16/12/2005 22:37 WIB
Jumat, 16/12/2005 16:44 WIBAbdullah Ali in memoriem 5, soal IT oleh : Djony Edward
JAKARTA (Bisnis): Komentar Abdullah Ali soal perlunya perbankan nasinoal mengembangkan teknologi informasi (IT) boleh dibilang aneh di zamannya. Pada saat bankir jor-joran menggelar hadiah, PT Bank Central Asia di bawah kepemimpinannya justru sibuk melakukan investasi IT.
"Tiap tahun laba BCA terbilang kecil dibandingkan bank-bank papan atas, karena kami manajemen sudah mengambil keputusan BCA harus menjadi bank yang kuat dengan IT yang terdepan", tuturnya kepada Bisnis ketika itu.
Telah menjadi pengetahuan umum, BCA pada tahun 1995-1998 sibuk berinvestasi dengan membeli ATM dan sistem on line. Sehingga laba perusahaan tersedot untuk kebutuhan masa depan BCA.
Tak hanya bankir lain, para karyawan dan stafnya juga hampir tidak mengerti mengapa belanja IT BCA ketika itu terbilang besar dan terkesan jor-joran. Jawabnya adalah, karena kuatnya keinginan Abdullah Ali menjadikan BCA sebagai bank terkuat dalam hal IT.
Sejarah kemudian membuktikan, kini BCA dengan kemampuan ATM, phone banking atau mobile banking, maupun internet bankir, yang terdepan. Sehingga dalam sebuah riset soal kepemilikan kartu ATM, BCA merupakan bank penerbit kartu ATM terbesar dimana setiap karyawan yang bergaji di atas Rp1,5 juta sudah memiliki kartu ATM.
Langkah ini kemudian diikuti oleh bank-bank lainnya. Tidak ada istilah terlambat, bank-bank pengekor IT BCA itu pun kini menjadi bank alternatif kedua, ketiga dan keempat bagi kepemilikan kartu ATM.
Sehingga kini tak bisa dibantah bahwa, bank yang terbesar dan terkuat dalam penerbitan kartu kredit adalah Citibank. Sementara bank terkuat dan terbesar dalam pemanfaatan ATM adalah BCA.
Mungkin banyak karyawan BCA yang tak sadar kecanggihan teknologi melayani yang dijalankannya adalah warisan leluhur Abdullah Ali. Mungkin banyak pemegang kartu ATM BCA yang tak sadar bahwa ide itu adalah karya besar Ali. Mungkin banyak wartawan perbankan kini yang tak kenal sosoknya, tapi sejarah itu tak pernah hilang dalam ingatan.
Karya besar maestro perbankan nasional itu terlalu mahal untuk dilupakan, bahkan terlalu cerdas untuk dikembangkan!!! Selamat tinggal bapak perbankan Indonesia...! [Close]
© Copyright 1996-2004 PT Jurnalindo Aksara Grafika