Jumat, 24 Oktober 2008

Perjalananku di naqsbandi (2)

Hari ini, 24 Oktober 2008 bertepatan dengan 24 Syawal 1429 H

Kondisi saya alhamdulillah dalam keadaan sehat. Dua hari lalu, saya mengalami kejadian yang menyentuh hati saya. Mungkin hal itu berkaitan dengan perjalanan saya dalam naqsbandi haqqani. Memasuki bulan Syawal, yang seharusnya merupakan peningkatan spiritual, saya justru mengalami pemunduran. Saya jarang dapat memenuhi awrad yang seharusnya saya lakukan tiap hari. Entahlah, pertarungan dalam diri melawan ego terus berlanjut semakin berat dan saya sering terkalahkan dalam wujud lalai. Majelis zikir jarang saya hadiri karena keterbatasan yang mungkin sebenarnya dapat dibebaskan. Saya terus menerus meriakkan "Jihad!" dalam hati, tapi terus juga menjadi lalai.

Nah, pagi itu, hari Rabu, 22 Oktober lalu, saya membaca milis muhibbun dan terbaca sohbet dariMaulana syeikh Hisyam. Temanya tentang "beri Aku hanya 20 menit, selanjutnya terserah kalian". Saya terhentak. Segera sadar untuk melakukan awrad. Saya tutup komputer dengan niat bulat sesegera mungkin melakukan awrad. Eh, entah bagaimana, saya malah menelpon Ibu saya dan ngobrol dengan beliau. Selesai ngobrol, waktu telah menunjukkan setengah sebelas. Jam sebelas saya harus menghadiri arisan dan halal bil halal dengan warga RT. Sedikit bimbang, akhirnya saya putuskan bersiap untuk arisan.

Tidak ada masalah dalam arisan. Tapi ketika arisan berakhir dan saya hendak berdiri untuk bersalaman dengan semua teman, tiba-tiba panggul saya terasa amat sakit. Hampir saya tak sanggup berdiri. Saya bahkan harus berjalan pulang dengan susah payah. Rasa sakit itu semakin kuat ketika tiba di rumah. Kesakitan yang amat sangat saya rasakan ketika hendak bergerak dari posisi berdiri ke duduk, dari duduk ke berdiri, ke berbaring, oooo sungguh saya merasa saya akan menjadi lumpuh. Saya amat menderita. Sepanjang sisa hari saya amat menderita. Ibu menasehati agar saya bertobat dan banyak berzikir. Deg! saya ingat kelakuan saya tadi pagi. Saya amat takut dan amat menyesal.

Segera saya bertobat dan melakukan semua awrad. Air mata saya berderai tak tertahankan. Allah ya Rabb, Ampuni hambamu yang lalai ini. Saya merasakan kenikmatan luar biasa saat berdzikir. Anehnya, dzikir panjang yang biasanya amat susah saya selesaikan karena tidak tahan mengantuk, dapat saya lakukan dengan mudah. Saya kemudian merasa ikhlas seikhlas-ikhlasnya dengan penyakit yang saya derita sebagai jalan yang diberikan Allah agar saya dapat mengingatNya dengan benar. Alhamdulillah sejak itu rasa sakit saya semakin berkurang dan esok harinya walau belum sembuh benar, saya dapat melakukan tugas saya mengajar. Dan hari ini saya merasa jauh lebih baik Alhamdulillah!