Sabtu, 01 Februari 2014

Tabah

January 20, 2014 at 9:12pm Suatu hari seorang teman datang padaku dengan berlinang air mata. Dia seorang ibu dengan seorang anak laki-laki yang telah dewasa dan sukses dalam karirnya, dan sedang mempersiapkan pernikahannya. Aku bertanya dalam hatiku, apa gerangan yang membuatnya begitu berduka, padahal sebelumnya aku melihatnya sebagai seorang ibu yang penuh rasa syukur dan bahagia. Iapun bercerita sambil berlinang air mata: Minggu lalu aku bertanya kepada anakku satu-satunya: "Mengapa akhir-akhir ini wajahmu selalu muram padahal Ibu selalu mencintai dan menyayangimu?" Jawab anakku: "Tidak tahukah ibu? Ibu dan hanya ibulah penyebab muramnya wajahku. Tidak tahukah ibu bahwa kata-kata ibu sering menyakiti hatiku. Aku menyimpan sakit hatiku bertahun-tahun lamanya demi baktiku pada ibu." "Astaghfirullah.. Betapa pedih hati ini. Begitukah pandangannya selama ini kepadaku?" Rupanya dia telah menemukan gadis pujaannya yang halus budi bahasanya. Lalu sang ibupun tampak buruk di matanya. Tercenung hatiku. Aku terdiam seribu bahasa. Apa yang dapat kukatakan untuk menghibur hati temanku itu? Aku hanya dapat memeluknya tanpa kata. Dalam perjalanan kita sebagai ibu, banyak sekali keputusan yang harus kita buat untuk anak-anak kita. Pola asuh, cara menjaga kesehatan atau pengobatan di kala ia sakit, ke mana kita mengirimnya untuk sekolah, bagaimana berkomunikasi dengannya, memilihkan lingkungannya, memilihkan gizi dan menu makanannya, mensiasati dana yang kita terima dari suami untuk memenuhi kebutuhannya lahir dan batin. Kita berusaha untuk memberikan yang terbaik baginya agar ia sukses sesuai dengan cita-citanya sendiri dan bahagia dalam kehidupannya di dunia dan akhirat kelak. Tapi pernahkah terpikir oleh kita, bahwa suatu saat anak akan mengatakan bahwa semua keputusan kita atasnya salah? Bahwa pola asuh kita salah? Pernahkah terpikir bahwa pada akhirnya anak akan menggugat kita? Kita mengenal anak kita dan menerimanya apa adanya. Nakalnya, cerewetnya, pendiamnya, kebaikannya, hormat dan baktinya, kesholehannya. Tapi apakah anak menerima kita apa adanya? Sahabatku para ibu, marilah kita selalu mawas diri dan mempersiapkan hati kita. Anak memang bukan milik kita, tetapi amanah yang dititipkan ALLAH pada kita. Selalulah berdo'a agar semua yang kita lakukan sesuai dengan kehendakNYA. Jika kelak kita digugat oleh anak kita sendiri, bersabarlah. Kembalikan urusannya kepada ALLAH. KIta maafkan dan mendo'akan agar anak kita tidak menjadi anak yang durhaka. Kadang anak memang menjadi ujian bagi kita, tetapi bisa juga menjadi penyejuk mata dan membuat kita bahagia di hari tua kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar