Selasa, 17 Februari 2015

Rahasia Thariqat Naqsybandi `Aliyyah

Rahasia Thariqat Naqsybandi `Aliyyah
Sultan Awliya Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (qs)
Lefke, Siprus, 23 Februari 2013


A’udzu Billahi min asy-syaythani-r rajim. Bismillahi-r Rahmani-r Rahim
Madad Ya Sultan Al-Anbiya' Sayyidi -l Awwalin wa -l Akhirin.

Jalan kita adalah melalui shuhba (asosiasi) dan kebaikan berada dalam kebersamaan.  Ini adalah prinsip Thariqatu ‘l-`Aliyyah.  Tujuan dari shuhba adalah untuk mendidik murid, dan itu bukan melalui jalan yang sulit.

Bismillahi-r Rahmani-r Rahiim, ada dua macam Syaikh, dii antara mereka ada yang merupakan pendidik, dan sebagian lagi adalah pemimpin.  Tetapi Syekh Tarbiyah, yang mendidik dan mendisilinkan ego kalian, adalah lebih tinggi dalam hal kebesaran dan kekuatannya.  Mereka mengetahui jalan tariqah ini. Tanpanya, maka orang-orang tidak akan sampai dan mungkin mereka malah akan menyesatkan diri mereka sendiri dan juga orang lain yang mengikutinya.

Tariqatu ‘l-`Aliyyah ini memerlukan seorang pelatih yang sempurna yang mampu memimpin hamba-hamba Allah menuju jalan kebenaran. Jumlah mereka semakin sedikit dizaman sekarang ini.  Itu artinya kemunculan mereka sudah dilarang.  Mereka dilarang untuk tampil kecuali mendapat izin. Mereka harus mempunyai izin untuk mengajar dan berbicara mengenai materi-materi yang tersembunyi, begitu juga dengan materi yang umum dan jelas di dalam Thariqatu ‘l-`Aliyyah dimana kita hidup di zaman yang seperti ini…

Bismillahi-r Rahmani-r Rahim, ada 41 tarekat, di mana 40 di antaranya telah menutup pintunya dan hanya satu tarekat saja yang terbuka pintunya; yaitu Thariqatu‘n-Naqsybandiyyatu‘l `Aliyyah.  Jika Imam dari tarekat lainnya datang, mereka harus minta untuk dilatih secara spritual dalam tariqah ini, untuk dilengkapi oleh seorang Syekh yang sempurna di dalam Thariqatu ‘n-Naqsybandiyyatu ‘l-`Aliyyah, atau Jalan Naqsybandi yang mulia.  Mereka harus tahu hal ini, jika tidak, maka mereka tetap berada di level mereka.

Sulthanu-l Awliya Mawlana Syekh Abdullah Faiz ad-Dagestani qs, yang namanya disebutkan dalam sanad emas Thariqatu ‘l-`Aliyyah, beliau adalah yang terakhir dalam membawa rahasia terbesar dari Thariqatu‘n- Naqsybandiyyatu‘ Aliyyah.  Beliau telah meninggalkan kita, dan beliau meninggalkan seseorang untuk melanjutkan Thariqatu ‘l-`Aliyyah ini. Jalan tariqat lainnya telah tertutup. Kalian mengerti? Mereka telah tertutup.  Mereka menuruni bukit, sementara zaman sekarang adalah waktunya untuk mendaki bukit, tetapi mereka tidak   mempunyai kekuatan untuk mendaki, kecuali Thariqatu ‘n-Naqsybandi Aliyyah.

Mereka harus mengetahuinya, jemaah thariqah Syadzili dan thariqah lainnya, bahwa di masa sekarang, kekuatan lokomotif Tariqah adalah bersama Tariqah Naqsybandi, tidak ada yang lainnya.  Mereka harus tahu dan mencari pelatih spiritual. Tidak ada seorang pun dari Timur ke Barat, baik Syadzili atau thariqah yang lain, yang cocok untuk urusan ini, karena mereka telah mencapai batasnya dan mereka sudah tidak mempunyai kekuatan lagi.

Mereka duduk, makan, minum dan menikmati perkataan bahwa mereka adalah para pengikut Tariqat Syadziliyyin, atau Qadiriyin atau Rufa’iyyin, atau salah satu dari ke-41 thariqah.  Mereka seperti ini, berpikir untuk mencapai apa yang kita capai, tetapi mereka tidak dapat mencapainya kecuali dengan sebuah lokomotif yang kuat. Mereka hanya dapat berjalan dijalan yang mudah yaitu berjalan dijalan yang datar, tetapi jika harus berjalan seperti orang yang mendaki bukit, apa yang kita lakukan? Mereka akan duduk di sini sampai lokomotif datang untuk membawa mereka dan menggerakkan mereka. Kalau tidak, maka itu mustahil.

Mereka berkata, “Datanglah kepada kami.”  Kita boleh saja mendatangi pertemuan dari salah satu thariqah.  Mereka senang untuk duduk dan berzikir, menikmati undangan bahwa Syekh mereka adalah seperti ini dan itu.  Ya, Syekh kalian seperti ini, tetapi kalian tidak mengikuti jejak kaki mereka.  Mereka menjadi seperti anggur yang diperas, mereka telah terbenam di dalam dunia ini.  Kita sekarang berada di zaman di mana hanya ada sedikit orang yang mamu mendidik kalian; tidak ada Wali sejati yang tersisa, dan semua awliya telah lenyap.  Inilah yang mereka katakan, para awliya telah lenyap, mereka tidak terlihat.

Jemaah ini, mereka bicara tetapi mereka tidak mempunyai rahasia-rahasia thariqah, mereka tidak memilikinya lagi. Jika jalannya mudah untuk dijalani kalian masih bisa berjalan, tetapi ketika waktu yang sulit tiba, seperti zaman sekarang ini, maka untuk mendaki kalian  memerlukan alat untuk membantu kalian berjalan. Saya selalu duduk di samping sopir ketika bepergian dengan mobil, mungkin selama 60 tahun, tetapi saya tidak pernah tahu mereka masuk ke gigi satu, dua atau tiga. Jemaah ini seperti itu, mereka tidak mempunyai sopir, masing-masing berusaha untuk dirinya sendiri. Untuk apa? Dengan syekh yang mana kalian dapat melanjutkan latihan kalian?

Syekh mana yang mempunyai izin?  Siapa yang memberi kalian latihan spiritual?  Tetapi mereka seperti perumpamaan “bahwa siapapun yang meniru suatu kelompok, maka ia termasuk di antara mereka” (Hadits)  “Orang-orang akan dibangkitkan bersama dengan orang yang mereka cintai.” (Hadits).  Mereka cinta, tetapi mereka mencintai thariqah mereka melebihi Thariqatu ‘l-`Aliyyah.  Maka mereka akan tetap berada di tempatnya tidak dapat bergerak kemana-mana lagi.

Biarkan mereka menikmati apa yang mereka pelajari dan selesai.  Tetapi tidak ada mesin untuk menggerakkan mereka, tidak ada mesin untuk menggerakkan mereka untuk mendaki.  Dari Timur ke Barat sudah jelas bahwa Sanad Emas Naqsybandi kita berakhir pada Mawlana Sulthanu-l Awliya, Syekh `Abdullah Ad-Daghestani (q). Masalah ini memerlukan keseriusan dan siapa yang berusaha, maka mereka akan mendapatkannya.  Segala yang disukai ego mereka, mereka memberikannya, lalu mereka mengaku bahwa kami berada dalam thariqah seperti ini. Tidak!  Kalian seperti orang yang pergi piknik.  Biarkan mereka.

Biarkan salah seorang di antara mereka mengaku bahwa ia adalah Syaikh dan seorang pelatih spiritual.  Ia akan senang untuk duduk bersama mereka, kami tidak keberatan.  Ia bisa memberi, tetapi mereka, jemaah ini, tidak mampu memberikan apa-apa kepadanya.  Jika mereka mengambil manfaat darinya, mereka akan sangat beruntung, kalau tidak jika ia datang bersama mereka dan mereka tidak mendapat apa-apa, maka mereka telah menyia-nyiakan waktu mereka.

Sudah tidak ada lagi Syekh. Para Wali telah lenyap.  Semua Syekh, Syekh sejati adalah wali Allah (swt).  Dan mereka tidak perlu untuk menampakkan diri mereka dan untuk memanggil orang agar datang kepada mereka, tidak perlu.  Untuk mengunjungi saudara-saudara dan tinggal bersama mereka adalah diizinkan, tidak perlu menghentikan hal itu.  Jika ia senang mengunjungi mereka, kunjungilah mereka.  Tetapi jika mereka ingin memberinya, ia mempunyai emas, sementara mereka mempunyai tembaga atau kaleng biasa. Hanya Kaleng!  Sementara ia mempunyai emas, atau berlian.

Ini adalah hal yang sensitif.  Para wali telah lenyap.  Syekh kita dulu berkata, “Di Damaskus ada 40 di antara mereka.”  Syekh Abdullah Faiz Dagestani qs ketika dalam perjalanan ke Masjid ‘Umawi, melalui Suq al-Hamidiya, mereka datang dan Syekh Abdullah qs datang dari arah berlawanan, mereka biasanya mengganti arahnya.  Mereka biasa menakut-nakutinya tetapi Syekh Abdullah qs tidak pernah terpengaruh sama sekali.  Beliau sungguh diperkaya dengan Ilmu Sejati.  Beliau tidak memerlukan apa-apa.  Para Awliya Allah (swt) adalah seperti ini.

Mereka tidak ingin keadaan spiritual mereka terbuka, tidak. Tidak ada izin untuk itu.  40 di antara mereka pergi ke Masjid ‘Umawi setiap hari, sebagian di antara mereka duduk selama setengah jam, sebagian lagi satu jam, dan sebagian lagi hanya 20 menit di makam Sayyidina Yahya (as).  Shalawat dan salam semoga tercurah pada Nabi kita (saw).  Ketika mereka mengatakan ia lenyap, ia lenyap, jangan bertanya mengenainya. Jangan bertanya mengenainya, karena kalian tidak mempunyai keseimbangan untuk mengetahuinya.  Jagalah adab kalian terhadap setiap orang, sehingga tidak ada yang dapat menahan kalian.

Mereka adalah anak-anak Nabi (saw).  Ia mempunyai kharisma spiritual, ia mempunyai daya tarik, oleh sebab itu, mereka senang bersamanya. Tidak ada masalah.  Ia memberi kepada mereka, tetapi mereka tidak memberi apa-apa kepadanya. Semoga Allah (swt) menjaga kita teguh di jalan yang Haqq, karena kita tidak menginginkan dunia ini.  Selesai.  Dunia ini adalah bangkai, mereka yang mengejarnya adalah anjing-anjing. Kita mempunyai ribuan pengikut! Kalian adalah seorang hamba, dan saya juga seorang hamba. Tidak lebih dari ini. Jika ada pelatihan dalam hal adab, ambillah dari setiap orang, kami tidak keberatan, tetapi jika tidak ada pelatihan itu, maka jangan membuang-buang waktu.

Masya'Allah!  Ia mengambil karena ini, mereka ingin agar ia datang bersama mereka.  Kami tidak keberatan.  Jangan berpisah dengan mereka, jika mereka memintamu atau ingin agar engkau datang bersama mereka, bawakan sesuatu untuk mereka agar mereka bahagia, kami tidak keberatan.  Kami tidak melarang siapapun, dan kami adalah orang yang paling miskin, yang paling lemah. Saya berpikir bahwa sekarang awan telah tertarik oleh sebuah mesin ke kiri atau ke kanan, atau dengan tenaga baterai? Inilah yang saya pikirkan. Saya punya banyak waktu….

Syekh Bahauddin:  Syekh tidak mempunyai pekerjaan (bercanda)

Mawlana Syaikh Nazim qs: Masya Allah, ia sangat aktif.  Biarkan ia memikirkannya soal itu.

Syekh Bahauddin: Apakah awan mempunyai mesin atau tidak? Atau ia mempunyai kait untuk ditarik?

Mawlana Syaikh Nazim qs:  Ini adalah pekerjaan saya, jika mereka suka, “selamat datang!”  Jika tidak, biarkan mereka pergi.  Silakan cek bagaimana awan bergerak, apakah ia ditarik atau apakah ia bergerak seperti ini?  Saya melihat, lalu ada orang yang kurang pandai datang dan bertanya mengenai berbagai hal dan itu membuat saya marah.  “Yahuuu!  Saya berpikir sekarang “ “Apa yang engkau pikirkan wahai Syekh?”  “Aku berpikir tentang awan.” “Awan?” “Awan…apakah mereka ditarik dengan kaitan atau dengan mesin?”

Syekh Bahauddin: Inilah yang syekh pikirkan Syaikh.

Mawlana Syaikh Nazim qs: Saya memberinya izin, biarkan ia menanyakan hal ini.  Sibukkan dirimu dengan hal-hal seperti ini.  Apa yang bisa kita lakukan, ini yang tertinggi.  Beberapa orang ketika mereka muncul dari sisi itu, saya mengumpat mereka.  Inilah cara mengajar orang di masa ini, mereka tidak mengerti kecuali dengan bahasa umpatan.

Semoga Allah mengampuni saya.  Wali-wali lainnya tertawa ketika saya berbicara seperti ini.  Mereka senang ketika saya berbicara seperti ini.  Mereka duduk seperti ini, “Apa yang engkau pikirkan wahai Syekh?”  “Aku berpikir berapa ton berat awan itu?”  “Engkau tidak punya pekerjaan lain?”  “Tidak, saya sudah pensiun.  Saya sudah pensiun.  Saya berpikir tentang cara menimbang awan, meletakkannya ke dalam timbangan.”  “Oh faqir, maafkan aku.”  Semoga Allah mencurahkan Kemurahan-Nya pada kalian. Fatiha.

Wa min Allah at Tawfiq

Sultan Awliya Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q)Sultan Awliya Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar