat Ilahi, al-hadharat al-ilahiyya. Mereka berada di sana. Para Sahabat tidak lagi melihat apa-apa, tetapi mereka berada dalam al-hadharat al-ilahiyya, mereka berada dalam hadirat Ilahi Allâh SWT. Di dunia, jika kalian berada di hadapan seorang raja, kalian tidak lagi melihat diri kalian. Wow, kalian bilang, ini adalah raja. Di Indonesia, ada seorang raja pada suatu waktu. Dua ratus juta manusia di bawah raja itu. Apalah artinya kalian ini jika dibandingkan dengan 200 juta itu? Bukan apa-apa. Lalu apa yang kalian pikir ketika kalian berada di dalam Hadirat Raja Di Raja yang Hidup Abadi, yang menciptakan para raja?
Dia yang menciptakan mereka dan membuat mereka memerlukan makan dan minum. Itu artinya mereka juga memerlukan pergi ke kamar kecil. Dengan itu semua Dia membuat para Sahabat sampai di Hadirat Ilahi. Ketika mereka sampai di sana, mereka langsung mencapai maqam al-fana'. Fanâ'un fillâh fana'un fir-rasûl, shalla-Allâhu alayhi wa sallam. Mereka tidak lagi melihat diri mereka, mereka hanya melihat Allâh SWT melalui mata Nabi SAW. Itulah mengapa ketaatan mereka kepada Nabi SAW adalah 100%. Mereka patuh kepada Nabi SAW 100%. Ketika mereka meletakkan tangan mereka dengan Nabi SAW untuk bay’at, segera setelah tangan mereka menyentuh tubuh sucinya, para Sahabat (serta-merta) berada di Hadirat Ilahi. Untuk alasan ini, bila kita memberi bay’at kepada seorang wali, serta-merta ketika kita menyentuh tangannya, ia meletakkan kita di Hadirat Nabi SAW.
Itulah sebabnya ketika kita memberi bay’at, kita mengatakan ‘Allâhu Allâhu Allâhu Haqq.’ wali itu meletakkan kalian di hadirat Nabi SAW dan Nabi SAW meletakkan kalian di Hadirat Allâh SWT, meletakkan kalian di Hadirat Ilahi untuk membakar habis kalian, untuk membakar habis ego kalian, sehingga kalian tidak lagi memiliki keinginan kecuali yang diinginkan Allâh SWT atas diri kalian.
Ketika kita membaca Sûrat al-Ikhlâsh, kita mengatakan ‘qul Hû Allâhu âhad.’ [katakan:] qul ya Muhammad. Hû al-ghayb ul-mutlaq alladzii lâ yurâ. Hû. Katakan Hû yang tak dapat dilihat, Dia yang tak dapat dikenali, Dia yang tak dapat dimengerti, Dialah Allâh SWT. Dia yang tak dapat dimengerti, Dia yang tak dapat dilkenali, Dia yang tak dapat dilihat. Yang Satu itu adalah Allâh SWT.
Jadi ketika kita mengatakan ‘Allâh Hû’, kita menyebutkannya dengan cara yang bertentangan (berlawanan) ketika kita menyebutkannya dalam Surat al-Ikhlâsh (kita mengatakan Hû Allâh). Yang Satu, yang tak dapat dilihat adalah Allâh SWT. Kita tahu Allâh SWT tetapi kita tidak tahu Hû. Allâh SWT tahu tentang Hû. Itulah sebabnya Dia meletakkan Hû di awal (dalam Surat al-Ikhlash). Dia meletakkan Hû di depan kata Allâh. Hû mewakili Dzâtullâh, Sang Inti. Allâh mewakili asma. Di situ ada Sang Pencipta yang tidak diketahui oleh siapapun, satu yang disebut oleh Allâh SWT sebagai Hû. Ketika kita melakukan bay’at, (kepada) Satu yang kita tahu dengan nama Allâh SWT adalah Hû. Begitulah kiranya mereka menelusuri jejak kembali, mereka membawa kita kembali, awliyâ-ullâh kepada Hadirat Ilahi, Hû.
Jadi ketika kita mengatakan Allâh Hû mereka membawa kita kepada Hadirat Ilahi. Dan ketika kalian mengatakan Haqq, itu artinya kalian mengkonfirmasi bahwa sesungguhnya roh kalian dapat melihat, namun diri kalian tidak dapat melihatnya. Dan apa yang kalian lihat hanyalah Busana (attribut, sifat-sifat) Allâh SWT, Dia mendadani kalian, tanpa mengetahui Sang Inti, tidak satu pun dapat mengetahui Sang Pencipta.
Dan itu semua dilakukan, melalui Inna alladzîna yubây`ûnaka innamâ yuba`yûnallâh. Janganlah berpikir ada jalan untuk mencapai Allâh SWT tanpa melalui Nabi SAW. Dia adalah khalifatullâh fil ardh. Bukan hanya di dunia ini saja, tetapi di seluruh penjuru alam semesta ini. Apapun yang diciptakan Allâh SWT, Muhammadur Rasûlullâh adalah khalifah. Dia adalah wakil Allâh SWT untuk semua makhluk. Itulah mengapa beliau mengatakan, “Âdam wa man dûnahu taht liwayî yawma al-qiyâm” – “mereka berada di bawah panji-panjiku, mereka harus mendatangiku untuk membawa mereka ke Surga.” Beliau mengatakan, Anâ sayyida waladzi âdama wa lâ fakhr.—“Aku adalah majikan bani Adam AS dan aku tidaklah berbangga.” Apa pula ini, “Anâ sayyida waladzi âdama?” Dan Allâh SWT berfirman, Wa laqad karamnâ banî âdam. – “Kami telah memuliakan bani Adam AS” [QS 17:70].
Dan Allâh SWT berfirman, Alam taraw ann Allâha sakhara lakum mâ fis-samâwâti wa mâ fil-ardh.—“Tidakkah engkau lihat bahwa Allâh SWT telah menaklukkan kepadamu segala sesuatu di langit dan di bumi …?” [QS 31:20]. Itu berarti bagi bani Adam AS, segala sesuatu di langit dan di bumi adalah di bawah mereka. Maka itu berarti, karena Nabi SAW adalah majikan bani Adam AS, dan semua berada di bawah mereka ini (bani Adam AS), maka itu berarti bahwa tidak ada satu pun dapat berada di atas Nabi SAW.
Ada malaikat yang berada di bawah perintah Nabi SAW. Ketika kalian mengambil bay’at dari seorang mursyid, mursyid yang haqîqî, mursyid sungguhan, para malaikat tadi menjadi saksi dan mereka membuat awrâd (dzikir) untuk kepentingan kalian sampai dengan Hari Pengadilan. Ketika kalian memutuskan untuk mengambil bay`at dari mursyid sejati itu, dan tidak dari seorang yang pura-pura menjadi mursyid dan bukan pula seorang yang dianggap orang sebagai mursyid. Mursyid sejati ini jarang, di dunia ini hanya terdapat 124.000 awliyâ-ullâh, hanya itu saja. Jika kalian menemui seorang mursyid haqiqi, ketika kalian memutuskan untuk mengambil bay`at darinya, pada saat itu, para malaikat (sejumlah yang bilangannya tidak dapat kalian bayangkan) itu dianugerahkan kepada kalian untuk melayani kalian. Bagaimana caranya melayani kalian? Apakah kalian berpikir ketika kalian menerima bay`at, kalian datang dengan baju kotor seperti itu dan tubuh kotor dan hati kotor, dalam hadirat Nabi SAW?
Serta merta para malaikat itu akan merubah penampilan kalian sepenuhnya seperti pada saat (kalian ditanya di alam roh) “Alastu bi-rabbikum” dalam menerima bay`at dengan Syekh; dan Syekh membawa kalian ke hadirat Nabi SAW; dan Nabi SAW membawa kalian ke dalam Hadirat Allâh SWT.
Jika kalian hendak menemui seseorang, kalian akan mandi sehingga tidak bau. Apakah kalian berpikir ketika orang-orang berdatangan dengan berlari untuk mengambil bay`at, dengan tubuh yang tidak dibersihkan dan baju kotor adalah cara yang benar untuk mengambil bay`at? Tidak. Haa! Segera setelah kalian mengucapkan, “Aku mau di-bay`at” bahkan dalam baju kotor dan hati kotor, segera setelah kalian datang ke situ, para malaikat itu, dengan sentuhan mereka, mereka menyiram kalian dengan busana dan dandanan cantik ini; dan pada saat itu kalian kelihatan seperti seorang yang lain, seperti manusia berpenampilan malaikat yang memakai baju surgawi; duduk bersama mursyid itu. Mursyid itu juga merubah penampilannya, kepada gambaran spiritualnya, sebagaimana ia terlihat di hadapan para awliyâ dan Nabi SAW, dan membawa kalian bersama segenap para malaikat tadi dalam busana yang telah mereka berikan kepada kalian, sebagaimana dikatakan dalam hadis, “mâ jalasa qawman yadhkurûnallâh illa hafathum al-mala'ika wa gashîyahum ar-rahmat wa dzakarahumullâha fî man `indah.”—“Tiada akan sekelompok orang yang duduk, yang mengingat dan menyebut Allâh SWT, kecuali para malaikat akan mengelilingi mereka, dan mereka akan diselimuti rahmat dan Allâh SWT akan mengingat mereka di antara mereka yang berada dalam Hadirat-Nya.”
Bay`at seperti itu merubah kalian. Sehingga kalian menjadi seorang manusia tetapi memiliki kuasa malaikat surgawi-–jadi ketika kalian berbaju kuasa malaikat ini, ketika kalian memasuki Hadirat Ilahi kalian tidak pingsan, kalian tidak menghilang. Karena kalian menjadi sebuah cahaya, dan sebuah sumber cahaya.
Apa yang berada dalam hati awliyâ, kami tidak dapat mengatakan semuanya. Mereka tidak mengizinkan kami mengatakan semuanya, bila tidak kalian akan tenggelam. Namun ada sebuah berita gembira bagi kita semua, bahwa dengan berkah guru mursyid kita Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani QS, kita berada dalam kategori (golongan) itu.
Rabu, 09 Juli 2008
Bisnis Indonesia: ayahandaku in memoriam (4)
16/12/2005 22:38 WIB
Jumat, 16/12/2005 16:23 WIBAbdullah Ali in memoriem 4, soal kepemilikan asing oleh : Djony Edward
JAKARTA (Bisnis): Sosok bankir senior Abdullah Ali selain tekun menangani Bank Central Asia, juga memiliki perhatian yang besar terhadap masa depan perbankan nasional, paling tidak dalam tataran pemikiran.
Sejak tahun 1990-an dia bersuara nyaring soal perlunya konsolidasi perbankan nasional guna menghadapi persaingan global.
Dia berpendapat perbankan nasional akan sulit bersaing menghadapi arus bank- bank asing yang akan menyerbu Indonesia dalam era globalisasi, jika tidak segera mengadakan pembenahan, terutama pembenahan strategi jangka panjang. Perbankan nasional juga akan kalah bersaing jika hanya tetap berorientasi menggenjot laba demi memuaskan para pemegang saham.
"Kita tidak bisa membiarkan perbankan Indonesia dikuasai perbankan asing. Kita telah bersusah payah mengambil alih bank-bank Belanda pada tahun 1959, tidak seharusnya sejarah kolonial terulang kembali, baik dalam bidang politik maupun bidang ekonomi," demikian ditegaskan Abdullah Ali ketika itu.
Menurut Ali, selain tidak siapnya perbankan nasional menghadapi perbankan asing, masalah lain yang sangat mengkhawatirkan adalah masih banyaknya orang-orang yang bersedia digunakan namanya sebagai stoorman atau bagi akumulasi suara untuk kepentingan pihak asing. Dengan banyaknya stoorman ini, sangat besar kemungkinan saham perbankan nasional yang tercatat di pasar modal dikuasai orang asing.
Ketika berbicara dengan DPR, dia pernah mempermasalahkan penjualan saham-saham perbankan kepada pihak asing. Sebab, perbankan mempunyai kedudukan sangat strategis bagi perekonomian bangsa.
"Harus dijaga jangan sampai tingkat pemilikan saham perbankan oleh pihak asing akan berkembang ke arah yang bisa mempengaruhi kebebasan pemerintah dalam mengatur ekonomi moneter". tuturnya. [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika
Jumat, 16/12/2005 16:23 WIBAbdullah Ali in memoriem 4, soal kepemilikan asing oleh : Djony Edward
JAKARTA (Bisnis): Sosok bankir senior Abdullah Ali selain tekun menangani Bank Central Asia, juga memiliki perhatian yang besar terhadap masa depan perbankan nasional, paling tidak dalam tataran pemikiran.
Sejak tahun 1990-an dia bersuara nyaring soal perlunya konsolidasi perbankan nasional guna menghadapi persaingan global.
Dia berpendapat perbankan nasional akan sulit bersaing menghadapi arus bank- bank asing yang akan menyerbu Indonesia dalam era globalisasi, jika tidak segera mengadakan pembenahan, terutama pembenahan strategi jangka panjang. Perbankan nasional juga akan kalah bersaing jika hanya tetap berorientasi menggenjot laba demi memuaskan para pemegang saham.
"Kita tidak bisa membiarkan perbankan Indonesia dikuasai perbankan asing. Kita telah bersusah payah mengambil alih bank-bank Belanda pada tahun 1959, tidak seharusnya sejarah kolonial terulang kembali, baik dalam bidang politik maupun bidang ekonomi," demikian ditegaskan Abdullah Ali ketika itu.
Menurut Ali, selain tidak siapnya perbankan nasional menghadapi perbankan asing, masalah lain yang sangat mengkhawatirkan adalah masih banyaknya orang-orang yang bersedia digunakan namanya sebagai stoorman atau bagi akumulasi suara untuk kepentingan pihak asing. Dengan banyaknya stoorman ini, sangat besar kemungkinan saham perbankan nasional yang tercatat di pasar modal dikuasai orang asing.
Ketika berbicara dengan DPR, dia pernah mempermasalahkan penjualan saham-saham perbankan kepada pihak asing. Sebab, perbankan mempunyai kedudukan sangat strategis bagi perekonomian bangsa.
"Harus dijaga jangan sampai tingkat pemilikan saham perbankan oleh pihak asing akan berkembang ke arah yang bisa mempengaruhi kebebasan pemerintah dalam mengatur ekonomi moneter". tuturnya. [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika
Bisnis Indonesia: ayahandaku in memoriam (5)
16/12/2005 22:37 WIB
Jumat, 16/12/2005 16:44 WIBAbdullah Ali in memoriem 5, soal IT oleh : Djony Edward
JAKARTA (Bisnis): Komentar Abdullah Ali soal perlunya perbankan nasinoal mengembangkan teknologi informasi (IT) boleh dibilang aneh di zamannya. Pada saat bankir jor-joran menggelar hadiah, PT Bank Central Asia di bawah kepemimpinannya justru sibuk melakukan investasi IT.
"Tiap tahun laba BCA terbilang kecil dibandingkan bank-bank papan atas, karena kami manajemen sudah mengambil keputusan BCA harus menjadi bank yang kuat dengan IT yang terdepan", tuturnya kepada Bisnis ketika itu.
Telah menjadi pengetahuan umum, BCA pada tahun 1995-1998 sibuk berinvestasi dengan membeli ATM dan sistem on line. Sehingga laba perusahaan tersedot untuk kebutuhan masa depan BCA.
Tak hanya bankir lain, para karyawan dan stafnya juga hampir tidak mengerti mengapa belanja IT BCA ketika itu terbilang besar dan terkesan jor-joran. Jawabnya adalah, karena kuatnya keinginan Abdullah Ali menjadikan BCA sebagai bank terkuat dalam hal IT.
Sejarah kemudian membuktikan, kini BCA dengan kemampuan ATM, phone banking atau mobile banking, maupun internet bankir, yang terdepan. Sehingga dalam sebuah riset soal kepemilikan kartu ATM, BCA merupakan bank penerbit kartu ATM terbesar dimana setiap karyawan yang bergaji di atas Rp1,5 juta sudah memiliki kartu ATM.
Langkah ini kemudian diikuti oleh bank-bank lainnya. Tidak ada istilah terlambat, bank-bank pengekor IT BCA itu pun kini menjadi bank alternatif kedua, ketiga dan keempat bagi kepemilikan kartu ATM.
Sehingga kini tak bisa dibantah bahwa, bank yang terbesar dan terkuat dalam penerbitan kartu kredit adalah Citibank. Sementara bank terkuat dan terbesar dalam pemanfaatan ATM adalah BCA.
Mungkin banyak karyawan BCA yang tak sadar kecanggihan teknologi melayani yang dijalankannya adalah warisan leluhur Abdullah Ali. Mungkin banyak pemegang kartu ATM BCA yang tak sadar bahwa ide itu adalah karya besar Ali. Mungkin banyak wartawan perbankan kini yang tak kenal sosoknya, tapi sejarah itu tak pernah hilang dalam ingatan.
Karya besar maestro perbankan nasional itu terlalu mahal untuk dilupakan, bahkan terlalu cerdas untuk dikembangkan!!! Selamat tinggal bapak perbankan Indonesia...! [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika
Jumat, 16/12/2005 16:44 WIBAbdullah Ali in memoriem 5, soal IT oleh : Djony Edward
JAKARTA (Bisnis): Komentar Abdullah Ali soal perlunya perbankan nasinoal mengembangkan teknologi informasi (IT) boleh dibilang aneh di zamannya. Pada saat bankir jor-joran menggelar hadiah, PT Bank Central Asia di bawah kepemimpinannya justru sibuk melakukan investasi IT.
"Tiap tahun laba BCA terbilang kecil dibandingkan bank-bank papan atas, karena kami manajemen sudah mengambil keputusan BCA harus menjadi bank yang kuat dengan IT yang terdepan", tuturnya kepada Bisnis ketika itu.
Telah menjadi pengetahuan umum, BCA pada tahun 1995-1998 sibuk berinvestasi dengan membeli ATM dan sistem on line. Sehingga laba perusahaan tersedot untuk kebutuhan masa depan BCA.
Tak hanya bankir lain, para karyawan dan stafnya juga hampir tidak mengerti mengapa belanja IT BCA ketika itu terbilang besar dan terkesan jor-joran. Jawabnya adalah, karena kuatnya keinginan Abdullah Ali menjadikan BCA sebagai bank terkuat dalam hal IT.
Sejarah kemudian membuktikan, kini BCA dengan kemampuan ATM, phone banking atau mobile banking, maupun internet bankir, yang terdepan. Sehingga dalam sebuah riset soal kepemilikan kartu ATM, BCA merupakan bank penerbit kartu ATM terbesar dimana setiap karyawan yang bergaji di atas Rp1,5 juta sudah memiliki kartu ATM.
Langkah ini kemudian diikuti oleh bank-bank lainnya. Tidak ada istilah terlambat, bank-bank pengekor IT BCA itu pun kini menjadi bank alternatif kedua, ketiga dan keempat bagi kepemilikan kartu ATM.
Sehingga kini tak bisa dibantah bahwa, bank yang terbesar dan terkuat dalam penerbitan kartu kredit adalah Citibank. Sementara bank terkuat dan terbesar dalam pemanfaatan ATM adalah BCA.
Mungkin banyak karyawan BCA yang tak sadar kecanggihan teknologi melayani yang dijalankannya adalah warisan leluhur Abdullah Ali. Mungkin banyak pemegang kartu ATM BCA yang tak sadar bahwa ide itu adalah karya besar Ali. Mungkin banyak wartawan perbankan kini yang tak kenal sosoknya, tapi sejarah itu tak pernah hilang dalam ingatan.
Karya besar maestro perbankan nasional itu terlalu mahal untuk dilupakan, bahkan terlalu cerdas untuk dikembangkan!!! Selamat tinggal bapak perbankan Indonesia...! [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika
Bisnis Indonesia: in memoriam ayahandaku (3)
16/12/2005 22:38 WIB
Jumat, 16/12/2005 16:11 WIBAbdullah Ali in memoriem 3, kedekatan dengan wartawan oleh : Djony Edward
JAKARTA (Bisnis): Sosok Abdullah Ali dimata wartawan memiliki kesan tersendiri. Sikap kebapaan dan mau mengayomi wartawan, hingga meninggalnya tak pernah terlupakan.
Masih segar dalam ingatan petuah-petuah Abdullah Ali ketika Bank Central Asia dilanda rush, dia dengan tenang, sabar dan penuh percaya diri menasihati agar wartawan berhati-hati dan bijak.
"Wartawan adalah stake holder perbankan nasional, jadi kalau memberitakan isu soal perbankan tolong ada terselip rasa memiliki juga atas perbankan itu. Artinya wartawan jangan menulis berita yang dampaknya negatif bagi perbankan...," demikian salah satu nasihat yang masih dikenang Bisnis.
Nasihat itu disampaikan Ali di tengah-tengah rush yang melanda Bank Central Asia. Isyu yang merebak ketika itu adalah, meninggalnya Soedono Salim (Om Liem)sebagai pemegang saham mayoritas BCA. Tapi kemudian isyu tersebut tidak benar, karena Om Liem sendiri sore harinya mengundang wartawan berjumpa pers di kawasan Kapuk, Jakarta Utara.
Tapi isyu telah terlanjur merebak, nasabah BCA pun mengantree di ATM-ATM dan counter BCA di seluruh Idnonesia. Tak pelak BCA pun collapse, namun Abdullah Ali keesokan harinya tetap tampil di hadapan wartawan sambil terus mengungkapkan nasihat-nasihatnya.
Perbankan itu, tutur Ali, adalah lembaga kepercayaan yang menjadi perantara (intermediasi) antara deposan dan masyarakat peminjam. Kalau dengan gosip-gosip yang berkembang belakangan BCA tidak dipercaya sehingga di rush, tentu tak lepas dari isyu-isyu yang merebak.
Karena itu, dia minta kepada wartawan, untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan, khususnya kepada BCA. Pesan itu benar-benar di dengar wartawan dan pekan-pekan berikutnya isyu rush pun reda, apalagi Bank Indonesia sebagai lender of last resort mem-back up penuh likuiditas BCA. [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika
Jumat, 16/12/2005 16:11 WIBAbdullah Ali in memoriem 3, kedekatan dengan wartawan oleh : Djony Edward
JAKARTA (Bisnis): Sosok Abdullah Ali dimata wartawan memiliki kesan tersendiri. Sikap kebapaan dan mau mengayomi wartawan, hingga meninggalnya tak pernah terlupakan.
Masih segar dalam ingatan petuah-petuah Abdullah Ali ketika Bank Central Asia dilanda rush, dia dengan tenang, sabar dan penuh percaya diri menasihati agar wartawan berhati-hati dan bijak.
"Wartawan adalah stake holder perbankan nasional, jadi kalau memberitakan isu soal perbankan tolong ada terselip rasa memiliki juga atas perbankan itu. Artinya wartawan jangan menulis berita yang dampaknya negatif bagi perbankan...," demikian salah satu nasihat yang masih dikenang Bisnis.
Nasihat itu disampaikan Ali di tengah-tengah rush yang melanda Bank Central Asia. Isyu yang merebak ketika itu adalah, meninggalnya Soedono Salim (Om Liem)sebagai pemegang saham mayoritas BCA. Tapi kemudian isyu tersebut tidak benar, karena Om Liem sendiri sore harinya mengundang wartawan berjumpa pers di kawasan Kapuk, Jakarta Utara.
Tapi isyu telah terlanjur merebak, nasabah BCA pun mengantree di ATM-ATM dan counter BCA di seluruh Idnonesia. Tak pelak BCA pun collapse, namun Abdullah Ali keesokan harinya tetap tampil di hadapan wartawan sambil terus mengungkapkan nasihat-nasihatnya.
Perbankan itu, tutur Ali, adalah lembaga kepercayaan yang menjadi perantara (intermediasi) antara deposan dan masyarakat peminjam. Kalau dengan gosip-gosip yang berkembang belakangan BCA tidak dipercaya sehingga di rush, tentu tak lepas dari isyu-isyu yang merebak.
Karena itu, dia minta kepada wartawan, untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan, khususnya kepada BCA. Pesan itu benar-benar di dengar wartawan dan pekan-pekan berikutnya isyu rush pun reda, apalagi Bank Indonesia sebagai lender of last resort mem-back up penuh likuiditas BCA. [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika
Bisnis Indonesia: in memoriam ayahandaku (2)
16/12/2005 22:39 WIB
Jumat, 16/12/2005 16:00 WIBAbdullah Ali in memoriem 2, soal kredit macet oleh : Djony Edward
JAKARTA (Bisnis): Sebagai bankir senior, Abdullah Ali menanggapi kredit macet sama halnya dengan bankir-bankir pemula ketika itu. Yakni menganggap barang yang sulit untuk disikapi, tapi bukan tanpa solusi.
Bagi dunia perbankan Indonesia, permasalahan kredit macet memang masih menjadi momok yang amat menakutkan, selama beberapa waktu terakhir. Sejumlah bank, termasuk bank besar, yang dari luar terlihat teramat tegar, kokoh dan seolah tidak akan bisa terguncangkan, tiba-tiba saja limbung.
"Mengenai kredit macet, seluruh aparat pemerintah yang terkait seyogyanya bisa membantu secara all out, terutama yang berkaitan dengan penyelesaian hukum". titah tersebut sangat patut untuk dicermati karena yang menyampaikan bukan seorang tokoh sembarangan, melainkan Abdullah Ali, seorang bankir sejati. Ali mengemukakan nasihatnya dalam memoarnya yang diberi judul Lika-liku Sejarah Perbankan Indonesia.
Buku itu tidak hanya berkisah mengenai pribadi Abdullah Ali, tetapi juga berisi tentang dunia perbankan pada khususnya serta permasalahan perekonomian Indonesia pada umumnya. Dalam buku itu seolah terekam perjalanan dirinya di dunia perbankan seolah simetris dengan perjalanan sejarah perbankan Indonesia.
Ketika berusia 57 tahun, Ali merasa sudah tak mungkin bisa diangkat untuk menjadi direktur di Bank Indonesia karena dirinya bukan sarjana, Ali kemudian meminta pensiun. Dan sejak tanggal 1 Oktober 1980 1998, Abdullah Ali menjabat sebagai Presiden Direktur Bank Central Asia.
Menyikapi kredit macet yang melanda perbankan nasional dia mengemukakan, "Kalau penyelesaian kredit-kredit macet bisa dilaksanakan melalui wewenang-wewenang seperti yang ada pada Panitia Urusan Piutang Negara (sekarang Ditjen Piutang dan Lelang Negara), penyelesainnya seharusnya tidak akan berlarut-larut".
Menurut penilaian Ali, banyak debitur macet sesungguhnya mempunyai cukup kemampuan untuk bisa membayar kembali hutang mereka. "Namun, karena penagihannya kurang menggebu, mereka jadi mengulur-ulur waktu. Bahkan, barang tidak bergerak yang sudah dihipotik, sering menjadi susah untuk dilelang walaupun sudah ada keputusan pengadilan negeri. Ada-ada saja rintangannya...".
Memang tidak bisa dibantah, penyelesaian kredit macet merupakan keberhasilan operasional setiap bank. Sedangkan kalau persoalan tersebut tidak bisa diatasi, Abdullah menegaskan, "Credit policy yang sehat pun tidak bisa banyak membantu".
Pada kaitan ini dia kemudian menyebutkan, mengingat jasa-jasa perbankan sangat vital artinya bagi usaha-usaha pembangunan, masalah ini kiranya memerlukan prioritas utama dalam program Pemerintah dan DPR. Tidak lupa, Ali langsung menegaskan, "Penyelesaian yang cepat dari masalah-masalah kredit macet melalui pengadilan bisa mengurangi kemungkinan terjadinya kolusi antara pegawai-pegawai dengan debitur". [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika
Jumat, 16/12/2005 16:00 WIBAbdullah Ali in memoriem 2, soal kredit macet oleh : Djony Edward
JAKARTA (Bisnis): Sebagai bankir senior, Abdullah Ali menanggapi kredit macet sama halnya dengan bankir-bankir pemula ketika itu. Yakni menganggap barang yang sulit untuk disikapi, tapi bukan tanpa solusi.
Bagi dunia perbankan Indonesia, permasalahan kredit macet memang masih menjadi momok yang amat menakutkan, selama beberapa waktu terakhir. Sejumlah bank, termasuk bank besar, yang dari luar terlihat teramat tegar, kokoh dan seolah tidak akan bisa terguncangkan, tiba-tiba saja limbung.
"Mengenai kredit macet, seluruh aparat pemerintah yang terkait seyogyanya bisa membantu secara all out, terutama yang berkaitan dengan penyelesaian hukum". titah tersebut sangat patut untuk dicermati karena yang menyampaikan bukan seorang tokoh sembarangan, melainkan Abdullah Ali, seorang bankir sejati. Ali mengemukakan nasihatnya dalam memoarnya yang diberi judul Lika-liku Sejarah Perbankan Indonesia.
Buku itu tidak hanya berkisah mengenai pribadi Abdullah Ali, tetapi juga berisi tentang dunia perbankan pada khususnya serta permasalahan perekonomian Indonesia pada umumnya. Dalam buku itu seolah terekam perjalanan dirinya di dunia perbankan seolah simetris dengan perjalanan sejarah perbankan Indonesia.
Ketika berusia 57 tahun, Ali merasa sudah tak mungkin bisa diangkat untuk menjadi direktur di Bank Indonesia karena dirinya bukan sarjana, Ali kemudian meminta pensiun. Dan sejak tanggal 1 Oktober 1980 1998, Abdullah Ali menjabat sebagai Presiden Direktur Bank Central Asia.
Menyikapi kredit macet yang melanda perbankan nasional dia mengemukakan, "Kalau penyelesaian kredit-kredit macet bisa dilaksanakan melalui wewenang-wewenang seperti yang ada pada Panitia Urusan Piutang Negara (sekarang Ditjen Piutang dan Lelang Negara), penyelesainnya seharusnya tidak akan berlarut-larut".
Menurut penilaian Ali, banyak debitur macet sesungguhnya mempunyai cukup kemampuan untuk bisa membayar kembali hutang mereka. "Namun, karena penagihannya kurang menggebu, mereka jadi mengulur-ulur waktu. Bahkan, barang tidak bergerak yang sudah dihipotik, sering menjadi susah untuk dilelang walaupun sudah ada keputusan pengadilan negeri. Ada-ada saja rintangannya...".
Memang tidak bisa dibantah, penyelesaian kredit macet merupakan keberhasilan operasional setiap bank. Sedangkan kalau persoalan tersebut tidak bisa diatasi, Abdullah menegaskan, "Credit policy yang sehat pun tidak bisa banyak membantu".
Pada kaitan ini dia kemudian menyebutkan, mengingat jasa-jasa perbankan sangat vital artinya bagi usaha-usaha pembangunan, masalah ini kiranya memerlukan prioritas utama dalam program Pemerintah dan DPR. Tidak lupa, Ali langsung menegaskan, "Penyelesaian yang cepat dari masalah-masalah kredit macet melalui pengadilan bisa mengurangi kemungkinan terjadinya kolusi antara pegawai-pegawai dengan debitur". [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika
Bisnis Indonesia: ayahandaku in memoriam (1)
16/12/2005 22:40 WIB
Kamis, 15/12/2005 10:54 WIBMaestro perbankan itu telah tiada....!
JAKARTA (Antara): Maestro dan legendaris perbankan, Abdullah Ali, berpulang ke rahmatullah pada pukul 05:00 pagi hari ini karena sakit.
Menurut Masyhud Ali, adik kandung Abdullah Ali, mendiang mantan Dirut PT Bank Central Asia Tbk itu meninggal di rumah duka di Jl. Cempaka Putih Tengah 17. No. 26. Meninggalnya Abdullah Ali lantaran usia yang sudah uzur sehingga kesehatannya terus menurun, hingga akhirnya meninggal dunia.
"Insya Allah kakak akan dimakamkan di Tanah Kusir ba'da dzuhur", ungkapnya kepada Bisnis.
Abdullah Ali adalah sosok bankir profesional. Dedikasi dan pengabdianya dicurahkan di BCA, warga Betawi asli ini menduduki posisi puncak di BCA menggantikan bankir senior Mochtar Riyadi (Chairman Lippo Group). Tampuk kepemimpinan BCA pasca krisis kemudian beralih dari Abdullah Ali kepada Djohan Emir Setijoso. Regenerasi BCA seperti mengisyaratkan, bahwa trah kepemimpinan bank swasta terbesar itu selalu dipegang oleh bankir-bankir kawakan.
Perjalan hidup Abdullah Ali seolah mengiringi jatuh bangunnya perbankan nasional. Diujung kepemimpinannya, BCA didera isu rasial, sehingga di seluruh pelosok tanah air terjadi rush (penarikan dana besar-besaran). Namun karena jalinan manajemen dan sistem yang dibangunnya sangat kokoh, rush yang sempat membuat limbung BCA mengalami recovery yang sangat cepat.
Satu hal yang selalu dikenang penulis adalah, pernyataannya tentang perlunya perbankan nasional menerapkan teknologi yang canggih guna melayani nasabah. Pernyataan itu direalisasikannya sendiri di BCA saat-saat sebelum krisis, dimana setiap tahun dirinya selalu menyisihkan anggaran untuk membangun divisi IT BCA.
"Tiap tahun laba BCA memang kecil, karena sebagian dana bank kami sisihkan unutk membangun sistem dan IT yang kuat",ujarnya kepada Bisnis.
Kini kita menyaksikan BCA sebagai bank dengan layanan IT terdepan dengan ATM yang tersebar luas di seluruh pelosok tanah air. Dengan layanan on line sistem, mobile banking, internet banking, kini BCA semakin menyempurnakan cita-cita Abdullah Ali.
"Selamat tinggal begawan perbankan Indonesia, jasamu tak kan pernah kami lupakan"! [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika
Kamis, 15/12/2005 10:54 WIBMaestro perbankan itu telah tiada....!
JAKARTA (Antara): Maestro dan legendaris perbankan, Abdullah Ali, berpulang ke rahmatullah pada pukul 05:00 pagi hari ini karena sakit.
Menurut Masyhud Ali, adik kandung Abdullah Ali, mendiang mantan Dirut PT Bank Central Asia Tbk itu meninggal di rumah duka di Jl. Cempaka Putih Tengah 17. No. 26. Meninggalnya Abdullah Ali lantaran usia yang sudah uzur sehingga kesehatannya terus menurun, hingga akhirnya meninggal dunia.
"Insya Allah kakak akan dimakamkan di Tanah Kusir ba'da dzuhur", ungkapnya kepada Bisnis.
Abdullah Ali adalah sosok bankir profesional. Dedikasi dan pengabdianya dicurahkan di BCA, warga Betawi asli ini menduduki posisi puncak di BCA menggantikan bankir senior Mochtar Riyadi (Chairman Lippo Group). Tampuk kepemimpinan BCA pasca krisis kemudian beralih dari Abdullah Ali kepada Djohan Emir Setijoso. Regenerasi BCA seperti mengisyaratkan, bahwa trah kepemimpinan bank swasta terbesar itu selalu dipegang oleh bankir-bankir kawakan.
Perjalan hidup Abdullah Ali seolah mengiringi jatuh bangunnya perbankan nasional. Diujung kepemimpinannya, BCA didera isu rasial, sehingga di seluruh pelosok tanah air terjadi rush (penarikan dana besar-besaran). Namun karena jalinan manajemen dan sistem yang dibangunnya sangat kokoh, rush yang sempat membuat limbung BCA mengalami recovery yang sangat cepat.
Satu hal yang selalu dikenang penulis adalah, pernyataannya tentang perlunya perbankan nasional menerapkan teknologi yang canggih guna melayani nasabah. Pernyataan itu direalisasikannya sendiri di BCA saat-saat sebelum krisis, dimana setiap tahun dirinya selalu menyisihkan anggaran untuk membangun divisi IT BCA.
"Tiap tahun laba BCA memang kecil, karena sebagian dana bank kami sisihkan unutk membangun sistem dan IT yang kuat",ujarnya kepada Bisnis.
Kini kita menyaksikan BCA sebagai bank dengan layanan IT terdepan dengan ATM yang tersebar luas di seluruh pelosok tanah air. Dengan layanan on line sistem, mobile banking, internet banking, kini BCA semakin menyempurnakan cita-cita Abdullah Ali.
"Selamat tinggal begawan perbankan Indonesia, jasamu tak kan pernah kami lupakan"! [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika
Catatan tercecer: ucapan selamat natal
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,
Saudara-saudaraku di milis sd-Islam yang saya sayangi.
Kamis malam yang lalu, tanggal 3 Januari 2008, saya telah mendapat pencerahan baru sebagai dampak keikutsertaan saya di milis ini. Mudah-mudahan hal ini akan menjadi titik awal yang baru dalam kehidupan saya, terutama menjelang tahun baru Hijriah yang akan datang.
Berawal dari postingan saya yang menjawab postingan pak Satria mengenai dialog Bapak Sanihu Munir dengan pihak kristiani. Postingan saya itu ternyata mendapat banyak kritik. Pak Satriyo lalu menyarankan untuk mendengar kasetnya dan membaca buku Sanihu Munir yang berjudul “Keliru Pandang Kang Jalal”. Saya sudah minta pak Satria untuk mendapat kasetnya tapi belum ada tanggapan. Pak Satriyo menyarankan untuk menghubungi bapak Sanihu Munir untuk mendapatkan bukunya. Alhamdulillah malam itu juga saya berhasil mendapatkan dan membaca bukunya.
Saudaraku, sekarang saya mengerti mengapa lawan debat bapak Sanihu Munir bisa kehabisan kata-kata. Besar dugaan saya bahwa hal itu bukan disebabkan gaya bicara bapak Sanihu Munir yang seperti “religion combatan” seperti yang dikatakan pak Satria. Pihak Kristiani kehabisan kata-kata karena bukti-bukti yang disampaikan bapak Sanihu Munir. Jangankan pihak kristiani, saya juga terhenyak membacanya.
Buku tersebut antara lain membedah buku bapak Jalaluddin Rahmat yang berjudul “Islam Dan Pluralisme”. Hal yang menyentak saya adalah bukti-bukti sejarah mengenai lahirnya agama Kristen. Selama ini saya mengira bahwa agama kristen merupakan agama yang diajarkan oleh nabi Isa Alaihissalam alias Yesus. Ternyata bukan, saudaraku! Agama kristen adalah bikinan Paulus (laknatullah)! Jika kalian telah tahu ini sejak lama, maka saya baru tahu sekarang ini(ampuni saya ya Allah).
Indahnya buku ini dapat menceriterakan kronologis cara Paulus menjelmakan Yesus yang awalnya seorang nabi menjadi salah seorang Kristus sebagai awal lahirnya agama kristen, melalui segala dongeng yang diambil dari perpaduan antara filsafat Yunani-Romawi, ajaran penyembah berhala dan berbagai agama misteri, lengkap dengan mitos kristus, hymne kristus dan ritual kristus. Tentu saja dilengkapi dengan penciptaan hari natal. Diceriterakan juga cara Paulus yang berpura-pura tobat di depan Yakobus, adik Yesus, yang menegur kesesatannya. Yang membuat buku ini luar biasa bagi saya, karena dapat memperlihatkan bahwa semua itu ternyata terekam dalam al Qur’an. Saya takut salah kalau banyak bicara, karena itu silakan baca buku ini agar kita dapat bersama memahaminya.
Mengenai kang Jalal sendiri, bukunya yang berjudul Islam dan Pluralisme itu ternyata banyak menafsirkan Al Qur’an secara keliru. Dalam buku ini, semuanya diluruskan kembali. Saya sangat kagum dengan analogi yang dibuatnya dalam kisah Fulan mencari kebenaran untuk menggambarkan dualisme kebenaran yang dikemukakan kang Jalal untuk mendukung teori pluralismenya.
Buat pak Satria, jika memang pak Satria sudah mendengarkan rekaman dialog Sanihu Munir dengan kaum kristiani ini, saya heran jika bapak tetap ingin mengucapkan selamat natal. Ucapan itu menghina keimanan bukan saja umat Islam, tetapi juga umat nasrani yang mengimani Yesus sebagai nabi. Yesus bukan orang kristen yang pertama!
CMIIW.
Roosdiana
Bismillahirrahmanirrahim,
Saudara-saudaraku di milis sd-Islam yang saya sayangi.
Kamis malam yang lalu, tanggal 3 Januari 2008, saya telah mendapat pencerahan baru sebagai dampak keikutsertaan saya di milis ini. Mudah-mudahan hal ini akan menjadi titik awal yang baru dalam kehidupan saya, terutama menjelang tahun baru Hijriah yang akan datang.
Berawal dari postingan saya yang menjawab postingan pak Satria mengenai dialog Bapak Sanihu Munir dengan pihak kristiani. Postingan saya itu ternyata mendapat banyak kritik. Pak Satriyo lalu menyarankan untuk mendengar kasetnya dan membaca buku Sanihu Munir yang berjudul “Keliru Pandang Kang Jalal”. Saya sudah minta pak Satria untuk mendapat kasetnya tapi belum ada tanggapan. Pak Satriyo menyarankan untuk menghubungi bapak Sanihu Munir untuk mendapatkan bukunya. Alhamdulillah malam itu juga saya berhasil mendapatkan dan membaca bukunya.
Saudaraku, sekarang saya mengerti mengapa lawan debat bapak Sanihu Munir bisa kehabisan kata-kata. Besar dugaan saya bahwa hal itu bukan disebabkan gaya bicara bapak Sanihu Munir yang seperti “religion combatan” seperti yang dikatakan pak Satria. Pihak Kristiani kehabisan kata-kata karena bukti-bukti yang disampaikan bapak Sanihu Munir. Jangankan pihak kristiani, saya juga terhenyak membacanya.
Buku tersebut antara lain membedah buku bapak Jalaluddin Rahmat yang berjudul “Islam Dan Pluralisme”. Hal yang menyentak saya adalah bukti-bukti sejarah mengenai lahirnya agama Kristen. Selama ini saya mengira bahwa agama kristen merupakan agama yang diajarkan oleh nabi Isa Alaihissalam alias Yesus. Ternyata bukan, saudaraku! Agama kristen adalah bikinan Paulus (laknatullah)! Jika kalian telah tahu ini sejak lama, maka saya baru tahu sekarang ini(ampuni saya ya Allah).
Indahnya buku ini dapat menceriterakan kronologis cara Paulus menjelmakan Yesus yang awalnya seorang nabi menjadi salah seorang Kristus sebagai awal lahirnya agama kristen, melalui segala dongeng yang diambil dari perpaduan antara filsafat Yunani-Romawi, ajaran penyembah berhala dan berbagai agama misteri, lengkap dengan mitos kristus, hymne kristus dan ritual kristus. Tentu saja dilengkapi dengan penciptaan hari natal. Diceriterakan juga cara Paulus yang berpura-pura tobat di depan Yakobus, adik Yesus, yang menegur kesesatannya. Yang membuat buku ini luar biasa bagi saya, karena dapat memperlihatkan bahwa semua itu ternyata terekam dalam al Qur’an. Saya takut salah kalau banyak bicara, karena itu silakan baca buku ini agar kita dapat bersama memahaminya.
Mengenai kang Jalal sendiri, bukunya yang berjudul Islam dan Pluralisme itu ternyata banyak menafsirkan Al Qur’an secara keliru. Dalam buku ini, semuanya diluruskan kembali. Saya sangat kagum dengan analogi yang dibuatnya dalam kisah Fulan mencari kebenaran untuk menggambarkan dualisme kebenaran yang dikemukakan kang Jalal untuk mendukung teori pluralismenya.
Buat pak Satria, jika memang pak Satria sudah mendengarkan rekaman dialog Sanihu Munir dengan kaum kristiani ini, saya heran jika bapak tetap ingin mengucapkan selamat natal. Ucapan itu menghina keimanan bukan saja umat Islam, tetapi juga umat nasrani yang mengimani Yesus sebagai nabi. Yesus bukan orang kristen yang pertama!
CMIIW.
Roosdiana
Senin, 30 Juni 2008
Sedekah?
Kutipan Khutbah Jumat 16 Maret 2007
Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS
Wahai umat manusia! Kalian harus datang dan berserah diri pada Perintah Suci Tuhan kalian! Kalian harus mengatakan, “Wahai Tuhan kami, engkau adalah Sang Pencipta! Hanya ada satu Tuhan, yaitu Engkau, dan kami adalah hamba-Mu!” Kalian jangan menjadi hamba bagi kehidupan ini! Kalian tidak pernah diciptakan untuk bisnis! Setiap orang berusaha untuk menjadi pengusaha, untuk menjadi orang kaya, orang dengan standar yang tinggi. Apa itu, ‘orang dengan standar tinggi’? Kalian menyimpan, menyimpan, menyimpan—dolar, pound, uang baru Euro, dan Yen.. orang-orang menyimpannya—apa untungnya menyimpan jutaan dan milyaran? Wahai bangsa Arab! Dan orang-orang menyimpan milyar dan milyaran dan Allah SWT akan bertanya pada mereka, “Wahai hamba-Ku yang tak berguna, wahai hamba-Ku yang tak mengindahkan Perintah-Ku! Apa yang kalian lakukan? Aku telah memberi kalian milyaran. Mengapa kalian datang dan tak ada yang berasal dari buku kalian? Apa yang kalian lakukan?” “Wahai Allah SWT, wahai Tuhan kami! Aku telah menyimpan uang itu di bank, menyimpannya sebagai investasi…” “Wahai hamba yang lalai, hamba yang tak menghormati (Allah SWT), apakah kalian pikir Aku memberi kailan begitu banyak uang untuk disimpan?
Atau untuk didonasikan untuk tujuan-tujuan yang baik? Agar donasi kalian sampai pada hamba-hamba-Ku, untuk membuat atau mengadakan hal-hal yang baik bagi kalian? Apakah kalian pikir Aku berkata pada kalian, ‘Simpan uangmu dan tinggalkan, lalu datang ke sini seperti ini’?
Apa yang akan menjadi jawaban mereka? Ini, lebih dari dunia Non-Muslim—Saya bicara kepada dunia Muslim di mana mungkin ada ribuan dan ribuan multi milioner, tetapi mereka menyimpan uang mereka seperti ini… tidak memberikannya untuk Allah SWT! Allah SWT akan menyalahkan mereka, “Kalian tidak malu? Ketika Aku menganugerahkan kalian dan memberi kalian agar kalian memberi donasi demi Aku, mengapa kalian tidak memberi…? Wahai para malaikat, bawa mereka, bawa mereka dari Hadirat Ilahiah-Ku, karena mereka memegang Setan dan ajarannya, tidak menjaga Ajaran-Ku, tidak mematuhi-Ku, (tetapi) mereka mengejar Setan! Bawa mereka bersama Setan, bawa mereka pergi. Tak ada jalan bagi mereka! Mereka sudah diberikan kesempatan!”
Wahai manusia, dengar, perhatikan dan patuhi! Dan Nabi SAW bersabda, “Jika seseorang memberi karena Allah SWT, ia tidak perlu khawatir, ‘Uangku akan berkurang’. Jangan pernah! Allah SWT akan membalasnya. Selama kalian membuka keran, air akan datang. Ketika kalian menutupnya, tak ada lagi air yang keluar. Bukalah, karena apa yang Allah SWT anugerahkan kepada kalian, itu takkan pernah berakhir
Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS
Wahai umat manusia! Kalian harus datang dan berserah diri pada Perintah Suci Tuhan kalian! Kalian harus mengatakan, “Wahai Tuhan kami, engkau adalah Sang Pencipta! Hanya ada satu Tuhan, yaitu Engkau, dan kami adalah hamba-Mu!” Kalian jangan menjadi hamba bagi kehidupan ini! Kalian tidak pernah diciptakan untuk bisnis! Setiap orang berusaha untuk menjadi pengusaha, untuk menjadi orang kaya, orang dengan standar yang tinggi. Apa itu, ‘orang dengan standar tinggi’? Kalian menyimpan, menyimpan, menyimpan—dolar, pound, uang baru Euro, dan Yen.. orang-orang menyimpannya—apa untungnya menyimpan jutaan dan milyaran? Wahai bangsa Arab! Dan orang-orang menyimpan milyar dan milyaran dan Allah SWT akan bertanya pada mereka, “Wahai hamba-Ku yang tak berguna, wahai hamba-Ku yang tak mengindahkan Perintah-Ku! Apa yang kalian lakukan? Aku telah memberi kalian milyaran. Mengapa kalian datang dan tak ada yang berasal dari buku kalian? Apa yang kalian lakukan?” “Wahai Allah SWT, wahai Tuhan kami! Aku telah menyimpan uang itu di bank, menyimpannya sebagai investasi…” “Wahai hamba yang lalai, hamba yang tak menghormati (Allah SWT), apakah kalian pikir Aku memberi kailan begitu banyak uang untuk disimpan?
Atau untuk didonasikan untuk tujuan-tujuan yang baik? Agar donasi kalian sampai pada hamba-hamba-Ku, untuk membuat atau mengadakan hal-hal yang baik bagi kalian? Apakah kalian pikir Aku berkata pada kalian, ‘Simpan uangmu dan tinggalkan, lalu datang ke sini seperti ini’?
Apa yang akan menjadi jawaban mereka? Ini, lebih dari dunia Non-Muslim—Saya bicara kepada dunia Muslim di mana mungkin ada ribuan dan ribuan multi milioner, tetapi mereka menyimpan uang mereka seperti ini… tidak memberikannya untuk Allah SWT! Allah SWT akan menyalahkan mereka, “Kalian tidak malu? Ketika Aku menganugerahkan kalian dan memberi kalian agar kalian memberi donasi demi Aku, mengapa kalian tidak memberi…? Wahai para malaikat, bawa mereka, bawa mereka dari Hadirat Ilahiah-Ku, karena mereka memegang Setan dan ajarannya, tidak menjaga Ajaran-Ku, tidak mematuhi-Ku, (tetapi) mereka mengejar Setan! Bawa mereka bersama Setan, bawa mereka pergi. Tak ada jalan bagi mereka! Mereka sudah diberikan kesempatan!”
Wahai manusia, dengar, perhatikan dan patuhi! Dan Nabi SAW bersabda, “Jika seseorang memberi karena Allah SWT, ia tidak perlu khawatir, ‘Uangku akan berkurang’. Jangan pernah! Allah SWT akan membalasnya. Selama kalian membuka keran, air akan datang. Ketika kalian menutupnya, tak ada lagi air yang keluar. Bukalah, karena apa yang Allah SWT anugerahkan kepada kalian, itu takkan pernah berakhir
Madad: Memohon dukungan dari Grandsyeikh
Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS
A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiimBismillaahir rahmaanir rahiimWash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin
Grandsyekh kita adalah Syekh `Abdullah Al-Faiz Ad-Daghestani QS, semoga Allah SWT mensucikan rohnya yang penuh berkah dan mendekatkan beliau lebih dekat dan lebih dekat lagi ke Hadirat Ilahiah-Nya. Semoga Dia membuat kita dapat memperoleh manfaat dari barakah dan ajaran Grandsyekh, dan dari penjagaan spiritual beliau bagi kita, bahkan dari alam kubur sana. Kita memperoleh kekuatan spiritual kita dari pusat kalbunya. Jika beliau memutuskan diri kita darinya, kita pun akan terdampar. Setiap napas yang Grandsyekh kita hembuskan pada diri kita dari napas-napas spiritual beliau adalah bagaikan hembusan musim semi yang hangat, yang menghembus pada cabang-cabang kering pepohonan, untuk membuat tunas dan bunga baru menyembul dan tumbuh keluar.
Seperti hembusan musim semi yang membawa bangkitnya kehidupan di dalamnya, begitu pula hembusan-hembusan napas para Kekasih Allah SWT memberikan kehidupan pada pengikut-pengikut mereka, pada anak-anak dan cucu-cucu spiritual mereka. Hubungan dan ikatan itu lebih kuat daripada hubungan pada orang tua kita, sebab jangka waktu ketika orang tua adalah semua dan segalanya bagi anak-anak kecil mereka hanyalah berlangsung demikian singkatnya. Dan, sampailah suatu masa ketika menjadi sulit bagi mereka untuk dapat mempengaruhi anak-anak mereka agar mengikuti jalan hidup yang mereka inginkan bagi anak-anak mereka. Mungkin, anak-anak itu akan meninggalkan mereka dan pergi ke sudut-sudut yang jauh di bumi ini dan memilih suatu jalan hidup yang sama sekali berbeda dan tak terkait dengan jalan hidup orang tua mereka. Sedangkan seorang Grandsyekh sejati selalu memiliki mata yang awas dan waspada atas pengikut-pengikutnya, apakah ketika Grandsyekh tersebut masih hidup di dunia ini ataupun ketika telah wafat dan melanjutkan eksistensinya di luar dunia ini. Ia tak akan pernah meninggalkan pengikut-pengikutnya.
Ya, kita selalu meminta dukungan Grandsyekh kita, suatu dukungan yang akan menolong kita untuk bertindak sesuai dengan perintah-perintah Tuhan kita, dan mendukung kita untuk berdiri dengan kokoh dalam meghadapi musuh-musuh kita: ego yang rendah, setan, hawa nafsu dan keduniawian. Untuk kedua tujuan ini--yaitu kemajuan pada jalan yang benar dan penghindaran penyimpangan darinya secara total--kita membutuhkan dukungan beliau. Tanpa dukungan kuat seperti itu, seseorang akan kalah.
Karena itu, kita mencari dan memohon dukungan Grandsyekh kita dengan mengatakan: "Madad Ya Sayyidii", "Tolong, wahai Tuanku." Kalian mesti memanggil Grandsyekh kalian dengan cara seperti itu kapan saja kalian membutuhkan pertolongan dan dukungan, maka kemudian dukungan itu akan mencapai diri kalian. Semakin kalian merasa bahwa diri kalian adalah lemah dan membutuhkan dukungan, maka semakin besar pula pertolongan yang akan beliau berikan bagi kalian. Tetapi, semakin kalian mengandalkan hanya pada pengetahuan (ilmu) kalian sendiri dan kekuatan pikiran kalian, semakin sedikit pula dukungan yang akan kalian peroleh, karena Grandsyekh akan berkata: "Ia cukup bagi dirinya sendiri, maka mengapa mesti memberinya pertolongan? Biarkan dirinya di tangan egonya."
Saat Nabi suci SAW memohon Tuhannya, "Wahai Tuhanku, jangan tinggalkan hamba pada diri (ego) hamba sekalipun hanya sekejap (Allahumma laa takilnii ilaa nafsii tharfata 'ain)", beliau tengah memohon perlindungan dari dua kemungkinan yang tak diinginkan: 1) untuk ditinggalkan sendiri bersama keinginan-keinginan ego-nya, dan 2) ditinggalkan sendiri untuk membimbing dirinya sendiri hanya dengan akal dan pengetahuannya. Dalam kedua kemungkinan jalan ini, ego (diri) berusaha untuk memisahkan diri kita dari bimbingan (hidayah) yang sejati, dan dengan mengakui kelemahan diri kita dan memohon pertolongan atas tipuan ego inilah, kita dapat meraih dukungan dan pertolongan tersebut.
Sebagaimana Bimbingan dan pertolongan Ilahiah sampai kepada Nabi SAW kita melalui Malaikat utama Jibril AS yang bertindak sebagai wakil Allah SWT dalam membawa wahyu-Nya kepada para nabi, begitu pula Pertolongan Ilahiah itu sampai pada para wali (Awliya') melalui Nabi Suci SAW, yang bertindak sebagai wakil Allah SWT dalam membawa petunjuk bagi ummat beliau. Dan pada akhirnya, setelah masa hidup (duniawi) nabi, petunjuk dan bimbingan itu sampai pada kalbu-kalbu kita melalui para wali, para pewaris nabi, karena kita belum cukup membangun indera-indera kita untuk dapat mendengar langsung bimbingan Nabi kita SAW. Beberapa orang yang bodoh, bahkan di antara kaum Muslim, tak ada keraguan lagi mereka akan menyangkal hal ini. Mereka mengatakan bahwa apa yang tertinggal dari petunjuk dan bimbingan Nabi Suci SAW adalah hanya apa yang tertulis di buku-buku dan kitab-kitab. Pandangan seperti ini adalah amat jauh dari hakikat dan realitas yang sejati. Pandangan seperti ini adalah pandangan orang-orang yang buta, karena seandainya Nabi Suci kita SAW membawa pergi kekuatan-kekuatan spiritual itu bersamanya saat beliau wafat, tentu tak akan ada agama sama sekali, tak ada lagi iman dan kepercayaan, tak ada apa pun dari Islam ini yang tetap hidup tertinggal. Tidak demikian, kekuatan kenabian (nubuwwah) itu tak pernah meninggalkan bumi ini; kekuatan itu hanyalah berubah bentuk dan wujudnya serta dibagi-bagikan melalui kesadaran dari para pewaris Nabi Suci SAW
Karena itu, kalian harus mencari dukungan dari para wali dalam alam semesta ini, di mana diri kalian adalah lemah sama sekali. Jika kalian berhasil menjalin hubungan yang baik dengan orang seperti itu (dengan wali--red.) kalian akan selalu terhubung dengannya: suatu "kawat" akan membawa arus ke kalbu kalian dari sumber tenaga miliknya. Bantuan itu akan paling terasa di saat-saat kalian membutuhkannya. Kini adalah siang hari dan kalian pun tak perlu mencari obor, tak perlu; namun di tengah kegelapan malam, bahkan cahaya yang redup seperti itu pun akan mencegah diri kalian jatuh ke dalam suatu lubang.
A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiimBismillaahir rahmaanir rahiimWash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin
Grandsyekh kita adalah Syekh `Abdullah Al-Faiz Ad-Daghestani QS, semoga Allah SWT mensucikan rohnya yang penuh berkah dan mendekatkan beliau lebih dekat dan lebih dekat lagi ke Hadirat Ilahiah-Nya. Semoga Dia membuat kita dapat memperoleh manfaat dari barakah dan ajaran Grandsyekh, dan dari penjagaan spiritual beliau bagi kita, bahkan dari alam kubur sana. Kita memperoleh kekuatan spiritual kita dari pusat kalbunya. Jika beliau memutuskan diri kita darinya, kita pun akan terdampar. Setiap napas yang Grandsyekh kita hembuskan pada diri kita dari napas-napas spiritual beliau adalah bagaikan hembusan musim semi yang hangat, yang menghembus pada cabang-cabang kering pepohonan, untuk membuat tunas dan bunga baru menyembul dan tumbuh keluar.
Seperti hembusan musim semi yang membawa bangkitnya kehidupan di dalamnya, begitu pula hembusan-hembusan napas para Kekasih Allah SWT memberikan kehidupan pada pengikut-pengikut mereka, pada anak-anak dan cucu-cucu spiritual mereka. Hubungan dan ikatan itu lebih kuat daripada hubungan pada orang tua kita, sebab jangka waktu ketika orang tua adalah semua dan segalanya bagi anak-anak kecil mereka hanyalah berlangsung demikian singkatnya. Dan, sampailah suatu masa ketika menjadi sulit bagi mereka untuk dapat mempengaruhi anak-anak mereka agar mengikuti jalan hidup yang mereka inginkan bagi anak-anak mereka. Mungkin, anak-anak itu akan meninggalkan mereka dan pergi ke sudut-sudut yang jauh di bumi ini dan memilih suatu jalan hidup yang sama sekali berbeda dan tak terkait dengan jalan hidup orang tua mereka. Sedangkan seorang Grandsyekh sejati selalu memiliki mata yang awas dan waspada atas pengikut-pengikutnya, apakah ketika Grandsyekh tersebut masih hidup di dunia ini ataupun ketika telah wafat dan melanjutkan eksistensinya di luar dunia ini. Ia tak akan pernah meninggalkan pengikut-pengikutnya.
Ya, kita selalu meminta dukungan Grandsyekh kita, suatu dukungan yang akan menolong kita untuk bertindak sesuai dengan perintah-perintah Tuhan kita, dan mendukung kita untuk berdiri dengan kokoh dalam meghadapi musuh-musuh kita: ego yang rendah, setan, hawa nafsu dan keduniawian. Untuk kedua tujuan ini--yaitu kemajuan pada jalan yang benar dan penghindaran penyimpangan darinya secara total--kita membutuhkan dukungan beliau. Tanpa dukungan kuat seperti itu, seseorang akan kalah.
Karena itu, kita mencari dan memohon dukungan Grandsyekh kita dengan mengatakan: "Madad Ya Sayyidii", "Tolong, wahai Tuanku." Kalian mesti memanggil Grandsyekh kalian dengan cara seperti itu kapan saja kalian membutuhkan pertolongan dan dukungan, maka kemudian dukungan itu akan mencapai diri kalian. Semakin kalian merasa bahwa diri kalian adalah lemah dan membutuhkan dukungan, maka semakin besar pula pertolongan yang akan beliau berikan bagi kalian. Tetapi, semakin kalian mengandalkan hanya pada pengetahuan (ilmu) kalian sendiri dan kekuatan pikiran kalian, semakin sedikit pula dukungan yang akan kalian peroleh, karena Grandsyekh akan berkata: "Ia cukup bagi dirinya sendiri, maka mengapa mesti memberinya pertolongan? Biarkan dirinya di tangan egonya."
Saat Nabi suci SAW memohon Tuhannya, "Wahai Tuhanku, jangan tinggalkan hamba pada diri (ego) hamba sekalipun hanya sekejap (Allahumma laa takilnii ilaa nafsii tharfata 'ain)", beliau tengah memohon perlindungan dari dua kemungkinan yang tak diinginkan: 1) untuk ditinggalkan sendiri bersama keinginan-keinginan ego-nya, dan 2) ditinggalkan sendiri untuk membimbing dirinya sendiri hanya dengan akal dan pengetahuannya. Dalam kedua kemungkinan jalan ini, ego (diri) berusaha untuk memisahkan diri kita dari bimbingan (hidayah) yang sejati, dan dengan mengakui kelemahan diri kita dan memohon pertolongan atas tipuan ego inilah, kita dapat meraih dukungan dan pertolongan tersebut.
Sebagaimana Bimbingan dan pertolongan Ilahiah sampai kepada Nabi SAW kita melalui Malaikat utama Jibril AS yang bertindak sebagai wakil Allah SWT dalam membawa wahyu-Nya kepada para nabi, begitu pula Pertolongan Ilahiah itu sampai pada para wali (Awliya') melalui Nabi Suci SAW, yang bertindak sebagai wakil Allah SWT dalam membawa petunjuk bagi ummat beliau. Dan pada akhirnya, setelah masa hidup (duniawi) nabi, petunjuk dan bimbingan itu sampai pada kalbu-kalbu kita melalui para wali, para pewaris nabi, karena kita belum cukup membangun indera-indera kita untuk dapat mendengar langsung bimbingan Nabi kita SAW. Beberapa orang yang bodoh, bahkan di antara kaum Muslim, tak ada keraguan lagi mereka akan menyangkal hal ini. Mereka mengatakan bahwa apa yang tertinggal dari petunjuk dan bimbingan Nabi Suci SAW adalah hanya apa yang tertulis di buku-buku dan kitab-kitab. Pandangan seperti ini adalah amat jauh dari hakikat dan realitas yang sejati. Pandangan seperti ini adalah pandangan orang-orang yang buta, karena seandainya Nabi Suci kita SAW membawa pergi kekuatan-kekuatan spiritual itu bersamanya saat beliau wafat, tentu tak akan ada agama sama sekali, tak ada lagi iman dan kepercayaan, tak ada apa pun dari Islam ini yang tetap hidup tertinggal. Tidak demikian, kekuatan kenabian (nubuwwah) itu tak pernah meninggalkan bumi ini; kekuatan itu hanyalah berubah bentuk dan wujudnya serta dibagi-bagikan melalui kesadaran dari para pewaris Nabi Suci SAW
Karena itu, kalian harus mencari dukungan dari para wali dalam alam semesta ini, di mana diri kalian adalah lemah sama sekali. Jika kalian berhasil menjalin hubungan yang baik dengan orang seperti itu (dengan wali--red.) kalian akan selalu terhubung dengannya: suatu "kawat" akan membawa arus ke kalbu kalian dari sumber tenaga miliknya. Bantuan itu akan paling terasa di saat-saat kalian membutuhkannya. Kini adalah siang hari dan kalian pun tak perlu mencari obor, tak perlu; namun di tengah kegelapan malam, bahkan cahaya yang redup seperti itu pun akan mencegah diri kalian jatuh ke dalam suatu lubang.
Seseorang Berhubungan dengan Cara Dia Menilai Waktunya
Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS
A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiimBismillaahir rahmaanir rahiimWash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin
Waktu ada di Tangan Allah SWT, artinya waktu menggerakkan segala sesuatu agar sesuai jalur menuju takdir yang telah ditetapkan. Ada yang mampu memahami lintasan waktu dan mengamatinya dengan mata kebijaksanaan. Orang-orang seperti itu menghadapi waktu dengan mengendalikannya setiap saat, menggunakan anugerah pemahaman Allah SWT itu untuk menggerakkan hidupnya menuju arah yang benar. Yang lain menggunakan waktu dengan hal-hal yang menyimpang, seperti ketika seseorang melihat pada cermin cekung atau cembung. Persepsi seperti ini terjadi karena mereka tidak berdamai dengan “Tangan Tuhan”; belum memahami alasan mengapa Allah SWT membatasi dunia ruang dan waktu.
Allah SWT bermaksud memberi sebuah kesempatan untuk menyempurnakan diri kita, guna meraih Atribut-Atribut Suci-Nya melalui berbagai usaha kita ketika menghadapi situasi yang sulit. Hal itu mempersiapkan diri kita untuk hari pertemuan kita kembali dengan Sang Khalik.
Dalam sebuah hadis qudsi, Tuhan mengatakan, “Keturunan Adam AS menyumpahi waktu, dan Akulah waktu. Di dalam Tangan-Ku berada lintasan siang dan malam.”
Bagi mereka yang belum memahami kebenaran ini, waktu terasa berjalan dengan cara yang menganggu dan tak menentu. Hal ini untuk menarik perhatian kita agar merubah diri sendiri untuk mendapatkan harmoni/keseimbangan dalam melewati waktu. Karena waktu itu sendiri, jelas ia tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat untuk mengakomodasi keinginan-keinginan kita.
Perasaan kita terhadap waktu adalah karena kemurahan Allah SWT. Seperti halnya perut sakit adalah indikasi untuk mengubah pola makan, sehingga sakit itu membangunkan kita untuk penyesuaian gaya hidup. Ada yang merasakan waktu cepat berlalu, bagaikan seorang penunggang yang merana di atas punggung kuda yang menyerbu sebuah kawanan ternak lalu menuju sebuah karang. Namun bagi yang lain, waktu seakan tidak bergerak seperti sedang terjerumus di dalam rawa-rawa.
Pertama-tama kita harus paham akan nilai dari waktu yang ketika terlewatkan tidak akan diperoleh kembali. Jika seluruh bangsa mengumpulkan sumber-sumbernya dalam usaha menebus satu detik dari masa lalu (untuk mengubah sebuah keputusan yang menimbulkan petaka, misalnya) akan berhasilkah mereka? Tidak!
Sebuah gunung harta tidak bisa membawa kembali satu detik momen penting dalam hidup kalian. Jadi, waktu amat berharga untuk diperhitungkan. Namun orang-orang malah menyia-nyiakannya agar bisa mempunyai waktu rehat lebih banyak.
Begitu banyak orang-orang (bukan saja yang secara klinis mengidap depresi) yang menderita ketidakmampuan untuk menyesuaikan waktu dengan cara agar tercapai kedamaian pikiran.
Nafsu anak-anak muda adalah ingin menelan seluruh dunia ini dengan seketika. Demam panas nafsu pencapaian akan kenikmatan membuat waktu terasa cepat berlalu. Seringkali, dalam waktu yang kritis ini tidak ada kebijaksanaan yang bisa dilatih, lalu memperturutkan kecenderungan ego untuk menghabiskan seluruh energi mereka. Itulah cara mudah untuk menghabiskan energi secara cepat dan ceroboh. Padahal hidup seperti sebuah lari marathon: butuh langkah-langkah, karena jika kalian berlari cepat dari permulaan maka akan roboh setelah beberapa ratus yard. Menyusun kembali sebuah persiapan energi butuh unsur-unsur kontrol diri dan kemauan, di mana hal itu jarang terdapat pada kaum muda.
Sebagian anak-anak muda menghindar dari cara-cara spiritual. Hanya ketika mereka sedang “jatuh” dan menderita lalu mereka datang ke sini dengan terpincang-pincang untuk “perbaikan”. Ratusan orang datang pada saya sambil mengatakan, “Wahai Syekh, bisakah engkau menolong saya?” Suatu tugas berat untuk menolong mereka yang telah menghabiskan seluruh tenaganya dengan sia-sia dan mereka yang mempunyai kekuatan fisik dan mental yang sayangnya berada di tingkat yang rendah.
Kadang-kadang saya merasa heran karena sebagaian dari mereka masih amat muda. Membangkitkan orang mati adalah sebuah keajaiban yang hanya diberikan pada nabi-nabi, namun sepanjang masih ada tanda-tanda kehidupan kami berharap mampu membangkitkan mereka dari keadaan koma.
Sebagai hasil apa yang dilakukan secara berlebih-lebihan, maka depresi menjangkiti kaum muda-mudi ini. Sekarang waktu menjadi tidak cepat berlalu, namun menyeret seperti jalannya seekor keong. Seorang yang depresi berharap waktu akan cepat berlalu namun kenyataannya berlawanan, menit seperti berjam-jam, sejam bagaikan berhari-hari, dan sehari bagaikan berminggu-minggu.
Biasanya, orang-orang yang energinya tidak tersalurkan dengan cara yang bermanfaat, dan merasa tidak berhasil dalam hidupnya, akan terjangkit perasaan seperti ini. Begitu tolol bagi mereka yang berharap bahwa waktu akan cepat berlalu, karena seperti yang telah kita sebutkan, waktu bagaikan sebuah perhiasan yang tidak ternilai.
Dalam Tarekat Naqsybandi yang mulia ini, kita mempunyai sebuah peraturan yang menonjol: nilai seseorang berhubungan dengan cara ia menilai waktunya. Jika kalian merasa waktu kalian sebagai sebuah beban yang tak berguna dan berharap untuk cepat berlalu, maka kalian akan menjadi sebuah beban di muka bumi ini, dan lebih baik kalian berada di bawahnya daripada di atas bumi. Mengapa? Karena kalian dengan ceroboh memboroskan satu harta yang tak ternilai, yaitu energi vital kalian.
Sekarang harta tak ternilai yang lain, yaitu waktu - bukan menjadi semacam kemakmuran di tangan kalian, tetapi menjadi timbunan tak terukur di bawah tanah yang telah kalian kubur. Bersikaplah bijaksana dengan energi vital kalian sehingga nilai dari waktu termanifestasi dalam hidup kalian. Jika kalian menjaga waktu kalian layaknya permata, maka kalian akan diagungkan di mata orang-orang dan di Hadirat Ilahi, di sini dan di akhirat kelak.
Ada sebuah ungkapan: “Seorang sufi bagaikan seorang anak bagi waktunya.” Artinya, seorang sufi memperlakukan waktunya dengan pemujaan dan rasa hormat yang sama seperti terhadap orang tuanya sendiri. Sikap baik terhadap orang tua adalah kewajiban utama dalam agama. Dalam tarekat sufi, kita ditekankan untuk menghormati waktu sebagaimana kita menghormati ayah dan ibu.
Seorang darwis sejati tidak akan pernah melewatkan sebuah momen dengan percuma, namun menangkapnya seperti seorang joki terlatih yang mengendalikan kudanya. Menggunakan kecakapan seperti itu agar waktu berjalan dengan arah yang benar dan dengan kecepatan yang tepat. Lihatlah seorang darwis sejati, pasti kalian akan menemukan mereka sibuk dengan sesuatu yang berguna, tidak pernah melakukan aktifitas yang merugikan atau yang sia-sia. Jika seseorang mampu menuntun dirinya sendiri pada perbuatan-perbuatan yang mengarah pada kesempurnaan, maka ia tahu apa yang harus dilakukan. Mata hatinya tidak pernah buta; ia selalu waspada terhadap tanda-tanda mengenai segala hal yang sedang dihadapinya.
Grandsyekh kita sering mengatakan, “Bagaimana kalian mengisi hari-hari kalian? Jangan sia-siakan waktu, usahakan untuk ‘menenun’ ruang dan waktu sehingga kalian meninggalkan warisan kekal di dunia ini dan terhormatlah karenanya di sini dan di akhirat kelak.”
Bagi pengikut tarekat, menyia-nyiakan waktu secara ceroboh atau mengisinya dengan aktifitas yang tidak berguna adalah dosa besar. Jagalah energi vital dan waktu berharga kalian, jadikan tiap saat menjadi berguna.
Wa min Allah at tawfiq
Tawassul
Yaa sayyid as-Saadaat wa Nuur al-Mawjuudaat, yaa man huwaal-malja’u liman massahu dhaymun wa ghammun wa alam. Yaa Aqrab al-wasaa’ili ila-Allahi ta’aalaa wa yaa Aqwal mustanad, attawasalu ilaa janaabika-l-a‘zham bi-hadzihi-s-saadaati, wa ahlillaah, wa Ahli Baytika-l-Kiraam, li daf’i dhurrin laa yudfa’u illaa bi wasithatik, wa raf’i dhaymin laa yurfa’u illaa bi-dalaalatik, bi Sayyidii wa Mawlay, yaa Sayyidi, yaa Rasuulallaah:
NabiShiddiqSalmaanQaasimJa’farThayfuurAbul HasanAbuu ‘AliYuusufAbul ‘Abbaas‘Abdul Khaaliq‘AarifMahmuud‘AliiMuhammad Baabaa as-SamaasiiSayyid Amiir KulaaliKhwaaja Bahaa’uddin Naqsyband‘Alaa’uddiinYa’quubUbayd AllaahMuhammad az-ZaahidDarwiisy MuhammadKhwajaa al-AmkanakiMuhammad al-BaaqiAhmad al-FaruuqiMuhammad Ma’sumSayfuddiinNuur MuhammadHabib Allaah‘Abd AllaahSyekh KhaalidSyekh Ismaa’ilKhaas MuhammadSyekh Muhammad Effendi al-YaraaghiSayyid Jamaaluddiin al-Ghumuuqi al-HusayniAbuu Ahmad as-SughuuriAbuu Muhammad al-MadaniiSayyidina Syekh Syarafuddin ad-DaghestaniSayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh ‘Abd Allaah al-Fa’iz ad-DaghestaniSayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh Muhammad Nazhim al-Haqqaani
Syahaamatu FardaaniYuusuf ash-Shiddiiq‘Abdur Ra’uuf al-YamaaniImaamul ‘Arifin Amaanul HaqqLisaanul Mutakallimiin ‘Aunullaah as-SakhaawiiAarif at-Tayyaar al-Ma’ruuf bi-MulhaanBurhaanul Kuramaa’ Ghawtsul AnaamYaa Shaahibaz Zaman wa yaa Shahibal `Unshur
Yaa BudallaYaa NujabaYaa NuqabaYaa AwtadYaa AkhyarYaa A’Immatal Arba’aYaa Malaaikatu fi samaawaati wal ardhYaa Awliya AllaahYaa Saadaat an-Naqsybandi
Rijaalallaah a’inunna bi’aunillaah waquunuu ‘awnallana bi-Llah, a’sa nahdha bi-fadhlillah,Al-Faatihah
Shuhba Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS
A'uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiimBismillaahir rahmaanir rahiimWash-shalaatu was-salaamu 'alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa 'alaa aalihi wa Shahbihi ajma'iin
Waktu ada di Tangan Allah SWT, artinya waktu menggerakkan segala sesuatu agar sesuai jalur menuju takdir yang telah ditetapkan. Ada yang mampu memahami lintasan waktu dan mengamatinya dengan mata kebijaksanaan. Orang-orang seperti itu menghadapi waktu dengan mengendalikannya setiap saat, menggunakan anugerah pemahaman Allah SWT itu untuk menggerakkan hidupnya menuju arah yang benar. Yang lain menggunakan waktu dengan hal-hal yang menyimpang, seperti ketika seseorang melihat pada cermin cekung atau cembung. Persepsi seperti ini terjadi karena mereka tidak berdamai dengan “Tangan Tuhan”; belum memahami alasan mengapa Allah SWT membatasi dunia ruang dan waktu.
Allah SWT bermaksud memberi sebuah kesempatan untuk menyempurnakan diri kita, guna meraih Atribut-Atribut Suci-Nya melalui berbagai usaha kita ketika menghadapi situasi yang sulit. Hal itu mempersiapkan diri kita untuk hari pertemuan kita kembali dengan Sang Khalik.
Dalam sebuah hadis qudsi, Tuhan mengatakan, “Keturunan Adam AS menyumpahi waktu, dan Akulah waktu. Di dalam Tangan-Ku berada lintasan siang dan malam.”
Bagi mereka yang belum memahami kebenaran ini, waktu terasa berjalan dengan cara yang menganggu dan tak menentu. Hal ini untuk menarik perhatian kita agar merubah diri sendiri untuk mendapatkan harmoni/keseimbangan dalam melewati waktu. Karena waktu itu sendiri, jelas ia tidak terlalu cepat ataupun terlalu lambat untuk mengakomodasi keinginan-keinginan kita.
Perasaan kita terhadap waktu adalah karena kemurahan Allah SWT. Seperti halnya perut sakit adalah indikasi untuk mengubah pola makan, sehingga sakit itu membangunkan kita untuk penyesuaian gaya hidup. Ada yang merasakan waktu cepat berlalu, bagaikan seorang penunggang yang merana di atas punggung kuda yang menyerbu sebuah kawanan ternak lalu menuju sebuah karang. Namun bagi yang lain, waktu seakan tidak bergerak seperti sedang terjerumus di dalam rawa-rawa.
Pertama-tama kita harus paham akan nilai dari waktu yang ketika terlewatkan tidak akan diperoleh kembali. Jika seluruh bangsa mengumpulkan sumber-sumbernya dalam usaha menebus satu detik dari masa lalu (untuk mengubah sebuah keputusan yang menimbulkan petaka, misalnya) akan berhasilkah mereka? Tidak!
Sebuah gunung harta tidak bisa membawa kembali satu detik momen penting dalam hidup kalian. Jadi, waktu amat berharga untuk diperhitungkan. Namun orang-orang malah menyia-nyiakannya agar bisa mempunyai waktu rehat lebih banyak.
Begitu banyak orang-orang (bukan saja yang secara klinis mengidap depresi) yang menderita ketidakmampuan untuk menyesuaikan waktu dengan cara agar tercapai kedamaian pikiran.
Nafsu anak-anak muda adalah ingin menelan seluruh dunia ini dengan seketika. Demam panas nafsu pencapaian akan kenikmatan membuat waktu terasa cepat berlalu. Seringkali, dalam waktu yang kritis ini tidak ada kebijaksanaan yang bisa dilatih, lalu memperturutkan kecenderungan ego untuk menghabiskan seluruh energi mereka. Itulah cara mudah untuk menghabiskan energi secara cepat dan ceroboh. Padahal hidup seperti sebuah lari marathon: butuh langkah-langkah, karena jika kalian berlari cepat dari permulaan maka akan roboh setelah beberapa ratus yard. Menyusun kembali sebuah persiapan energi butuh unsur-unsur kontrol diri dan kemauan, di mana hal itu jarang terdapat pada kaum muda.
Sebagian anak-anak muda menghindar dari cara-cara spiritual. Hanya ketika mereka sedang “jatuh” dan menderita lalu mereka datang ke sini dengan terpincang-pincang untuk “perbaikan”. Ratusan orang datang pada saya sambil mengatakan, “Wahai Syekh, bisakah engkau menolong saya?” Suatu tugas berat untuk menolong mereka yang telah menghabiskan seluruh tenaganya dengan sia-sia dan mereka yang mempunyai kekuatan fisik dan mental yang sayangnya berada di tingkat yang rendah.
Kadang-kadang saya merasa heran karena sebagaian dari mereka masih amat muda. Membangkitkan orang mati adalah sebuah keajaiban yang hanya diberikan pada nabi-nabi, namun sepanjang masih ada tanda-tanda kehidupan kami berharap mampu membangkitkan mereka dari keadaan koma.
Sebagai hasil apa yang dilakukan secara berlebih-lebihan, maka depresi menjangkiti kaum muda-mudi ini. Sekarang waktu menjadi tidak cepat berlalu, namun menyeret seperti jalannya seekor keong. Seorang yang depresi berharap waktu akan cepat berlalu namun kenyataannya berlawanan, menit seperti berjam-jam, sejam bagaikan berhari-hari, dan sehari bagaikan berminggu-minggu.
Biasanya, orang-orang yang energinya tidak tersalurkan dengan cara yang bermanfaat, dan merasa tidak berhasil dalam hidupnya, akan terjangkit perasaan seperti ini. Begitu tolol bagi mereka yang berharap bahwa waktu akan cepat berlalu, karena seperti yang telah kita sebutkan, waktu bagaikan sebuah perhiasan yang tidak ternilai.
Dalam Tarekat Naqsybandi yang mulia ini, kita mempunyai sebuah peraturan yang menonjol: nilai seseorang berhubungan dengan cara ia menilai waktunya. Jika kalian merasa waktu kalian sebagai sebuah beban yang tak berguna dan berharap untuk cepat berlalu, maka kalian akan menjadi sebuah beban di muka bumi ini, dan lebih baik kalian berada di bawahnya daripada di atas bumi. Mengapa? Karena kalian dengan ceroboh memboroskan satu harta yang tak ternilai, yaitu energi vital kalian.
Sekarang harta tak ternilai yang lain, yaitu waktu - bukan menjadi semacam kemakmuran di tangan kalian, tetapi menjadi timbunan tak terukur di bawah tanah yang telah kalian kubur. Bersikaplah bijaksana dengan energi vital kalian sehingga nilai dari waktu termanifestasi dalam hidup kalian. Jika kalian menjaga waktu kalian layaknya permata, maka kalian akan diagungkan di mata orang-orang dan di Hadirat Ilahi, di sini dan di akhirat kelak.
Ada sebuah ungkapan: “Seorang sufi bagaikan seorang anak bagi waktunya.” Artinya, seorang sufi memperlakukan waktunya dengan pemujaan dan rasa hormat yang sama seperti terhadap orang tuanya sendiri. Sikap baik terhadap orang tua adalah kewajiban utama dalam agama. Dalam tarekat sufi, kita ditekankan untuk menghormati waktu sebagaimana kita menghormati ayah dan ibu.
Seorang darwis sejati tidak akan pernah melewatkan sebuah momen dengan percuma, namun menangkapnya seperti seorang joki terlatih yang mengendalikan kudanya. Menggunakan kecakapan seperti itu agar waktu berjalan dengan arah yang benar dan dengan kecepatan yang tepat. Lihatlah seorang darwis sejati, pasti kalian akan menemukan mereka sibuk dengan sesuatu yang berguna, tidak pernah melakukan aktifitas yang merugikan atau yang sia-sia. Jika seseorang mampu menuntun dirinya sendiri pada perbuatan-perbuatan yang mengarah pada kesempurnaan, maka ia tahu apa yang harus dilakukan. Mata hatinya tidak pernah buta; ia selalu waspada terhadap tanda-tanda mengenai segala hal yang sedang dihadapinya.
Grandsyekh kita sering mengatakan, “Bagaimana kalian mengisi hari-hari kalian? Jangan sia-siakan waktu, usahakan untuk ‘menenun’ ruang dan waktu sehingga kalian meninggalkan warisan kekal di dunia ini dan terhormatlah karenanya di sini dan di akhirat kelak.”
Bagi pengikut tarekat, menyia-nyiakan waktu secara ceroboh atau mengisinya dengan aktifitas yang tidak berguna adalah dosa besar. Jagalah energi vital dan waktu berharga kalian, jadikan tiap saat menjadi berguna.
Wa min Allah at tawfiq
Tawassul
Yaa sayyid as-Saadaat wa Nuur al-Mawjuudaat, yaa man huwaal-malja’u liman massahu dhaymun wa ghammun wa alam. Yaa Aqrab al-wasaa’ili ila-Allahi ta’aalaa wa yaa Aqwal mustanad, attawasalu ilaa janaabika-l-a‘zham bi-hadzihi-s-saadaati, wa ahlillaah, wa Ahli Baytika-l-Kiraam, li daf’i dhurrin laa yudfa’u illaa bi wasithatik, wa raf’i dhaymin laa yurfa’u illaa bi-dalaalatik, bi Sayyidii wa Mawlay, yaa Sayyidi, yaa Rasuulallaah:
NabiShiddiqSalmaanQaasimJa’farThayfuurAbul HasanAbuu ‘AliYuusufAbul ‘Abbaas‘Abdul Khaaliq‘AarifMahmuud‘AliiMuhammad Baabaa as-SamaasiiSayyid Amiir KulaaliKhwaaja Bahaa’uddin Naqsyband‘Alaa’uddiinYa’quubUbayd AllaahMuhammad az-ZaahidDarwiisy MuhammadKhwajaa al-AmkanakiMuhammad al-BaaqiAhmad al-FaruuqiMuhammad Ma’sumSayfuddiinNuur MuhammadHabib Allaah‘Abd AllaahSyekh KhaalidSyekh Ismaa’ilKhaas MuhammadSyekh Muhammad Effendi al-YaraaghiSayyid Jamaaluddiin al-Ghumuuqi al-HusayniAbuu Ahmad as-SughuuriAbuu Muhammad al-MadaniiSayyidina Syekh Syarafuddin ad-DaghestaniSayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh ‘Abd Allaah al-Fa’iz ad-DaghestaniSayyidina wa Mawlaana Sultan al-Awliya Sayyidi Syekh Muhammad Nazhim al-Haqqaani
Syahaamatu FardaaniYuusuf ash-Shiddiiq‘Abdur Ra’uuf al-YamaaniImaamul ‘Arifin Amaanul HaqqLisaanul Mutakallimiin ‘Aunullaah as-SakhaawiiAarif at-Tayyaar al-Ma’ruuf bi-MulhaanBurhaanul Kuramaa’ Ghawtsul AnaamYaa Shaahibaz Zaman wa yaa Shahibal `Unshur
Yaa BudallaYaa NujabaYaa NuqabaYaa AwtadYaa AkhyarYaa A’Immatal Arba’aYaa Malaaikatu fi samaawaati wal ardhYaa Awliya AllaahYaa Saadaat an-Naqsybandi
Rijaalallaah a’inunna bi’aunillaah waquunuu ‘awnallana bi-Llah, a’sa nahdha bi-fadhlillah,Al-Faatihah
Minggu, 29 Juni 2008
Sebuah mesin bernama disiplin
Bismillahir rahmaanir rahiim
Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim
Sebuah Mesin bernama Disiplin
Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS
Lefke, Siprus: April 2001
Kita memerlukan disiplin. Kita memerlukannya untuk membawa diri kita dari level terendah menuju level tertinggi. Level terendah dalam al-Qur’an disebutkan, “tsumma radadnahu asfala safiliin” “kemudian Kami rendahkan mereka ke tempat paling rendah” [QS 95:5]. Arti dari asfala safiliin dapat ditemukan dalam hasrat fisik kita. Selama seseorang masih bersama hasrat kebinatangan yang tidak pernah berakhir itu, ia akan berada di level terendah. Karakter ini adalah milik binatang. Selama kita mengikuti bisikan ego dan keinginan fisik kita berada pada level yang sama dengan binatang. Tetapi kita telah dipanggil, kita telah diundang untuk bangkit dari
asfal, level terendah menuju ahsan, level tertinggi. Dan kita telah diberikan sebuah mesin untuk perjalanan ini oleh Yang berada di Surga. Mesin itu adalah disiplin.
Tanpa disiplin yang kalian letakkan pada ego kalian, kalian tidak bisa beranjak dari asfal ke ahsan. Syariah membawa disiplin itu dengan dua sayap, satu sayap dengan perintah dan sayap lainnya dengan hal-hal yang dilarang. Satu sayap membawa apa yang harus kalian lakukan sementara sayap yang lain membawa apa-apa yang tidak boleh kalian lakukan. Dengan kedua sayap disiplin itu, kalian bisa terbang. Jika salah satu sayap patah atau jika bulu-bulunya rontok, kalian tidak bisa terbang.
Ketika kalian menyetir mobil, setiap bagian dalam mesin harus dalam kondisi baik. Jika salah satu skrup kecil hilang, bisa jadi mobil itu tidak bisa bergerak. Semuanya harus sempurna dan semuanya mempunyai kesempurnaan. Mobil yang tidak sempurna tidak bisa bergerak. Pesawat terbang harus mempunyai disiplin yang lebih tinggi daripada mobil. Syariah membawa kalian dari satu tempat ke tempat yang lain dalam level pertama seperti halnya sebuah mobil membawa kalian dari suatu tempat ke tempat yang lain melalui sebuah jalan. Bergerak di jalan merupakan satu hal, terbang adalah hal lain. Kalian harus menggunakan disiplin pesawat terbang ketika menggunakannya. Dan itu lebih ketat dibandingkan dengan mobil. Syariah mempersiapkan manusia pada level pertama.
Tarekat adalah untuk mengangkat manusia. Beberapa orang menghabiskan setengah jam dari waktunya mendiskusikan bagaimana kita harus mempersiapkan diri kita, bagaimana kita mesti duduk, bagaimana kita harus bersikap sopan-santun. Disiplin seperti itu bagaikan disiplin sebuah mobil. Pesawat terbang harus mempunyai disiplin yang lebih banyak lagi. Kekuatan mesinnya harus mencapai level tertinggi sebelum lepas landas. Pertama, pesawat berada di landasan pacu di permukaan bumi dengan kecepatan 30 mil per jam. Itu tidak cukup. Kemudian pada saat berjalan pelan kecepatannya meningkat ke 60, 70, 100, 300 mil, baru kemudian lepas landas. Kemudian kecepatan di udara mencapai 350, 400, 500 mil per jam dan lebih tinggi lagi.
Orang berpikir bahwa bahkan dengan kemalasan mereka bisa bergerak dari bumi ke surga. Mereka membayangkan bahwa mereka bisa terbang dengan ego mereka. Tidak, itu tidak bisa! Kalian harus menanamkan disiplin dengan syariah dan kemudian dengan tarekat. Tarekat berarti menjaga disiplin. Bila kalian meminta untuk pergi ke surga, kalian harus mempunyai disiplin itu.
Orang-orang bertanya kepada saya, “Wahai Syekh! Tanpa masuk Islam apakah mungkin untuk mengikuti Jalan Sufi?” Hal itu seperti bertanya, apakah kalian bisa men-starter mobil tanpa menggunakan baterai (aki). Atau terbang di udara dengan mobil. Tidak, itu tidak bisa!
Kalian tidak bisa men-starter mobil tanpa baterai. Kalian tidak bisa terbang di udara dengan menggunakan mesin mobil. Jika kalian mencobanya, kalian akan bergerak seperti ini (Syekh membuat isyarat tangan menunjukkan gerakan oleng dan menyamping) dan akhirnya jatuh. Untuk men-starter mobil, kalian memerlukan baterai. Untuk terbang, kalian memerlukan mesin pesawat terbang. Orang-orang bertanya kepada saya mengenai hal ini. Mereka tidak senang jika kalian meminta mereka untuk berdisiplin. Mereka tidak ingin mengontrol ego mereka. Mereka adalah yang paling bodoh di hadapan Tuhan mereka.
Orang-orang bertanya tentang penyembahan terhadap berhala. Mereka membuat patung-patung tertentu lalu membungkuk di hadapannya. Ada banyak sekali patung. Setiap orang menurut imajinasi mereka menciptakan sebuah figur. Orang-orang ini menciptakan sendiri pencipta mereka. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Hanya ada satu Pencipta. Hanya Dia-lah Sang Pencipta.
Orang-orang menciptakan hijab terbesar antara hamba dengan Tuhannya. Setiap saat seseorang diminta untuk menyembah Tuhannya, egonya berkata, “Tidak! Jangan ucapkan la ilaha ill-Allah, ucapkanlah la ilaha illa ana (tidak ada tuhan selain diriku sendiri) atau ucapkan la ilaha illa nafsi (tidak ada tuhan selain egoku), dan jika Aku tidak memberimu izin, kamu tidak boleh menyembah Tuhanmu.
24 jam sehari harus untukku. Tetapi jika kamu mau melakuakan sesuatu untuk-Nya, 1 menit lebih dari cukup. Selama 24 jam kamu harus menjadi hambaku. Untuk-Nya 1 menit saja cukup. Atau mungkin 1 menit dalam 1 minggu atau 1 menit dalam 1 bulan. Kadang-kadang 1 menit dalam 1 tahun.”
Ego mencegah orang dari disiplin, untuk mi’raj mereka—Kenaikan mereka menuju ke Hadirat Ilahi. Setiap orang mempunyai suatu perjalanan yang harus ditempuh dari tempat di mana ia berasal menuju satu tempat di surga. Allah SWT telah memberikan satu tempat di surga bagi setiap orang. Surga menanti kalian. “Mari, mari (Syekh membuat isyarat ajakan).” Jika kalian menjaga disiplin, kalian bisa mencapai tempat yang istimewa itu, bangku yang istimewa diberikan kepada kalian di Hadirat Ilahi.
Tetapi orang-orang di abad 21 adalah budak terhadap ego mereka. Mereka menyembah ego mereka. Dan mereka berperang bukan untuk surga tetapi untuk ego mereka. Mereka memerangi Tuhan mereka seperti Namrud. Mereka telah menjadi hamba Setan dan budak tubuh fisik mereka. Inilah orang-orang di abad 21.
Di abad ini, jarang terdapat orang yang mengarahkan pandangannya ke Surga. Banyak cahaya di Surga.
Namun mayoritas orang menjalani hidupnya tanpa mencari suatu cahaya. Orang-orang datang ke asosiasi (dan tarekat adalah asosiasi) ini untuk mengerti. Begitu banyak orang yang bertanya, “Apa itu tarekat? Tarekat adalah untuk mengetahui realitas. Orang yang ingin mengetahui realitas dari eksistensi mereka dan untuk mengetahui realitas hubungan mereka dengan Tuhannya harus mengikuti tarekat. Jika ia datang untuk menerima cahaya, ketahuilah bahwa cahaya telah dikirimkan kepada seluruh rasul dan cahaya terakhir diberikan kepada Rasul terakhir, Rasulullah SAW untuk seluruh umat manusia. Kami senang untuk mengambil cahaya itu dan meneruskannya kepada kalian.
Banyak orang akan pergi (ke kuburnya) dengan lilin yang padam. Ketika mereka bertemu Tuhan mereka, Allah SWT bertanya, “Wahai hamba-Ku! Berapa tahun kamu hidup di bumi? Aku memberimu begitu banyak lilin, begitu banyak cahaya dari Surga, begitu banyak rasul yang datang kepadamu dengan cahaya Surga, di mana cahayamu? Apakah kamu mengikuti cahaya itu?” Apa yang akan kalian katakan? Jadi, semua rasul harus diikuti. Kalian harus mencari cahaya yang telah diberikan dari Surga melalui semua Rasul. Cahaya itu selalu berada di sana. Tetapi ia membutuhkan sebuah transformer (sebuah receiver, penerima), kabel, dan sebuah bola lampu bagimu agar bisa terlihat. Cahaya Surga dikirimkan kepada semua rasul untuk membantu seluruh hamba Tuhan untuk melihat dan mengamati.
Kalian merasakan eksistensi Allah SWT melalui Samudra Kekuatan yang tanpa akhir, melalui Samudra Keindahan-Nya yang tanpa akhir, melalui Samudra Rahmat-Nya yang tanpa akhir. Jika kalian menerima cahaya dari seluruh rasul, maka eksistensi Tuhan pemilik Surga akan menjadi jelas bagi kalian.
Jika tidak ada cahaya Surga, kalian tidak dapat melihat apa-apa. Yang ada hanya kegelapan. Melalui kegelapan orang tidak dapat melihat, kecuali jika ada bintang, bulan atau matahari. Orang-orang yang tidak mendapat cahaya dari rasul menganggap bahwa Allah SWT tidak ada. Mereka tidak bisa melihat. Mereka mencintai Setan dan mempelajari ajaran Setan. Mereka menolak untuk membawa cahaya kerasulan ke pusat-pusat pendidikan agar orang-orang menjadi tahu, kemudian bertanya, mengamati, belajar dan mengajar. Bila kalian membawa cahaya Surga ke universitas, mereka akan berkata, “Tidak! Kami tidak menerimanya.” Mereka bertekad untuk menjadi buta, berada dalam kegelapan, menjadi teman seluruh Setan dan untuk menempatkan kekuatan di tangan Setan.
Kita berbicara kepada orang-orang ini, “Sekarang waktu kalian telah habis. Periode kalian telah berakhir. Kesultanan kalian akan lenyap dan cahaya Surga akan tampak bagi setiap orang.” Semoga Allah SWT memberkahi Shahib uz-Zaman, Imam Mahdi AS. Semoga Dia segera mengirimkannya begitu pula dengan Nabi ‘Isa AS yang akan menyingkirkan kesultanan Setan tersebut. Kita memohon dengan kerendahan hati kepada Allah SWT agar bisa mencapai hari-hari yang penuh kedamaian, hari-hari yang diberkahi, Hari Akhir, untuk hidup hanya untuk Allah SWT, dan untuk bekerja hanya untuk Allah SWT.
Semoga Allah SWT memberkahi kalian.
Wa min Allah at tawfiq
Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin wa sallim
Sebuah Mesin bernama Disiplin
Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS
Lefke, Siprus: April 2001
Kita memerlukan disiplin. Kita memerlukannya untuk membawa diri kita dari level terendah menuju level tertinggi. Level terendah dalam al-Qur’an disebutkan, “tsumma radadnahu asfala safiliin” “kemudian Kami rendahkan mereka ke tempat paling rendah” [QS 95:5]. Arti dari asfala safiliin dapat ditemukan dalam hasrat fisik kita. Selama seseorang masih bersama hasrat kebinatangan yang tidak pernah berakhir itu, ia akan berada di level terendah. Karakter ini adalah milik binatang. Selama kita mengikuti bisikan ego dan keinginan fisik kita berada pada level yang sama dengan binatang. Tetapi kita telah dipanggil, kita telah diundang untuk bangkit dari
asfal, level terendah menuju ahsan, level tertinggi. Dan kita telah diberikan sebuah mesin untuk perjalanan ini oleh Yang berada di Surga. Mesin itu adalah disiplin.
Tanpa disiplin yang kalian letakkan pada ego kalian, kalian tidak bisa beranjak dari asfal ke ahsan. Syariah membawa disiplin itu dengan dua sayap, satu sayap dengan perintah dan sayap lainnya dengan hal-hal yang dilarang. Satu sayap membawa apa yang harus kalian lakukan sementara sayap yang lain membawa apa-apa yang tidak boleh kalian lakukan. Dengan kedua sayap disiplin itu, kalian bisa terbang. Jika salah satu sayap patah atau jika bulu-bulunya rontok, kalian tidak bisa terbang.
Ketika kalian menyetir mobil, setiap bagian dalam mesin harus dalam kondisi baik. Jika salah satu skrup kecil hilang, bisa jadi mobil itu tidak bisa bergerak. Semuanya harus sempurna dan semuanya mempunyai kesempurnaan. Mobil yang tidak sempurna tidak bisa bergerak. Pesawat terbang harus mempunyai disiplin yang lebih tinggi daripada mobil. Syariah membawa kalian dari satu tempat ke tempat yang lain dalam level pertama seperti halnya sebuah mobil membawa kalian dari suatu tempat ke tempat yang lain melalui sebuah jalan. Bergerak di jalan merupakan satu hal, terbang adalah hal lain. Kalian harus menggunakan disiplin pesawat terbang ketika menggunakannya. Dan itu lebih ketat dibandingkan dengan mobil. Syariah mempersiapkan manusia pada level pertama.
Tarekat adalah untuk mengangkat manusia. Beberapa orang menghabiskan setengah jam dari waktunya mendiskusikan bagaimana kita harus mempersiapkan diri kita, bagaimana kita mesti duduk, bagaimana kita harus bersikap sopan-santun. Disiplin seperti itu bagaikan disiplin sebuah mobil. Pesawat terbang harus mempunyai disiplin yang lebih banyak lagi. Kekuatan mesinnya harus mencapai level tertinggi sebelum lepas landas. Pertama, pesawat berada di landasan pacu di permukaan bumi dengan kecepatan 30 mil per jam. Itu tidak cukup. Kemudian pada saat berjalan pelan kecepatannya meningkat ke 60, 70, 100, 300 mil, baru kemudian lepas landas. Kemudian kecepatan di udara mencapai 350, 400, 500 mil per jam dan lebih tinggi lagi.
Orang berpikir bahwa bahkan dengan kemalasan mereka bisa bergerak dari bumi ke surga. Mereka membayangkan bahwa mereka bisa terbang dengan ego mereka. Tidak, itu tidak bisa! Kalian harus menanamkan disiplin dengan syariah dan kemudian dengan tarekat. Tarekat berarti menjaga disiplin. Bila kalian meminta untuk pergi ke surga, kalian harus mempunyai disiplin itu.
Orang-orang bertanya kepada saya, “Wahai Syekh! Tanpa masuk Islam apakah mungkin untuk mengikuti Jalan Sufi?” Hal itu seperti bertanya, apakah kalian bisa men-starter mobil tanpa menggunakan baterai (aki). Atau terbang di udara dengan mobil. Tidak, itu tidak bisa!
Kalian tidak bisa men-starter mobil tanpa baterai. Kalian tidak bisa terbang di udara dengan menggunakan mesin mobil. Jika kalian mencobanya, kalian akan bergerak seperti ini (Syekh membuat isyarat tangan menunjukkan gerakan oleng dan menyamping) dan akhirnya jatuh. Untuk men-starter mobil, kalian memerlukan baterai. Untuk terbang, kalian memerlukan mesin pesawat terbang. Orang-orang bertanya kepada saya mengenai hal ini. Mereka tidak senang jika kalian meminta mereka untuk berdisiplin. Mereka tidak ingin mengontrol ego mereka. Mereka adalah yang paling bodoh di hadapan Tuhan mereka.
Orang-orang bertanya tentang penyembahan terhadap berhala. Mereka membuat patung-patung tertentu lalu membungkuk di hadapannya. Ada banyak sekali patung. Setiap orang menurut imajinasi mereka menciptakan sebuah figur. Orang-orang ini menciptakan sendiri pencipta mereka. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Hanya ada satu Pencipta. Hanya Dia-lah Sang Pencipta.
Orang-orang menciptakan hijab terbesar antara hamba dengan Tuhannya. Setiap saat seseorang diminta untuk menyembah Tuhannya, egonya berkata, “Tidak! Jangan ucapkan la ilaha ill-Allah, ucapkanlah la ilaha illa ana (tidak ada tuhan selain diriku sendiri) atau ucapkan la ilaha illa nafsi (tidak ada tuhan selain egoku), dan jika Aku tidak memberimu izin, kamu tidak boleh menyembah Tuhanmu.
24 jam sehari harus untukku. Tetapi jika kamu mau melakuakan sesuatu untuk-Nya, 1 menit lebih dari cukup. Selama 24 jam kamu harus menjadi hambaku. Untuk-Nya 1 menit saja cukup. Atau mungkin 1 menit dalam 1 minggu atau 1 menit dalam 1 bulan. Kadang-kadang 1 menit dalam 1 tahun.”
Ego mencegah orang dari disiplin, untuk mi’raj mereka—Kenaikan mereka menuju ke Hadirat Ilahi. Setiap orang mempunyai suatu perjalanan yang harus ditempuh dari tempat di mana ia berasal menuju satu tempat di surga. Allah SWT telah memberikan satu tempat di surga bagi setiap orang. Surga menanti kalian. “Mari, mari (Syekh membuat isyarat ajakan).” Jika kalian menjaga disiplin, kalian bisa mencapai tempat yang istimewa itu, bangku yang istimewa diberikan kepada kalian di Hadirat Ilahi.
Tetapi orang-orang di abad 21 adalah budak terhadap ego mereka. Mereka menyembah ego mereka. Dan mereka berperang bukan untuk surga tetapi untuk ego mereka. Mereka memerangi Tuhan mereka seperti Namrud. Mereka telah menjadi hamba Setan dan budak tubuh fisik mereka. Inilah orang-orang di abad 21.
Di abad ini, jarang terdapat orang yang mengarahkan pandangannya ke Surga. Banyak cahaya di Surga.
Namun mayoritas orang menjalani hidupnya tanpa mencari suatu cahaya. Orang-orang datang ke asosiasi (dan tarekat adalah asosiasi) ini untuk mengerti. Begitu banyak orang yang bertanya, “Apa itu tarekat? Tarekat adalah untuk mengetahui realitas. Orang yang ingin mengetahui realitas dari eksistensi mereka dan untuk mengetahui realitas hubungan mereka dengan Tuhannya harus mengikuti tarekat. Jika ia datang untuk menerima cahaya, ketahuilah bahwa cahaya telah dikirimkan kepada seluruh rasul dan cahaya terakhir diberikan kepada Rasul terakhir, Rasulullah SAW untuk seluruh umat manusia. Kami senang untuk mengambil cahaya itu dan meneruskannya kepada kalian.
Banyak orang akan pergi (ke kuburnya) dengan lilin yang padam. Ketika mereka bertemu Tuhan mereka, Allah SWT bertanya, “Wahai hamba-Ku! Berapa tahun kamu hidup di bumi? Aku memberimu begitu banyak lilin, begitu banyak cahaya dari Surga, begitu banyak rasul yang datang kepadamu dengan cahaya Surga, di mana cahayamu? Apakah kamu mengikuti cahaya itu?” Apa yang akan kalian katakan? Jadi, semua rasul harus diikuti. Kalian harus mencari cahaya yang telah diberikan dari Surga melalui semua Rasul. Cahaya itu selalu berada di sana. Tetapi ia membutuhkan sebuah transformer (sebuah receiver, penerima), kabel, dan sebuah bola lampu bagimu agar bisa terlihat. Cahaya Surga dikirimkan kepada semua rasul untuk membantu seluruh hamba Tuhan untuk melihat dan mengamati.
Kalian merasakan eksistensi Allah SWT melalui Samudra Kekuatan yang tanpa akhir, melalui Samudra Keindahan-Nya yang tanpa akhir, melalui Samudra Rahmat-Nya yang tanpa akhir. Jika kalian menerima cahaya dari seluruh rasul, maka eksistensi Tuhan pemilik Surga akan menjadi jelas bagi kalian.
Jika tidak ada cahaya Surga, kalian tidak dapat melihat apa-apa. Yang ada hanya kegelapan. Melalui kegelapan orang tidak dapat melihat, kecuali jika ada bintang, bulan atau matahari. Orang-orang yang tidak mendapat cahaya dari rasul menganggap bahwa Allah SWT tidak ada. Mereka tidak bisa melihat. Mereka mencintai Setan dan mempelajari ajaran Setan. Mereka menolak untuk membawa cahaya kerasulan ke pusat-pusat pendidikan agar orang-orang menjadi tahu, kemudian bertanya, mengamati, belajar dan mengajar. Bila kalian membawa cahaya Surga ke universitas, mereka akan berkata, “Tidak! Kami tidak menerimanya.” Mereka bertekad untuk menjadi buta, berada dalam kegelapan, menjadi teman seluruh Setan dan untuk menempatkan kekuatan di tangan Setan.
Kita berbicara kepada orang-orang ini, “Sekarang waktu kalian telah habis. Periode kalian telah berakhir. Kesultanan kalian akan lenyap dan cahaya Surga akan tampak bagi setiap orang.” Semoga Allah SWT memberkahi Shahib uz-Zaman, Imam Mahdi AS. Semoga Dia segera mengirimkannya begitu pula dengan Nabi ‘Isa AS yang akan menyingkirkan kesultanan Setan tersebut. Kita memohon dengan kerendahan hati kepada Allah SWT agar bisa mencapai hari-hari yang penuh kedamaian, hari-hari yang diberkahi, Hari Akhir, untuk hidup hanya untuk Allah SWT, dan untuk bekerja hanya untuk Allah SWT.
Semoga Allah SWT memberkahi kalian.
Wa min Allah at tawfiq
Minggu, 25 Mei 2008
Dzikir kedua naqsbandi
BismillahirRahminirRahim,
Assalamualaikum,
Sebelumnya saya mohon maaf jika posting saya ini membuat anggota milis ini jadi bosan. Tapi saya tidak dapat menahan diri untuk tidak menuliskannya.
Malam Jum'at kemarin alhamdulillah saya berkesempatan ikut majelis dzikir di Cempaka Putih, di rumah Bapak Tarigan.
Berbeda dengan dzikir pertama saya yang diawali dengan perasaan asing karena belum kenal siapapun, pada dzikir kedua tampaknya dengan mudah saya mendapat teman. Ada bu Utje, bu Hesti, bu Meni, Kiki, bahkan saya sempat berbincang dengan Syeikh Rizal Tarigan. Terjawab keheranan saya semula, karena yayasan At Taufiq yang didirikan pak Malik Tarigan beraliran Muhammadiyah, kok bisa-bisanya pak Tarigan sekeluarga ikut tarekat. Setahu saya Muhammadiyah itu sangat anti bid'ah. Saya ingat dulu kami (para orangtua murid) tidak diperkenankan mengadakan maulidan atau Yasinan di lingkungan At Taufiq. Yah semua orang dapat berubah, termasuk saya.
Dalam dzkir kedua ini saya mendapat pengalaman baru lagi. Awalnya saya ikuti nasihat imam untuk merasakan mahabbah kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Jadi saya ikuti berdzikir sambil menikmati kecintaan kepada Allah dan Rasulullah. Tubuh terasa bergerak perlahan mengikuti irama dzikir. Selama berdzikir saya dapat mendengar isak saudara dsebelah saya. Saya sendiri termasuk orang yang tidak mudah menangis, jadi saya sudah terbiasa pula selalu berusaha ikut merasakan tangis orang-orang yang beribadah di sekitar saya yang berasal dari kelembutan hati mereka.
Menjelang berakhirnya dzikir, tiba-tiba kepala saya tertunduk dalam-dalam dan saya menangis terisak-isak. Subhanallah! Perasaan yang sungguh luar biasa bagi saya! Saya merasa begitu bahagia dan hati terasa ringan. Ketika bersalawat, keriangan hati saya membuat saya mengikuti gerakan-gerakan yang dilakukan saudara-saudara lainnya. Ketika dzikir pertama, saya diam saja dan berpikir betapa kuatnya mereka yang melakukan gerakan-gerakan tersebut. Ternyata setelah saya ikuti, gerakan-gerakan itu tidak membuat saya lelah bahkan membuat rasa kaku akibat lama duduk bersila menjadi hilang. Saya kemudian ikut bersalaman dengan semua wanita yang hadir dengan senyum di bibir yang tak dapat saya cegah yang timbul dari hati yang penuh keriangan. Ketika bersalaman itulah saya dapat berkenalan dengan Ibu Uthe yang baik hati, yang kemudian memberi saya tips-tips yang bermanfaat.
Pada kesempatan dzikir kedua ini saya tidak sulit mencari orang yang dapat saya gandeng melihat buku-buku, malahan saya yang digandeng oleh Kiki. Saya membeli Buku Adab Naqsbandi. Buku ini sungguh buku yang luar biasa, persis seperti yang diutarakan dalam kata pengantarnya. Banyak sekali ilmu yang terkandung di dalamnya. Dalam buku ini antara lain terjawab rahasia pengulangan bacaan dzikir yang selama ini menjadi pertanyaan bagi saya. Ada juga rahasia wudhu dan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Wah, saya pasti memerlukan waktu yang sangat lama untuk mempelajarinya. Saya merasa sangat beruntung telah datang ke majelis dzikir dan mendapatkan buku ini. Ohya, ibu Hesti juga telah meminjamkan saya buku al Haqq yang cetakan lama, yang katanya akan dibutuhkan oleh para anggota yang baru.
Saudara-saudaraku sekalian, sungguh saya semakin yakin bahwa saya telah berada dalam tempat yang tepat. Insha Allah. Terima kasih atas dukungan Anda semua baik melalui milis, YM maupun tatap muka.
salam,
Roosdiana
Assalamualaikum,
Sebelumnya saya mohon maaf jika posting saya ini membuat anggota milis ini jadi bosan. Tapi saya tidak dapat menahan diri untuk tidak menuliskannya.
Malam Jum'at kemarin alhamdulillah saya berkesempatan ikut majelis dzikir di Cempaka Putih, di rumah Bapak Tarigan.
Berbeda dengan dzikir pertama saya yang diawali dengan perasaan asing karena belum kenal siapapun, pada dzikir kedua tampaknya dengan mudah saya mendapat teman. Ada bu Utje, bu Hesti, bu Meni, Kiki, bahkan saya sempat berbincang dengan Syeikh Rizal Tarigan. Terjawab keheranan saya semula, karena yayasan At Taufiq yang didirikan pak Malik Tarigan beraliran Muhammadiyah, kok bisa-bisanya pak Tarigan sekeluarga ikut tarekat. Setahu saya Muhammadiyah itu sangat anti bid'ah. Saya ingat dulu kami (para orangtua murid) tidak diperkenankan mengadakan maulidan atau Yasinan di lingkungan At Taufiq. Yah semua orang dapat berubah, termasuk saya.
Dalam dzkir kedua ini saya mendapat pengalaman baru lagi. Awalnya saya ikuti nasihat imam untuk merasakan mahabbah kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Jadi saya ikuti berdzikir sambil menikmati kecintaan kepada Allah dan Rasulullah. Tubuh terasa bergerak perlahan mengikuti irama dzikir. Selama berdzikir saya dapat mendengar isak saudara dsebelah saya. Saya sendiri termasuk orang yang tidak mudah menangis, jadi saya sudah terbiasa pula selalu berusaha ikut merasakan tangis orang-orang yang beribadah di sekitar saya yang berasal dari kelembutan hati mereka.
Menjelang berakhirnya dzikir, tiba-tiba kepala saya tertunduk dalam-dalam dan saya menangis terisak-isak. Subhanallah! Perasaan yang sungguh luar biasa bagi saya! Saya merasa begitu bahagia dan hati terasa ringan. Ketika bersalawat, keriangan hati saya membuat saya mengikuti gerakan-gerakan yang dilakukan saudara-saudara lainnya. Ketika dzikir pertama, saya diam saja dan berpikir betapa kuatnya mereka yang melakukan gerakan-gerakan tersebut. Ternyata setelah saya ikuti, gerakan-gerakan itu tidak membuat saya lelah bahkan membuat rasa kaku akibat lama duduk bersila menjadi hilang. Saya kemudian ikut bersalaman dengan semua wanita yang hadir dengan senyum di bibir yang tak dapat saya cegah yang timbul dari hati yang penuh keriangan. Ketika bersalaman itulah saya dapat berkenalan dengan Ibu Uthe yang baik hati, yang kemudian memberi saya tips-tips yang bermanfaat.
Pada kesempatan dzikir kedua ini saya tidak sulit mencari orang yang dapat saya gandeng melihat buku-buku, malahan saya yang digandeng oleh Kiki. Saya membeli Buku Adab Naqsbandi. Buku ini sungguh buku yang luar biasa, persis seperti yang diutarakan dalam kata pengantarnya. Banyak sekali ilmu yang terkandung di dalamnya. Dalam buku ini antara lain terjawab rahasia pengulangan bacaan dzikir yang selama ini menjadi pertanyaan bagi saya. Ada juga rahasia wudhu dan kekuatan yang terkandung di dalamnya. Wah, saya pasti memerlukan waktu yang sangat lama untuk mempelajarinya. Saya merasa sangat beruntung telah datang ke majelis dzikir dan mendapatkan buku ini. Ohya, ibu Hesti juga telah meminjamkan saya buku al Haqq yang cetakan lama, yang katanya akan dibutuhkan oleh para anggota yang baru.
Saudara-saudaraku sekalian, sungguh saya semakin yakin bahwa saya telah berada dalam tempat yang tepat. Insha Allah. Terima kasih atas dukungan Anda semua baik melalui milis, YM maupun tatap muka.
salam,
Roosdiana
Sabtu, 17 Mei 2008
Pak Jay
Sebagai seorang pencari Tuhan, saya tiada ragu untuk belajar dari siapa saja yang saya anggap dapat makin mendekatkan saya kepada Tuhan.
Sudah lama saya mengikuti milis sebuah tarekat. Dari sana saya tahu perlunya kita mempunyai seorang guru mursyid yang akan membimbing kita menemukan Tuhan, menemukan jalan kembali ke kampung akhirat. Namun perjalan saya membawa saya ke perguruan Misykatul Anwar, dengan Guru kami Syeikh Syarif Hidayat Muhammad Tasdiq. Saya belajar makrifat.
Seiring perjalanan waktu, saya merasa tak dapat meneruskan perjalanan saya sendirian. Saya perlu seorang Guru yang dapat terus mendampingi saya dalam perjalanan itu. Saya berjalan seakan tiada pernah maju-maju. Kegelisahan melanda hati saya.
Dalam saat seperti itu, seseorang dari dunia maya menghampiri saya, mengajak saya dialog dan menuntun saya ke sebuah portal yang berisi lautan ilmu. Portal itu membuat saya merasa menemukan sebuah oase yang dapat memenuhi rasa dahaga yang tengah menghinggapi saya. Orang itu kemudian biasa saya panggil Pak Jay. Dari pak Jay kemudian saya berkenalan dengan Maulana Syeikh Nazim Ak Haqqani, seorang pendiri tarekat Naqsbandi.
Saudaraku, sejak saat itu, pertengahan April 2008, saya menjadi pengikut tarekat Naqsbandi. Semula karena saya berjumpa pak Jay di milis TQN, saya kira saya telah menjadi anggota tarekatnya abah Anom dari Suryalaya. Ternyata saya keliru. Tarekat yang saya ikut bukan tarekat Abah anom. Yah, saya anggap begitulah Allah menuntun perjalanan panjang saya. Pak Jay kemudian memperkenalkan saya dengan saudara-saudara lainnya dalam tarekat Naqsbandi. Masih dalam dunia maya, saya merasa menemukan sebuah keluarga yang penuh perhatian. Saya juga menemukan sebuah oase ilmu yang dapat saya reguk sepuas-puasnya. Saya juga dapat merasakan adanya Guru yang mendampingi saya. Alhamdulillah.
Sudah lama saya mengikuti milis sebuah tarekat. Dari sana saya tahu perlunya kita mempunyai seorang guru mursyid yang akan membimbing kita menemukan Tuhan, menemukan jalan kembali ke kampung akhirat. Namun perjalan saya membawa saya ke perguruan Misykatul Anwar, dengan Guru kami Syeikh Syarif Hidayat Muhammad Tasdiq. Saya belajar makrifat.
Seiring perjalanan waktu, saya merasa tak dapat meneruskan perjalanan saya sendirian. Saya perlu seorang Guru yang dapat terus mendampingi saya dalam perjalanan itu. Saya berjalan seakan tiada pernah maju-maju. Kegelisahan melanda hati saya.
Dalam saat seperti itu, seseorang dari dunia maya menghampiri saya, mengajak saya dialog dan menuntun saya ke sebuah portal yang berisi lautan ilmu. Portal itu membuat saya merasa menemukan sebuah oase yang dapat memenuhi rasa dahaga yang tengah menghinggapi saya. Orang itu kemudian biasa saya panggil Pak Jay. Dari pak Jay kemudian saya berkenalan dengan Maulana Syeikh Nazim Ak Haqqani, seorang pendiri tarekat Naqsbandi.
Saudaraku, sejak saat itu, pertengahan April 2008, saya menjadi pengikut tarekat Naqsbandi. Semula karena saya berjumpa pak Jay di milis TQN, saya kira saya telah menjadi anggota tarekatnya abah Anom dari Suryalaya. Ternyata saya keliru. Tarekat yang saya ikut bukan tarekat Abah anom. Yah, saya anggap begitulah Allah menuntun perjalanan panjang saya. Pak Jay kemudian memperkenalkan saya dengan saudara-saudara lainnya dalam tarekat Naqsbandi. Masih dalam dunia maya, saya merasa menemukan sebuah keluarga yang penuh perhatian. Saya juga menemukan sebuah oase ilmu yang dapat saya reguk sepuas-puasnya. Saya juga dapat merasakan adanya Guru yang mendampingi saya. Alhamdulillah.
Kamis, 07 Februari 2008
Isyarat Tuhan
Selasa, 5 Februari yang lalu saya mengikuti sharing dari Hario Suprobo. Temanya adalah "Merenungkan dan Menikmati isyarat Tuhan".
Misalnya kita menderita sakit. Ini sebenarnya merupakan salah satu isyarat dari Tuhan. Bagaimana kita membacanya? Mungkin kita sakit karena kita kurang merawat tubuh kita: makanan kurang terjaga, kurang istirahat, kurang olahraga, dsb. Tetapi kita dapat meninjaunya lebih jauh, yakni perilaku kita mungkin menyebabkan orang lain sakit, atau dari "wish" yang tidak sengaja kita ucapkan. Ada kalanya seseorang ketika melihat orang lain sakit dan mendapat kunjungan dan perhatian oranglain, menjadi iri pada si sakit: "wah, alangkah enaknya sakit seperti dia, begitu banyak yang mengunjungi dan memperhatikan dia". Ini merupakan "wish", atau paido:"enak juga ya kalau.....". Nah, kemudian dia menjadi sakit. Dia merasakan juga memang banyak yang mengunjunginya dan memberinya perhatian. Tetapi ya hanya sekali itu. Selanjutnya yang tertinggal adalah penderitaannya dalam kesakitan. Dia baru sadar bahwa sakit itu ada enaknya tetapi lebih banyak lagi tidak enaknya.
Seringkali manusia hanya melihat sisi bahagia/sisi menyenangkan dari orang lain. Padahal dalam hidup ini selalu ada dua kutub: kegembiraan dan kesusahan; kesedihan dan kebahagiaan; kelapangan dan kesempitan. Jika kita menginginkan kebahagiaan, maka kita juga harus siap mengalami ketidak bahagiaan. Hari ini tertawa, mungkin besok menangis. Kita tidak dapat memilih hanya sisi-sisi positifnya saja dari kehidupan ini, tetapi harus menerima baik negatif maupun positif. Maka jika tidak ingin menderita kesedihan yang mendalam, jangan pula menginginkan kebahagiaan yang berlimpah. Serba secukupnya saja: sedikit bahagia, sedikit sedih.
Manusia selalu mempunyai kecenderungan dalam segala hal. Satu makanan lebih disukai dari yang lain; pakaian satu lebih disukai dari yang lain; seseorang lebih disukai dari orang lain; demikian seterusnya. Kalau kita ingin menjadikan hidup kita sebagai ibadah, maka seharusnya kita menngikuti sifat Allah yang tidak berkecenderungan. Kita harus menjalani hidup ini dengan ikhlas: menerima takdir Allah yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Bersikaplah seakan-akan apapun yang di depan kita, yang kita hadapi menit demi menit adalah berharga, berguna, tidak perlu memikirkan enak atau tidak enaknya. Hal ini dapat dicapai dengan cara 'memrotoli" pikiran keduniawian. Pikiran merupakan "kemudi" dari hati. Jadikanlah pikiran dan hati menyatu, agar dapat kita tangkap "isyarat" dan cahaya Ilahi.
Dicontohkan para bhiksu Buddha tidak mencari apapun, mereka hanya menerima apapun yang diberikan kepada mereka. Berbagai makanan yang diterima kemudia dicampur menjadi satu, hingga tidak lagi dapat dirasakan mana makanan yang enak dan tidak enak. Makan karena kebutuhan dan bukan karena kecenderungan/kesukaan terhadap makanan tertentu. Hal ini dapat diistilahkan sebagai "manajemen nasi campur". Sikap ini pula yang sebaiknya kita miliki saat berdo'a. Ingatlah meminta sesuatu yang membahagiakan berarti ingat pula akan datangnya sesuatu yang tidak membahagiakan.
Kadang kala dalam hidup ini kita mengalami pertentangan batin mengenai suatu hal. Sebenarnya ini pertanda baik. Jika ada suatu hal yang sudah mantap dan kemudian kita menjadi ragu-ragu akan hal itu, maka sesunggunya itu berarti kita sedang dalam proses untuk memperoleh sesuatu yang baru, yang lebih baik. Hal itu disebabkan karena adanya pertentangan mendorong pencarian akan kebenaran. Dalam pencarian tersebut kita akan datang kepada Allah dengan pertanyaan kita kepadaNya. Insya Allah jawaban akan kita terima walaupun dengan cara yang tidak kita duga. Jawaban dapat saja kita peroleh saat membaca suatu artikel, saat berbicara dengan orang lain, saat mendengar perkataan anak atau orang lain, atau saat mendengarkan wejangan guru.
Allah berfirman: "Kemanapun kau hadapkan wajahmu, disitu ada Aku. Ayat-ayatKu bertebaran di mana-mana". Kadang mata kita memandang hidup ini sangat menyebalkan. Tetapi jika kita memandang dengan mata hati kita, maka akan didapatkan bahwa segalanya bermakna untuk kesempurnaan diri kita. Maka jadikanlah setiap menit dalam hidupmu sebagai pembelajaran untuk menemukan jalan yang lurus menuju Allah. Sebagai contoh, mengapa ada kecenderungan seseorang selepas shalat/berdo'a menyapu wajahnya dengan kedua tangan? Saat berdo'a, kita melihat cahaya, taruhlah cahaya itu pada kedua tanganmu, dekatkan ke wajahmu dan hiruplah cahaya itu(seakan mngusap wajah).
Contoh lain. Kita diajarkan berdo'a menyebut nama Allah sebelum makan. Makan berarti memasukkan zat-zat ke dalam tubuh . Makanan ada yang berasal dari makhluk hidup yang mempunyai enerji. Misalkan makanan yang berasal dari khewan. Khewan mempunyai enerji. Kita diajarkan untuk menyembelih khewan dengan pisau yang tajam, diawali dengan nama Allah , sehingga diharapkan agar hewan itu mati dalam keadaan pasrah, sehingga enerjinya hilang dan tidak masuk ke dalam tubuh yang memakannya. Enerji yang masuk dalam tubuh kita akan bercampur dengan enerji kita dan akan menimbulkan ketidak seimbangan dalam tubuh. Tetapi bagaimana kita dapat menjamin behwa seluruh proses makanan itu sampai di hadapan kita telah berjalan secara halal dan thayib? Itulah makanya kita harus berdo'a sebelum makan.
Perjalanan menuju Allah masih amat panjang. Marilah kita gunakan setiap menit dalam hidup dengan ikhlas. Preteli duniamu, buang pembatasan-pembatasan yang kau buat agar dapat naik ke tataran yang lebih tinggi menuju Illahi. God is beyond your immagination. "Mati'lah terus, agar kita tak lagi menciptakan karma, baik maupun buruk.
Misalnya kita menderita sakit. Ini sebenarnya merupakan salah satu isyarat dari Tuhan. Bagaimana kita membacanya? Mungkin kita sakit karena kita kurang merawat tubuh kita: makanan kurang terjaga, kurang istirahat, kurang olahraga, dsb. Tetapi kita dapat meninjaunya lebih jauh, yakni perilaku kita mungkin menyebabkan orang lain sakit, atau dari "wish" yang tidak sengaja kita ucapkan. Ada kalanya seseorang ketika melihat orang lain sakit dan mendapat kunjungan dan perhatian oranglain, menjadi iri pada si sakit: "wah, alangkah enaknya sakit seperti dia, begitu banyak yang mengunjungi dan memperhatikan dia". Ini merupakan "wish", atau paido:"enak juga ya kalau.....". Nah, kemudian dia menjadi sakit. Dia merasakan juga memang banyak yang mengunjunginya dan memberinya perhatian. Tetapi ya hanya sekali itu. Selanjutnya yang tertinggal adalah penderitaannya dalam kesakitan. Dia baru sadar bahwa sakit itu ada enaknya tetapi lebih banyak lagi tidak enaknya.
Seringkali manusia hanya melihat sisi bahagia/sisi menyenangkan dari orang lain. Padahal dalam hidup ini selalu ada dua kutub: kegembiraan dan kesusahan; kesedihan dan kebahagiaan; kelapangan dan kesempitan. Jika kita menginginkan kebahagiaan, maka kita juga harus siap mengalami ketidak bahagiaan. Hari ini tertawa, mungkin besok menangis. Kita tidak dapat memilih hanya sisi-sisi positifnya saja dari kehidupan ini, tetapi harus menerima baik negatif maupun positif. Maka jika tidak ingin menderita kesedihan yang mendalam, jangan pula menginginkan kebahagiaan yang berlimpah. Serba secukupnya saja: sedikit bahagia, sedikit sedih.
Manusia selalu mempunyai kecenderungan dalam segala hal. Satu makanan lebih disukai dari yang lain; pakaian satu lebih disukai dari yang lain; seseorang lebih disukai dari orang lain; demikian seterusnya. Kalau kita ingin menjadikan hidup kita sebagai ibadah, maka seharusnya kita menngikuti sifat Allah yang tidak berkecenderungan. Kita harus menjalani hidup ini dengan ikhlas: menerima takdir Allah yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Bersikaplah seakan-akan apapun yang di depan kita, yang kita hadapi menit demi menit adalah berharga, berguna, tidak perlu memikirkan enak atau tidak enaknya. Hal ini dapat dicapai dengan cara 'memrotoli" pikiran keduniawian. Pikiran merupakan "kemudi" dari hati. Jadikanlah pikiran dan hati menyatu, agar dapat kita tangkap "isyarat" dan cahaya Ilahi.
Dicontohkan para bhiksu Buddha tidak mencari apapun, mereka hanya menerima apapun yang diberikan kepada mereka. Berbagai makanan yang diterima kemudia dicampur menjadi satu, hingga tidak lagi dapat dirasakan mana makanan yang enak dan tidak enak. Makan karena kebutuhan dan bukan karena kecenderungan/kesukaan terhadap makanan tertentu. Hal ini dapat diistilahkan sebagai "manajemen nasi campur". Sikap ini pula yang sebaiknya kita miliki saat berdo'a. Ingatlah meminta sesuatu yang membahagiakan berarti ingat pula akan datangnya sesuatu yang tidak membahagiakan.
Kadang kala dalam hidup ini kita mengalami pertentangan batin mengenai suatu hal. Sebenarnya ini pertanda baik. Jika ada suatu hal yang sudah mantap dan kemudian kita menjadi ragu-ragu akan hal itu, maka sesunggunya itu berarti kita sedang dalam proses untuk memperoleh sesuatu yang baru, yang lebih baik. Hal itu disebabkan karena adanya pertentangan mendorong pencarian akan kebenaran. Dalam pencarian tersebut kita akan datang kepada Allah dengan pertanyaan kita kepadaNya. Insya Allah jawaban akan kita terima walaupun dengan cara yang tidak kita duga. Jawaban dapat saja kita peroleh saat membaca suatu artikel, saat berbicara dengan orang lain, saat mendengar perkataan anak atau orang lain, atau saat mendengarkan wejangan guru.
Allah berfirman: "Kemanapun kau hadapkan wajahmu, disitu ada Aku. Ayat-ayatKu bertebaran di mana-mana". Kadang mata kita memandang hidup ini sangat menyebalkan. Tetapi jika kita memandang dengan mata hati kita, maka akan didapatkan bahwa segalanya bermakna untuk kesempurnaan diri kita. Maka jadikanlah setiap menit dalam hidupmu sebagai pembelajaran untuk menemukan jalan yang lurus menuju Allah. Sebagai contoh, mengapa ada kecenderungan seseorang selepas shalat/berdo'a menyapu wajahnya dengan kedua tangan? Saat berdo'a, kita melihat cahaya, taruhlah cahaya itu pada kedua tanganmu, dekatkan ke wajahmu dan hiruplah cahaya itu(seakan mngusap wajah).
Contoh lain. Kita diajarkan berdo'a menyebut nama Allah sebelum makan. Makan berarti memasukkan zat-zat ke dalam tubuh . Makanan ada yang berasal dari makhluk hidup yang mempunyai enerji. Misalkan makanan yang berasal dari khewan. Khewan mempunyai enerji. Kita diajarkan untuk menyembelih khewan dengan pisau yang tajam, diawali dengan nama Allah , sehingga diharapkan agar hewan itu mati dalam keadaan pasrah, sehingga enerjinya hilang dan tidak masuk ke dalam tubuh yang memakannya. Enerji yang masuk dalam tubuh kita akan bercampur dengan enerji kita dan akan menimbulkan ketidak seimbangan dalam tubuh. Tetapi bagaimana kita dapat menjamin behwa seluruh proses makanan itu sampai di hadapan kita telah berjalan secara halal dan thayib? Itulah makanya kita harus berdo'a sebelum makan.
Perjalanan menuju Allah masih amat panjang. Marilah kita gunakan setiap menit dalam hidup dengan ikhlas. Preteli duniamu, buang pembatasan-pembatasan yang kau buat agar dapat naik ke tataran yang lebih tinggi menuju Illahi. God is beyond your immagination. "Mati'lah terus, agar kita tak lagi menciptakan karma, baik maupun buruk.
Sabtu, 12 Januari 2008
Kala akal menutup qalbu
Teman saya seorang yang sangat pandai. Terbiasa memikirkan segala sesuatu dengan mendalam. Pandai bicara, pandai berdebat, dan tidak pernah menyerah pada akal orang lain. Bahkan saat dia seharusnya mengakui kesalahannya, dia tetap bertahan dengan akalnya.
Dengan sifatnya yang selalu mempertanyakan sesuatu, maka bahkan dalam beriman kepada Tuhannya-pun ia tidak luput dari mempertanyakan segala sesuatu yang berhubungan dengan agamanya.
Salahkah?
Teman saya tentu saja senang dan selalu mengagumi orang-orang yang selalu mengedepankan akalnya. Tak heran jika dia terjebak dalam kelompok JIL. Akhirnya dia lebih percaya pada kemampuan akalnya daripada ulama, ahli agama dalam memahami agamanya. salahkah?
Teman, sesungguhnya Allah memberi kita akal untuk memahami perintahNy, laranganNya, dan menemukan jalan kembali kepadaNya. Tugas kita di dunia adalah untuk mengabdi kepadaNya karena kita mencintaiNya dan agar kita menemukan jalan kembali kepadaNya. Dengan demikian, kita harus mengasah qalbu kita, karena di sanalah ruh kita bersemayam. Perintah Allah yang sudah dijelaskan dalam Al Qur'an harus kita turuti, tanpa berpikir. Jalankan saja, pasti akan memberi kebaikan kepada kita. Larangan Allah harus kita jauhi tanpa berpikir lagi, karena pasti akan mendatangkan kebaikan kepada kita. Setelah kita jalankan, Allah senang jika kita memikirkan hikmah di balik setiap perintah dan larangan. Tetapi jika kita tidak menemukan jawabannya, percaya saja bahwa semua janji Allah pasti benar.
Akal harus kita gunakan sebaik mungkin, tetapi jangan sampai akal menutup qalbu. Seharusnya penggunaan akal akan memperkuat qalbu, dan sebaliknya qalbu akan mengawal akal kita agar tetap dalam jalan Allah. Ingatlah Allah selalu, meskipun engkau sedang berpikir. Jadikan semua fenomena yang kau lihat sebagai jalan menemukan Allah dan bukan malah menjauhkanmu daripadaNya. Pada saat akalmu buntu, qalbu akan membimbingmu. Bertanyalah kepada Allah, karena dia yang Maha Tahu. Berdialoglah dengan Al Qur'an, karena kitab itu diturunkan untuk membimbing kita dalam masalah apapn sehari-hari. Al Qur'an diturunkan untuk masing-masing manusia.
Jadi, saudaraku, jangan sampai akalmu menutup qalbumu, hingga tertutuplah pandanganmu dari jalan kembalimu.
Dengan sifatnya yang selalu mempertanyakan sesuatu, maka bahkan dalam beriman kepada Tuhannya-pun ia tidak luput dari mempertanyakan segala sesuatu yang berhubungan dengan agamanya.
Salahkah?
Teman saya tentu saja senang dan selalu mengagumi orang-orang yang selalu mengedepankan akalnya. Tak heran jika dia terjebak dalam kelompok JIL. Akhirnya dia lebih percaya pada kemampuan akalnya daripada ulama, ahli agama dalam memahami agamanya. salahkah?
Teman, sesungguhnya Allah memberi kita akal untuk memahami perintahNy, laranganNya, dan menemukan jalan kembali kepadaNya. Tugas kita di dunia adalah untuk mengabdi kepadaNya karena kita mencintaiNya dan agar kita menemukan jalan kembali kepadaNya. Dengan demikian, kita harus mengasah qalbu kita, karena di sanalah ruh kita bersemayam. Perintah Allah yang sudah dijelaskan dalam Al Qur'an harus kita turuti, tanpa berpikir. Jalankan saja, pasti akan memberi kebaikan kepada kita. Larangan Allah harus kita jauhi tanpa berpikir lagi, karena pasti akan mendatangkan kebaikan kepada kita. Setelah kita jalankan, Allah senang jika kita memikirkan hikmah di balik setiap perintah dan larangan. Tetapi jika kita tidak menemukan jawabannya, percaya saja bahwa semua janji Allah pasti benar.
Akal harus kita gunakan sebaik mungkin, tetapi jangan sampai akal menutup qalbu. Seharusnya penggunaan akal akan memperkuat qalbu, dan sebaliknya qalbu akan mengawal akal kita agar tetap dalam jalan Allah. Ingatlah Allah selalu, meskipun engkau sedang berpikir. Jadikan semua fenomena yang kau lihat sebagai jalan menemukan Allah dan bukan malah menjauhkanmu daripadaNya. Pada saat akalmu buntu, qalbu akan membimbingmu. Bertanyalah kepada Allah, karena dia yang Maha Tahu. Berdialoglah dengan Al Qur'an, karena kitab itu diturunkan untuk membimbing kita dalam masalah apapn sehari-hari. Al Qur'an diturunkan untuk masing-masing manusia.
Jadi, saudaraku, jangan sampai akalmu menutup qalbumu, hingga tertutuplah pandanganmu dari jalan kembalimu.
Minggu, 06 Januari 2008
Dualisme kebenaran
Dikutip secara bebas dari buku Sanihu Munir, "Keliru Pandang Kang Jalal", 2007.
Aliran Pluralisme menyatakan, bahwa semua agama itu benar. Jalaluddin Rahmat, dalam bukunya "Islam dan Pluralisme" antara lain menyatakan bahwa ".....Dengan demikian siapa saja yang berserah diri kepada kebenaran, yang ia temukan dalam hidupnya, kemudian ia memberikan komitmen total kepadanya, ia telah menganut din yang benar. Tidak jadi soal, apakah kebenaran yang diyakininya itu Islam ataupun agama yang lainnya. Bila seseorang hanya mampu mengakui kebenaran kristen, misalnya, dan mengikutinya dengan setia, pada hakikatnya ia sudah menerima Islam dalam kepasrahan yang tulus".
Kekeliruan kang Jalal, yang juga merupakan kekeliruan para filosof di dunia ini adalah: Apa yang ada dalam benaknya hanya satu, KEBENARAN! Dalam seluruh bukunya tidak dapat ditemukan kata "KEPALSUAN". Padahal ketika seseorang bicara tentang kebenaran, sesungguhnya ia bicara tentang ukuran, tentang skala, tentang klasifikasi, tentang satu titik dari dua atau lebih titik yang terbentang antara dua titik ekstrim: "Ultimate Truth dan Ultimate Falsehood. Perhatikan pernyataan-pernyataan di bawah ini:
Yesus adalah tuhan dan Yesus bukan tuhan. Yesus penebus dosa dan yesus bukan penebus dosa. Tuhan itu tiga atau tuhan itu bukan tiga. Yesus mengajarkan agama kristen atau Yesus tidak mengajarkan agama kristen. Yesus mati disalib dan bangkit kembali atau Yesus tidak mati disalib dan tidak bangkit kembali.
Dari contoh pernyataan di atas, jika salah satu merupakan kebenaran, maka yang lain merupakan kepalsuan. Tidak mungkin keduanya merupakan kebenaran atau keduanya merupakan kepalsuan. Jadi jika Kristen benar, berarti Islam salah atau jika Islam benar, maka Kristen salah.
Sekuat apapun seseorang mencari Kebenaran, belum tentu dia akan bertemu dengan Kebenaran. Kemungkinan yang selalu terjadi ada dua, dia akan bertemu dengan Kebenaran, atau akhirnya dia akan bertemu dengan Kepalsuan yang dia sangka sebagai Kebenaran.
Contoh pemisalan pada si Fulan:
Fulan selama ini, menjalani kehidupan yang terasa gersang di pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Propinsi Sulawesi Tenggara. Dia telah berusaha mati-matian untuk mencari dan menemukan Kebenaran sebagai pegangan hidupnya. Berbagai upaya sudah dia lakukan, namun selalu gagal karena dia masih saja tetap berada dalam keragu-raguan.
Sampai pada suatu hari Fulan berpapasan dengan seseorang seusianya, berkacamata agak tebal, yang menurutnya cukup berilmu dan berwibawa. Dalam hatinya dia mengatakan, mungkin inilah orang yang tepat untuk membantu saya.
Orangnya ternyata sangat bersahabat dan ingin membantu. Fulan mendekatinya dan mengajaknya berbincang-bincang tentang kekosongan hidupnya akibat tidak adanya pegangan yang dia yakini benar dalam hidupnya ini. Orang tersebut kemudian berbicara panjang lebar tentang kebenaran dan keselamatan. Fulan merasa kagum dan di dalam hatinya berkata:"Inilah sang maha guru yang sudah lama saya cari". Dengan mengiba, Fulan memohon kepadanya: "Sudikah tuan guru mengajarkan kepada saya jalan keselamatan agar hidupku tenang?"Dia menarik napas panjang dengan sedikit batuk-batuk, lalu menyampaikan dengan penuh keyakinan, pegangan hidup yang akan mengantar si Fulan pada keselamatan. "Kalau anda ingin selamat dunia akhirat, berimanlah bahwa "Kucing lebih besar daripada Gajah".
Fulan menjabat tangannya dan menciumnya. Airmata meleleh di pipi Fulan. Sekian puluh tahun hidup Fulan menderita mencari Kebenaran, dan akhirnya hari bahagia itupun tiba. Hatinya berbunga-bunga. Hidupnya berubah total. Sekarang Fulan bukan lagi seorang perenung, pengkhayal dan pemalas, tetapi sudah menjadi seseorang yang penuh gairah, bersemangat dan periang.
Orang-orang sekampungnya di Wakatobi semua heran melihat perubahan yang terjadi pada diri Fulan. Merekapun ikut bahagia melihat kehidupannya yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun di samping itu, ada pula rasa iri di hati mereka dan ingin memiliki pengalaman rohani seperti yang dia alami.
Beberapa di antaranya kemudian bertandang ke rumah Fulan di malam hari. Salah seorang yang cukup dia kenal, bertanya penuh pengharapan:"Pak, kami terus terang sangat bahagia dengan perubahan yang kami amati pada diri Bapak. Di samping itu, kami juga merasa iri dan ingin memiliki pengalaman rohani seperti yang bapak miliki".
Fulanpun berlagak layaknya sang mahagurunya yang berkacamata tebal itu. Atas nama keselamatan bersama dan persahabatan, Fulan menyampaikannya denan penuh wibawa, sepeti mahagurunya pula:"Kalau kalian ingin selamat dunia akhirat, berimanlah bahwa "Kucing lebih besar daripada Gajah". Inilah yang mengantar saya kepada kebahagiaan lahir dan batin". Mereka semua serempak menyerbu laksana anak panah yang meluncur dari busurnya, mencium tangan Fulan sambil mengucapkan syukur.
Ketika mereka mencicipi teh panas, di antara mereka ada yang berbisik kepada yang lainnya:"Bapak tahu gajah?" LAlu dijawab dengan berbisik pula:"Tidak". Yang lainpun turut berbisik kepada teman yang di sampingnya:"Bapak pernah melihat gajah?". Si teman menggeleng"Tidak, belum pernah".
Fulan akhirnya merasa tidak nyaman dan menyela:"Sudahlah, kita semua ini tidak tahu dan belum pernah melihat gajah. Tapi menurut saya gajah itu tidak lebih besar dari ini", katanya sambil memperlihatkan jari kelingkingnya. "Yang penting adalah meyakininya. Dengan keyakinan ini, kehidupan kita jadi berubah, inilah keimanan yang benar. Ini yang harus kita pupuk, sehingga apapun yang terjadi, tidak ada yang akan menggoncang keimanan kita".
Merekapun merasa puas dan pulang ke rumah masing-masing dengan rasa bahagia. Setelah mereka semua pulang dan rumah kembali pada kesunyian, datanglah godaan pertanyaan di benak si Fulan:"Apa sih gajah itu, sejenis buahkah? Atau mungkin sejenis serangga mirip belalang?". Tentang kucing, dia tidak perlu bertanya kepada siapapun, karena di sekeliling rumahnya berseliweran puluhan kucing. Namun tentang gajah, ah, si Fulan tidakmau berandai-andai yang akan kembali merundung kebahagiaan hidupnya. "Saya sudah beriman yang benar, tidak ada yang boleh mengguncang keimanan saya. Saya harus mempertahankannya apapun yang terjadi".
Namun akhirnya tioba pula hari yang benar-benar menggoncang keimannya. Seorang teman lama yang merantau ke Jakarta, baru saja tiba dengan perahu layar, setelah terombang-ambing selama dua minggu.
"Apa kabar? Anda kelihatan sangat berbahagia", sapa temannya sambil menjabat tangan dan memeluk Fulan erat-erat. "Apa yang terjadi?", tolong jelaskan", imbunya sambil masih menjabat tangannya. Fulan menjelaskan pengalamnnya melanglang buana mencari Kebenaran, sampai akhirnya dia bertemu dengan seseorang yang memberinya pegangan hidup. "Saya sudah memiliki pegangan hidup yang benar dan tidak mungkin akan berubah lagi".
"Apakah itu?", tanya temannya ingin tahu. Fulan menatap matanya, dan dengan penuh keyakinan, dia mengungkapkan keyakinannya dengan mantap:"Kucing lebih besar daripada Gajah", itulah kunci kebahagiaan saya dunia akhirat". Temannya terbelalak. Dia terhenyak sejenak, dan dengan penuh rasa iba dia mengatakan dengan terbata-bata setengah berbisik:"Fulan, itu salah. Gajah itu lebih besar daripada kucing dan lebih besar daripada diri kita ini".
Fulan merasa seperti disambar petir. Temannya ini benar-benar tidak mengerti perasaan. "Jangan-jangan teman saya ini adalah jelmaan setan yang dikirim ke kampung kami sebagai seorang "Anti Kucing", gerutu si Fulan dalam hati. Dia sudah tiba pada batas kesabarannya:"Anda kemari sebagai teman. MArila kita berbicara tentang toleransi, tentang kasih sayang, tentang persahabatan dan tentang kesamaan. Mohon jangan mengganggu keimanan kami. Kami sudah merasa damai dengan keimanan ini. Anda ini di mata saya sepertinya seorang ekstrimis dan radikal, yang melawan arus".
Temannya hanya terdiam memandang Fulan yang ngotot dengan kekeliruannya. UNtuk emnjaga perasaan si Fulan, temannya kenudian pamit untuk memberinya waktu untuk berpikir.
Fulan mulai merasakan perasaan yang kurang enak. Dalam hatinya mulai ada bibit-bibit ketidaksenangan. Keimanannya mulai terusik, namun Fulan beusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan keimannnya yang sudah mantap. Untuk meneguhkan kembali keimanannya dari gerogotan oknum "radikal" ini, Fulan berusaha mencari kembali mahagurunya yang berkacamata tebal itu. Setelah beberapa hari mencari, akhirnya "atas bimbingan Kucing" si Fulan berjumpa dengan mahagurunya.
Dengan penuh pengharapan dia memohon kepada sang nahaguru:"Guru, di kampung saya saat ini, kami kedatangan tamu yang juga teman lama. Dia telah menimbulkan kegelisahan di masyarakat dengan membawa ajaran sesat yang bertentangan dengan keimanan kami. Dia mengatakan bahwa "Gajah lebih besar daripada Kucing". Dia datang bukannya membawa perdamaian, toleransi dan persamaan, tetapi malah menciptakan kegelisahan di masyarakat dengan mengungkit-ungkit keimanan kami yang sudah mantap. Guru, tolonglah kami, apa yang harus kami lakukan.".
Sang mahaguru terdiam sejenak, mengusap-usap dagunya yang tidak berjanggut, serta memperbaiki letak kacamata tebalnya. Dia kembali terbatuk-batuk kecil, namun belum ada kata-kata yang meluncur dari bibirnya. Dia merenung seperti memikirkan sesuatu. Akhirnya dia memegang dan menepuk-nepuk bahu si Fulan. Dengan mantap, meluncur kata-kata dari mulutnya dengan penuh wibawa.
"Orang seperti itu, acuhkan saja. Anjing menggonggong, kafilah berjalan terus", kata mahaguru menasihati si Fulan. "Kucing lebih besar daripada Gajah" atau "Gajah lebih besar daripada Kucing" janganlah dijadikan persoalan", tambahnya. "Dunia tidak akan pernah tentram dan damai kalau kita masih mempertentangkan mana yang besar antara Kucing dengan Gajah. Yang penting adalah, kalau anda telah berusaha mencari Kebenaran dalam hidup ini, dan Kebenaran yang anda temui adalah "Kucing lebih besar daripada Gajah, peganglah erat-erat, itulah Kebenaran. Bukankah Kucing itu mengasihi kita? Surga itu bukan milik suatu kelompok, tetapi milik kita semua yang telah berusaha dengan susah payah mencari Kebenaran dalam hidup ini".
Berbekal ajaran mahagurunya, si Fula kemudian berusaha menemui temannya. "Saya akan menceramahi dia sebagaimana yang diajarkan mahaguru saya", kata Fulan dalam hati. Ketika bertemu, ternyata temannya menyambutnya dengan hangat sambil menyampaikan berita gembira: "Fulan, kita ke Jakarta besok. Fulan gelagapan mendapat undangan mendadak seperti ini: "SAya belum siap, apalagi saya tidak mempunyai uang untuk biaya ke Jakarta". "Saya yang akan menanggung semuanya", jawab temannya dengan mantap.
Fulanpun tiba di Jakarta dan dibawa piknik ke Kebun Binatang Ragunan. "Kamu lihat binatang yang sedang tidur-tiduran itu?, tanya temannya. "Wah, itu sih tidak perlu ditanyakan. Kucing seperti itu ada ratusan di kampung saya", jawab Fulan. Mereka kemudian tiba di suatu tempat. Fulan terperanjat melihat suatu benda. Bentuknya besar, tinggi, hitam. Kalau itu batu tidak mungkin, karena dia bergerak. Kalau kambing sebagaimana yang dipelihara di kampungnya, juga tidak mungkin, karena sangat bear. Fulan benar-benar belum pernah membayangkan, apalagi melihatnya.
Tiba-tiba punggungnya ditepuk temannya. "Apa itu?. Fulan bengong., "Saya tidak tahu". "Itulah gajah", kata temannya sambil tersenyum.
Fulan tersentak. MAtanya melotot dan kemarahannya menggelora sampai ke ubun-ubun. Dia berusaha mengendalikan emosinya yang sudah hampir meledak.
"Bung, bercanda itu ada batasnya. Ini sudah SARA, saya tidak bisa mentoleransinya. Ini masalah keimanan, dan sejauh saya meyakini bahwa yang saya imani itu benar, itulah kebenaran", jawab Fulan dengan nada yang tegas.
Temannya pun sudah tiba pada batas kesabarannya. Dengan perasaan kasihan, dia meminta petugas kebun binatang untuk menjelaskan sesuatu kepada mereka.
"Pak, tolong jelaskan kepada teman saya tentang hewan ini", kata temannya kepada petugas kebun binatang, sambil menunjuk ke binatan yang sedang tegak berdiri. "Ini gajah dari Sumatra, tepatnya dari Waikambas", kata petugas kebun binatang.
Fulan tersirap, tubuhnya terasa panas dingin. Dia ingin marah, tapi otot-ototnya sudah melemas, lunglai. Matanya berkunang-kunang. Dia berusaha menyembunyikan perasaannya yang galau. Sedikit demi sedikit dia berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang ada. Dia mencoba tegar.
Ralita yang dia hadapi ini sungguh sangat menyakitkan. Dia masih berusaha untuk menyangkal, tetapi pertahannnya sudah ambruk. Itu gajah, benar-benar gajah. Hewan itu ada di depan matanya sekarang. Jauh lebih besar daripada kucing, Lebih besar daripada kambing dan malah lebih besar dari dirinya sendiri.
Fulan tegak membisu menatap gajah yang sekarang mulai mengayunkan belalainya. "Itu gajah, benar-benar gajah!", Fulan berbisik kepada dirinya sendiri. Dia menatap temannya lalu menghampirinya. Merekapun langsung berpelukan. Dengan kekuatan yang ada, Fulan membisikkan sesuatu ke telinga temannya:"Terima kasih. Keimanan yang selama ini saya yakini benar, ternyata salah".
Setelah menyimak ceritera di atas, masihkah kita tega mengatakan, bahwa "Kebenaran" yang diyakini si Fulan selama ini benar-benar suatu Kebenaran? di sini letak kekeliruan pandang Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat.
Aliran Pluralisme menyatakan, bahwa semua agama itu benar. Jalaluddin Rahmat, dalam bukunya "Islam dan Pluralisme" antara lain menyatakan bahwa ".....Dengan demikian siapa saja yang berserah diri kepada kebenaran, yang ia temukan dalam hidupnya, kemudian ia memberikan komitmen total kepadanya, ia telah menganut din yang benar. Tidak jadi soal, apakah kebenaran yang diyakininya itu Islam ataupun agama yang lainnya. Bila seseorang hanya mampu mengakui kebenaran kristen, misalnya, dan mengikutinya dengan setia, pada hakikatnya ia sudah menerima Islam dalam kepasrahan yang tulus".
Kekeliruan kang Jalal, yang juga merupakan kekeliruan para filosof di dunia ini adalah: Apa yang ada dalam benaknya hanya satu, KEBENARAN! Dalam seluruh bukunya tidak dapat ditemukan kata "KEPALSUAN". Padahal ketika seseorang bicara tentang kebenaran, sesungguhnya ia bicara tentang ukuran, tentang skala, tentang klasifikasi, tentang satu titik dari dua atau lebih titik yang terbentang antara dua titik ekstrim: "Ultimate Truth dan Ultimate Falsehood. Perhatikan pernyataan-pernyataan di bawah ini:
Yesus adalah tuhan dan Yesus bukan tuhan. Yesus penebus dosa dan yesus bukan penebus dosa. Tuhan itu tiga atau tuhan itu bukan tiga. Yesus mengajarkan agama kristen atau Yesus tidak mengajarkan agama kristen. Yesus mati disalib dan bangkit kembali atau Yesus tidak mati disalib dan tidak bangkit kembali.
Dari contoh pernyataan di atas, jika salah satu merupakan kebenaran, maka yang lain merupakan kepalsuan. Tidak mungkin keduanya merupakan kebenaran atau keduanya merupakan kepalsuan. Jadi jika Kristen benar, berarti Islam salah atau jika Islam benar, maka Kristen salah.
Sekuat apapun seseorang mencari Kebenaran, belum tentu dia akan bertemu dengan Kebenaran. Kemungkinan yang selalu terjadi ada dua, dia akan bertemu dengan Kebenaran, atau akhirnya dia akan bertemu dengan Kepalsuan yang dia sangka sebagai Kebenaran.
Contoh pemisalan pada si Fulan:
Fulan selama ini, menjalani kehidupan yang terasa gersang di pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Propinsi Sulawesi Tenggara. Dia telah berusaha mati-matian untuk mencari dan menemukan Kebenaran sebagai pegangan hidupnya. Berbagai upaya sudah dia lakukan, namun selalu gagal karena dia masih saja tetap berada dalam keragu-raguan.
Sampai pada suatu hari Fulan berpapasan dengan seseorang seusianya, berkacamata agak tebal, yang menurutnya cukup berilmu dan berwibawa. Dalam hatinya dia mengatakan, mungkin inilah orang yang tepat untuk membantu saya.
Orangnya ternyata sangat bersahabat dan ingin membantu. Fulan mendekatinya dan mengajaknya berbincang-bincang tentang kekosongan hidupnya akibat tidak adanya pegangan yang dia yakini benar dalam hidupnya ini. Orang tersebut kemudian berbicara panjang lebar tentang kebenaran dan keselamatan. Fulan merasa kagum dan di dalam hatinya berkata:"Inilah sang maha guru yang sudah lama saya cari". Dengan mengiba, Fulan memohon kepadanya: "Sudikah tuan guru mengajarkan kepada saya jalan keselamatan agar hidupku tenang?"Dia menarik napas panjang dengan sedikit batuk-batuk, lalu menyampaikan dengan penuh keyakinan, pegangan hidup yang akan mengantar si Fulan pada keselamatan. "Kalau anda ingin selamat dunia akhirat, berimanlah bahwa "Kucing lebih besar daripada Gajah".
Fulan menjabat tangannya dan menciumnya. Airmata meleleh di pipi Fulan. Sekian puluh tahun hidup Fulan menderita mencari Kebenaran, dan akhirnya hari bahagia itupun tiba. Hatinya berbunga-bunga. Hidupnya berubah total. Sekarang Fulan bukan lagi seorang perenung, pengkhayal dan pemalas, tetapi sudah menjadi seseorang yang penuh gairah, bersemangat dan periang.
Orang-orang sekampungnya di Wakatobi semua heran melihat perubahan yang terjadi pada diri Fulan. Merekapun ikut bahagia melihat kehidupannya yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Namun di samping itu, ada pula rasa iri di hati mereka dan ingin memiliki pengalaman rohani seperti yang dia alami.
Beberapa di antaranya kemudian bertandang ke rumah Fulan di malam hari. Salah seorang yang cukup dia kenal, bertanya penuh pengharapan:"Pak, kami terus terang sangat bahagia dengan perubahan yang kami amati pada diri Bapak. Di samping itu, kami juga merasa iri dan ingin memiliki pengalaman rohani seperti yang bapak miliki".
Fulanpun berlagak layaknya sang mahagurunya yang berkacamata tebal itu. Atas nama keselamatan bersama dan persahabatan, Fulan menyampaikannya denan penuh wibawa, sepeti mahagurunya pula:"Kalau kalian ingin selamat dunia akhirat, berimanlah bahwa "Kucing lebih besar daripada Gajah". Inilah yang mengantar saya kepada kebahagiaan lahir dan batin". Mereka semua serempak menyerbu laksana anak panah yang meluncur dari busurnya, mencium tangan Fulan sambil mengucapkan syukur.
Ketika mereka mencicipi teh panas, di antara mereka ada yang berbisik kepada yang lainnya:"Bapak tahu gajah?" LAlu dijawab dengan berbisik pula:"Tidak". Yang lainpun turut berbisik kepada teman yang di sampingnya:"Bapak pernah melihat gajah?". Si teman menggeleng"Tidak, belum pernah".
Fulan akhirnya merasa tidak nyaman dan menyela:"Sudahlah, kita semua ini tidak tahu dan belum pernah melihat gajah. Tapi menurut saya gajah itu tidak lebih besar dari ini", katanya sambil memperlihatkan jari kelingkingnya. "Yang penting adalah meyakininya. Dengan keyakinan ini, kehidupan kita jadi berubah, inilah keimanan yang benar. Ini yang harus kita pupuk, sehingga apapun yang terjadi, tidak ada yang akan menggoncang keimanan kita".
Merekapun merasa puas dan pulang ke rumah masing-masing dengan rasa bahagia. Setelah mereka semua pulang dan rumah kembali pada kesunyian, datanglah godaan pertanyaan di benak si Fulan:"Apa sih gajah itu, sejenis buahkah? Atau mungkin sejenis serangga mirip belalang?". Tentang kucing, dia tidak perlu bertanya kepada siapapun, karena di sekeliling rumahnya berseliweran puluhan kucing. Namun tentang gajah, ah, si Fulan tidakmau berandai-andai yang akan kembali merundung kebahagiaan hidupnya. "Saya sudah beriman yang benar, tidak ada yang boleh mengguncang keimanan saya. Saya harus mempertahankannya apapun yang terjadi".
Namun akhirnya tioba pula hari yang benar-benar menggoncang keimannya. Seorang teman lama yang merantau ke Jakarta, baru saja tiba dengan perahu layar, setelah terombang-ambing selama dua minggu.
"Apa kabar? Anda kelihatan sangat berbahagia", sapa temannya sambil menjabat tangan dan memeluk Fulan erat-erat. "Apa yang terjadi?", tolong jelaskan", imbunya sambil masih menjabat tangannya. Fulan menjelaskan pengalamnnya melanglang buana mencari Kebenaran, sampai akhirnya dia bertemu dengan seseorang yang memberinya pegangan hidup. "Saya sudah memiliki pegangan hidup yang benar dan tidak mungkin akan berubah lagi".
"Apakah itu?", tanya temannya ingin tahu. Fulan menatap matanya, dan dengan penuh keyakinan, dia mengungkapkan keyakinannya dengan mantap:"Kucing lebih besar daripada Gajah", itulah kunci kebahagiaan saya dunia akhirat". Temannya terbelalak. Dia terhenyak sejenak, dan dengan penuh rasa iba dia mengatakan dengan terbata-bata setengah berbisik:"Fulan, itu salah. Gajah itu lebih besar daripada kucing dan lebih besar daripada diri kita ini".
Fulan merasa seperti disambar petir. Temannya ini benar-benar tidak mengerti perasaan. "Jangan-jangan teman saya ini adalah jelmaan setan yang dikirim ke kampung kami sebagai seorang "Anti Kucing", gerutu si Fulan dalam hati. Dia sudah tiba pada batas kesabarannya:"Anda kemari sebagai teman. MArila kita berbicara tentang toleransi, tentang kasih sayang, tentang persahabatan dan tentang kesamaan. Mohon jangan mengganggu keimanan kami. Kami sudah merasa damai dengan keimanan ini. Anda ini di mata saya sepertinya seorang ekstrimis dan radikal, yang melawan arus".
Temannya hanya terdiam memandang Fulan yang ngotot dengan kekeliruannya. UNtuk emnjaga perasaan si Fulan, temannya kenudian pamit untuk memberinya waktu untuk berpikir.
Fulan mulai merasakan perasaan yang kurang enak. Dalam hatinya mulai ada bibit-bibit ketidaksenangan. Keimanannya mulai terusik, namun Fulan beusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan keimannnya yang sudah mantap. Untuk meneguhkan kembali keimanannya dari gerogotan oknum "radikal" ini, Fulan berusaha mencari kembali mahagurunya yang berkacamata tebal itu. Setelah beberapa hari mencari, akhirnya "atas bimbingan Kucing" si Fulan berjumpa dengan mahagurunya.
Dengan penuh pengharapan dia memohon kepada sang nahaguru:"Guru, di kampung saya saat ini, kami kedatangan tamu yang juga teman lama. Dia telah menimbulkan kegelisahan di masyarakat dengan membawa ajaran sesat yang bertentangan dengan keimanan kami. Dia mengatakan bahwa "Gajah lebih besar daripada Kucing". Dia datang bukannya membawa perdamaian, toleransi dan persamaan, tetapi malah menciptakan kegelisahan di masyarakat dengan mengungkit-ungkit keimanan kami yang sudah mantap. Guru, tolonglah kami, apa yang harus kami lakukan.".
Sang mahaguru terdiam sejenak, mengusap-usap dagunya yang tidak berjanggut, serta memperbaiki letak kacamata tebalnya. Dia kembali terbatuk-batuk kecil, namun belum ada kata-kata yang meluncur dari bibirnya. Dia merenung seperti memikirkan sesuatu. Akhirnya dia memegang dan menepuk-nepuk bahu si Fulan. Dengan mantap, meluncur kata-kata dari mulutnya dengan penuh wibawa.
"Orang seperti itu, acuhkan saja. Anjing menggonggong, kafilah berjalan terus", kata mahaguru menasihati si Fulan. "Kucing lebih besar daripada Gajah" atau "Gajah lebih besar daripada Kucing" janganlah dijadikan persoalan", tambahnya. "Dunia tidak akan pernah tentram dan damai kalau kita masih mempertentangkan mana yang besar antara Kucing dengan Gajah. Yang penting adalah, kalau anda telah berusaha mencari Kebenaran dalam hidup ini, dan Kebenaran yang anda temui adalah "Kucing lebih besar daripada Gajah, peganglah erat-erat, itulah Kebenaran. Bukankah Kucing itu mengasihi kita? Surga itu bukan milik suatu kelompok, tetapi milik kita semua yang telah berusaha dengan susah payah mencari Kebenaran dalam hidup ini".
Berbekal ajaran mahagurunya, si Fula kemudian berusaha menemui temannya. "Saya akan menceramahi dia sebagaimana yang diajarkan mahaguru saya", kata Fulan dalam hati. Ketika bertemu, ternyata temannya menyambutnya dengan hangat sambil menyampaikan berita gembira: "Fulan, kita ke Jakarta besok. Fulan gelagapan mendapat undangan mendadak seperti ini: "SAya belum siap, apalagi saya tidak mempunyai uang untuk biaya ke Jakarta". "Saya yang akan menanggung semuanya", jawab temannya dengan mantap.
Fulanpun tiba di Jakarta dan dibawa piknik ke Kebun Binatang Ragunan. "Kamu lihat binatang yang sedang tidur-tiduran itu?, tanya temannya. "Wah, itu sih tidak perlu ditanyakan. Kucing seperti itu ada ratusan di kampung saya", jawab Fulan. Mereka kemudian tiba di suatu tempat. Fulan terperanjat melihat suatu benda. Bentuknya besar, tinggi, hitam. Kalau itu batu tidak mungkin, karena dia bergerak. Kalau kambing sebagaimana yang dipelihara di kampungnya, juga tidak mungkin, karena sangat bear. Fulan benar-benar belum pernah membayangkan, apalagi melihatnya.
Tiba-tiba punggungnya ditepuk temannya. "Apa itu?. Fulan bengong., "Saya tidak tahu". "Itulah gajah", kata temannya sambil tersenyum.
Fulan tersentak. MAtanya melotot dan kemarahannya menggelora sampai ke ubun-ubun. Dia berusaha mengendalikan emosinya yang sudah hampir meledak.
"Bung, bercanda itu ada batasnya. Ini sudah SARA, saya tidak bisa mentoleransinya. Ini masalah keimanan, dan sejauh saya meyakini bahwa yang saya imani itu benar, itulah kebenaran", jawab Fulan dengan nada yang tegas.
Temannya pun sudah tiba pada batas kesabarannya. Dengan perasaan kasihan, dia meminta petugas kebun binatang untuk menjelaskan sesuatu kepada mereka.
"Pak, tolong jelaskan kepada teman saya tentang hewan ini", kata temannya kepada petugas kebun binatang, sambil menunjuk ke binatan yang sedang tegak berdiri. "Ini gajah dari Sumatra, tepatnya dari Waikambas", kata petugas kebun binatang.
Fulan tersirap, tubuhnya terasa panas dingin. Dia ingin marah, tapi otot-ototnya sudah melemas, lunglai. Matanya berkunang-kunang. Dia berusaha menyembunyikan perasaannya yang galau. Sedikit demi sedikit dia berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang ada. Dia mencoba tegar.
Ralita yang dia hadapi ini sungguh sangat menyakitkan. Dia masih berusaha untuk menyangkal, tetapi pertahannnya sudah ambruk. Itu gajah, benar-benar gajah. Hewan itu ada di depan matanya sekarang. Jauh lebih besar daripada kucing, Lebih besar daripada kambing dan malah lebih besar dari dirinya sendiri.
Fulan tegak membisu menatap gajah yang sekarang mulai mengayunkan belalainya. "Itu gajah, benar-benar gajah!", Fulan berbisik kepada dirinya sendiri. Dia menatap temannya lalu menghampirinya. Merekapun langsung berpelukan. Dengan kekuatan yang ada, Fulan membisikkan sesuatu ke telinga temannya:"Terima kasih. Keimanan yang selama ini saya yakini benar, ternyata salah".
Setelah menyimak ceritera di atas, masihkah kita tega mengatakan, bahwa "Kebenaran" yang diyakini si Fulan selama ini benar-benar suatu Kebenaran? di sini letak kekeliruan pandang Prof. Dr. Jalaluddin Rakhmat.
Selasa, 01 Januari 2008
Tahun baru = metode baru?
Apa ya bedanya tahun baru dengan tahun yang baru saja berlalu? Rasanya tak terasa ada bedanya. Hanya tanggalan yang harus diganti. Hidup toh harus berjalan terus mengikuti alurnya. Apakah ada program baru untuk hidup di tahun 2008? Harusnya ada. Bagaimanakah kita menjalankan hidup dengan baik tanpa rencana sedikitpun. Apa rencanaku di tahun ini?
Aku berencana untuk menyelesaikan rencana tahun sebelumnya yang belum juga selesai tahun ini. Selain itu aku berencana untuk memperbaiki kinerjaku sebagai dosen. Ingatan akan adanya ancaman dari pesaing membuatku harus melakukan suatu perubahan yang mendasar. Salah satunya adalah perubahan metode pengajaran. Aku ingin sekali menggunakan teknologi yang lebih baik. Sayangnya salah satu alat yang diperlukan - proyektor- harganya mahal sekali. Proyektor yang ada di kampus tidak dapat diandalkan, karena hanya tersedia satu untuk semua kelas. JAdi sementara harga proyektor belum terjangkau, sebaiknya metode pengajaran diubah dengan metode baru tanpa teknologi.
Nah, bagaimana kalau dimulai dengan profil peserta belajar? Tapi harus dimulai pada awal semester. Jadi bukan dalam waktu dekat ini. Lalu perubahan apa yang dapat langsung dirasakan mahasiswa? Fun learning. Bagaimana caranya? Bagaimana kalau dengan gaya mengajar terlebih dahulu? Patut dicoba, paling tidak berarti sudah ada usaha perubahan.
Aku berencana untuk menyelesaikan rencana tahun sebelumnya yang belum juga selesai tahun ini. Selain itu aku berencana untuk memperbaiki kinerjaku sebagai dosen. Ingatan akan adanya ancaman dari pesaing membuatku harus melakukan suatu perubahan yang mendasar. Salah satunya adalah perubahan metode pengajaran. Aku ingin sekali menggunakan teknologi yang lebih baik. Sayangnya salah satu alat yang diperlukan - proyektor- harganya mahal sekali. Proyektor yang ada di kampus tidak dapat diandalkan, karena hanya tersedia satu untuk semua kelas. JAdi sementara harga proyektor belum terjangkau, sebaiknya metode pengajaran diubah dengan metode baru tanpa teknologi.
Nah, bagaimana kalau dimulai dengan profil peserta belajar? Tapi harus dimulai pada awal semester. Jadi bukan dalam waktu dekat ini. Lalu perubahan apa yang dapat langsung dirasakan mahasiswa? Fun learning. Bagaimana caranya? Bagaimana kalau dengan gaya mengajar terlebih dahulu? Patut dicoba, paling tidak berarti sudah ada usaha perubahan.
Langganan:
Komentar (Atom)